Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Keamanan Mainan Berbasis AI untuk Anak Usia Dini, Pakar Soroti Masalah Emosi

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Senin, 18 May 2026 17:10 WIB

Mainan berbasis AI untuk anak
Mainan berbasis AI untuk anak/ Foto: Getty Images/Hispanolistic
Daftar Isi

Seiring berkembangnya teknologi, kecerdasan buatan juga semakin dekat dengan kehidupan, termasuk mainan pintar berbasis AI yang kini mulai banyak digunakan oleh anak-anak. Namun, apakah penggunaannya efektif untuk membantu tumbuh kembang Si Kecil?

Hasil penelitian terbaru dari Universitas Cambridge tentang studi kasus balita yang berinteraksi dengan menggunakan mainan AI sungguh mengejutkan. Temuan menunjukkan bahwa mainan tersebut belum mampu menyeimbangi karakteristik anak-anak seusia mereka yang sangat ingin tahu, Bunda.

Mengutip sebuah kasus dari laman News18, seorang balita bernama Ethan memiliki mainan AI yang tidak mampu merespons interaksi atau pertanyaan yang dilontarkannya secara menyeluruh. Akibatnya, Ethan menjadi frustrasi dan kesal sebab ia merasa diabaikan dan rasa ingin tahunya tidak terpenuhi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Melihat hal tersebut, kini banyak orang tua yang mulai skeptis terhadap penggunaan mainan AI pada anak usia dini, Bunda. Tak hanya itu, para ahli pun mulai meragukan efektivitas mainan tersebut, karena dinilai lebih banyak memberikan dampak negatif daripada manfaat bagi anak.

Mengapa mainan AI kurang efektif dalam membantu tumbuh kembang anak?

Berdasarkan pengalaman Ethan, para ahli menilai mainan AI tersebut tidak mampu terlibat dalam percakapan anak-anak yang cenderung cepat, tumpang tindih, dan spontan. Selain itu, meskipun dapat berbicara, interaksi tersebut cenderung template dan tidak memiliki alur alami selayaknya interaksi langsung dengan manusia.

Tentunya hal ini akan menimbulkan masalah di saat anak masih belajar berkomunikasi, Bunda. Terlebih lagi, temuan bukti ilmiah mengenai pengaruh mainan AI terhadap perkembangan anak juga masih terbatas, sementara jumlah produk yang beredar justru semakin banyak.

Kekurangan dari mainan anak berbasis AI

Para peneliti dari studi tersebut mengamati kebiasaan anak-anak saat berkomunikasi dengan mainan AI. Ternyata, mereka memperlakukan mainan tersebut layaknya teman sungguhan, seperti mengajak berbicara, bertanya, berbagi pendapat, bahkan mengungkapkan kasih sayang.

Mirisnya, interaksi tersebut tidak dapat dikatakan lancar, Bunda. Mainan AI justru lebih sering mengabaikan anak, delay, salah paham, atau bahkan tidak mampu merespons percakapan karena di luar jangkauannya. Selain itu, masih banyak kekurangan dari mainan berbasis AI, meliputi:

1. AI tidak mampu memahami emosi anak

Salah satu kekurangan yang paling disoroti dalam temuan ini adalah bagaimana mainan AI merespons emosi anak. Pasalnya, sering kali mainan tersebut salah memahami atau justru mengabaikan sisi emosional dan ekspresi perasaan yang diungkapkan oleh anak.

Sebagai contoh, ketika anak berkata “Aku sedih,” mainan tersebut malah mengalihkan percakapan daripada merespons emosi tersebut. Tentunya respons seperti ini kurang tepat untuk memvalidasi perasaan dan emosi seorang anak.

Selain itu, anak-anak juga sering menerima feedback yang tidak sesuai dengan keadaan emosional mereka sehingga akan berpengaruh pada cara anak belajar mengekspresikan emosi. Kondisi ini akan membuat anak yang sedang membangun kecerdasan emosional menjadi bimbang, ragu, dan bingung.

2. AI kurang membantu mengembangkan keterampilan sosial dan empati anak

Pada kehidupan nyata, anak akan belajar berempati, bersosialisasi, dan membangun relasi melalui komunikasi. Namun, pada mainan AI mereka hanya mengandalkan data algoritma sehingga respons yang diberikan tidak maksimal dan kurang berdampak.

Menurut para ahli, paparan berulang terhadap respons AI yang terlalu template dan minim empati dapat memengaruhi pola interaksi anak, Bunda. Bahkan, dampak negatifnya dapat berkembang secara signifikan di kemudian hari hingga anak dewasa.

3. Sistem pengamanan dan data privasi yang belum jelas

Seperti yang kita tahu, mainan AI akan menyimpan data seperti interaksi suara dan pola perilaku untuk meningkatkan respons. Namun, nyatanya sistem pengamanan yang dibangun belum cukup jelas untuk memastikan keamanan penggunaan data-data tersebut.

Para ahli turut mengungkapkan kekhawatiran bahwa anak mungkin saja membagikan informasi sensitif atau pribadi kepada mainan AI. Tentunya hal ini menjadi perhatian serius, mengingat anak belum sepenuhnya memahami batasan dalam berbagi informasi, Bunda.

Hal yang harus dilakukan orang tua dalam menyikapi perkembangan mainan AI

Terlepas dari kekhawatiran efek samping penggunaan mainan AI, setidaknya mainan ini dapat mendukung perkembangan bahasa serta mendorong keberanian anak, untuk berlatih bicara dan mendengarkan. Namun, orang tua juga perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Orang tua terlibat dalam permainan: Manfaat mainan AI yang digunakan anak akan lebih optimal apabila orang tua ikut terlibat dalam prosesnya, Bunda. Dengan begitu, aktivitas ini dapat menjadi pengalaman bersama yang lebih bermakna.
  • Jelaskan apa itu AI kepada anak: Penting bagi anak untuk memahami bahwa mainan AI yang mereka ajak berkomunikasi bukanlah manusia sungguhan. Pemahaman ini bertujuan untuk mencegah anak merasa kebingungan serta membantunya mengerti konsep dari mainan ini.
  • Perhatikan perubahan perilaku anak: Bunda perlu peka terhadap segala tanda-tanda perubahan emosional pada anak, seperti frustrasi, ketergantungan yang berlebihan, hingga menarik diri saat bermain. Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa penggunaan mainan AI perlu dibatasi.
  • Periksa fitur dan kebijakan privasi: Sebelum digunakan, pastikan Bunda memahami bagaimana mainan tersebut bekerja, termasuk data apa saja yang dikumpulkan dan bagaimana penggunaannya.
  • Hindari penggunaan mainan tanpa pengawasan: Para ahli tidak merekomendasikan penggunaan mainan AI tanpa pengawasan orang tua. Mereka juga mengimbau kepada para orang tua untuk tidak meninggalkan anak sendiri saat bermain dengan mainan AI dalam waktu yang lama.

Demikian informasi mengenai bagaimana mainan AI berdampak pada emosional dan perilaku anak-anak balita. Semoga penjelasannya ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda