Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

11 Cara Orang Tua dengan IQ Tinggi Membesarkan Anak Lebih Cerdas dan Sukses

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Jumat, 26 Jun 2026 09:30 WIB

11 Kebiasaan Ayah yang Menandakan Anak Dibesarkan oleh Laki-laki yang Baik Menurut Studi
Ilustrasi Cara Orang Tua dengan IQ Tinggi Membesarkan Anak Lebih Cerdas dan Sukses/Foto: Getty Images/Drazen_
Daftar Isi
Jakarta -

Menjadi orang tua memang penuh dengan suka duka yang tidak selalu mudah untuk dijalani. Ada kalanya orang tua harus melepaskan hal-hal tertentu demi kebaikan anak di masa depan.

Meski begitu, tak sedikit orang tua yang menyadari bahwa mereka tidak bisa terus melindungi anak selamanya. Pada akhirnya, anak perlu belajar menghadapi kehidupannya dengan caranya sendiri.

Para orang tua dengan IQ tinggi biasanya memilih untuk tidak terlalu membatasi langkah anak. Mereka justru fokus membangun kemandirian dan tanggung jawab anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bicara soal hal ini, ada beberapa cara yang dilakukan orang tua dengan IQ tinggi dalam membesarkan anak supaya bisa tumbuh lebih cerdas dan siap menghadapi masa depan.

Cara orang tua dengan IQ tinggi membesarkan anak lebih cerdas dan sukses

Orang tua dengan IQ tinggi menerapkan beberapa kebiasaan tertentu agar anak tumbuh lebih cerdas dan sukses. Simak penjelasan selengkapnya yang dikutip dari Your Tango.

1. Mampu mengendalikan emosi saat mengasuh anak

Dalam mengasuh anak, orang tua kerap berada di situasi yang melelahkan, setuju tidak, Bunda? Saat emosi sedang tidak terkendali, reaksi seperti berteriak bisa saja terjadi.

Namun, kebiasaan meluapkan emosi dengan berteriak justru tidak membantu anak menjadi lebih tenang atau patuh. Bahkan, ini bisa memperburuk situasi dan memengaruhi kondisi emosional anak.

"Meskipun beberapa orang tua mungkin berpikir bahwa berteriak akan membuat anak-anak mereka mendengarkan dan berperilaku baik, hal itu sering kali malah memperburuk keadaan," tulis dalam laporan American Academy of Pediatrics (AAP).

Anak-anak yang sering menerima teriakan diketahui rentan mengalami masalah perilaku di kemudian hari. Bahkan, dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa "berteriak sama menyakitkannya dengan memukul".

Sebagai orang tua, kita harus tetap tenang ketika menghadapi perilaku anak. Sikap ini dapat menciptakan suasana yang lebih sehat bagi tumbuh kembang mereka.

2. Membangun komunikasi dengan anak

Di tengah rutinitas yang padat, banyak orang tua yang jarang meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak. Padahal, percakapan seperti ini menjadi momen penting untuk membangun kedekatan.

Sebuah penelitian dari Pew Research Center, 39 persen Bunda yang bekerja penuh waktu dan setengah dari Ayah bekerja penuh waktu mengaku memiliki waktu yang sedikit bersama anak-anak mereka.

Nah, orang tua dengan IQ tinggi tetap berusaha menyisihkan waktu untuk berbincang setiap harinya. Menurut pelatih kehidupan asal Chicago, T-Ann Pierce, komunikasi yang sehat di rumah dapat membentuk anak menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam menyampaikan kebutuhan mereka.

"Anak-anak yang tumbuh di lingkungan di mana komunikasi efektif dicontohkan di rumah akan lebih berani untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang sehat saat dewasa," ujar Pierce.

"Mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih berdaya dan memiliki harga diri yang lebih tinggi," lanjutnya.

3. Memperhatikan pilihan kata saat berbicara dengan anak

Dalam keseharian, orang tua terkadang berbicara dengan nada marah atau mengomel ketika sedang merasa lelah. Namun, cara berbicara ini dapat berdampak pada perasaan dan rasa percaya diri anak, lho.

Meskipun maksud orang tua baik, kata-kata yang diucapkan tanpa dipikirkan membuat anak merasa cemas atau takut. Pelatih orang tua dan psikolog dari Amerika Serikat, Jeffrey Bernstein, Ph.D., menjelaskan bahwa komentar yang terlalu kritis dapat mengikis rasa percaya diri anak.

"Komentar kritis dapat mengikis harga diri dan rasa berharga seorang anak serta dapat menyebabkan perasaan sedih, marah, atau frustrasi. Teguran yang disampaikan dengan tajam ini juga dapat menyebabkan penurunan motivasi anak dan kurangnya kepercayaan diri pada kemampuan mereka," kata Bernstein.

4. Orang tua mendorong kreativitas anak

Dalam beberapa kondisi, orang tua tak jarang membatasi kreativitas anak karena ingin mereka fokus pada hal yang dianggap "penting". Misalnya pelajaran di sekolah yang dianggap lebih bermanfaat untuk masa depan.

