Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Hari Pertama Anak Sekolah: Kenali Ciri-Ciri Separation Anxiety Sesuai Usia

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 13 Jul 2026 08:50 WIB

anak sekolah
Ilustrasi anak sekolah/Foto: Getty Images/iStockphoto/Shutter2U
Daftar Isi
Jakarta -

Di hari pertama anak sekolah, mereka rentan rewel karena mengalami fase separation anxiety. Apa itu dan bagaimana ciri-cirinya sesuai usia anak?

Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hari pertama masuk sekolah merupakan momen besar bagi anak. Wajar jika sebagian anak merasa cemas, menangis, atau sulit berpisah dengan orang tua.

Hal ini karena mereka sedang menghadapi lingkungan, orang, dan rutinitas yang benar-benar baru. Ya, kecemasan berpisah atau separation anxiety menjadi salah satu bagian normal dari perkembangan anak. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun dengan persiapan yang tepat dan dukungan yang konsisten dari sekitar, anak diharapkan mampu beradaptasi dan merasa lebih nyaman menjalani aktivitas di sekolah.

Apa itu separation anxiety?

Menurut praktisi pendidikan anak usia dini, Katrina Green, bagi anak sumber utama kecemasan saat mulai masuk sekolah adalah karena mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan mereka hadapi.

"Mereka telah menghabiskan 3-4 tahun pertama kehidupannya mempelajari aturan dan rutinitas dalam keluarga. Karena itu, mereka benar-benar belum mengenal aturan maupun rutinitas baru yang akan mereka temui di sekolah," ungkap Green, seperti dikutip dari Parents.

Ia menyarankan orang tua untuk meluangkan waktu sebelum hari pertama sekolah untuk membantu anak beradaptasi secara bertahap.

Ciri-ciri separation anxiety sesuai usia

Separation anxiety bisa terjadi dalam berbagai rentang usia anak, bahkan sejak usia dini. Berikut ciri-ciri separation anxiety sesuai usia anak seperti dikutip berbagai sumber:

1. Bayi

Dikutip dari Healthy Children, separation anxiety mulai berkembang setelah bayi memahami konsep object permanence (kesadaran bahwa suatu benda atau orang tetap ada meskipun tidak terlihat).

Begitu bayi menyadari bahwa Bunda benar-benar pergi saat tidak terlihat, mereka mungkin akan merasa gelisah.

Meskipun beberapa bayi mulai menunjukkan pemahaman tentang object permanence dan separation anxiety sejak usia 4 hingga 5 bulan, sebagian besar mengalami kecemasan yang lebih kuat sekitar usia 9 bulan.

2. Balita

Banyak anak tidak mengalami separation anxiety saat masih bayi, tetapi mulai menunjukkannya ketika berusia sekitar 15 hingga 18 bulan. Perpisahan biasanya menjadi lebih sulit ketika anak lapar, lelah, atau sedang sakit.

Seiring berkembangnya kemandirian pada masa balita, mereka menjadi semakin sadar akan adanya perpisahan dengan orang tua. Akibatnya, reaksi mereka saat berpisah bisa berupa tangisan keras dan sulit ditenangkan.

3. Usia prasekolah

Bagi anak yang belum pernah bersekolah sebelumnya, konsep 'sekolah' masih terasa abstrak. 

Mereka menganggap sekolah sebagai tempat dengan aturan baru, rutinitas baru, dan juga orang-orang baru yang belum dikenal. Semua ini tidak dapat diprediksi dan membuat mereka tak merasa aman.

Sebagian anak prasekolah juga masih mengalami separation anxiety yang berkepanjangan, dan hal ini sepenuhnya normal.

Anak usia dini yang mengalami kecemasan terhadap sekolah dapat menunjukkan berbagai gejala. Misalnya sering membicarakan ketakutannya terhadap sekolah dan terus-menerus meminta kepastian untuk ditemani.

Selain itu, mungkin bisa muncul keluhan fisik seperti sakit perut atau sakit kepala, bahkan mengamuk saat Bunda bersiap pergi.

4. Usia sekolah dasar

Kecemasan berpisah pada anak usia sekolah dasar dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah tekanan dari tuntutan belajar di kelas.

Sistem pendidikan saat ini mungkin terasa terlalu 'menuntut' bagi sebagian anak, bahkan di usia yang semakin muda.

Anak mungkin mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, mual, diare, sulit tidur, dan sebagainya yang muncul menjelang hari sekolah.

Sebagian anak juga mungkin mengalami school refusal, yaitu ketakutan terhadap sekolah yang begitu kuat sehingga mereka tidak dapat dibujuk bahkan untuk memasuki gedung sekolah.

Kalaupun akhirnya berhasil sampai di sekolah, mereka mungkin menangis, mengeluhkan berbagai rasa sakit, dan sulit ditenangkan oleh guru maupun staf sekolah.

Penting untuk diketahui bahwa anak yang mengalami kecemasan terkait sekolah umumnya mengalaminya hampir setiap hari. Kondisi ini biasanya tidak muncul hanya sesekali lalu menghilang keesokan harinya.

Tips untuk mengatasi separation anxiety

perkembangan emosi anak usia 4 tahunIlustrasi anak menangis/Foto: Getty Images/tylim

Lalu apa saja hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk bantu mengatasi separation anxiety jelang masuk sekolah? Intip tipsnya berikut ini, Bunda:

1. Lakukan 'ritual' perpisahan yang singkat

Usahakan untuk memiliki momen berpisah yang berkesan dan bisa menyemangati Si Kecil. Namun, pastikan ritual tersebut dilakukan dengan singkat saja. 

Biasanya, semakin lama Bunda menunda perpisahan, maka akan semakin lama pula proses transisinya. Kecemasan anak pun bisa semakin meningkat.

2. Bersikap konsisten

Pastikan juga proses mengantar anak dilakukan dengan cara dan waktu yang sama setiap hari, agar tidak ada perubahan yang tidak terduga.

Rutinitas yang konsisten dapat mengurangi kesedihan saat berpisah, sekaligus membantu anak membangun rasa percaya terhadap kemandiriannya maupun kepada Bunda.

3. Berikan perhatian sepenuhnya

Saat berpamitan, berikan perhatian penuh kepada anak, tunjukkan kasih sayang, dan peluk atau cium mereka.

Setelah itu, ucapkan selamat tinggal dengan cepat meskipun anak menangis atau meminta Bunda untuk tetap tinggal.

4. Tepati janji

Anak akan semakin percaya diri dan mandiri ketika mereka yakin bahwa Bunda akan benar-benar kembali menjemputnya sesuai janji. Meski khawatir, sebaiknya hindari menunggu di sekolah atau bahkan mengintip di jendela kelas anak.

Tindakan tersebut justru memperpanjang separation anxiety, bahkan membuat proses perpisahan harus dimulai dari awal lagi. Perpisahan kedua ini bahkan rentan memicu reaksi yang lebih sulit bagi psikis anak.

5. Lakukan persiapan sedini mungkin

Menurut psikiater anak, Sucheta Connolly,  sebisa mungkin sediakan waktu untuk mengajak anak berkunjung ke sekolah beberapa hari sebelumnya. Bicarakan bersama juga rutinitas baru yang akan dijalani dengan terbuka dan penuh antusias.

Jika anak biasanya kesulitan menghadapi situasi sosial yang baru, cobalah mengatur waktu bermain bersama beberapa calon teman sekelas sebelum sekolah dimulai.

6. Bermain peran di rumah

Bunda juga dapat mencoba bermain peran di rumah. Banyak anak sebenarnya sudah siap secara kognitif untuk bersekolah, tetapi masih kesulitan menyesuaikan diri dalam situasi sosial.

Gunakan boneka tangan atau boneka binatang untuk memperagakan situasi sosial yang membuat anak cemas, misalnya saat pertama kali bertemu guru atau teman baru.

7. Validasi perasaan anak

Jika kondisi fisik anak sehat, cobalah mengajak mereka membicarakan perasaan dan emosinya.

Akui dan validasi perasaan mereka, tetapi tekankan bahwa perasaan negatif seperti gugup bukan berarti mereka tidak akan menikmati pengalaman di sekolah.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri separation anxiety sesuai usia. Jika Bunda khawatir anak belum mampu beradaptasi dan menunjukkan reaksi berkepanjangan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda