Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cara Jepang Cetak Bintang Sepak Bola Dunia Sejak Usia Anak-anak

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Selasa, 23 Jun 2026 13:00 WIB

Sepak Bola Jepang
Sepak Bola Jepang/ Foto: Getty Images/Zoey106
Daftar Isi

Cara Jepang cetak bintang sepak bola menjadi salah satu topik yang menarik perhatian dunia. Di tengah dominasi negara-negara Eropa dan Amerika Selatan dalam sejarah sepak bola internasional, Jepang berhasil membangun pemain yang unik dan hebat.

Mengutip FIFA, keberhasilan sepak bola Jepang tidak hanya ditopang oleh akademi dan kompetisi profesional, tetapi juga oleh kuatnya keterkaitan antara pendidikan dan olahraga sejak usia dini.

Cara Jepang cetak bintang sepak bola bahkan melibatkan sekolah menengah hingga universitas sebagai bagian penting dari jalur pengembangan pemain. Berkat sistem tersebut, banyak pesepak bola Jepang mampu berkembang secara teknis, akademis, dan mental sebelum terjun ke level profesional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lalu, seperti apa sistem yang membuat Jepang sukses mencetak bintang sepak bola dunia sejak usia anak-anak? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini, Bunda.

Cara Jepang cetak bintang sepak bola dunia sejak usia anak-anak

Jepang kini dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pembinaan sepak bola terbaik di Asia. Kesuksesan Tim Nasional Jepang atau Samurai Blue di berbagai ajang internasional bukanlah hasil instan. Di balik pencapaian tersebut terdapat sistem pengembangan pemain yang terstruktur sejak usia anak-anak hingga dewasa.

FIFA menilai bahwa salah satu kekuatan terbesar sepak bola Jepang terletak pada perpaduan unik antara pendidikan dan olahraga. Tidak hanya fokus mencetak atlet berbakat, Jepang juga membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir para pemain melalui lingkungan sekolah dan universitas.

Awal kebangkitan sepak bola Jepang

Salah satu titik penting dalam perkembangan sepak bola Jepang terjadi pada tahun 1993 ketika J-League resmi dibentuk. Kehadiran liga profesional ini menjadi langkah besar untuk meningkatkan kualitas sepak bola nasional yang sebelumnya tertinggal dibandingkan negara-negara kuat dunia.

Meski sepak bola profesional berkembang pesat, Jepang tetap mempertahankan budaya olahraga sekolah yang sangat kuat. Kompetisi antar pelajar dan klub sekolah menjadi bagian penting dalam menemukan serta mengembangkan bakat-bakat muda.

Berbeda dengan banyak negara lain yang mengandalkan akademi klub profesional, Jepang memberikan ruang besar bagi sekolah menengah untuk menjadi pusat pembinaan pemain.

Turnamen sepak bola tingkat SMA di Jepang memiliki popularitas yang luar biasa. Pertandingan-pertandingan tersebut disaksikan oleh banyak penggemar dan sering menjadi ajang pencarian bakat bagi klub-klub profesional.

Salah satu contoh sukses adalah Keisuke Honda. Legenda Jepang tersebut tidak berkembang melalui akademi elit, melainkan melalui tim sepak bola SMA Seiryo High School setelah gagal masuk tim U-18 Gamba Osaka. Dari sana, bakatnya berkembang hingga akhirnya menjadi salah satu pemain terbaik Jepang sepanjang masa.

Universitas jadi jalur alternatif menuju profesional

Keunikan lain dari sistem Jepang adalah kuatnya kompetisi sepak bola universitas. Di banyak negara, pemain berbakat biasanya langsung menjadi profesional setelah lulus sekolah menengah. Namun di Jepang, banyak pemain memilih melanjutkan pendidikan tinggi sambil terus mengembangkan kemampuan sepak bolanya.

Kompetisi universitas di Jepang memiliki kualitas yang sangat tinggi, bahkan sering dianggap setara dengan klub-klub profesional di divisi bawah J-League. Para pemain mendapatkan lebih banyak menit bermain dan pengalaman bertanding dibandingkan pemain muda yang langsung masuk tim profesional.

Beberapa nama besar yang lahir dari jalur universitas antara lain Kaoru Mitoma dan Kyogo Furuhashi. Keduanya kini bermain di level tertinggi sepak bola internasional dan menjadi andalan Timnas Jepang.

Pada Piala Dunia Qatar 2022, sembilan pemain skuad Jepang diketahui berasal dari jalur pendidikan universitas. Hal ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga wadah efektif untuk mengembangkan talenta sepak bola.

Fokus pada pembentukan karakter

Salah satu faktor yang membuat sistem Jepang berbeda adalah fokus besar terhadap pembentukan karakter pemain. Di lingkungan sekolah maupun universitas, para atlet diajarkan pentingnya tanggung jawab, kerja keras, rasa hormat, serta kemampuan mengelola diri.

Nilai-nilai tersebut dianggap sama pentingnya dengan kemampuan teknis di lapangan. Pemain tidak hanya dituntut menjadi atlet hebat, tetapi juga individu yang mampu menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan terus belajar sepanjang karier mereka.

Pendekatan inilah yang membuat banyak pemain Jepang dikenal memiliki etos kerja tinggi, disiplin, serta mentalitas kuat saat bermain di kompetisi Eropa maupun ajang internasional.

Mengapa sistem pendidikan bola di Jepang efektif?

Ada beberapa alasan mengapa sistem Jepang berhasil mencetak pemain berkualitas dunia:

  • Pembinaan dimulai sejak usia dini melalui sekolah dan komunitas lokal.
  • Kompetisi sekolah menengah berlangsung kompetitif dan berjenjang.
  • Universitas menyediakan jalur pengembangan tambahan sebelum masuk level profesional.
  • Pendidikan berjalan seiring dengan pengembangan olahraga.
  • Pembentukan karakter menjadi prioritas utama.
  • Pemain mendapatkan banyak kesempatan bertanding dan berkembang sesuai usia.

Melalui sistem tersebut, Jepang berhasil membangun sepak bola yang berkelanjutan. Sistem inilah yang membuat negara tersebut terus melahirkan pemain berkualitas dunia dan menjadi salah satu kekuatan sepak bola paling konsisten di Asia hingga saat ini.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda