Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Tanpa Disadari, Pola Asuh Agresif Bisa Memengaruhi Cara Anak Menghadapi Stres

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 07 Jul 2026 16:00 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak
Studi Terbaru Ungkap Dampak Pola Asuh Agresif Bisa Mengubah Kemampuan Anak dalam Mengatasi Stres/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Stock photo and footage
Jakarta -

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan penting dalam perkembangan anak. Dalam lingkungan ini, orang tua menjadi figur yang terlibat secara langsung dalam proses pengasuhan, Bunda.

Pola asuh yang diterapkan orang tua ternyata dapat memengaruhi kondisi psikologis anak, termasuk tingkat stres yang dialaminya. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola asuh yang agresif dapat memengaruhi kemampuan anak dalam menghadapi dan mengelola stres.

Studi yang diterbitkan di jurnal Child Development ini menyelidiki teori 'ko-regulasi', di mana kondisi fisiologis orang tua yang tenang dapat membantu menstabilkan sistem saraf anak. Dalam studi, para peneliti melacak pasangan ibu-anak selama periode satu tahun menggunakan monitor detak jantung dan pernapasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hasil studi tentang dampak pola asuh agresif

Studi ini mengungkapkan bahwa meskipun pengaruh biologis orang tua secara alami menurun ketika anak mulai belajar mengatur diri sendiri, pola pengasuhan yang keras secara fisik atau psikologis dapat membalikkan hal tersebut.

Anak-anak yang mengalami pola pengasuhan agresif, seperti seperti dipukul atau orang tua suka berteriak, menunjukkan disregulasi fisiologis yang lebih besar dan respons stres yang kaku. Hal itu memaksa anak untuk menjadi lebih bergantung pada pengaturan eksternal seiring bertambahnya usia.

Penelitian yang dipimpin oleh mahasiswa doktoral Jianing Sun and Professor Psikologi Erika Lunkenheimer ini, memvalidasi sebagian dari teori lama yang mengatakan bahwa orang tua bertindak sebagai pengatur fisiologis utama bagi anak-anak mereka yang masih kecil.

Menurut teori tersebut, keadaan orang tua yang lebih tenang dan terkendali memungkinkan anak untuk mengatur respons tubuh mereka dengan lebih baik di saat-saat stres. Proses 'pengaturan bersama' ini menjadi lebih seimbang seiring bertambahnya usia anak.

"Anak-anak kecil bergantung pada respons orang tua mereka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk mempelajari ritme yang tepat dalam mengatur kondisi fisik dan emosional," kata Lunkenheime, dilansir laman Neuroscience News.

"Menurut teori, respons orang tua yang sensitif dan konsisten menumbuhkan rasa aman dan nyaman, sehingga sistem saraf anak dapat tenang. Di luar perilaku pengasuhan, penelitian kami menunjukkan bahwa kondisi fisik orang tua yang lebih tenang dan terkendali saat mengasuh anak juga memainkan peran kunci, meletakkan dasar tentang bagaimana anak-anak mengatur stres dalam tubuh dari waktu ke waktu."

Ibu dengan riwayat pengasuhan agresif dan dampaknya pada anak

Lunkenheimer mengatakan, para ibu berisiko mengasuh anak dengan lebih keras jika mereka sendiri pernah mengalami pengasuhan agresif atau perlakuan buruk saat kecil. Risiko itu meningkat ketika mereka merasa kewalahan dan memiliki lebih banyak faktor pemicu stres, seperti tantangan dalam mengasuh anak, konflik keluarga, kesulitan keuangan atau pekerjaan, atau gejala kesehatan mental yang lebih berat.

"Kami menemukan bahwa ibu-ibu dengan risiko lebih rendah dan tidak terlalu keras mampu mengatur fisiologi anak-anak mereka yang masih kecil selama interaksi, dan pengaruh ibu melemah seiring perkembangan anak seiring bertambahnya usia," kata penulis utama studi Jianing Sun.

"Namun, pola sebaliknya ditemukan pada ibu yang lebih keras, yang menunjukkan peningkatan regulasi eksternal terhadap fisiologi stres anak-anak. Tak hanya itu, anak-anak juga menunjukkan lebih banyak kesulitan regulasi fisiologis seiring bertambahnya usia, yang mencerminkan risiko lebih besar untuk mengembangkan masalah regulasi," lanjutnya.

Dalam studi ini, para peneliti mengamati 129 pasangan ibu-anak berisiko sebanyak dua kali. Pertama, ketika anak berusia tiga tahun. Kedua, di satu tahun kemudian.

Sebelum pengamatan, para ibu menjawab kuesioner tentang gaya pengasuhan mereka, melaporkan perilaku pengasuhan yang keras, seperti apakah dan seberapa sering mereka berteriak atau menggunakan hukuman fisik. Selama observasi, anak-anak diberi tugas teka-teki yang menantang, dan para ibu diberitahu bahwa mereka dapat memberikan bimbingan verbal tetapi tidak boleh menyelesaikan teka-teki tersebut.

Selama studi ini, ibu dan anak juga diobservasi dengan monitor jantung dan pernapasan untuk melacak aritmia sinus pernapasan (RSA), yaitu pengukuran fisiologis tentang bagaimana detak jantung bervariasi dengan pernapasan.

"Kami menemukan bahwa RSA ibu dalam satu interval dapat memprediksi RSA anak pada interval berikutnya, yang memberikan bukti bahwa ibu dapat mengatur kondisi fisiologis anaknya," kata Sun.

"Kami juga menemukan pada ibu yang tidak terlalu keras, pengaruh ini berkurang seiring bertambahnya usia anak dari tiga menjadi empat tahun, yang menunjukkan bahwa anak kurang bergantung pada ibunya untuk pengaturan biologis ini. Namun, pengaruhnya meningkat pada ibu yang lebih keras dan anak-anak mereka."

Peningkatan ini menunjukkan bahwa anak-anak yang diasuh dengan keras oleh orang tua tidak mampu mengatur stres sebaik teman sebaya mereka, yang menyebabkan mereka membutuhkan lebih banyak bantuan pengaturan eksternal seiring bertambahnya usia.

Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang mengapa anak-anak yang diasuh dengan keras atau mengalami penganiayaan, menunjukkan sistem respons stres yang kurang fungsional, dan itu mungkin sebagai akibat dari lingkungan yang penuh tekanan.

"Kami menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh keras juga menunjukkan inersia RSA yang lebih besar. Setelah dihadapkan pada tantangan, dibutuhkan waktu lebih lama bagi tingkat stres mereka yang tinggi untuk kembali ke tingkat normal," ungkap Lunkenheimer.

"Anak-anak ini mungkin tidak menerima masukan yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem pengaturan dengan benar, atau menjadi lebih kaku dan kurang responsif."

Demikian studi terbaru yang mengungkap kaitan pola asuh agresif orang tua pada kemampuan anak dalam mengatasi stres. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda