parenting
9 Kalimat Orang Tua yang Bisa Melukai Emosi Anak Menurut Psikolog
HaiBunda
Sabtu, 02 May 2026 18:40 WIB
Daftar Isi
-
Kalimat orang tua yang bisa melukai emosi anak menurut psikolog
- 1. "Tolong berhenti menangis"
- 2. "Kamu terlalu sensitif"
- 3. "Jangan berlebihan!"
- 4. "Kamu baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan"
- 5. "Kamu pikir hidupmu buruk? Kamu tidak tahu apa yang Bunda alami saat masih kecil. Anggap saja kamu anak yang beruntung"
- 6. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?"
- 7. "Tunggu sampai kamu dewasa dan hadapi masalah yang sesungguhnya"
- 8. "Bunda melakukan yang terbaik yang Bunda bisa"
- 9. "Pergi keluar dan bermain, atau lakukan hal lain. Bunda terlalu sibuk untuk ini"
Perasaan anak dapat terbentuk dari cara orang tua berbicara sejak kecil. Bahkan, ucapan yang terdengar biasa saja pun bisa membekas hingga mereka dewasa.
Dalam keseharian, orang tua suka tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang mungkin dianggap sepele. Padahal, setiap kata yang keluar dari mulut kita dapat dimaknai berbeda bagi anak.
Hal ini berkaitan dengan kondisi emosional anak yang masih dalam tahap tumbuh dan belajar mengerti perasaan. Mereka pun cenderung lebih mudah menyerap apa yang didengar dari orang terdekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat pandangan dari para psikolog, ada kalimat tertentu dari orang tua yang bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Terutama apabila ucapan itu sering diulang dalam situasi tertentu.
Karena itu, Bunda dan Ayah harus lebih bijak lagi dalam memilih kata saat berbicara dengan Si Kecil. Mari kita simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Kalimat orang tua yang bisa melukai emosi anak menurut psikolog
Menurut psikolog dari The Chicago School, Dr. Natalie Bernstein, saat anak sedang kesal, orang tua biasanya ingin segera meredakan situasi agar tidak berlarut. Kondisi ini biasanya karena Bunda tidak ingin Si Kecil terus merasa sedih.
"Ketika anak-anak kesal, tujuan orang tua mereka sering kali adalah untuk meredakan perdebatan, baik karena mereka merasa kasihan pada anak-anak mereka dan ingin mereka segera merasa lebih baik, atau karena hal itu menimbulkan tekanan bagi orang tua dengan cara tertentu," kata Bernstein.
"Jadi, meskipun bermaksud baik, ungkapan-ungkapan ini bersifat reaktif daripada empatik, dan dapat terasa meremehkan bagi anak-anak. Bahasa ini memberikan sedikit bantuan bagi anak-anak untuk belajar memproses emosi mereka," lanjutnya.
Dikutip dari laman Parade, simak beberapa kalimat orang tua yang menurut psikolog bisa melukai emosi anak:
1. "Tolong berhenti menangis"
Ketika orang tua belum mampu memberikan dukungan emosional yang tepat, kalimat yang diucapkan bisa saja membuat anak merasa tidak nyaman dengan perasaannya.
Psikolog klinis di New York sekaligus pendiri MindCare Psychology, Dr. Easton Gaines, PsyD, mengatakan bahwa anak bisa tumbuh dengan anggapan emosinya tidak boleh ditunjukkan.
"Hal ini mengajarkan bahwa emosi itu berbahaya dan memalukan, selain itu dapat menyebabkan penekanan emosi, rasa takut akan kerentanan, dan kesulitan mempercayai perasaan mereka sendiri," ujarnya.
2. "Kamu terlalu sensitif"
Saat anak sedang menunjukkan emosi, ada kalanya orang tua mengucapkan hal yang membuat anak merasa dirinya yang salah. Padahal, maksud orang tua biasanya hanya ingin anak segera tenang.
Namun, cara ini justru bisa bikin mereka merasa tidak dimengerti, Bunda. Anak jadi belajar bahwa perasaannya harus ditahan supaya tidak dianggap mengganggu.
"Hal ini mengabaikan dunia batin anak dan menanamkan dalam diri mereka keyakinan bahwa perasaan mereka 'salah'," kata Dr. Gaines.
"Banyak anak yang tumbuh dewasa dengan meragukan insting mereka dan terlalu banyak menyunting diri sendiri dalam hubungan untuk menghindari kesan 'berlebihan'," jelasnya.
3. "Jangan berlebihan!"
Mirip dengan ungkapan "kamu terlalu sensitif," cara bicara seperti ini dapat membuat anak bingung dengan emosinya sendiri, Bunda. Mereka merasa lebih baik menahan diri daripada harus mengekspresikan perasaan.
Hal itu kemudian bisa terlihat dari cara anak yang jarang mengungkapkan emosi. Bahkan, mereka sering memilih mengatakan semuanya baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak begitu.
4. "Kamu baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan"
Dalam keseharian, orang tua sering menenangkan anak dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun terdengar menenangkan, ungkapan ini kadang justru membuat perasaan mereka tidak benar-benar diakui.
Pada situasi ini, anak mulai mengerti bahwa apa yang ia rasakan tidak perlu terlalu dipikirkan. Lambat laun, hal ini bisa membuat anak terbiasa menyimpan perasaannya sendiri.
5. "Kamu pikir hidupmu buruk? Kamu tidak tahu apa yang Bunda alami saat masih kecil. Anggap saja kamu anak yang beruntung"
Selanjutnya, orang tua bisa saja membandingkan pengalaman masa kecilnya dengan apa yang dialami anak sekarang. Kalimat ini biasanya terucap saat Bunda merasa anak terlalu mengeluh alias tidak bersyukur.
Psikolog Natalie Bernstein menyampaikan bahwa cara ini membuat anak merasa perasaannya tidak dianggap penting. Anak jadi berpikir bahwa apa yang ia rasakan tidak sebanding dengan pengalaman orang tuanya dahulu.
"Pernyataan seperti ini mengirimkan pesan kepada anak-anak bahwa rasa sakit mereka dapat diukur dan dibandingkan. Oleh karena itu tidak sebesar atau 'sepadan' untuk ditangani," katanya.
6. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?"
Tak jarang, orang tua tanpa suka membandingkan anak dengan saudara kandungnya. Biasanya, hal ini diucapkan saat orang tua merasa satu anak lebih tenang atau lebih mudah diatur dibandingkan dengan yang lain.
Padahal, setiap anak punya sifat dan cara mengekspresikan emosi yang berbeda, Bunda. Jika suka dibandingkan, mereka bisa merasa dirinya tidak cukup baik seperti saudaranya.
7. "Tunggu sampai kamu dewasa dan hadapi masalah yang sesungguhnya"
Mirip dengan komentar "Kamu pikir kamu mengalami hal yang buruk?", kalimat ini kerap terdengar saat orang tua merasa masalah anak belum terlalu serius.
Padahal, bagi anak, apa yang mereka rasakan tetap terasa penting, Bunda. Jika terus diucapkan, anak pun bisa merasa bahwa emosinya tidak perlu diperhatikan.
"Ucapan ini meremehkan pengalaman anak tersebut sebagai sesuatu yang tidak penting, serta mengirimkan pesan bahwa keadaan hanya akan menjadi lebih buruk seiring bertambahnya usia," kata Bernstein.
8. "Bunda melakukan yang terbaik yang Bunda bisa"
Banyak orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Meskipun benar Bunda sudah berusaha semaksimal mungkin, anak tetap membutuhkan ruang untuk didengar.
Jika langsung ditutup dengan kalimat ini, mereka pun merasa tidak ada kesempatan untuk bisa menyampaikan perasaannya kepada Bunda.
9. "Pergi keluar dan bermain, atau lakukan hal lain. Bunda terlalu sibuk untuk ini"
Dalam menjalani peran sebagai orang tua, wajar saja kalau kita merasa lelah atau sedang punya banyak urusan, bukan begitu, Bunda? Karena itu, terkadang terucap kalimat yang meminta anak untuk mencari kegiatan lain terlebih dahulu.
Namun jika sering diucapkan, terlebih saat anak sedang butuh didengar, hal ini bisa membuat mereka merasa tidak diprioritaskan. Anak jadi berpikir bahwa perasaannya tidak cukup penting untuk diperhatikan.
Itulah penjelasan mengenai kalimat orang tua yang bisa melukai emosi anak menurut psikolog.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
9 Ucapan Anak yang Kerap Disalahartikan Orang Tua Menurut Psikolog
Parenting
Ini Pertanyaan Sederhana yang Paling Berharga untuk Anak Menurut Psikolog
Parenting
5 Cara Ajarkan Anak Kenali Emosinya agar Tidak Sering Tantrum
Parenting
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Pentingnya Ajarkan Pengendalian Emosi Anak Sejak Dini, Bunda Perlu Tahu
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak Ketahuan Berbohong? Ini Kalimat yang Perlu Diucapkan Orang Tua agar Mereka Mau Berkata Jujur
Psikolog Sebut Satu Hal yang Kini Paling Dibutuhkan Anak dari Orang Tua
12 Kalimat Sederhana yang Bikin Anak Lebih Mudah Diajak Bicara & Mau Mendengarkan