Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Jangan Langsung Marah, 9 Ucapan Anak yang Ternyata Bermakna Lain Menurut Psikolog

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 12 Jul 2026 18:10 WIB

Ilustrasi Orang Tua dan Anak yang Marah
Jangan Langsung Marah, 9 Ucapan Anak Ini Ternyata Bermakna Lain Menurut Psikolog/ Foto: Getty Images/iStockphoto/szefei
Daftar Isi
Jakarta -

Menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting, Bunda. Melalui komunikasi yang baik, anak merasa didengar, dihargai, dan lebih mudah mengungkapkan perasaannya.

Keterampilan komunikasi juga meletakkan dasar bagi ikatan yang sehat antara orang tua dan anak. Tapi, masalahnya adalah orang tua dan anak sering kali merasa seperti berada di dunia yang berbeda dan berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Akibatnya, orang tua kerap salah menafsirkan ucapan yang dilontarkan anak-anaknya. Tak jarang orang tua tersulut emosi saat mendengar anak-anaknya bicara mengungkapkan perasaan..

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Salah menafsirkan perasaan anak-anak bisa berisiko membuat mereka merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai oleh orang tuanya," ujar kata psikolog di Amerika Serikat, Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C, dilansir Parade.

"Ketika mereka merasa orang tua tidak 'memahaminya', mereka cenderung menyembunyikan perasaan sebenarnya. Dalam jangka panjang, hal itu dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan kesepian," sambungnya.

Ucapan anak ini ternyata bermakna lain menurut psikolog

Sebelum terbawa emosi, orang tua perlu memahami makna dari setiap ucapan yang disampaikan anak-anaknya. Berikut 9 ucapan anak yang ternyata bermakna lain menurut psikolog:

1. "Aku benci kamu!"

Orang tua zaman sekarang sering memikirkan segala sesuatu dengan benar, sehingga mereka mungkin secara alami menafsirkan pernyataan ini sebagai sikap tidak hormat. Anak yang mengatakan kalimat ini dianggap tidak tahu berterima kasih.

"Pada kenyataannya, kalimat itu sering digunakan sebagai cara untuk mengekspresikan kemarahan," ungkap Guarnotta.

"Anak-anak tidak selalu memiliki kata-kata untuk mengekspresikan emosi besar seperti kemarahan. Sebagai orang tua, kita adalah tempat aman bagi mereka, itulah sebabnya mereka mungkin mengungkapkan kata-kata ini kepada kita dan bukan kepada orang lain," lanjutnya.

2. "Semua orang membenci saya"

Guarnotta mengatakan bahwa frasa ini bisa menjadi respons terhadap konflik. Orang tua sering kali kesulitan untuk mengerti hal tersebut, sehingga mengganggapnya hal yang buruk.

"Sebagai orang tua, kita sering kali ingin langsung ikut campur dan membantah dengan fakta mengapa pernyataan ini tidak benar," ujar Guarnotta.

"Sebenarnya yang anak maksud adalah, 'Saya mengalami momen sulit hari ini yang membuat saya merasa tidak berarti, dan saya butuh kamu untuk menemani saya melewati kesedihan ini'. Daripada berusaha langsung memperbaiki keadaan, cobalah mundur selangkah dan biarkan mereka berbagi lebih banyak," lanjutnya.

3. "Kalian lebih menyukai saudara laki-laki/perempuanku daripada aku"

Para orang tua bersumpah bahwa mereka tidak pilih kasih, tetapi hal itu tidak menghentikan anak-anak untuk merasa sebaliknya. Menurut Guarnotta, orang tua cenderung menganggap ungkapan klasik ini sebagai bentuk kecemburuan, rasa bersalah, atau sesuatu yang berlebihan. Namun, Guarnotta menyarankan orang tua untuk merenungkan kalimat ini sebelum mengucapkannya ke anak.

"Ketika anak-anak mengatakan ini, biasanya karena mereka merasa kehilangan hubungan dengan orang tuanya. Mereka khawatir bahwa mereka tidak sepenting atau dicintai seperti saudara kandungnya. Ingat, emosi tidak selalu logis," ungkap Guarnotta.

4. "Ini terlalu sulit. Aku menyerah!"

Pernyataan ini bisa terasa sangat menyinggung, Bunda. Bagi kebanyakan orang tua yang telah melalui banyak pengalaman hidup, kalimat ini bahkan terasa asing untuk didengar.

"Ketika seorang anak menyerah, orang tua mungkin menafsirkan ini sebagai kemalasan. Mereka sering menanggapi dengan ceramah tentang nilai kerja keras dan ketekunan," kata Guarnotta.

Saat anak mengatakan kalimat ini, mereka mungkin berada di lingkaran rasa malu dan merasakan kegagalan yang mendalam. Satu-satunya yang ingin didengar adalah perasaan, bukan ceramah.

5. "Tinggalkan aku sendiri!"

Kalimat ini adalah salah satu ungkapan yang sering dianggap orang tua sebagai hal buruk. Orang tua terus kesulitan mengingat makna tersembunyi dari ungkapan ini meski juga pernah melontarkannya saat masih kecil.

"Ketika seorang anak menyuruh orang tua untuk meninggalkannya sendirian dan membanting pintu, rasanya seperti kita diabaikan dan tidak dihormati," ujar Guarnotta.

"Pada kenyataannya, anak tersebut sedang mengungkapkan kebutuhannya akan ruang. Anak mungkin merasakan, 'Saat ini saya sudah mencapai batas kemampuan saya, dan saya membutuhkan ruang yang aman untuk memproses emosi besar'," lanjutnya.

6. "Lihat ini!"

Kalimat ini biasanya menjadi ucapan yang sering disampaikan anak ke orang tuanya. Mereka mengatakannya tanpa bermaksud untuk mengganggu. Kalimat ini biasanya disampaikan untuk meminta pengakuan, Bunda.

"Memang bisa membuat frustrasi ketika anak meminta perhatian terlalu sering. Tetapi anak tidak bermaksud mengganggu. Mereka mencoba memberi tahu kita bahwa mereka bangga pada diri sendiri, dan mereka ingin mendapatkan pengakuan bahwa kita juga menghargai apa yang mereka lakukan," ungkap Guarnotta.

7. "Aku bisa melakukannya sendiri!"

Guarnotta sering mendengar ungkapan ini dari orang tua ketika mereka menggambarkan anak-anak mereka sedang mencoba menunjukkan kemandirian. Kalimat ini seharusnya bisa dimaknai dengan definisi yang positif, bukan sesuatu yang buruk.

"Sebagai orang tua, mungkin terasa seperti anak mencoba bersikap sulit atau keras kepala, tetapi sebenarnya yang ingin mereka sampaikan adalah 'Saya sedang mencoba menemukan identitas saya sendiri'. Itu adalah cara mereka mengeksplorasi bagaimana rasanya memiliki kendali dalam lingkungan yang aman," katanya.

8. "Aku bosan"

Kalimat ini sebenarnya menjadi salah satu ucapan yang sangat ditakuti orang tua. Kalimat ini membuat orang tua frustrasi karena terasa seperti anaknya kurang rasa terima kasih.

Kalimat ini bisa terasa memicu emosi jika Bunda memiliki rumah penuh dengan mainan yang dibeli untuk memuaskan keinginan anak. Namun, banyak orang tua tidak tahu, anak mengatakan kalimat ini karena mereka menginginkan hal yang lebih dari sekedar mainan.

"Kenyataannya, sering kali anak-anak mencari kedekatan dengan orang tua. Mereka menginginkan waktu berkualitas dan perhatian penuh, bukan lebih banyak barang," ujar Guarnotta.

9. "Aku tidak mau tidur"

Waktu tidur bisa menjadi momen yang sangat sulit bagi orang tua dan anak-anak. Orang dewasa mendambakan waktu berdua saja, sementara anak-anak menginginkan lebih banyak kedekatan dengan orang tuanya.

"Sekilas, kalimat ini terdengar seperti anak yang menolak aturan. Tetapi bagi sebagian anak, waktu malam hari bisa menakutkan dan penuh kecemasan. Anak-anak mungkin merasa gugup untuk tidur dan sendirian, dan sebagai akibatnya, mencoba menunda waktu tidur dengan menyangkal bahwa mereka lelah," kata Guarnotta.

Itulah ucapan anak yang ternyata bermakna lain menurut psikolog. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda