parenting
Dongeng Semut & Belalang Beserta Pesan Moral, Lengkap dengan Cerita Fabel Pengantar Tidur Lainnya
HaiBunda
Minggu, 26 Apr 2026 16:00 WIB
Daftar Isi
Dongeng atau cerita fabel adalah cerita pendek yang bertujuan untuk mengajarkan pelajaran hidup atau moral yang berharga. Biasanya ditulis untuk anak-anak, fabel sangat pendek dan menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas. Fabel juga memiliki hewan atau tumbuhan sebagai karakter utama yang bertindak seperti manusia, seperti berbicara.
Menceritakan fabel pada anak-anak ternyata memberi manfaat bagi mereka. Juga, ada alasan mengapa sebagian besar anak pasti menyukai cerita bertema hewan.
Mengutip laman Storytime Magazine, anak-anak menyukai cerita fabel karena hewan dalam cerita bebas untuk bersikap bodoh, lucu, sombong, nakal, baik hati, egois, dan liar dan anak-anak dapat mengamati dan menikmati semua itu dari jarak yang nyaman.
Namun, jika karakter yang sama digambarkan sebagai anak-anak, tentu muncul lah perbandingan antara pembaca dan subjek menjadi jauh lebih jelas, dan itu tidak membuat bacaan menjadi lebih santai. Alhasil anak bisa merasa dibandingkan. Inilah salah satu hal yang menonjol tentang fabel untuk anak-anak.
Fabel umumnya pendek dan mudah dibaca. Sebagian besar hanya membutuhkan beberapa menit untuk diceritakan. Dengan pesan kecil yang rapi di setiap cerita, fabel merupakan pengantar yang ramah dan seringkali lucu untuk membahas moral dengan anak-anak.
Kali ini, ada dongeng semut dan belalang dari Kampung Dongeng Tangsel, serta cerita fabel lainnya yang bisa Bunda bacakan pada anak. Simak ceritanya berikut ini!
Cerita dongeng Semut dan Belalang
Suatu hari, hiduplah pasukan semut merah yang terkenal dengan kekompakan dan kekuatannya. Mereka selalu berjalan bersama-sama, mencari makanan, dan melindungi wilayah mereka, yakni sebuah padang rumput, dengan ketat.
Semut Riko, sang pemimpin pasukan semut tersebut dikenal sebagai semut yang gagah. Tapi, tak jarang ia merasa bahwa kehebatannya harus ditunjukkan kepada penghuni hutan lain.
Suatu ketika, pasukan semut merah melihat Belalang Sembah, bernama Bimo. Belalang sembah itu sedang duduk sendirian di bawah pohon dengan damai dan menikmati sinar matahari. Bimo adalah makhluk yang pendiam dan lebih suka menyendiri.
Dia tidak pernah mengganggu siapa pun dan selalu bersikap baik. Namun, bagi Semut Riko dan pasukannya, ketenangan Bimo justru membuat mereka penasaran. Mereka menganggap Bimo mungkin merasa dirinya lebih baik dan lebih tenang daripada mereka.
"Ayo, kita ajak belalang itu bertarung!" seru Semut Riko kepada pasukannya.
"Kenapa kita harus menantangnya? Dia kan tidak mengganggu kita," kata salah satu semut lain, Semut Diki.
"Justru karena dia tidak pernah mengganggu, kita harus pastikan dia tahu siapa yang berkuasa di sini!" balas Semut Riko yang tanpa berpikir panjang, mendekati Bimo dengan langkah angkuh.
"Hai, Belalang Sembah! Kau kelihatan malas dan tenang sekali! Apa kau merasa lebih hebat dari kami?" seru Semut Riko.
Bimo mengangkat kepalanya dan tersenyum sopan. "Oh, tentu tidak, teman-teman. Aku hanya menikmati matahari. Aku tak punya masalah dengan kalian," jawabnya tenang.
Namun, Semut Riko merasa jawaban itu tak memuaskan. "Jangan berpura-pura! Kau pasti takut melawan kami! Ayo, bertarung!".
Bimo terdiam, bingung harus berbuat apa. Dia tidak ingin masalah dan sama sekali tidak tertarik untuk bertarung. Melihat Bimo yang diam, pasukan semut mulai mengelilinginya dan mengeluarkan kata-kata mengejek.
Tiba-tiba, seekor burung elang besar melintas di atas mereka. Dalam sekejap, elang itu melirik rombongan semut yang bergerombol dan mengincar mereka sebagai mangsa. Elang itu menyambar dengan cepat beberapa semut yang berada di dekatnya. Beruntung, Semut Riko berhasil melarikan diri.
Melihat itu, Bimo segera membantu beberapa semut yang terjatuh dan terluka, membimbing mereka untuk pergi jauh dari bahaya. Setelah elang pergi, sisa pasukan semut yang selamat berterima kasih kepada Bimo. Semut Riko pun merasa malu atas tindakannya dan menyadari bahwa keberanian tidak selalu harus diukur dengan kekuatan.
Sejak hari itu, pasukan semut merah tidak pernah lagi merundung makhluk lain dan belajar menghargai kedamaian seperti yang telah ditunjukkan oleh belalang sembah.
Pesan moral cerita dongeng Semut dan Belalang
Seperti peribahasa, “Siapa menabur angin, akan menuai badai.” Artinya, siapa pun yang memulai perbuatan buruk atau memancing masalah, pada akhirnya akan menerima akibat yang lebih besar dan merugikan dirinya sendiri.
Mencari-cari masalah pada seseorang yang tak bersalah adalah hal yang buruk untuk dilakukan. Selain itu, jangan lah bersikap sombong karena merasa paling kuat atau pintar. Itulah pesan moral cerita dongeng semut dan belalang.
5 Cerita fabel pengantar tidur lainnya selain dongeng Semut dan Belalang
Cerita fabel bisa dijadikan dongeng pengantar tidur yang baik untuk anak. Simak cerita fabel pengantar tidur lainnya selain dongeng Semut dan Belalang berikut ini!
1. Undur-undur Kecil yang Berharga
Bunda tahu binatang undur-undur? Binatang kecil itu adalah serangga. Ada cerita fabel menarik tentang undur-undur dari Rumah Dongeng Tangsel berikut ini.
Seekor undur-undur kecil bernama Duri hidup di sebuah taman yang kering dan berpasir. Setiap hari, Duri menggali lubang perangkap dan menunggu mangsa serangga kecil untuk menjaga kebersihan taman. Tapi sayangnya, semua makhluk di taman selalu menghindarinya.
"Ewww, jangan dekat-dekat! Itu undur-undur, serangga menjijikkan!" kata seekor kupu-kupu.
"Dia suka sembunyi di pasir, pasti kotor!" tambah seekor semut dengan ekspresi wajah jijik.
Duri pun merasa sedih. Ia mulai menyendiri dan tak lagi membuat lubang-lubang seperti biasanya. "Mungkin aku memang tidak berguna...," gumamnya pelan.
Suatu ketika, datanglah segerombolan semut merah nakal yang menyerbu taman. Mereka merusak sarang semut lain, mengganggu ulat kecil, bahkan mengotori bunga-bunga.
Semua hewan panik. Tak ada yang bisa menghentikan mereka sampai Duri melihatnya dari kejauhan.
"Aku harus melakukan sesuatu," kata Duri.
Dengan cepat, Duri menggali lubang-lubang jebakan di tempat yang dilalui semut merah. Satu per satu, semut merah terperangkap. Mereka ketakutan dan akhirnya kabur meninggalkan taman.
Makhluk-makhluk taman pun bersorak. "Horeee! Siapa yang menolong kita?" tanya mereka.
"Itu Duri si undur-undur!", jawab seekor ulat.
"Aku cuma melakukan apa yang biasa ku lakukan...," tutur Duri malu-malu.
Seekor kupu-kupu mendekat dan berkata, "Maaf ya, Duri. Kami salah menilaimu. Ternyata kamu sangat hebat!".
Sejak hari itu, Duri tidak lagi minder. Ia bangga menjadi dirinya sendiri, karena ia tahu, sekecil apa pun makhluk, pasti punya peran dan manfaat di dunia ini.
Pesan moral: Jangan menilai seseorang dari penampilannya saja, namun dari kebaikan dan ketulusan hatinya.
2. Cerita Beruang dan Lebah
Semua orang tahu bahwa beruang madu menyukai madu. Suatu hari, Tuan Beruang melihat ke dalam lemarinya dan tidak menemukan madu.
Beruang itu melihat ke dalam lemari.
"Oh tidak! Tidak ada madu!" katanya. Jadi dia pergi ke hutan untuk mencarinya.
Dia melihat sarang lebah di pohon. Dia mencium aroma madu. "Mmmmm! Madu!"
Dia memasukkan cakarnya ke dalam sarang lebah dan….ZZZZZZZZZ! Seekor lebah terbang keluar.
“Hei, beruang! Pergi!” kata lebah itu. "Ini bukan madumu!"
Beruang dengan cakarnya di dalam sarang, dan seekor lebah tampak marah.
Tuan Beruang kesal.
“Aku lebih besar darimu,” katanya. “Dan aku juga lebih kuat darimu. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau! Sekarang… pergilah!”
Tuan Beruang memasukkan cakarnya ke dalam sarang lebah lagi dan….ZZZZZZZZZ! ZING!
Aduh! Lebah itu menyengatnya tepat di hidungnya!
Beruang memegang hidungnya yang tersengat.
“Hidungku! Hidungku! Oooh... Aku sangat marah!” geram Tuan Beruang.
Ia menemukan tongkat besar. Ia mencoba memukul lebah itu. Ia mengayunkan tongkatnya berulang kali, tetapi lebah itu terlalu cepat! Tuan Beruang semakin marah.
Beruang dengan tongkat besar, tampak marah. “GARRRRRGHGHGH! AKU AKAN MENGHANCURKANMU! KEMARI!”
Lebah itu terbang kembali ke sarang lebah.
“AH HAH! Sekarang kau terjebak!” teriak Tuan Beruang.
Ia mengayunkan tongkatnya ke sarang lebah. Hancur! Hancur! Hancur! Ia menghancurkannya berkeping-keping!
Sarang lebah yang hancur. Kemudian ia mendengar suara aneh. Suaranya semakin keras.
ZZZZ! ZZZZ! ZZZ! Zzzz! ZZZZZZZZZZ! Zzzz! ZZZZ!
Ribuan lebah terbang keluar dari sarang lebah yang hancur.
Lebah-lebah muncul dari sarang yang rusak
Mereka terbang di sekitar kepala Tuan Beruang…
ZZZZZZZZZ… ZING! Mereka menyengat telinganya.
ZING ZING! Mereka menyengat sikunya.
Mereka mengejar Tuan Beruang melalui hutan. Mereka menyengat lengannya, kakinya, tangannya, dan terutama hidungnya.
ZING! ZING! ZING!
Lebah-lebah mengejar beruang
Tuan Beruang berlari pulang dan membanting pintu hingga tertutup. BAM!
Lalu dia mendengar suara di belakangnya.
Itu Nyonya Beruang.
“Kau melakukannya lagi, kan?” katanya. “Kau kehilangan kesabaran.”
“Ya,” katanya sambil menangis dan menghitung sengatan lebahnya.
“Ini obat sengatan lebahnya,” kata Nyonya Beruang. “Selain itu, kita punya madu di lemari. Letaknya di belakang tepung.”
Nyonya Beruang memegang tabung salep dan menunjuk ke lemari dengan ekspresi frustrasi di wajahnya.
Pesan moral: Sifat pemarah selalu mendatangkan masalah.
3. Petualangan Cacing Mungil
Cici, seekor cacing mungil tinggal di bawah tanah yang lembut, di antara akar-akar pohon dan batu kecil. Tubuhnya lentur, berwarna merah muda, dan dia selalu penasaran dengan dunia di sekelilingnya.
Cici punya banyak teman. Ada Tutu si Semut, Koko si Kepik, dan Mimi si Siput. Setiap hari mereka bermain petak umpet di bawah daun kering dan membuat terowongan kecil untuk balapan.
Suatu hari, Cici mengajak teman-temannya untuk bertualang ke atas tanah. Ia ingin tahu seperti apa dunia di atas tanah. utu dan Koko langsung semangat.
Namun, Mimi si Siput ragu. "Di atas itu... terang sekali. Dan banyak burung!" katanya sambil gemetaran.
Cici cuma tersenyum. "Tenang saja, kita akan saling jaga. Dan siapa tahu, kita menemukan sesuatu yang menakjubkan!".
Akhirnya, mereka semua setuju dan mulai menggali jalan naik ke permukaan. Lalu, saat mereka muncul dari tanah, mereka terkejut!
Langit biru membentang, angin berhembus sejuk, dan bunga-bunga warna-warni menari-nari di bawah sinar matahari. Dunia atas tanah ternyata sangat indah!
Petualangan Cici dan kawan-kawan tak berhenti di situ. Saat mereka bermain di atas daun teratai, tiba-tiba... WUSS! Seekor burung besar terbang rendah!
"Semua tiarap!" teriak Cici.
Mereka cepat-cepat bersembunyi di balik batu kecil. Jantung mereka berdebar kencang. Tapi mereka selamat!
"Wah, itu menegangkan!" kata Koko. "Tapi seru juga!"
Kemudian, mereka menemukan genangan air kecil seperti kolam mini. Di sana, mereka bisa melihat bayangan diri mereka, dan Tutu si Semut bahkan belajar meluncur di atas daun. Asyik sekali!
Saat matahari mulai turun, mereka semua sepakat untuk kembali ke rumah bawah tanah.
"Petualangan hari ini luar biasa," kata Mimi si Siput. "Ternyata, saat kita saling menjaga, kita bisa menghadapi apa pun."
Cici pun tersenyum bangga. Cici bukan hanya cacing kecil biasa-ia pemimpin petualangan yang berani dan penuh rasa ingin tahu. Sejak hari itu, setiap akhir pekan, Cici dan teman-temannya punya jadwal tetap: Hari Petualangan!
Pesan moral: Jangan pernah takut mencoba, jika terjadi masalah hadapi bersama.
4. Singa yang Ketakutan
Suatu malam, Singa bersiap tidur. Ia membaca cerita pengantar tidur favoritnya dan menyanyikan lagu pengantar tidur favoritnya. Ia menyalakan lampu tidurnya. Kemudian, ia mendengar suara ketukan dari jendela.
Tuk! Tuk!
"Suara apa itu?" bisiknya.
Tuk! Tuk!
"Suara itu… berasal dari luar jendela!"
Ia turun dari tempat tidur. Ia mengambil tongkat baseball dan berjinjit menuju jendela.
Tuk! Tuk! TUK!
"Itu monster!" pikirnya. Ia mengambil helm sepedanya dan memakainya untuk perlindungan. Ia mendengar suara itu lagi.
Tuk tuk tuk tuk!
Singa panik. "Monster itu semakin dekat! Kedengarannya seperti monster terbesar dan paling menakutkan yang pernah ada!"
Tuk tuk tuk tuk!
TUK! TUK! TUK!
TUK! TUK! TUK!
"Hiii!" Singa menjerit. Ia lari dari jendela dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Ia menarik selimut menutupi kepalanya. Ia memegang erat tongkat bisbolnya, dan….
Tuk tuk!
Seekor katak kecil melompat ke ambang jendela. Katak itu mengenakan tutu dan sepatu tap. Ia menari sedikit. Tuk tuk tuk tuk!
"Halo Singa! Apakah kau di dalam?" kata katak itu.
Ia melihat ke luar jendela dan melihat Singa bersembunyi di bawah tempat tidur. Singa terbungkus selimut… mengenakan helm sepeda… dan memegang tongkat bisbol. Ia terlihat konyol.
(Dan jujur saja, ia juga merasa konyol.)
"Ummm… aku punya beberapa gerakan tari baru untuk ditunjukkan padamu," kata katak itu. "Tapi kau terlihat sibuk. Aku akan kembali nanti. Sampai jumpa!"
Katak itu melompat ke tanah dan menari dengan gembira.
Tuk tuk tuk tuk!
Pesan moral: Terkadang imajinasi kita membuat sesuatu tampak lebih menakutkan daripada kenyataannya.
5. Cerita Anak Kucing yang Berani
Jika kita jumpai di kehidupan nyata, anak kucing seringkali takut dengan keberadaan manusia. Namun, di cerita fabel kali ini, ada anak kucing yang berani. Seperti apa kisahnya? Simak dongeng pengantar tidur dari Kampung Dongeng Tangsel berikut ini!
Lala adalah anak kucing kecil yang tinggal bersama induknya di sebuah rumah kayu dekat taman. Setiap hari, Lala bermain, makan, dan tidur di pangkuan sang induk.
Namun suatu hari, saat mereka bermain petak umpet, Lala kehilangan jejak ibunya. "Bunda?" panggil Lala. "Bunda, aku di sini..."
Tapi tidak ada jawaban. Lala mulai panik. Ia berjalan ke luar halaman, mencari di balik semak-semak dan di bawah ayunan, tapi induknya itu tidak ada.
Lala duduk di bawah pohon, menahan tangis. Tapi lalu ia ingat kata-kata induknya, "Kalau kamu takut, tarik napas... dan coba pelan-pelan cari jalan keluar."
Jadi Lala berdiri lagi. Ia melihat taman di depannya. Ia belum pernah pergi sejauh itu sendiri. Tapi ia tahu, ia harus berani.
Pertama, ia bertemu anjing kecil yang sedang makan biskuit. "Boleh aku tanya? Kamu lihat ibuku?" tanya Lala.
Anjing kecil menggeleng, tapi ia meminta Lala untuk bertanya pada kelinci yang berada di dekat ayunan. Lala pun berjalan ke ayunan, dan bertemu kelinci putih yang sedang membaca buku.
"Kamu lihat kucing besar?" tanya Lala.
"Aku lihat dia pergi ke arah warung. Mungkin dia mencarimu juga," jawab kelinci sambil tersenyum.
Lala pun berterima kasih dan lanjut mencari induknya. Tapi perutnya mulai lapar. Ia melihat roti jatuh di bawah bangku. Ia ingin memakannya, tapi ia ingat ibundanya selalu bilang, "Kalau mau makan, pastikan itu bersih."
Jadi Lala tidak memakan roti itu. Ia hanya minum air dari keran taman dan terus berjalan.
Akhirnya, di dekat warung, Lala mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Lalaaa! Di mana kamu?"
"Bundaaa!!" Lala berlari secepat mungkin.
Induknya langsung memeluknya erat. "Bunda sangat khawatir. Maaf Bunda sempat hilang tadi. Tapi kamu hebat, Nak. Kamu tidak menyerah."
Lala tersenyum kecil. "Aku takut, Bunda. Tapi aku ingat kata Bunda. Jadi aku coba berani."
Sejak saat itu, Lala tahu bahwa kadang-kadang, kita bisa merasa sendiri dan takut. Tapi kalau kita tenang, minta bantuan, dan tetap berusaha... kita bisa menemukan jalan pulang.
Pesan moral: Tetap tenang walau kadang diri ini merasa takut saat menghadapi masalah. Tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan agar bisa menemukan solusinya.
Menarik ya, Bunda, berbagai cerita dongeng fabel di atas yang kaya pesan moral dan bagus diceritakan pada Si Kecil. Semoga dengan membacakan dongeng ini semakin menguatkan bonding bunda dan Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Dongeng Anak: Gani Si Gajah Takut ke Lembah Ajaib
Parenting
Dongeng Anak: Persahabatan Kepiting, Burung Camar, dan Bintang Laut
Parenting
Dongeng Anak: Upi Si Tupai Sering Gugup saat Melompat
Parenting
Dongeng Anak: Kenapa Anak Singa Tidak Mau Mengaum?
Parenting
Dongeng Anak: Nyanyian Ajaib Katak Memanggil Hujan
9 Foto
Parenting
9 Potret Keseruan Anak-anak Lombok saat Mendengarkan Dongeng
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
60 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
26 Contoh Cerita Fantasi Pendek dan Panjang Menarik Penuh Makna, Dongeng Sebelum Tidur
31 Cerita Dongeng Pendek yang Memiliki Pesan Moral, Cocok Dibaca Sebelum Tidur