Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Mengenal Ciri-Ciri Pola Asuh Permisif, Apa Bunda Termasuk?

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Kamis, 02 Jul 2026 20:30 WIB

Gaya Parenting Otoritatif vs Otoriter untuk Anak, Apa Perbedaannya?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Jiyi
Daftar Isi
Jakarta -

Ada berbagai jenis pola asuh yang bisa diterapkan orang tua kepada anak. Tentu saja, setiap Bunda dan Ayah memilih gaya parenting yang sesuai dengan nilai keluarga.

Dalam studinya di tahun 1967, psikolog anak Diana Baumrind mengkategorikan orang tua dan pola asuh mereka ke dalam salah satu dari empat kategori. Kategori pola asuh ini berdasarkan harapan mereka terhadap anak-anak dan perhatian terhadap kebutuhan emosional anak-anak.

Keempat kategori pola asuh tersebut adalah otoriter, pola asuh yang sangat menuntut dan minim responsif. Pola asuh permisif yang minim menuntut dan sangat responsif, pola otoritatif yang sangat menuntut dan sangat responsif, dan pola asuh yang mengabaikan, minim menuntut dan minim responsif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Salah satu pola asuh yang sering dibahas, yaitu pola asuh permisif yang merupakan jenis gaya pengasuhan anak yang suportif dan ramah. Namun pola asuh ini disebut kurang batasan dan harapan, baik di rumah maupun di tempat umum. 

Metode pengasuhan ini menempatkan anak-anak sebagai pusat pengambilan keputusan, membiarkan mereka memilih bagaimana berperilaku dan mengekspresikan diri sepanjang hari dengan sedikit bimbingan dari pengasuh.

Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif cenderung hangat dan positif. Mereka tidak mendikte pilihan atau perilaku anak-anak mereka tetapi cenderung turun tangan untuk membantu anak-anak mereka ketika dibutuhkan. Sejak usia dini, anak-anak yang tumbuh di rumah tangga permisif tahu bahwa mereka dicintai dan bahwa mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan dengan sedikit konsekuensi.

Orang tua dengan pola asuh permisif tidak selalu bermaksud demikian dalam pendekatan mereka terhadap pengasuhan. Mereka mungkin memberi anak-anak mereka kelonggaran bukan untuk menumbuhkan kemandirian mereka, tetapi karena menetapkan aturan.

Dikutip dari laman Parents, penelitian menunjukkan bahwa motivasi orang tua permisif seringkali egois. Kenapa egois? Karena seperti anak-anak, banyak orang tua yang hanya ingin bersenang-senang tanpa memikirkan jangka panjang mereka.

Ciri-ciri pola asuh permisif

Orang tua permisif cenderung memiliki ciri-ciri berikut:

  • Menetapkan aturan minimal
  • Bertindak seperti orang kepercayaan atau sekutu bagi anak-anak
  • Menghormati preferensi anak-anak tentang makanan dan aktivitas sehari-hari
  • Mencari masukan anak-anak tentang keputusan besar, mulai dari pilihan sekolah hingga pindah rumah
  • Menekankan kebebasan daripada tanggung jawab
  • Membiarkan konsekuensi alami daripada konsekuensi yang dipaksakan
  • Tidak terlalu khawatir tentang keselamatan dan mungkin melihat situasi berisiko sebagai peluang belajar

Misalnya, jika seorang anak memukul saudara kandungnya, orang tua permisif tidak akan memberikan konsekuensi dan bahkan mungkin tidak membahas perilaku tersebut sama sekali. Demikian pula, jika lantai kamar tidur anak dipenuhi mainan dan pakaian, orang tua dengan pola asuh permisif tidak akan mempermasalahkannya. Orang tua akan tetap diam dan membereskannya sendiri.

Mengapa ada orang tua yang menerapkan pola asuh permisif?

Seringkali, orang tua menerapkan pendekatan permisif dengan niat baik. Mereka mungkin memiliki begitu banyak cinta dan kasih sayang kepada anak mereka sehingga mereka enggan menetapkan dan menegakkan aturan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau kekecewaan.

Mereka mungkin menikmati perhatian positif dari anak-anak yang mendapatkan apa yang mereka inginkan, mulai dari es krim sebelum makan malam hingga jam malam yang lebih larut.

Orang-orang yang paling menikmati "kebahagiaan" jangka pendek berupa pelukan dan rasa terima kasih dari anak-anak mereka mungkin pernah merasa tidak dicintai atau terputus dari orang tua mereka sendiri saat tumbuh dewasa. Hal ini dapat dimengerti lantaran ingin menciptakan lebih banyak kehangatan dan rasa bahagia di rumah tangga, meskipun anak-anak mungkin kurang memiliki keterampilan atau tanda-tanda kedewasaan tertentu tanpa standar dan harapan untuk membimbing mereka.

Kelebihan dan kekurangan pola asuh permisif

Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif penuh kasih sayang dan mendukung anak-anak mereka. Gaya pengasuhan ini menawarkan banyak kemandirian dan kesempatan untuk belajar sambil melakukan.

"Pengasuhan permisif dapat berdampak positif pada anak-anak, karena orang tua ini peka terhadap kebutuhan anak, menawarkan dukungan emosional, dan memberi anak-anak mereka kesempatan untuk membuat keputusan sendiri," kata Cara Goodwin, Ph.D., seorang psikolog klinis berlisensi di Amerika Serikat, dikutip dari laman BabyCenter.

Sayangnya, kekurangan terbesar dari pengasuhan permisif adalah kurangnya batasan. Dalam jangka pendek, hal itu dapat berarti anak-anak mengembangkan kebiasaan yang tidak sehat seperti terlalu banyak waktu di depan layar, waktu tidur larut malam, dan pola makan yang tidak seimbang, dan menunjukkan perilaku impulsif dan membangkang.

Pengasuhan permisif juga dapat memiliki dampak jangka panjang. Hal itu menghalangi anak-anak untuk belajar mengatasi stres dan kekecewaan secara efektif.

Anak-anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengembangkan ketahanan dan kepercayaan diri bahwa mereka dapat melewati tantangan yang sulit. Penelitian telah mengaitkan pola pengasuhan permisif dengan dampak negatif tertentu, seperti risiko lebih tinggi terhadap gejala kecemasan dan depresi serta prestasi sekolah yang lebih rendah.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda