parenting
Alasan Otak Anak Berubah di Usia 6 Tahun, Sering Disebut 'Pubertas Gigi Goyang'
HaiBunda
Minggu, 12 Apr 2026 09:30 WIB
Daftar Isi
Tahukah Bunda, ternyata usia enam tahun merupakan fase penting dalam tumbuh kembang Si Kecil, lho. Perkembangan otak yang terjadi pada usia ini diketahui dapat memicu berbagai perubahan pada anak, termasuk emosionalnya.
Mungkin Bunda pernah merasa, suatu hari Si Kecil menjadi lebih keras kepala, memberontak, atau tidak mau mendengar ucapan orang tuanya. Ada kalanya, suasana hati Si Kecil juga berubah drastis. Kondisi ini bahkan sering membuat Bunda merasa bingung atas apa yang terjadi padanya.
Menurut sejumlah penelitian, perubahan sikap, perilaku, dan emosi pada anak dengan rentang usia 4-6 tahun merupakan hal yang wajar. Di masa ini, pikiran anak dipenuhi oleh hal-hal yang memicu rasa ingin tahunya yang semakin tinggi, Bunda.
Namun, selain faktor tersebut, penelitian lain juga menemukan bahwa keinginan anak untuk lebih mandiri dalam mengelola emosi menjadi salah satu alasan pada perubahan perilakunya. Melalui penelitian tersebut, kondisi ini dikenal dengan istilah 'pubertas gigi goyang'.
Mengenal istilah pubertas gigi goyang
Melansir laman BBC, 'pubertas gigi goyang' diambil dari sebuah kata dalam Bahasa Jerman, yakni Wackelzahnpubertät. Jika diartikan dalam konteks psikologi anak, istilah tersebut menggambarkan anak usia enam tahun yang mulai menunjukkan perubahan suasana hati layaknya remaja.
Majalah Jerman Wunderkind menyebutkan bahwa pubertas gigi goyang ditandai dengan beberapa perubahan yang mencolok pada perilaku anak. Perubahan tersebut meliputi perilaku agresif, sikap pemberontak, dan perasaan sedih atau kecewa yang mendalam.
Sekilas memang ciri-ciri tersebut mirip dengan tanda pubertas pada remaja, Bunda. Bila pada remaja hal tersebut disebabkan oleh kondisi hormonal, sementara pada anak usia enam tahun, hal ini disebabkan oleh perkembangan neurologis otak dan psikologis anak.
“Pada fase ini anak mulai membangun identitas diri, memahami kondisi orang lain, sekaligus mengalami perkembangan emosional,” kata seorang mahasiswa doktoral psikologi di Universitas Durham, Evelyn Antony.
Otak anak yang berubah karena perkembangan neurologis ini menjadi kunci dalam membangun fondasi kemampuan berpikir yang lebih matang, Bunda. Nantinya, hal ini sangat membantu anak dalam mengelola emosi dan empati.
Tahap perkembangan emosi anak
Kecerdasan emosional pada setiap anak tidak terbentuk begitu saja, Bunda. Hal ini perlu melalui berbagai proses dan tahapan seiring dengan pertumbuhan usianya. Berikut ini bagaimana perkembangan emosi pada anak yang diungkapkan Antony.
1. Bayi dan balita
Seperti yang kita ketahui, sejak lahir bayi sangat bergantung pada orang dewasa atau pengasuhnya. Saat merasa tidak nyaman, seperti lapar, lelah, atau nyeri, bayi akan menangis sebagai responsnya. Pada tahap ini, bayi hanya merasakan emosi tersebut tanpa bisa memahaminya.
Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengenal berbagai emosi, mulai dari rasa senang, marah, hingga takut. Namun, mereka belum mampu mengelola emosi tersebut dengan baik sehingga sering muncul ledakkan emosi yang tak terduga.
2. Anak usia 5-6 tahun
Memasuki usia 5 hingga 6 tahun, anak mulai menghadapi perkembangan emosi yang semakin kompleks. Anak cenderung tidak lagi bergantung pada orang dewasa, melainkan ingin lebih mandiri dalam mengelola emosi.
Anak mulai belajar menjalin pertemanan, berinteraksi, serta bersosialisasi. Di saat yang sama, anak juga mulai membangun rasa percaya diri dan mencari jati dirinya di tengah lingkungan sosial yang beragam.
3. Perkembangan emosi melalui bahasa
Pada anak yang sudah mampu memahami bahasa, kondisi ini dapat membantu anak mengurangi gejolak emosi yang dirasakan. Dengan kemampuan berkomunikasi yang lebih baik, anak dapat menyampaikan kebutuhan dan keinginan dengan jelas.
Tak hanya itu, menjelaskan apa yang mereka rasakan juga dapat membantu anak menenangkan diri. Hal ini dikarenakan aktivitas tersebut melibatkan bagian otak yang berperan dalam berpikir rasional sekaligus mengurangi respons emosional yang berlebihan.
Dampak dari perkembangan psikologis dan neurologis pada kondisi emosional anak usia 6 tahun
Otak anak yang berubah karena perkembangan tersebut membuat anak anak tidak lagi hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga mulai memperhatikan orang lain. Tentunya hal ini dapat membawa dampak positif dan negatif pada anak, Bunda. Berikut penjelasannya yang dapat disimak oleh orang tua.
1. Anak lebih sering memikirkan orang lain
Penelitian yang dilakukan oleh ahli dari Universitas Leiden, Simone Dobbelaar, mengungkapkan hal yang mengejutkan. Melalui pemindaian otak (MRI), terdapat perubahan aktivitas saraf pada anak yang membuat mereka cenderung tidak fokus pada diri sendiri, dan malah sering memperhatikan orang lain.
Hal ini terjadi karena kemampuan anak dalam memahami sudut pandang orang lain semakin berkembang, Bunda. Jadi, anak usia enam tahun sebenarnya sudah dapat mempertimbangkan perasaan orang lain dalam situasi yang sederhana sekalipun.
2. Memiliki kesadaran dan kepekaan yang lebih tinggi
Dengan adanya perkembangan pada otak, anak mulai memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi. Anak menjadi lebih peka terhadap pandangan orang lain yang diberikan kepada mereka.
Sayangnya, kondisi ini dapat memunculkan rasa tidak percaya diri atau keraguan pada anak, Bunda. Terlebih lagi, jika anak merasa lingkungan yang ia pijak kurang menerima atau menyukai dirinya.
Selain itu, anak yang suka memikirkan orang lain semakin mudah cemas. Hal ini dikarenakan anak terlalu khawatir atas penilaian orang lain terhadap diri mereka, sehingga membuat anak seringkali anak meremehkan diri sendiri.
Demikian penjelasan mengenai otak anak yang berubah di usia enam tahun, serta bagaimana dampaknya pada perkembangan psikologis anak. Semoga informasinya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Cara Mendidik Anak Laki-laki Usia 6 Tahun
Parenting
Adakah Dampak Anak Usia 6 Tahun Sudah Masuk SD?
Parenting
Kenali 5 Tanda Anak Merasa Kesepian, Segera Atasi Demi Masa Depannya
Parenting
Kebutuhan Energi Anak Usia 6 Tahun yang Baru Masuk Sekolah
Parenting
9 Tips Lindungi Mata Anak Gatal Akibat Gadget, Berkedip Salah Satunya
5 Foto
Parenting
Potret Fajar Alamri Bocah 5 Tahun Jadi Peserta Termuda di Kompetisi Biliar Internasional
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak Makin Pasif & Sering Main Gadget, Ternyata Bisa Pengaruhi Mental Orang Tua
Kenali Karakter Anak Gen Beta Lahir Tahun 2025 & Cara Mendidik
Ciri Anak Akan Tumbuh Jadi Pribadi Baik & Empatik, Studi Ungkap Peran Orang Tua