parenting
Ini yang Terjadi pada Otak Anak Jika Sering Nonton Tayangan Short Menurut Dokter
HaiBunda
Kamis, 14 May 2026 22:00 WIB
Di era sekarang, anak-anak sudah sangat akrab dengan gadget dalam kesehariannya, setuju tidak, Bunda? Bahkan, gadget kini seolah menjadi bagian dari 'teman bermain' mereka.
Hal ini pun turut disampaikan oleh Dokter Spesialis Anak, Konsultan Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A, Subsp.TKPS(K), MPH. Ia menjelaskan bahwa anak saat ini termasuk digital natives atau generasi yang tumbuh di era digital.
"Di zaman sekarang ini anak-anaknya kita bilangnya digital natives. Jadi, mereka lahir sudah memiliki gadget gitu, ya. Gadget ini kalau saya bilang seperti pisau bermata dua. Ada sisi yang kita butuhkan juga, terutama anak-anak yang sudah agak besar yang sekarang segala sesuatu, misalnya pelajaran pun mereka harus pegang gadget," ujar dr. Bernie, dikutip dari kanal YouTube @IDAITV2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr. Bernie, gadget memang punya manfaat terlebih untuk anak yang lebih besar dalam menunjang kegiatan belajar. Namun di sisi lain, ada pula risiko yang perlu diperhatikan oleh Bunda.
"Jadi, di satu sisi gadget ini memiliki manfaat bagi anak yang lebih besar. Kalau sisi bahayanya ini terutama sekali pada kehidupan awal anak. Kalau kita terlalu cepat memberikan gadget, padahal di masa tersebut adalah masa perkembangan otak yang sangat pesat," jelasnya.
Bicara soal ini, anak kini semakin sering melihat tayangan pendek atau konten short video. Meski hanya berdurasi singkat, kebiasaan ini ternyata bisa berdampak pada perkembangan otak mereka, lho.
Dampak tayangan short pada otak anak jika sering ditonton menurut dokter
Dokter Bernie menjelaskan bahwa tayangan short memang sengaja dibuat menarik perhatian. Konten seperti ini dibuat agar cepat menarik minat penonton sejak detik pertama.
"Sebenarnya dengan kita memberikan gadget, apalagi saat ini kita banyak sekali melihat tayangan-tayangan yang pendek atau short. Jadi, short itu dibuat supaya menarik, sesuatu yang eye catching atau membuat siapa pun yang melihatnya pasti ingin melihat, itu yang pertama," ucap dr. Bernie.
Kebiasaan ini membuat anak terus menerus melakukan scrolling atau menggulir konten tanpa benar-benar mengerti isi kontennya. Akibatnya, mereka hanya menangkap bagian yang paling menarik saja.
"Nah, bahayanya apa? Jadi, kalau kita lihat anak itu scrolling terus, scrolling terus. Jadi hanya bagian luarnya saja yang dia tangkap, dia tidak memahami bagian dalamnya," katanya.
Menurut dr. Bernie, kondisi ini dapat memicu kecenderungan adiksi atau ketergantungan anak pada gadget. Anak jadi terbiasa mencari stimulasi cepat yang membuat mereka terus ingin melihat konten berikutnya.
"Biasanya yang diambil itu yang benar-benar menarik saja. Akhirnya ini membuat bagian otak yang bisa menyebabkan adiksi," ucapnya.
Selain itu, kemampuan atensi atau fokus anak turut terpengaruh, Bunda. Mereka pun menjadi lebih terbiasa dengan konten yang serba cepat.
"Kemudian yang disebut attention atau atensinya. Kalau di kehidupan nyata kita melihat orang berjalan pelan, tapi di media sosial itu cepat sekali. Kadang videonya juga dipercepat. Akhirnya atensinya menjadi memendek," tegas dr. Bernie.
Namun, orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika bisa mengaturnya dengan baik. Menurut dr. Bernie, dengan kegiatan yang tepat, Si Kecil bisa beradaptasi kembali secara bertahap.
"Oleh sebab itu, orang tua enggak perlu khawatir. Itu bisa kita hentikan, pasti ada reaksi rewelnya. Kalau pengalaman saya satu atau dua minggu, asal kita alihkan ya, segera berikan kegiatan lain apapun itu yang lebih menarik gitu," jelas dr. Bernie.
Aturan penggunaan gadget pada anak menurut dokter
Ilustrasi Anak Main Gadget/Foto: Getty Images/iStockphoto/nathaphat |
Aturan penggunaan gadget pada anak kini memang terus menyesuaikan perkembangan zaman, Bunda. Dokter Bernie menjelaskan bahwa panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP) jadi salah satu acuan dalam penggunaan gadget pada anak.
"Mirip-mirip dengan AAP, ya. Kalau dahulu tahun 2016 itu sebenarnya tidak diperkenankan di bawah 18 bulan ya dengan gadget. Yang boleh hanya video call dari orang tuanya, karena video call itu tetap dua arah," ungkapnya.
Pada aturan sebelumnya, durasi penggunaan gadget juga sangat dibatasi untuk anak. Namun seiring waktu, ada penyesuaian yang lebih fokus pada kualitas konten dan pendampingan dari orang tua.
"Kemudian, kalau dahulu hanya boleh dua jam per hari. Memang di tahun 2025 agak berbeda. Dari AAP ini mengatakan yang paling penting itu hati-hati juga kontennya bagaimana, pendampingannya bagaimana dari orang tua," jelasnya.
Untuk anak usia dini, pembatasan penggunaan gadget perlu dilakukan agar tumbuh kembangnya tetap optimal. Di usia ini, peran Bunda dan Ayah sangat penting dalam memberikan arahan yang jelas.
"Kalau yang masih di bawah 5 tahun mereka juga harus kita ajarkan ya, harus kita batasi betul-betul. Jadi, mungkin orang tua bisa mengatakan, 'Oh ini boleh, ini tidak,'" ujar dr. Bernie.
"Tapi, kadang-kadang anak-anak tidak tahu juga ya. Mungkin yang paling tepat adalah orang tua memberikan proteksi. Jadi, ada mana yang bisa diakses oleh anak, mana yang tidak bisa diakses oleh anak," sambungnya.
Untuk anak yang lebih besar, pendekatan yang digunakan bisa berupa kesepakatan bersama Bunda. Apalagi, mereka juga sudah memiliki kebutuhan untuk belajar di sekolahnya.
"Kemudian kalau yang sudah lebih besar tentunya kita bisa buat seperti kesepakatan, ya. Kalau anak-anak yang sudah besar di mana mereka juga butuh untuk sekolah. Jadi mungkin oke nanti boleh pegang HP-nya ya untuk kebutuhan sekolah," saran dr. Bernie.
Setelah itu, anak juga tetap boleh punya waktu bebas untuk berkomunikasi atau mencari hiburan. Namun, tetap perlu ada batasan serta pendampingan dari orang tua.
"Setelah itu ada waktu bebas ya, ada waktu dia menggunakan untuk misalnya dia ingin chat dengan temannya atau ingin sekadar mencari hiburan. Namun, tetap dibatasi dan yang penting pendampingan," pungkasnya.
Itulah penjelasan mengenai dampak yang bisa terjadi pada otak anak jika sering menonton tayangan short menurut dokter.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Pakar Ahli Saraf Ungkap 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Berpengaruh Besar pada Otak Anak
Parenting
Ini yang Terjadi pada Otak Anak saat Orang Tua Berteriak
Parenting
6 Hal yang Bisa Bunda Lakukan untuk Mendorong Si Kecil Berperilaku Jujur
Parenting
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Parenting
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ilustrasi Anak Main Gadget/Foto: Getty Images/iStockphoto/nathaphat
Anak Balita Disarankan Batasi Screen Time 1 Jam per Hari, Ini Alasannya
Psikolog Sebut Satu Hal yang Kini Paling Dibutuhkan Anak dari Orang Tua
Alarm untuk Orang Tua! Kebiasaan Ini Diam-Diam Bikin Kosakata Anak Terbatas