Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

11 Kalimat Orang Tua yang Diam-diam Mengikis Kepercayaan Diri Anak

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 24 Jun 2026 17:30 WIB

11 Kalimat Orang Tua yang Diam-diam Mengikis Kepercayaan Diri Anak
Ilustrasi Kalimat Orang Tua yang Diam-diam Mengikis Kepercayaan Diri Anak/Foto: Getty Images/RyanJLane
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap anak sebenarnya punya cara berpikir tentang dirinya sendiri yang terbentuk dari tempat ia tumbuh. Hal itu pun turut dipengaruhi oleh kata-kata yang terucap dari orang tua di rumah.

Apa yang mereka dengar dapat berubah menjadi cara mereka menilai dirinya sendiri, Bunda. Baik saat anak berhasil maupun ketika sedang merasa kurang mampu.

Kalau yang lebih sering terdengar adalah tekanan atau kritik, anak akan lebih mudah meragukan dirinya. Sebab itu, cara kita berbicara di rumah punya peran yang jauh lebih besar dalam membentuk kepercayaan diri anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa kalimat yang diam-diam dapat mengikis kepercayaan diri anak. Bunda penasaran apa saja? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Kalimat orang tua yang diam-diam mengikis kepercayaan diri anak

Dilansir dari laman Your Tango, berikut ini beberapa ungkapan yang sering digunakan orang tua yang dapat mengikis kepercayaan diri anak.

1. "Mengapa kamu tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar?"

Kalimat seperti ini terdengar seperti pertanyaan biasa ya, tapi sebenarnya bisa menyakitkan bagi anak. Karena satu kesalahan kecil saja seolah-olah menggambarkan keseluruhan dirinya.

Penelitian menunjukkan bahwa kritik seperti ini dapat berdampak pada rendahnya harga diri anak saat remaja. Sebaliknya, kepercayaan diri justru lebih mudah tumbuh lewat dukungan, bukan kecaman yang terus-menerus.

2. "Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti"

Ungkapan yang satu ini diucapkan tanpa maksud buruk, terlebih saat anak banyak bertanya. Namun bagi anak, ini terasa seperti rasa ingin tahunya tidak dianggap penting.

Bunda perlu tahu, anak sebenarnya mengetahui banyak hal lebih dari yang orang tua kira. Kalau sering ditanggapi seperti itu, mereka pun enggan bertanya lagi seiring waktu.

Studi tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa anak yang merasa diabaikan cenderung jarang mencari bimbingan. Karena itu, kepercayaan diri anak bisa ikut menurun.

3. "Itu tidak penting"

Ketika anak berbagi sesuatu yang menurutnya berarti, baik itu cerita, gambar, atau bahkan hal yang membuatnya khawatir, lalu dijawab dengan "Itu tidak penting", anak akan merasa tidak didengar, Bunda.

Sebagai orang tua, kita mungkin tidak bermaksud meremehkan, tapi anak bisa saja merasa bahwa apa yang ia rasakan tidak penting. Lambat laun, mereka pun tidak ingin untuk bercerita kembali.

Kondisi ini tentu mengikis kepercayaan diri anak karena mereka belajar bahwa apa yang ada di dalam dirinya tidak terlalu berharga, Bunda.

4. "Kamu pasti akan gagal jika mencoba itu"

Ungkapan seperti "Kamu pasti akan gagal jika mencoba itu," kerap terucap karena orang tua ingin melindungi anak. Namun, hal ini diam-diam membuat anak ragu untuk melangkah.

Ketika kegagalan sudah "dibayangkan" sebelum anak mencoba, mereka pun kehilangan keberaniannya, Bunda. Padahal, dari mencoba itulah anak tahu banyak hal baru tentang dirinya.

Anak akan lebih percaya diri ketika diberi ruang untuk mencoba, salah, lalu memperbaiki diri. Jika ruang itu tertutup, anak memilih berhenti bahkan sebelum memulai.

5. "Bunda tidak punya waktu untuk hal ini sekarang"

Setiap orang tua tentu punya kesibukan, tetapi kalau anak sering mendengar hal seperti ini, mereka berpikir bahwa kebutuhan dan suara mereka tidak terlalu diperhatikan.

Walaupun orang tua mungkin cepat melupakannya, anak justru dapat mengingat perasaan saat dirinya diabaikan. Kondisi ini membuat mereka semakin ragu untuk menyampaikan pendapatnya, Bunda.

6. "Mengapa kamu tidak bisa seperti anak-anak lain?"

Perbandingan dengan teman atau tetangga mengajarkan anak bahwa menjadi diri sendiri seolah tidak cukup baik. Jika orang tua sering mengucapkan hal ini, anak pun terdorong untuk mengikuti orang lain agar dirinya dianggap berharga.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering dibandingkan oleh orang tua cenderung memiliki harga diri yang lebih rendah. Lebih dari itu, mereka juga rentan mengalami kecemasan dalam keseharian.

7. "Jangan memperbesar masalah sepele!"

Mengecilkan kesulitan yang dialami anak membuat mereka belajar untuk tidak mempercayai perasaan mereka sendiri, Bunda. Sekalipun masalah itu tampak sepele bagi orang tua, bagi anak hal tersebut tetap terasa nyata.

Seiring waktu, penolakan yang terus berulang mengikis kepercayaan diri anak. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka rasakan dianggap berlebihan atau tidak bisa diandalkan.

8. "Jangan terlalu banyak bertanya"

Rasa ingin tahu merupakan acuan dalam proses anak belajar dan kemampuan menyelesaikan masalah. Saat anak mendengar hal seperti ini, mereka pun berpikir kalau bertanya itu hal yang mengganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang didorong untuk aktif bertanya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam cara berpikirnya. Ketika hal itu dibatasi, bukan hanya rasa ingin tahu saja yang menurun, tapi juga kepercayaan diri mereka turut terpengaruh.

9. "Kamu tidak akan pernah berhasil dengan sikap seperti itu"

Sekalipun dimaksudkan sebagai motivasi, ungkapan ini membuat anak merasa ada yang salah dengan dirinya. Alih-alih menyesuaikan perilaku, mereka justru melihat diri mereka sebagai orang yang pada dasarnya "tidak baik".

Memberi penilaian seperti ini tentu dapat mengikis rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, Bunda.

10. "Itu tidak cukup baik"

Bagi anak-anak, mendengar hal ini berulang kali menumbuhkan pola pikir perfeksionis dan rasa takut akan kegagalan. Tidak hanya itu, hal ini juga membuat tuntutan yang dirasakan jadi sulit untuk dicapai.

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan orang tua untuk selalu sempurna berkaitan dengan tingkat kecemasan yang tinggi pada anak. Kondisi ini juga bisa menurunkan rasa percaya diri karena anak merasa usahanya tidak pernah cukup.

11. "Bunda berharap kamu lebih seperti saat Bunda seusiamu"

Ungkapan ini membebani anak-anak dengan perbandingan yang terus-menerus. Tentu saja, kalimat ini dapat merusak kepercayaan diri anak karena seakan-akan mereka tidak sebaik orang lain.

Anak-anak yang mendengar kalimat ini tumbuh dengan perasaan tidak mampu dalam dirinya. Mereka sulit memenuhi harapan orang tua, meskipun sudah berusaha sebaik mungkin.

Itulah kalimat-kalimat orang tua yang diam-diam dapat mengikis kepercayaan diri anak. Semoga informasinya dapat memberi manfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda