parenting
10 Kalimat Ayah yang Bisa Membekas Seumur Hidup pada Anak
HaiBunda
Sabtu, 11 Jul 2026 20:15 WIB
Daftar Isi
-
Kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak
- 1. "Berhenti bertingkah seperti perempuan! Jadilah laki-laki!"
- 2. "Laki-laki tidak boleh menangis"
- 3. "Jangan terlalu sensitif"
- 4. "Kamu harus kuat"
- 5. "Kamu bikin malu" atau "Kamu memalukan"
- 6. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudara laki-laki atau perempuan kamu?"
- 7. "Kamu baik-baik saja"
- 8. "Berhentilah menangis"
- 9 . "Aku tidak pernah memiliki itu saat kecil, dan aku baik-baik saja"
- 10. "Kamu tidak akan pernah mencapai apa pun jika terus seperti ini"
Mengasuh anak adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan suka cita dan tantangan. Dalam proses tumbuh kembangnya, setiap perkataan orang tua, terutama ayah, dapat meninggalkan kesan yang mendalam di hati anak.
Kalimat yang diucapkan dengan penuh perhatian bisa menjadi sumber kepercayaan diri anak. Sebaliknya, ucapan yang kurang tepat dapat membekas seumur hidup pada anak hingga dia tumbuh dewasa.
Saat bicara dengan anaknya, seorang ayah sebaiknya bisa memilah kalimat yang pantas diucapkan. Jangan sampai kalimat yang dilontarkan menciptakan jarak di antara keduanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa saja kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak?
Kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak
Melansir dari beberapa sumber, berikut 10 kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup di hari anaknya:
1. "Berhenti bertingkah seperti perempuan! Jadilah laki-laki!"
Ketika seorang ayah mengucapkan komentar seperti ini kepada anaknya, hal itu bisa sangat menyakitkan. Kalimat ini dapat membatasi anak untuk mengekspresikan emosinya, Bunda.
"Mengucapkan hal-hal ini dapat membentuk stereotip gender yang kaku sekaligus memberikan tekanan yang tidak semestinya agar putra mereka mengambil peran yang tidak mampu ia tangani," kata psikolog klinis keluarga di Amerika Serikat, Dr. Adolph Brown, dilansir laman Parade.
"Ungkapan-ungkapan itu juga dapat mendorong devaluasi feminitas dan membatasi berbagai ekspresi emosi," sambungnya.
2. "Laki-laki tidak boleh menangis"
Para ahli mengatakan bahwa seorang ayah tidak boleh mengatakan kalimat ini pada putranya. Kalimat ini membuat anak-anak tidak dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan menangis.
"Pernyataan-pernyataan ini berpotensi menyebabkan penekanan emosi yang mengarah pada mekanisme penanggulangan yang buruk. Hal itu dapat menghambat pengaturan emosi karena dianggap sebagai tanda kelemahan," ujar Brown.
3. "Jangan terlalu sensitif"
Bagi seorang anak, kalimat ini tidak terdengar seperti bimbingan, tapi lebih ke arah pengabaian. Dilansir laman Times of India, bila kalimat ini diucapkan berulang kali, anak bisa menelan kekecewaan dan tidak mempercayai emosi mereka sendiri.
Mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang suka meminta maaf karena merasakan emosi yang mendalam. Pada akhirnya, hal tersebut berkontribusi pada kurangnya kecerdasan emosional, Bunda.
4. "Kamu harus kuat"
Kekuatan itu penting, tetapi tidak ketika hal tersebut menjadi perintah agar anak diam. Anak-anak yang mendengar ungkapan ini mungkin belajar bahwa kerentanan adalah kelemahan dan bahwa rasa sakit harus ditanggung sendiri.
Anak-anak yang sering mendengar kalimat ini dari ayahnya bisa tumbuh menjadi orang yang enggan meminta bantuan. Mereka harus menjadi kuat meski pada kenyataannya kewalahan.
5. "Kamu bikin malu" atau "Kamu memalukan"
Seorang ayah tanpa sadar sering menggunakan komentar kasar dan menyakitkan seperti ini sebagai respons terhadap kesalahan anak-anaknya. Para ahli memperingatkan bahwa hal itu tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga bisa berdampak pada kesejahteraan dan kepercayaan diri anak.
"Ungkapan-ungkapan itu dapat menimbulkan rasa malu yang signifikan dan memengaruhi kesehatan mental anak," ujar psikolog dan penulis Dr. Patricia Dixon.
"Jika putra atau putri mendengar ayahnya menyebut mereka memalukan atau bodoh, hal itu dapat membuat mereka meragukan identitas dan harga diri mereka, terutama jika mereka mengidolakan ayahnya," lanjutnya.
6. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudara laki-laki atau perempuan kamu?"
Perbandingan termasuk salah satu cara tercepat untuk melukai identitas seorang anak. Alih-alih merasa diperhatikan, mereka merasa diukur. Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa bisa digantikan.
Komentar semacam ini dapat memicu persaingan antara anak dan saudaranya. Tak hanya itu, anak-anak juga bisa merasa tidak aman dan memiliki keyakinan terpendam bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan menjadi orang lain.
7. "Kamu baik-baik saja"
Terkadang seorang ayah mengatakan kalimat ini untuk menenangkan anaknya. Namun, ketika seorang anak benar-benar kesal, kalimat itu justru bisa terasa seperti penolakan.
Pesan yang mungkin mereka terima adalah bahwa rasa sakit tidak pernah menyenangkan atau selalu dilebih-lebihkan. Pasalnya, seorang anak akan lebih mudah tenang ketika perasaan mereka disebutkan terlebih dahulu, bukan diabaikan begitu saja.
8. "Berhentilah menangis"
Menangis bukanlah suatu kekurangan, tapi sebuah sinyal. Ketika anak-anak disuruh berhenti menangis sebelum mereka dipahami, mereka mungkin belajar untuk menekan perasaan alih-alih memprosesnya.
Kebiasaan itu dapat mengikuti anak-anak hingga dewasa, di mana kesedihan muncul sebagai dalam bentuk yang negatif. Anak bisa dianggap tidak punya empati karena memilih untuk menekan emosinya daripada menunjukkan ekspresi yang jujur.
9 . "Aku tidak pernah memiliki itu saat kecil, dan aku baik-baik saja"
Ungkapan ini sering kali berasal dari ketahanan yang diperoleh dengan susah payah oleh seorang ayah. Ia ingin menunjukkan bahwa anak juga bisa memiliki ketahanan seperti dirinya.
Namun bagi seorang anak, ungkapan tersebut bisa terdengar seperti penolakan untuk mengakui realitas mereka. Generasi yang berbeda tidak menghadapi tekanan yang sama, dan anak-anak perlu tahu bahwa perjuangan mereka valid meskipun terlihat kecil dari sudut pandang orang tua. Seorang ayah juga perlu ingat kalau validasi dapat membangun kepercayaan.
10. "Kamu tidak akan pernah mencapai apa pun jika terus seperti ini"
Ini adalah jenis kalimat yang dapat dipikul seorang anak sampai dewasa. Ketika seorang ayah mengucapkannya karena frustrasi, kalimat itu bisa membuat anak mengalami kemunduran. Anak-anak memang membutuhkan koreksi, tetapi mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa kesalahan bukanlah sebuah pertanda buruk.
"Mengucapkan hal-hal tersebut menyiratkan kekecewaan dan mengabaikan upaya yang telah dilakukan oleh anak," kata Dixon.
"Alih-alih mengakui kerja keras, seorang ayah hanya fokus pada kekurangan, yang dapat membuat anak-anaknya merasa bahwa upaya terbaik mereka tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan persetujuan. Hal ini dapat menciptakan kesan yang bertahan lama bahwa nilai diri mereka akan bergantung pada pemenuhan harapan yang tidak realistis," tuturnya.
Itulah kalimat ayah yang ternyata bisa membekas seumur hidup bagi anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
3 Cara Dampingi Anak yang Takut Bertemu Orang Baru, Yuk Lakukan Role Play
Parenting
Kenali 5 Tanda Anak Merasa Kesepian, Segera Atasi Demi Masa Depannya
Parenting
Alasan 2 Saudara Kandung Punya Perilaku Berbeda, Ternyata Kuncinya di Otak Bun
Parenting
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
Parenting
3 Manfaat Bermain Pop It, Salah Satunya Atasi Stres Anak saat Pandemi
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Jangan Sering Ucap "Karena Bunda & Ayah Bilang Begitu", Psikolog Ungkap Kalimat Penggantinya
9 Kalimat Orang Tua yang Bisa Melukai Emosi Anak Menurut Psikolog
9 Kalimat yang Dulu Dianggap Normal Ini Ternyata Bisa Berdampak Buruk untuk Anak