parenting
Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terlengkap Berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi
HaiBunda
Kamis, 16 Jul 2026 13:10 WIB
Daftar Isi
-
30 Kumpulan puisi Chairil Anwar terlengkap berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi
- Doa
- Aku
- Sendiri
- Karawang-Bekasi
- Diponegoro
- Nisan
- Derai Derai Cemara
- Senja di Pelabuhan Kecil
- Penghidupan
- Tak Sepadan
- Sia-sia
- Ajakan
- Pelarian
- Suara Malam
- Hukum
- Rumahku
- Kesabaran
- Merdeka
- Bercerai
- Lagu Biasa
- Taman
- Kenangan
- Dendam
- Kawanku dan Aku
- Dengan Mirat
- Isa
- Sorga
- Cerita
- Kita Guyah Lemah
- Perhitungan
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mampu menyampaikan perasaan, gagasan, dan pengalaman hidup melalui rangkaian kata yang indah serta penuh makna. Keunikan dalam pemilihan diksi, gaya bahasa, dan penyampaian emosi membuat puisi menjadi bacaan yang menarik untuk dipelajari oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak yang mulai mengenal dunia sastra.
Saat pelajaran Bahasa Indonesia, pastinya Si Kecil akan mempelajari sastra puisi. Melalui pembelajaran puisi, anak akan dikenalkan dengan berbagai unsur pembangun puisi, cara memahami maknanya, hingga mengembangkan kemampuan berbahasa dan berimajinasi.
Proses pembelajaran tersebut juga membantu meningkatkan kepekaan anak terhadap penggunaan kata dan pesan yang ingin disampaikan oleh penyair. Seiring bertambahnya pemahaman tentang puisi, mengenal karya para penyair Indonesia menjadi langkah penting untuk memperluas wawasan sastra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap penyair memiliki gaya penulisan, tema, dan karakteristik yang berbeda sehingga mampu memperkaya wawasan pembaca mengenai perkembangan sastra Indonesia dari masa ke masa. Salah satu nama yang memiliki pengaruh besar dalam dunia sastra Indonesia adalah Chairil Anwar.
Karya-karyanya dikenal memiliki kekuatan bahasa yang khas, penuh emosi, serta mengangkat berbagai tema kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri bahwa puisinya masih banyak dipelajari dan menjadi bagian dari pembelajaran maupun referensi sastra.
30 Kumpulan puisi Chairil Anwar terlengkap berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi
Dikutip dari buku Aku Ini Binatang Jalang oleh Chairil Anwar terdapat kumpulan puisi lengkap berjudul Doa, Aku, Sendiri hingga Karawang-Bekasi. Simak selengkapnya untuk pengetahuan Si Kecil, Bunda.
Doa
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa ku bawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
la memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
la membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Karawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Diponegoro
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup Kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
MAJU
Ini barisan tak bergendrang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguh pun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Nisan
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta
Derai Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Penghidupan
Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk
Tak Sepadan
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Sia-sia
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Ajakan
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahagia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi
Pelarian
Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga
Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa
Dari kelam ke malam
Tertawa-meringis malam menerimanya
Ini batu baru tercampung dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut saja!"
Tak kuasa - terengkam
la dicengkam malam
Suara Malam
Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan "Kebakaran di Hutan"
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?
Mati
Barang kali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar
Atau ini
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya
Ya Allah! Badanku terbakar - segala samar.
Aku sudah melewati batas
Kembali? Pintu tertutup dengan keras
Hukum
Saban sore ia lalu depan rumahku
Dalam baju tebal abu-abu
Seorang jerih memikul.
Banyak menangkis pukul.
Bungkuk jalannya - Lesu
Pucat mukanya - Lesu
Orang menyebut satu nama jaya
Mengingat kerjanya dan jasa
Melecut supaya terus ini padanya
Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga
Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini menyinar lain masa
Nanti, kau dinanti-dimengerti!
Rumahku
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Kesabaran
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu
Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
Merdeka
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati
Bercerai
Kita musti bercerai
Sebelum kicau murai berderai
Terlalu kita minta pada malam ini
Benar belum puas serah-menyerah
Darah masih berbusah-busah
Terlalu kita minta pada malam ini
Kita musti bercerai
Biar surya 'kan menembus oleh malam di perisai
Dua benua bakal bentur-membentur
Merah kesumba jadi putih kapur
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur
Lagu Biasa
Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana
Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia
Kenangan
Untuk Karinah Moordjono
Kadang
Di antara jeriji itu itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu itu saja
Jiwa bertanya; Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
Dendam
Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Tangan meraba ke bawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Bulan bersinar sedikit tak nampak
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Bulan bersinar sedikit tak tampak
Kawanku dan Aku
Kepada L.K. Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan dia hanya menjengkau
Rakit hitam
'Kan terdamparkah
Atau terserah
Pada putaran pitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
Mengikut juga bayangan itu?
Isa
Kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah
Rubuh
Patah
Mendampar tanya: aku salah?
Kulihat Tubuh mengucur darah
Aku berkaca dalam darah
Terbayang terang di mata
Masa bertukar rupa ini segara
Mengatup luka
Aku bersuka
Itu Tubuh
Mengucur darah
Mengucur darah
Sorga
Buat Basuki Resobowo
Seperti ibu + nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
Nekat mencemooh: Bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru,
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati?
Cerita
Kepada Darmawidjaya
Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya
Mengikat sudah kesal
Tak tahu apa dibuat
Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju
Gundul diselimuti tebal
Sama segala berbuat-buat
Tapi kadang pula dapat
Ini renggang terus terapat
Kita Guyah Lemah
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Diri sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan
Perhitungan
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran
Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi
Itulah 30 kumpulan puisi Chairil Anwar yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra Indonesia bagi Si Kecil di rumah. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Puisi Prismatis: Pengertian, Ciri-ciri, dan 10 Contohnya
Parenting
15 Puisi Pendek tentang Sekolah Lengkap Beragam Tema, Cocok untuk Referensi Tugas
Parenting
13 Puisi Pendek Anak SD Beragam Tema yang Mudah Dihafal dan Sarat Makna
Parenting
Hari Puisi Nasional 28 April, Mengenang Wafatnya Legenda Penyair Chairil Anwar
Parenting
4 Jenis Majas dalam Puisi & Pengertian Sebagai Dasar Mata Ajar Bahasa Indonesia
Parenting
7 Teknik Membaca Puisi yang Baik dan Benar, Bunda Perlu Tahu
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
35 Puisi Pejuang Kemerdekaan dan Pahlawan Nasional, Menyentuh Hati hingga Singkat
35 Contoh Pantun Tua tentang Nasihat Kehidupan Hingga Budi Pekerti untuk Tugas Sekolah Anak
10 Puisi Anak SD Kelas 4 Berbagai Tema dari Tentang Alam hingga Pendidikan