Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Benarkah Anak yang Berbakat saat Kecil Cenderung Menghindari Tantangan saat Dewasa?

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Rabu, 20 May 2026 15:20 WIB

anak berbakat cenderung menghindari masalah
anak berbakat cenderung menghindari tantangan/ Foto: Getty Images/wombatzaa
Daftar Isi

Menjadi berbakat sejak kecil ternyata tidak selalu berarti sanjungan bagi anak, Bunda. Ada kalanya anak berbakat justru merasa terbebani dengan ekspektasi dari lingkungan sekitar yang banyak menaruh harapan padanya.

“Siswa berbakat sering diberi label ‘anak pintar’ sejak dini. Namun, label ini bisa menjadi tekanan karena membuat mereka merasa harus selalu berhasil dan takut melakukan kesalahan,” kata seorang tenaga pendidik siswa berbakat, Wess Carroll, dilansir dari Silicon Canals. 

Saat anak berbakat berhasil mengerjakan sesuatu, tentunya orang tua akan merasa bangga dan sangat senang. Namun, saat anak gagal dalam mencapai hal tersebut, tak jarang orang tua akan sedikit kecewa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hal inilah yang membuat anak berbakat terkadang merasa harus all out, sempurna, dan tidak mau mengambil risiko terlalu jauh. Maka, tidak heran apabila anak berbakat cenderung menghindari berbagai tantangan yang berpotensi membuatnya gagal.

Menurut mereka, kegagalan merupakan sebuah penurunan nilai dalam diri. Padahal, gagal merupakan salah satu cara agar anak tersebut berkembang lebih baik, Bunda. Oleh karenanya, penting sebagai orang tua untuk memberikan pemahaman tentang hal tersebut.

Mengapa tantangan dianggap berbahaya bagi anak berbakat?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak berbakat cenderung memiliki sifat perfeksionis, yakni standar tinggi pada diri sendiri dan selalu menuntut kesempurnaan. Sifat ini terbentuk karena image-nya sebagai “anak pintar” yang justru membuatnya lebih menahan diri untuk berkembang, Bunda.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, cap “anak pintar” tersebut membuat mereka ragu untuk mencoba hal baru karena takut hasilnya tidak memuaskan. Sangat ironis apabila anak yang potensial justru menjadi orang dewasa yang suka menghindari tantangan karena beban tersebut. Salah satunya terkait dengan emosional, Bunda. 

Anak berbakat memiliki kepekaan emosional yang berbeda dari anak biasanya

Menurut psikolog pendidikan, David Palmer, Ph.D, anak-anak berbakat memiliki kekuatan emosional yang berbeda dengan anak lainnya. Mereka juga lebih peka dengan perasaan dan keadaan orang lain.

Kepekaan emosional tersebut tidak hanya terjadi saat memikirkan orang lain. Bahkan, pada dirinya sendiri pun mereka juga sering overthinking. Mereka sangat takut, bila mereka tidak menjadi seperti yang orang lain katakan tentang diri mereka, Bunda.

Dalam pikirannya, daripada gagal untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi orang lain, lebih baik mereka bergerak di zona aman saja. Takutnya, ketika mereka gagal, pujian yang awalnya diberikan, justru akan berbalik menjadi cacian, Bunda.

Dampak dari karakter perfeksionis pada anak berbakat

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, karakter tersebut dapat terbawa hingga anak mulai bekerja atau meniti kariernya. Akibatnya, sifat perfeksionis tersebut tak jarang akan menghambatnya dalam pekerjaan.

Di samping hal tersebut, anak berbakat saat dewasa akan menyadari bahwa untuk mencapai suatu hal yang memang bukan bakat alami mereka, perlu melakukan usaha dengan keras. Namun, hal tersebut butuh waktu bertahun-tahun lamanya.

Untuk mewujudkannya secara dini, anak berbakat harus mulai belajar menerima kritik, umpan balik, mencoba hal baru yang sederhana, dan tidak terlalu memikirkan orang lain. Dengan begitu, anak akan lebih memahami bahwa dirinya masih mempunyai ruang untuk berkembang.

Cara mendukung anak berbakat secara emosional

Mendampingi anak berbakat erat kaitannya dengan memahami kepekaan emosional mereka. Orang tua perlu memberikan dukungan mulai dari hal tersebut. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dalam mendukung emosional anak berbakat, dikutip dari laman Child Psychologist.

  • Mendukung anak untuk bersosialisasi: Bunda dapat mendukung anak untuk bersosialisasi mulai dari hal sederhana, seperti mendukung anak untuk mencari teman baru, bermain bersama teman-teman sebayanya, serta terbuka terhadap pertemanan anak.
  • Melatih anak untuk bersosialisasi dengan baik: Sebelum mencari teman, mungkin Bunda dapat melatih anak untuk menyambut, mengobrol, atau membuat teman merasa nyaman dengan bermain peran sehingga anak dapat mencontoh bagaimana cara bersikap.
  • Jadilah pendengar yang baik: Saat anak mulai berani untuk bercerita, jadilah pendengar yang baik agar anak merasa didukung, diterima, dan tidak diabaikan. Lakukan kontak mata saat anak berbicara dan tunjukkan minat dan kepedulian atas apa yang disampaikannya.
  • Bersikap tulus: Hindari terlalu menyombongkan diri atas pencapaian diri sendiri kepada anak, maupun sebaliknya. Ajari anak untuk tetap rendah hati, jujur, dan percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki.
  • Ajari anak bangun hubungan sosial yang sehat: Bunda dapat menyarankan anak untuk mengikuti berbagai kegiatan kelompok. Dari sana, anak akan belajar bahwa banyak anak-anak lain yang memiliki pola pikir dan cara bertindak yang berbeda dengan mereka.

Demikian penjelasan mengenai apa alasan anak berbakat menghindari tantangan saat dewasa. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda