parenting
9 Sikap Orang Tua yang Diam-Diam Bisa Menghambat Perkembangan Anak
HaiBunda
Kamis, 23 Apr 2026 09:10 WIB
Daftar Isi
-
Sikap orang tua yang bisa menghambat perkembangan anak
- 1. Terlalu mengarahkan hidup anak
- 2. Menempatkan anak di tengah konflik orang tua
- 3. Tidak mengakui perasaan dan pengalaman anak
- 4. Terlalu banyak mengatur anak
- 5. Mengarahkan anak lewat rasa bersalah
- 6. Sulit mengendalikan emosi saat mengasuh anak
- 7. Terlalu sering mengomentari tubuh atau pola makan anak
- 8. Tidak menetapkan batasan yang jelas dalam pengasuhan
- 9. Membebani anak dengan pandangan orang lain
Menjadi orang tua rasanya seperti belajar tanpa memiliki buku panduan ya, Bunda. Setiap hari selalu ada saja hal-hal baru dan pengalaman yang perlu orang tua pahami dan jalani.
Dalam perjalanan mendampingi Si Kecil, wajar saja jika orang tua sesekali melakukan kesalahan. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita menyadari dan memperbaiki supaya tidak berdampak panjang pada perkembangan anak.
Bicara soal ini, beberapa pola asuh tertentu ternyata bisa berjalan berulang tanpa kita sadari, Bunda. Jika dibiarkan, hal ini bisa membuat anak merasa mudah ragu terhadap dirinya sendiri.
Seorang psikolog berlisensi asal Amerika Serikat, Cynthia Edwards-Hawver, menyoroti bahwa pola asuh tertentu dapat berdampak pada rasa aman dan harga diri anak.
"Ketidakdewasaan emosional orang tua, kebutuhan akan kendali, atau ketidakmampuan untuk mengatur emosi mereka sendiri secara konsisten membahayakan rasa aman dan harga diri anak," jelas Cynthia, mengutip dari laman Parents.
Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa sikap orang tua yang bisa menghambat perkembangan anak. Mari kita lihat selengkapnya berikut ini, Bunda.
Sikap orang tua yang bisa menghambat perkembangan anak
Menilik dari laman Parents, ada beberapa sikap orang tua yang tanpa disadari bisa menghambat perkembangan anak. Berikut ini penjelasannya:
1. Terlalu mengarahkan hidup anak
Sebagai orang tua, wajar kalau Bunda ingin anak tumbuh sukses dan bisa mengambil keputusan yang tepat. Tapi kadang, dorongan untuk mengarahkan justru bisa membuat anak tidak punya ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.
Dalam beberapa kondisi, orang tua bisa saja terlalu ingin memastikan semua berjalan sesuai harapan. Hal ini bisa membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalamannya, Bunda.
Seorang konselor asal Pennsylvania, Amerika Serikat, Dawn Friedman, MSEd, LPCC, melihat hal ini dari sudut pandang pengasuhan. Ia mengatakan bahwa salah satu pola yang kerap terjadi adalah orang tua tidak menyadari bahwa anak memiliki jalannya sendiri.
"Sifat beracun terbesar yang sering saya lihat dilakukan oleh orang tua yang penuh kasih sayang secara tidak sengaja adalah tidak memahami bahwa anak mereka memiliki jalan dan tujuan hidup sendiri," kata Friedman.
Kalau sudah seperti ini, Bunda perlu memberikan ruang agar anak bisa menentukan pilihan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka bisa belajar mandiri, lebih percaya diri, dan berani mengambil keputusan.
2. Menempatkan anak di tengah konflik orang tua
Dalam beberapa situasi, anak bisa berada di posisi yang serba salah saat orang tua sedang berselisih. Bunda mungkin tidak bermaksud melibatkan anak, tapi sikap atau perkataan tertentu bisa bikin mereka merasa harus berpihak.
Padahal, kondisi seperti ini bisa membebani perasaan anak, lho. Seorang terapis di Gateway to Solutions, Danielle Dellaquila, LMSW, menyampaikan bahwa hal ini termasuk pola pengasuhan yang perlu dihindari karena bisa berdampak pada kondisi emosional mereka.
"Hal ini paling sering terjadi pada orang tua yang berpisah. Namun, hal itu juga dapat terjadi di rumah tangga di mana terdapat banyak konflik antara orang tua," jelasnya.
"Orang tua perlu menghindari melibatkan anak-anak mereka dalam konflik atau masalah orang tua, karena melibatkan mereka dapat menyebabkan banyak kecemasan dan rasa bersalah yang tidak perlu bagi anak-anak," lanjutnya.
3. Tidak mengakui perasaan dan pengalaman anak
Dalam keseharian, ada kalanya anak menyampaikan perasaan atau kejadian yang mereka alami di rumah. Namun ternyata, tanggapan dari orang tua bisa membuat anak merasa tidak dipahami.
Hal seperti ini bisa terjadi ketika orang tua kurang 'memvalidasi' apa yang dirasakan anak. Lambat laun, anak pun mulai meragukan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Psikolog Edwards-Hawver menegaskan bahwa ada satu hal yang perlu dihindari dalam pengasuhan. Ia menyebut bahwa gaslighting termasuk pola yang tidak boleh dilakukan pada anak.
Gaslighting adalah kondisi ketika anak dibuat merasa bahwa apa yang mereka rasakan, katakan atau persepsikan itu salah di mata orang tuanya.
Kalau kita lihat dalam keseharian, hal ini bisa terjadi ketika orang tua menolak atau membantah pengalaman anak secara terus-menerus. Misalnya dengan mengatakan "Kamu terlalu sensitif" atau "Kamu terlalu membesar-besarkan masalah".
4. Terlalu banyak mengatur anak
Selanjutnya, orang tua tak jarang terlalu banyak mengontrol kehidupan anak. Mulai dari pergaulan, kegiatan, sampai hal-hal kecil yang sebenarnya anak bisa jalani sendiri.
Bunda mungkin berniat untuk melindungi mereka, tapi pengawasan yang terlalu ketat justru bisa membuat anak merasa tidak punya ruang untuk berkembang. Bahkan, kondisi ini bisa bikin mereka menjadi lebih tertutup.
Terapis Dellaquila menuturkan bahwa sikap ini kerap muncul dalam bentuk kontrol berlebihan terhadap anak. Ia menyebutkan bahwa orang tua ingin mengetahui semua hal secara detail dalam kehidupan anak.
"Mereka mungkin ingin mengetahui setiap detail dari apa yang terjadi, mencoba mendikte apa yang akan dilakukan anak mereka di masa depan, atau terlalu mengawasi anak mereka," jelasnya.
"Hal itu biasanya berakar dari kecemasan atau rasa tidak aman orang tua sendiri dan dapat menyebabkan anak menjauh atau menyembunyikan sesuatu dari orang tua," sambungnya.
5. Mengarahkan anak lewat rasa bersalah
Dalam beberapa situasi, orang tua bisa saja menggunakan rasa bersalahnya untuk membuat anak mengikuti keinginan mereka. Padahal, cara ini dapat berdampak pada cara anak belajar mengambil keputusan.
Bunda mengira sedang membimbing anak ke arah yang benar, tetapi sebenarnya anak bisa merasa tertekan. Nantinya, mereka tidak belajar memahami alasan di balik keputusan yang diambil.
6. Sulit mengendalikan emosi saat mengasuh anak
Dalam perjalanan menjadi orang tua, wajar saja ya kalau Bunda merasakan emosi yang naik turun. Apalagi, saat menghadapi situasi yang melelahkan dalam sehari-hari.
Namun, ketika emosi itu tidak diatur dengan baik, anak bisa ikut merasakan dampaknya. Kondisi ini bisa membuat suasana di rumah jadi terasa tidak stabil bagi mereka.
7. Terlalu sering mengomentari tubuh atau pola makan anak
Berikutnya, Bunda mungkin saja pernah memberi komentar tentang tubuh atau kebiasaan makan anak. Baik itu berupa pujian maupun teguran, hal ini tetap bisa berdampak pada cara anak memandang dirinya sendiri.
Seorang terapis sekaligus pendiri Rachel Goldberg Therapy, Rachel Goldberg, LMFT, melihat hal ini dari sudut pandang kesehatan mental anak. Ia menjelaskan bahwa komentar yang terus-menerus bisa menjadi hal yang berisiko bagi anak, meskipun maksudnya baik.
"Sebagai terapis gangguan makan, satu hal yang saya tahu bisa menjadi masalah adalah terus-menerus mengomentari tubuh anak atau cara mereka makan, bahkan jika itu dimaksudkan secara positif," ujarnya.
Oleh karena itu, Goldberg menyarankan supaya orang tua lebih berhati-hati dalam memberi komentar terkait tubuh atau makanan anak. Misalnya, menghindari ucapan tentang bentuk tubuh atau penilaian terhadap porsi makan mereka.
8. Tidak menetapkan batasan yang jelas dalam pengasuhan
Dalam hubungan antara orang tua dan anak, batasan yang sehat itu penting ya, Bunda. Tanpa batasan yang jelas, anak bisa bingung dalam mengenal perannya masing-masing.
Dalam beberapa kondisi, orang tua kadang terlalu banyak berbagi hal pribadi atau terlalu ikut campur dalam kehidupan anak. Hal seperti ini ternyata bisa membuat anak merasa tidak punya ruang untuk dirinya sendiri.
9. Membebani anak dengan pandangan orang lain
Dalam interaksi sehari-hari, anak bisa mendengar komentar tentang bagaimana kehadiran atau sikapnya memengaruhi suasana di sekitarnya. Kondisi ini biasanya terjadi ketika orang tua sedang menegur atau merasa kesal dengan perilaku anak.
Goldberg menjelaskan bahwa ucapan yang merendahkan seperti itu dapat tertanam dalam pikiran anak, Bunda.
"Mereka bisa mulai percaya bahwa hanya dengan keberadaan mereka, mereka memberi dampak negatif pada orang-orang di sekitar mereka," katanya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Kalimat 'Kuno' Orang Tua yang Masih Digunakan Sampai Sekarang Menurut Psikolog
Parenting
Psikolog: Anak Justru Butuh Orang Tua yang Pernah Salah, Bukan yang Sempurna
Parenting
Pentingnya Investasi Hubungan Suami Istri untuk Perkembangan Anak
Parenting
5 Tips Memahami Perkembangan Emosional Anak
Parenting
7 Pertanyaan Sederhana yang Membuat Bunda Lebih Dekat dengan Si Kecil
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak People Pleaser Bisa Jadi Tak Bahagia saat Dewasa Menurut Psikologi, Ini 3 Cara Mencegahnya
7 Tanda Orang Tua Berhasil Besarkan Anak Percaya Diri & Berani Bicara
9 Sinyal Anak Dewasa yang Mulai Tidak Nyaman dengan Orang Tua