Ada juga orang tua yang khawatir jika anak terlalu banyak bermain atau berkreasi, mereka akan kehilangan fokus pada pelajaran di sekolah. Tapi sebenarnya, anak akan mendapatkan banyak manfaat dari mencoba hal-hal baru, Bunda.

Mengapa demikian? Karena bermain dan berkreasi merupakan suatu hal penting dalam membangun kemampuan berpikir dan imajinasi anak.

5. Memberi anak ruang untuk belajar dan mengalami kegagalan

Sebagai orang tua, kita suka tanpa sadar terlalu sering mengawasi dan membatasi langkah anak. Hal ini dilakukan karena rasa khawatir agar anak tidak melakukan kesalahan.

Namun, sikap terlalu protektif ini justru membuat anak kurang leluasa belajar dari pengalaman mereka sendiri. Padahal, proses mencoba dan gagal itu penting dalam perkembangan anak.

Sebuah penelitian dari Universitas West Virginia, pola pengasuhan yang terlalu protektif dikaitkan dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan pada anak. Bahkan, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa hal ini dapat menurunkan capaian akademik anak, lho.

6. Mendorong kemandirian anak dalam keseharian

Kemandirian merupakan salah satu hal penting dalam tumbuh kembang anak. Orang tua dengan IQ tinggi biasanya paham bahwa anak perlu diberi ruang untuk belajar melakukan banyak hal sendiri.

Seorang psikolog klinis dari California, Roland Stolberg, menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua yang terlalu berlebihan dalam setiap kehidupan anak justru bisa menghambat perkembangan mereka.

"Ketika orang tua terlibat dalam setiap aspek kehidupan anak, anak tersebut kehilangan pengalaman-pengalaman yang sangat berharga ini. Secara perkembangan, bahkan anak-anak sekolah dasar pun siap untuk memikul tanggung jawab dan belajar dari konsekuensi positif dan negatif dari pilihan mereka," ujar Stolberg.

Dengan memberi ruang anak untuk melakukan hal-hal secara mandiri, mereka akan belajar percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

7. Menghargai kebebasan anak dalam bertumbuh

Dalam menjalani peran sebagai orang tua, kita kadang ingin terlalu mengarahkan setiap pilihan anak. Namun, jika terlalu sering diatur, anak bisa kehilangan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.

Orang tua dengan IQ tinggi paham betul bahwa anak perlu diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Justru dari kebebasan itulah anak bisa menemukan minat dan bakatnya, Bunda.

8. Memberi kesempatan anak belajar tanggung jawab

Seiring bertumbuhnya anak, mereka perlu belajar memikul tanggung jawab dalam keseharian. Awalnya mungkin berat bagi orang tua untuk mulai memberi kepercayaan lebih pada anak

Namun, langkah ini justru membantu anak belajar menghadapi situasi dengan lebih tenang. Kalau tidak yakin harus mulai dari mana, Bunda bisa berikan tugas rumah kepada anak-anak setiap hari, sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

9. Mengajarkan anak untuk belajar dari kesalahan

Saat anak melakukan kesalahan, banyak orang tua langsung menegur atau memberi hukuman. Namun, momen ini sebenarnya menjadi kesempatan untuk anak memahami dirinya lebih baik.

Bunda perlu tahu bahwa memberikan hukuman tanpa penjelasan tidak membantu anak memahami kesalahannya. Bahkan, studi yang diterbitkan di Canadian Journal of Psychiatry menemukan bahwa hukuman fisik seperti memukul dapat memperburuk perilaku anak serta berdampak pada kesehatan mental mereka.

10. Menghargai proses dan usaha anak

Sebagai orang tua, kita pasti bangga ketika anak berhasil meraih nilai tinggi atau memenangkan sebuah perlombaan. Hal ini boleh saja, tetapi tanpa sadar hanya hasil akhir yang lebih banyak mendapat perhatian.

Padahal, jika hanya hasil yang dirayakan, anak menganggap bahwa yang penting hanyalah kemenangan. Sementara proses belajar, usaha, dan kerja keras yang mereka lakukan justru kurang dihargai.

Orang tua dengan IQ tinggi kerap memberi apresiasi pada proses yang sudah dijalani anak. Misalnya saat anak belajar dengan sungguh-sungguh, mereka memberikan perhatian seperti makanan favorit atau waktu berkualitas bersama setelahnya.

11. Mengajarkan pola pikir berkembang pada anak

Orang tua dengan IQ tinggi tahu cara terbaik dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Salah satunya dengan mengenal bagaimana cara anak belajar, gagal, dan berkembang dari proses tersebut.

Salah satu hal penting dalam mendidik anak adalah cara memberi pujian dan menyikapi kegagalan. Cara orang tua menanggapi hal seperti ini turut memengaruhi cara anak melihat kemampuan dirinya sendiri.

Itulah cara orang tua dengan IQ tinggi dalam membesarkan anak agar tumbuh lebih cerdas dan sukses. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi Bunda, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda