Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Waspadai, Hukuman Masa Kecil Ini Bisa Membekas hingga Dewasa Menurut Pakar

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 01 Jul 2026 09:30 WIB

Waspadai, Hukuman Masa Kecil Ini Bisa Membekas hingga Dewasa Menurut Pakar
Ilustrasi Hukuman Masa Kecil Ini Bisa Membekas hingga Dewasa Menurut Pakar/Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio
Daftar Isi
Jakarta -

Mendidik anak memang bukan hal yang mudah bagi setiap orang tua. Dalam situasi tertentu, hukuman dipilih sebagai salah satu cara untuk mengajarkan disiplin pada anak dan memperbaiki perilakunya.

Dahulu, hukuman fisik cukup sering diterapkan dalam pola asuh di banyak keluarga. Padahal, pengalaman itu bisa terus diingat anak bahkan saat mereka sudah dewasa.

Meski terlihat sebagai cara mendisiplinkan anak, hukuman fisik seperti memukul atau menampar hingga kini masih ditemukan dalam beberapa keluarga. Bentuk disiplin ini melibatkan tindakan kekerasan fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dilansir dari laman Yahoo Health, banyak orang yang membagikan pengalaman mereka pernah dipukul oleh orang tua, kakek, dan nenek menggunakan berbagai benda rumah tangga. Mulai dari sendok kayu, ikat pinggang, sisir rambut, hingga benda lainnya.

Melihat data dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, bahwa sekitar 1,2 miliar anak usia 0 hingga 18 tahun mengalami hukuman fisik di rumah setiap tahunnya. Di beberapa negara yang dipantau, sebagian anak bahkan mengalami hukuman fisik berat dalam satu bulan terakhir.

Hukuman fisik di masa kecil bisa terbawa hingga dewasa

Seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan terapis bersertifikasi di New York, Vanessa Williams, pengalaman mendapatkan hukuman fisik saat kecil dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang ketika dewasa.

"Orang dewasa yang pernah mengalami hukuman fisik saat masih kecil mungkin mengembangkan kepekaan yang tinggi terhadap kritik atau konflik, bersamaan dengan konsep diri berbasis rasa malu yang memengaruhi rasa harga diri mereka," kata Williams.

Sejalan dengan hal tersebut, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di California, Chloe Bean, menjelaskan bahwa pengalaman menerima hukuman fisik saat kecil dapat membuat seseorang terbiasa menyimpan amarahnya sendiri.

"Banyak orang dewasa yang dibesarkan dengan hukuman fisik belajar memendam amarah mereka karena mengekspresikannya justru akan mendatangkan hukuman yang lebih berat," katanya.

Bean mengatakan bahwa kemarahan tersebut dapat terjadi dengan cara yang berbeda seperti:

  • Dari dalam diri: Kebiasaan menyalahkan diri sendiri, rasa malu yang berlebihan, depresi, kecanduan, perilaku menyakiti diri, hingga mengabaikan kebutuhan pribadi.
  • Dari perilaku sehari-hari: Mudah tersinggung, cepat marah, mengalami ledakan emosi, membentak pasangan atau teman kerja, bahkan marah saat berada di jalan.

Tak hanya emosi, hukuman fisik bisa berdampak pada tubuh

Dalam kesempatan yang sama, Bean menjelaskan bahwa pengalaman hukuman fisik saat kecil juga dapat berpengaruh pada kondisi tubuh ketika anak beranjak dewasa. Beberapa gejala yang dapat muncul seperti:

  • Ketegangan otot yang berlangsung dalam waktu lama
  • Kebiasaan menggeretakkan gigi
  • Migrain
  • Masalah pencernaan
  • Kambuhnya gejala autoimun saat mengalami stres atau menekan emosi

Vanessa Williams pun sependapat bahwa dampak tersebut dapat terlihat melalui kondisi fisik seseorang. Menurutnya, banyak orang dewasa mengalami ketegangan pada tubuh dan sulit untuk rileks meski berada di situasi yang sebenarnya tidak ada masalah.

"Banyak orang dewasa mengalami ketegangan otot kronis, terutama di bahu, rahang, atau perut, bersamaan dengan peningkatan respons terkejut dan kesulitan untuk rileks, bahkan di lingkungan yang aman," katanya.

Pakar cara memulihkan efek hukuman fisik pada anak 

Menurut Chloe Bean, anak yang menerima hukuman fisik sejak kecil banyak yang tidak belajar tentang cara mengekspresikan emosi dengan aman atau mengatur perasaannya dengan baik.

Maka dari itu, tak sedikit dari mereka yang akhirnya mengabaikan kebutuhan diri sendiri hingga menghindari kedekatan dengan orang lain, Bunda.

"Mereka mengembangkan strategi penanggulangan jangka pendek seperti penekanan, mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, mematikan emosi, menjauhkan diri dari tubuh mereka, atau menghindari kedekatan," kata Bean.

Jika orang tua pernah memberikan hukuman fisik pada anak, jangan khawatir, ya. Sebelum terlambat, Bean membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua seperti:

  1. Mengajarkan anak mengelola emosi tanpa rasa takut atau menekan perasaannya.
  2. Membangun hubungan yang hangat, aman, dan penuh dukungan.
  3. Mengajak anak melakukan kegiatan yang membantu tubuh menjadi lebih rileks.
  4. Mengurangi kebiasaan mengkritik dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
  5. Mencari bantuan profesional atau terapi apabila diperlukan untuk membantu proses pemulihan trauma.

Seiring waktu, perubahan positif ini dapat terlihat dalam keseharian. Anak akan lebih berani mengungkapkan perasaannya, tenang dalam mengatur emosi, serta mampu berkomunikasi dengan lebih baik.

Itulah penjelasan mengenai pentingnya mewaspadai hukuman masa kecil yang bisa membekas hingga dewasa. Semoga dapat bermanfaat, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda