Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Benarkah Nonton TV Bisa Merusak Perkembangan Otak Anak?

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Senin, 25 May 2026 08:50 WIB

Dampak nonton tv pada kecerdasan anak
Dampak nonton tv pada kecerdasan anak/ Foto: Getty Images/Sait Aydin
Daftar Isi

Menonton TV atau bermain smartphone kini sudah jadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari keseharian anak. Namun, jika tidak dibatasi dengan baik, kebiasaan ini bisa berdampak pada tumbuh kembang Si Kecil, lho. 

Sekilas konten di televisi dan smartphone memang terlihat menarik dan menghibur, Bunda. Visual dan suaranya yang atraktif sering kali membuat anak-anak betah berlama-lama di depan layar. 

Di balik itu, kita sebagai orang tua perlu tahu apa saja bahaya TV untuk anak. Nah, agar Bunda memahaminya lebih lanjut, simak penjelasan lengkap dari para ahli berikut ini, Bunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Banyaknya anak yang menonton TV sungguh mengkhawatirkan

Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi saat ini mulai memengaruhi gaya hidup anak-anak, Bunda. Menonton TV, menatap layar ponsel, dan hal yang berhubungan dengan perangkat lainnya mulai menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Namun, kebiasaan ini tentunya membuat para ahli khawatir. Ini dibuktikan dengan lebih dari 1.400 studi yang membahas tentang hubungan antara screen time dengan anak. Artinya, topik ini sudah banyak diteliti dan memang memiliki dampak yang tidak bisa dianggap sepele.

Benar adanya, sebab di Amerika Serikat waktu anak di depan layar pun meningkat cukup drastis. Anak-anak di bawah usia 8 tahun kini rata-rata menghabiskan sekitar 2 jam 19 menit per hari di depan layar, naik hampir 30 menit dibandingkan tahun 2011.

Satu hal yang lebih mengkhawatirkan, paparan ini dimulai sejak usia yang sangat dini. Hal ini terbukti dari temuan yang menyebut balita di bawah usia dua tahun pun, kini sudah terpapar layar dengan rata-rata durasi sekitar 42 menit setiap hari.

Survei menunjukkan bahwa sekitar 92,2 persen anak usia satu tahun sudah pernah menggunakan ponsel. Padahal, para dokter anak umumnya tidak menyarankan penggunaan TV atau aplikasi digital sebelum 18 bulan, karena otaknya yang masih sensitif terhadap stimulasi dari luar.

Temuan lain datang dari studi di Kanada yang melibatkan lebih dari 4,5 ribu anak usia 8 hingga 11 tahun. Hasilnya cukup memprihatinkan, yakni hanya sekitar lima persen anak yang memenuhi pedoman ideal terkait waktu tidur, screen time, dan aktivitas fisik. Sementara itu, 30 persen anak tidak memenuhi satu pun dari ketiga pedoman tersebut.

Dalam studi tersebut, rata-rata anak menghabiskan waktu di depan layar sebanyak 3,6 jam per hari, Bunda. Sementara itu, anak yang menggunakan layar lebih lama dari dua jam sehari diketahui memiliki skor kognitif yang lebih rendah, terutama dalam kemampuan bahasa, memori, perhatian, dan kecepatan memproses informasi.

“Lebih dari dua jam sehari menghabiskan waktu di depan layar tampaknya menurunkan perkembangan kognitif,” kata salah satu penulis studi tersebut, Dr. Jeremy Walsh. Dikutip dari Futura Sciences, ia mendesak orang tua, dokter anak, dan tenaga pendidik untuk memprioritaskan tidur dan batasan waktu di depan layar.

Seberapa besar bahaya TV untuk anak?

Seperti yang kita tahu, di usia dini anak justru membutuhkan stimulasi yang aktif, seperti bermain, bergerak, dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Kegiatan pasif seperti menonton TV ini membuat stimulasi tersebut menjadi berkurang.

Dengan berkurangnya aktivitas gerak sebab anak menghabiskan waktu untuk menonton TV, muncul sejumlah dampak negatif yang perlu diwaspadai. Melansir dari berbagai sumber, berikut beberapa hal yang bisa terjadi jika anak sudah mulai kecanduan menonton TV:

1. Kebisingan latar belakang TV memengaruhi terhadap pembelajaran

Bunda, sejak usia 2-4 bulan, bayi tentunya sudah mulai belajar bahasa dan mengenal beberapa kata yang mudah baginya. Pada fase ini, otak bayi mulai bekerja sangat aktif dan menyerap berbagai suara di sekitarnya sehingga mampu membentuk kata-kata pertamanya.

Namun, suara TV yang hanya menjadi backsound atau latar belakang, justru bisa mengganggu proses belajar tersebut, Bunda. Kebisingan ini bisa membuat bayi kesulitan fokus dan membedakan suara sehingga pemahaman bahasa menjadi terhambat.

Maka dari itu, membiarkan TV menyala terus-menerus di sekitar bayi meski tidak ditonton tetap bisa berdampak pada perkembangan kemampuan berbahasa mereka. Sangat disayangkan bila fase ini tidak maksimal, sebab setiap suara yang didengar bayi akan menjadi sumber pengetahuan mereka sejak dini.

2. Mengubah struktur otak

Selain itu, sejumlah ahli juga mengkhawatirkan dampak menonton TV terhadap perkembangan otak anak, Bunda. Peneliti dari CNRS Prancis. Michel Desmurget, bahkan menyebut bahwa paparan layar TV berlebihan dapat menurunkan kemampuan mental anak.

Didukung oleh studi yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics, para peneliti mengamati anak usia 3-5 tahun yang sering berhadapan dengan layar TV, handphone, dan lainnya. Setelah itu, anak-anak akan menjalani tes bahasa, membaca, dan pemindaian otak.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang menghabiskan waktu di depan layar cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih rendah. Kosakata mereka lebih terbatas, keterampilan membaca belum optimal, serta kurang mengingat benda-benda di sekitar.

3. Memengaruhi perkembangan otak

Tidak sampai di sana, dampak paparan layar juga terlihat pada perkembangan otak anak dalam jangka panjang, Bunda. National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat melakukan studi besar yang melibatkan 11 ribu anak usia 9-10 tahun untuk melihat bagaimana penggunaan layar memengaruhi otak mereka.

Hasil awal dari pemindaian menunjukkan bahwa anak yang terkena paparan layar lebih dari tujuh jam per hari mengalami tanda-tanda penipisan korteks otak yang lebih dini. Kondisi ini dikaitkan dengan proses penuaan, sehingga menimbulkan kekhawatiran jika terjadi terlalu cepat pada anak.

Selain itu, temuan lain juga menunjukkan bahwa anak yang menghabiskan waktu di depan layar lebih dari dua jam sehari, cenderung memiliki hasil tes memori dan kemampuan bahasa yang rendah. Karenanya, paparan layar berlebih juga bisa berdampak pada fungsi kognitif anak, termasuk kemampuan berpikir, mengingat, dan berkomunikasi.

Bagaimana cara mengurangi anak menonton TV

Melihat bagaimana bahaya TV untuk anak membuat kita sebagai orang tua perlu mengambil langkah agar waktu anak di depan layar tersebut berkurang, Bunda. Salah satunya adalah dengan memperbanyak interaksi tatap muka dengan Si Kecil.

Langkah ini tidak perlu meluangkan waktu yang banyak kok, Bunda. Cukup manfaatkan momen sehari-hari untuk mengajak anak berbicara agar anak tidak menatap layar terus-menerus.

Berikut beberapa hal yang bisa Bunda lakukan, mengutip dari saran ahli dalam laman Parents:

1. Membaca dengan lantang

Salah satu cara sederhana untuk berinteraksi secara langsung dengan anak adalah dengan membiasakan aktivitas membaca bersama. Cobalah Bunda membuat rutinitas membaca sehingga anak akan sering mendengar berbagai kata dan konteksnya.

2. Bernyanyi bersama Si Kecil

Bernyanyi juga bisa menjadi cara untuk berinteraksi langsung dengan Si Kecil, lho. Irama dan nada dalam lagu bisa merangsang berbagai area otak sekaligus membantu anak mengenal bahasa, ritme, dan suara dengan lebih baik sejak dini.

3. Jelaskan aktivitas sehari-hari

Cara lain untuk memperkaya kosakata Si Kecil adalah dengan menceritakan apa yang sedang dilakukan sepanjang hari. Tidak perlu waktu khusus, Bunda bisa lakukan ini kapan dan di mana saja, seperti sedang makan, mandi, hingga berganti popok.

4. Ajak anak mendengar percakapan orang dewasa

Bunda, sesekali ajaklah Si Kecil ikut menyimak saat Bunda sedang berbicara dengan orang lain. Gendong bayi dan biarkan ia mendengarkan percakapan tersebut. Cara ini membuat bayi lebih mengenal berbagai suara, ekspresi, dan pilihan kata yang berbeda.

Demikian penjelasan mengenai apa saja bahaya TV untuk anak, terlebih bagi perkembangan otaknya. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan Bunda, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda