parenting
Mengenal Alpha School, Sekolah yang Gunakan AI sebagai Pengganti Guru di Kelas
HaiBunda
Kamis, 11 Jun 2026 16:50 WIB
Daftar Isi
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai semakin meluas, bahkan hingga ke sektor pendidikan, Bunda. Namun, program AI yang gantikan guru tersebut masih menimbulkan perdebatan, meskipun sudah ada sekolah yang menerapkannya.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Alpha Schools tidak memiliki guru yang mengajar di depan papan tulis atau menyampaikan materi secara langsung. Siswa akan belajar melalui platform AI sekitar dua jam setiap hari untuk mata pelajaran inti seperti matematika, bahasa, dan sains.
Peran guru atau pendamping diketahui hanya sebagai pemandu di kelas yang membantu memotivasi siswa, serta mengajarkan keterampilan hidup. Sementara itu, khusus pelajaran yang melibatkan ilmu pengetahuan sudah diserahkan sepenuhnya kepada AI, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat hal tersebut, banyak yang menilai inovasi ini termasuk cukup berani dan menarik. Namun, penting bagi orang tua untuk tetap berhati-hati ke depannya, mengingat AI sebagai pengganti guru belum sepenuhnya memberikan bukti dan dampak yang kuat dalam pembelajaran.
Mengenal Alpha School, sekolah yang menerapkan AI sebagai model belajar
Melansir dari berbagai sumber, Alpha School merupakan sekolah swasta di Amerika Serikat yang menggunakan AI sebagai model pembelajaran yang menggantikan peran guru di kelas. Keunikannya menjadi perbincangan luas, terutama di kalangan yang masih skeptis terhadap masuknya AI ke dunia pendidikan.
Meski begitu, sekolah ini sebenarnya tetap memadukan dua unsur antara pembelajaran modern dan konvensional. Namun, porsi penggunaan AI jauh lebih mendominasi dibandingkan pendampingan langsung guru yang hanya berperan sebagai pendukung.
Setelah siswa selesai belajar dengan platform AI tersebut, mereka akan mengikuti berbagai kegiatan praktik, seperti proyek wirausaha dan pengembangan soft skill. Dengan kurikulum yang ada, siswa diharapkan dapat mengembangkan minat sekaligus keterampilan mereka.
Kurikulum yang digunakan Alpha School sendiri mengedepankan pembelajaran berbasis penguasaan (mastery learning) yang bersifat adaptif. Maka dari itu siswa dapat menyesuaikannya dengan kemampuan dan ritme belajar masing-masing.
Apakah terobosan AI yang gantikan peran guru di kelas efektif?
Sejauh ini, AI memang terbukti membantu proses belajar. Akan tetapi, perannya masih lebih sebagai pendukung, bukan pengganti. Hal ini karena berkaitan berbagai aspek penting, seperti interaksi, emosional, hingga kemampuan memahami kebutuhan tiap anak.
Pendiri Alpha School dalam Book Club Chicago mengklaim bahwa siswanya dapat belajar dua kali lebih cepat dibandingkan sekolah tradisional. Ini karena AI yang mereka gunakan mengumpulkan materi yang sesuai dengan kurikulum, bukan dari mesin pencarian berbasis internet.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa klaim tersebut perlu dikaji lebih dalam, Bunda. Menurut Charles Logan, penggunaan AI sebagai alat bantu memang menunjukkan hasil yang positif di berbagai studi, namun hasilnya masih sangat jauh bila digunakan sebagai metode utama dalam pengajaran.
“Penelitian tentang pembelajaran personalisasi dan AI masih menunjukkan hasil yang beragam. Menurut saya, pendekatan Alpha Schools terhadap bimbingan adaptif masih seperti eksperimen terbuka dan belum didukung oleh bukti penelitian yang kuat,” kata Logan.
Keraguan pakar terhadap penggunaan AI di berbagai jenjang usia
Konsultan pendidikan, Stephanie Sewell, pun mempertanyakan kesesuaian penggunaan AI di berbagai jenjang usia anak. Pada anak usia sekolah dasar atau TK, kecenderungan untuk belajar berinteraksi tampaknya akan terganggu bila AI sebagai model pembelajarannya.
“Anak-anak seusia itu masih dalam tahap belajar berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata. Maka, memindahkan hal sepenting matematika dasar, menulis dasar, dan membaca dasar ke dalam konteks daring dan AI sungguh menimbulkan kekhawatiran,” jelasnya dalam laman CBC.
Selain itu, seorang kepala sekolah yang bernama Chris Kennedy juga menilai bahwa model pembelajaran AI cocok untuk siswa yang mandiri dan memiliki inisiatif yang tinggi. Misalnya, anak SMA atau anak yang tengah mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.
“Sebagian siswa mungkin bisa berkembang dengan sedikit interaksi dengan guru. Namun, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih intensif,” tuturnya.
Risiko penggunaan AI pada bidang pendidikan
Selain berkaitan dengan efektivitas pembelajaran, AI yang gantikan guru juga menimbulkan sejumlah risiko, Bunda. Mulai dari isu privasi data siswa, seperti pelacakan aktivitas, gerakan, dan tingkat fokus belajar, hingga meningkatnya ketergantungan anak terhadap teknologi.
Di sisi lain, proses belajar secara tradisional juga dikhawatirkan semakin berkurang. Bahkan, sejumlah pakar mulai mengkhawatirkan bagaimana proses belajar nantinya yang hanya sebatas menyelesaikan tugas, tanpa membuat anak benar-benar memahami materinya.
Demikian penjelasan mengenai AI yang sudah gantikan peran guru dalam proses belajar di sekolah. Tentunya masih dibutuhkan bukti dan temuan lebih lanjut agar pelaksanaannya jauh lebih optimal di kemudian hari. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Jelang Ujian Semester, Ajari Si Kecil Doa Memohon Ilmu Bermanfaat
Parenting
Anak Sudah Kenal Huruf, Cynthia Lamusu Bahagia tapi Bingung
Parenting
Daur Hidup Lalat dari Telur hingga Pupa, Yuk Ajak Si Kecil Mempelajarinya
Parenting
Perbedaan Usia Anak Terpaut Jauh, Ini Cara Mona Ratuliu Lakukan Bonding Time
Parenting
Berapa Usia Ideal Anak Masuk TK A? Bunda Perlu Tahu Nih
7 Foto
Parenting
7 Potret Natarina Anak Taufik Hidayat yang Kini Beranjak Dewasa
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Jangan Beli Mainan AI untuk Anak di Bawah 5 Tahun, Pakar Ungkap Risikonya
7 Cara Mendidik Anak agar Tak Tergantikan AI di Masa Depan Menurut Pakar
Ini yang Bisa Terjadi pada Perkembangan Otak Anak jika Sering Gunakan AI Chatbot