Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Mengenal Parallel Play, Tahap Bermain Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Kinan   |   HaiBunda

Sabtu, 06 Jun 2026 18:20 WIB

5 Kesalahan Orang Tua Penyebab Perilaku Playing Victim pada Anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Galina Zhigalova
Daftar Isi
Jakarta -

Parallel play menjadi salah satu tahap bermain yang penting dalam proses perkembangan Si Kecil. Dengan bermain bersama, anak belajar mengembangkan kemampuan kognitif dan sosial.

Secara garis besar parallel play merupakan tahap bermain ketika anak bermain berdampingan dengan teman sebaya, tanpa benar-benar berinteraksi.

Biasanya ini terjadi pada masa balita hingga prasekolah. Mereka mulai tertarik dengan keberadaan teman sebaya di sekitar, tetapi masih bermain secara mandiri. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apa itu parallel play?

Parallel play adalah kondisi ketika anak terlihat bermain bersama anak-anak lain, tetapi sebenarnya mereka bermain secara mandiri di dekat satu sama lain.

Selama tahap parallel play anak mulai memperhatikan teman tapi masih lebih fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan sendiri.

Dikutip dari The Bump, parallel play menjadi salah satu tahap bermain yang dikemukakan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall. Ia menggambarkan perkembangan anak dari bermain sendiri saat bayi, hingga bermain bersama orang lain saat usia prasekolah.

"Orang tua mungkin akan melihat anak memainkan mainan yang sama tepat di samping anak lain, tetapi bahasa bermain dan alur permainan mereka sama sekali tidak saling berhubungan," imbuh praktisi perkembangan anak usia dini lainnya, Gabrielle Felman, LCSW.

Manfaat parallel play

Meskipun anak mungkin belum benar-benar bermain bersama anak lain, parallel play juga punya peran penting bagi tumbuh kembangnya. Hal ini bahkan bisa berfungsi sebagai landasan awal bagi anak untuk komunikasi dan belajar berinteraksi sosial.

Mereka diberi kesempatan untuk mengamati orang-orang yang bermain di sekitarnya, sekaligus menjadi cara mereka belajar berinteraksi dengan anak lain.

"Bahkan tidak jarang seorang anak meniru perilaku anak lain selama parallel play. Mungkin mereka juga jadi penasaran terhadap benda unik yang sedang dimainkan oleh temannya," ujar Felman.

Selama parallel play anak juga akan:

  • Belajar menerima kehadiran teman sebaya di 'ruang bermain' mereka
  • Berlatih menggunakan mainan yang sama dengan anak lain
  • Belajar berbagi
  • Mengamati cara anak lain berbicara dan bermain
  • Mengamati bagaimana orang dewasa berinteraksi dengan anak-anak selama bermain

Rentang usia parallel play

Secara umum, parallel play mulai muncul pada masa balita, yaitu sekitar usia 18 hingga 24 bulan, menurut Felman.

Tahap ini biasanya berakhir saat anak mulai memasuki usia prasekolah sekitar 3 hingga 4 tahun, tepatnya saat mereka mulai beralih ke cooperative play atau bermain kooperatif.

Di tahap berikutnya ini, anak memiliki fase interaksi sosial yang lebih aktif jika dibandingkan dengan parallel play. 

Meski begitu, rentang usia tersebut hanyalah rata-rata. Bisa saja berbeda pada setiap anak, sehingga tak perlu dijadikan patokan khusus ya, Bunda.

Lama waktu yang dihabiskan anak dalam tahap parallel play dapat berbeda-beda tergantung pada banyak faktor, termasuk perkembangan individu, lingkungan tempat tumbuh, keberadaan saudara kandung, dan seberapa cepat anak mampu beradaptasi.

Fase ini dapat terjadi dengan teman sebaya yang berbeda usia, termasuk adik atau kakak. 

"Semakin banyak paparan dan kesempatan berlatih berada di sekitar teman sebaya, semakin cepat anak bisa beralih menuju fase bermain kooperatif," papar Felman.

Oleh sebab itu, anak dengan fase bermain paralel mungkin lebih sering terlihat di tempat-tempat 'ramai' seperti sekolah, daycare, dan saat playdate.

Apa yang perlu diperhatikan pada fase ini?

Dikutip dari Real Simple, parallel play tidak selalu cocok untuk setiap hubungan pertemanan. 

Menurut psikolog klinis, Christie Ferrari, PsyD, salah satu hal yang perlu dicatat dalam fase bermain ini adalah tidak adanya interaksi yang benar-benar 'dalam'. Maka dari itu tanpa disadari pertemanan bisa tetap berada di tingkat awal, tidak sampai dekat atau akrab. 

"Kecuali jika keakraban itu memang sudah terbentuk sebelumnya," kata Ferrari.

Kekhawatiran lain muncul ketika kebutuhan anak dan teman ternyata tidak sejalan. Sebagai contoh, Si Kecil mungkin ingin mengobrol, sementara temannya hanya ingin ditemani tanpa banyak bicara.

Ferrari menjelaskan bahwa ketidaksesuaian kebutuhan ini dapat menimbulkan rasa kesal atau kecewa pada pihak yang menginginkan lebih banyak interaksi.

Selain itu, suasana hening saat tidak ada interaksi terkadang membuat anak merasa canggung. Namun tidak apa-apa ya, Bunda. Dari sini anak akan belajar beradaptasi dan mengenal berbagai karakter orang di sekitarnya. 

Cara mengoptimalkan fase parallel play

Latih Fokus, Ini 7 Ide Main Anak Usia 1-3 Tahun di RumahIlustrasi/Foto: Getty Images/LordHenriVoton

Ada banyak cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak bermain mandiri di dekat teman-teman sebaya. Berikut beberapa contoh cara untuk mengoptimalkan fase bermain paralel:

1. Sediakan perlengkapan bermain yang tepat

Dokter anak dan juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP), Natasha Burgert, MD, FAAP, menyarankan orang tua menyediakan beberapa mainan yang serupa agar sesi bermain bersama berjalan lebih lancar.

"Berikan mainan yang serupa sehingga mereka dapat melakukan aktivitas yang sama pada waktu yang sama. Dengan begitu, mereka dapat mulai mengembangkan hubungan yang lebih interaktif," pesan Burgert.

2. Ciptakan kesempatan yang tepat

Orang tua juga dapat menciptakan banyak kesempatan bagi anak untuk melakukan parallel play melalui playdate, sekolah, maupun berbagai kegiatan di lingkungan sekitar.

Selain itu, cobalah untuk secara berkala mengganti atau merotasi mainan anak. Cara ini membantu anak menemukan cara bermain yang baru, sekaligus mengeksplorasi jenis permainan yang paling mereka sukai.

3. Berikan waktu bermain sendiri

Berinteraksi dengan orang lain sepanjang waktu dapat terasa melelahkan, bahkan bagi orang dewasa. Jadi, berikan juga anak waktu bermain baik bersama teman maupun sendirian. 

Dengan demikian, mereka dapat mengalami berbagai jenis permainan, termasuk bermain sendiri (solitary play), parallel play, dan pada akhirnya permainan sosial.

Pengalaman bermain yang menyeluruh mencakup pemberian banyak kesempatan kepada anak untuk bermain dengan berbagai cara yang berbeda.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter anak?

Sebagian orang tua mungkin khawatir jika anak lebih menyukai permainan yang tidak melibatkan interaksi sosial, seperti parallel play, karena dianggap sebagai tanda yang tak biasa.

Praktisi pendidikan anak usia dini, Maria Shaheen, PhD, menjelaskan bahwa anak yang berada dalam spektrum autisme memang cenderung menyukai pola permainan yang berulang. Mereka juga kesulitan dalam permainan imajinatif maupun permainan kooperatif.

Namun, disebutkan bahwa preferensi bermain saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis apa pun.

"Autism Spectrum Disorder (ASD) maupun ADHD tidak dapat dan tidak boleh didiagnosis hanya berdasarkan keterampilan bermain semata," kata Felman.

Ada berbagai kriteria, tanda, dan gejala lain yang harus terpenuhi untuk memperoleh diagnosis. Semua ini tentu dipantau oleh dokter anak atau tenaga profesional lainnya.

Selain itu, setiap anak memiliki karakter dan preferensi bermain yang berbeda-beda. Sebagian anak mungkin lebih senang bermain dengan orang tua atau anggota keluarga, kurang memiliki pengalaman berinteraksi dengan anak lain, merasa malu dengan teman sebaya, atau merasa overstimulasi saat di tempat ramai.

"Anak kadang mungkin ingin bermain sendiri. Beberapa tipe kepribadian juga lebih menyukai kesendirian dibandingkan yang lain," tambah Shaheen.

Jika Bunda merasa khawatir tentang cara anak bermain, para ahli menyarankan untuk memperhatikan preferensi bermain serta respons emosional Si Kecil saat berada di sekitar anak lain.

Ketika anak sudah merasa nyaman berada di sekitar teman-temannya, mereka biasanya akan mulai beralih ke tahap bermain asosiatif (associative play), bermain kooperatif (cooperative play), dan berbagai tahap permainan sosial lainnya.

Itulah penjelasan tentang parallel play. Cara terbaik untuk membantu anak bermain adalah dengan menyediakan banyak kesempatan untuk berinteraksi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda