Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Kalimat "Baik" yang Ternyata Bisa Memicu Kecemasan untuk Anak Tanpa Disadari Menurut Psikolo

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Senin, 22 Jun 2026 12:50 WIB

7 Kalimat “Baik” yang Ternyata Bisa Memicu Kecemasan untuk Anak Tanpa Disadari Menurut Psikolog
Ilustrasi Kalimat “Baik” yang Ternyata Bisa Memicu Kecemasan untuk Anak Tanpa Disadari Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/ChayTee
Daftar Isi
Jakarta -

Banyak orang dewasa terlihat sukses, percaya diri, dan memiliki kehidupan yang tampak baik-baik saja. Namun, tidak sedikit yang masih menyimpan luka dari kata-kata yang pernah mereka dengar saat kecil.

Sering kali, orang menganggap seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang terlihat 'sempurna' pasti tidak memiliki luka batin. Namun menurut psikolog, anggapan tersebut belum tentu benar, Bunda. 

Psikolog anak di Hackensack University Medical Center, Dr. William Cheung Tsang, Psy.D., mengatakan bahwa orang yang sukses saat dewasa bisa saja menyimpan kenangan menyakitkan dari masa kecilnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Tidak peduli seberapa sukses seseorang tampak dewasa. Orang sering kali mengingat dengan rasa sakit kata-kata menyakitkan dan merendahkan yang diucapkan oleh orang tua ketika mereka masih anak-anak," ujar Tsang, dikutip dari Parade.

Di sisi lain, seseorang yang telah dewasa juga dapat mengingat pujian yang pernah mereka dengar saat kecil. Hal ini berarti, kata-kata yang diucapkan punya pengaruh terhadap perkembangan anak.

"Kata-kata membentuk cara seorang anak memandang dirinya sendiri dan cara mereka belajar berkomunikasi serta memperlakukan orang lain," katanya.

Untuk membantu para orang tua, ia pun membagikan beberapa kalimat yang terdengar "baik", tetapi tanpa disadari justru dapat memicu kecemasan pada anak.

Kalimat "baik" yang ternyata memicu kecemasan untuk anak menurut psikolog

Psikolog Tsang mengingatkan bahwa ada beberapa kalimat "baik" yang justru dapat membuat anak merasa cemas. Berikut penjelasannya yang dilansir dari laman Parade.

1. "Jangan khawatir"

Kalimat "Jangan khawatir" diucapkan orang tua dengan tujuan menenangkan anak. Namun, menurut Tsang, ucapan tersebut justru dapat membuat perasaan anak terabaikan.

"Memberitahu anak untuk tidak khawatir dapat meremehkan perasaan mereka, mengirimkan pesan bahwa emosi mereka salah atau tidak pantas," ujarnya.

"Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan rasa malu, dan gagal mengajarkan anak bagaimana mengatasi perasaan cemas mereka," lanjutnya.

2. "Kamu baik-baik saja!"

Ungkapan seperti ini juga cukup sering diucapkan orang tua saat anak sedang sedih, takut, atau menangis. Menurut Tsang, orang tua biasanya ingin meyakinkan anak bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

"Tujuan orang tua adalah untuk menunjukkan kepercayaan diri dan memperlihatkan kepada anak bahwa tidak ada alasan untuk merasa sedih," kata Tsang.

Namun, ketika anak benar-benar takut, kalimat tersebut justru dapat membuat mereka bingung. Anak merasa bahwa perasaan yang mereka tidak dipercaya oleh orang-orang yang mereka andalkan.

"Namun, bagi anak yang benar-benar tertekan, diberi tahu bahwa mereka 'baik-baik saja' padahal yang mereka rasakan justru sebaliknya, dapat membingungkan dan mengisolasi. Hal itu dapat membuat mereka merasa seolah-olah pengalaman batin mereka tidak dipahami atau dipercaya oleh orang-orang yang paling mereka percayai," jelasnya.

3. "Ini bukan masalah besar"

Kalimat "Ini bukan masalah besar" diucapkan orang tua untuk membantu anak melihat situasi dengan lebih tenang. Tsang menuturkan bahwa ucapan ini justru memberi dampak yang berbeda pada anak.

Alih-alih merasa tenang, anak dapat menganggap bahwa perasaan mereka tidak dianggap penting, Bunda. "Namun, ungkapan ini bisa terkesan meremehkan dan mengecilkan hati seorang anak," jelas Tsang.

Ia menambahkan bahwa jika perasaannya terus diabaikan, anak pun merasa malu dengan emosinya dan enggan menceritakan apa yang dirasakannya di kemudian hari.

"Apa yang tampak kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar bagi seorang anak, dan mengatakan kepada mereka bahwa itu 'bukan masalah besar' dapat membuat mereka merasa bahwa perasaan mereka diremehkan. Hal ini dapat menyebabkan seorang anak merasa malu dengan emosinya dan ragu untuk membagikannya di masa depan," kata Tsang.

4. "Berhentilah menangis"

Menangis saat takut, sedih, atau cemas merupakan hal yang wajar, tidak hanya bagi anak tetapi juga orang tua. Namun, ada orang tua yang meminta anak berhenti menangis dengan harapan suasana jadi lebih tenang.

Dalam banyak situasi, orang tua sebenarnya tidak nyaman melihat cara anak mengekspresikan emosinya. Sayangnya, ucapan tersebut justru dapat meremehkan perasaan anak.

"Menyuruh anak berhenti menangis berarti meremehkan perasaan mereka dan mengajarkan mereka bahwa mengekspresikan emosi secara terbuka tidak dapat diterima," ujar Tsang.

"Menangis adalah respons alami terhadap perasaan kewalahan, dan menekan ekspresi ini dapat menyebabkan penumpukan kecemasan dan stres," sambungnya.

5. "Biar Bunda yang mengerjakannya untukmu"

Tsang mengerti bahwa orang tua tidak tega melihat anak kesulitan atau merasa cemas. Oleh karena itu, banyak orang tua memilih mengambil alih supaya masalahnya cepat selesai.

Meski dapat membuat anak merasa lebih tenang untuk sementara, kebiasaan ini ternyata bisa menimbulkan dampak jangka panjang. Saat orang tua terus mengambil alih, anak pun belajar bahwa dirinya tidak mampu menghadapi situasi tersebut sendiri.

6. "Lihat? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"

Menurut Tsang, kalimat ini kerap terucap usai situasi yang ditakuti anak berakhir tanpa masalah. Namun, anak dapat menganggap bahwa kecemasan yang mereka rasakan sebelumnya dianggap berlebihan.

"Namun, ungkapan ini bisa terdengar merendahkan dan dapat mengabaikan kecemasan nyata yang dirasakan anak sebelumnya," kata Tsang.

Tsang juga menjelaskan bahwa ungkapan ini dapat membuat anak tertekan untuk tidak menunjukkan rasa cemas lagi, Bunda.

"Hal ini juga dapat menciptakan tekanan bagi anak untuk tidak merasa cemas di masa depan, dan jika mereka merasa cemas, mereka mungkin merasa telah gagal memenuhi harapan orang dewasa," tuturnya.

7. "Kamu membuat Bunda kesal!"

Psikolog Tsang mengatakan bahwa orang tua mengucapkan ini saat merasa lelah atau frustrasi karena anak tidak mau mendengarkan. Banyak pula yang menganggap ungkapan tersebut dapat membuat anak sadar dan akhirnya menuruti apa yang diminta.

Namun, ia menjelaskan bahwa ucapan ini justru jadi sumber kecemasan bagi anak. Nada marah yang ditunjukkan orang tua membuat anak takut, malu, dan menganggap dirinya telah mengecewakan orang tuanya.

"Namun, ungkapan ini justru dapat menjadi sumber kecemasan bagi anak. Ungkapan ini menandakan kemarahan dan ketidaksabaran orang dewasa, yang dapat menakutkan bagi anak," kata Tsang.

Lambat laun, anak pun kehilangan rasa percaya dirinya, Bunda. Bahkan, mereka bisa takut mencoba hal baru karena khawatir akan membuat kesalahan.

"Hal ini dapat menyebabkan siklus kecemasan dan penghindaran, di mana anak menjadi terlalu takut untuk mencoba, karena takut membuat kesalahan," katanya.

Itulah beberapa kalimat yang terdengar baik, tetapi ternyata dapat memicu kecemasan pada anak tanpa disadari menurut psikolog. Semoga bisa membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda