parenting
Kasus Naik, Kenali Gejala Meningitis B pada Anak yang Sering Disangka Flu Biasa
HaiBunda
Senin, 30 Mar 2026 12:40 WIB
Daftar Isi
Kasus meningitis belakangan ini kembali meningkat dan mulai jadi perhatian banyak orang tua. Situasi ini membuat banyak keluarga lebih waspada, terutama terkait gejala meningitis B pada anak di rumah.
Mungkin sekilas terdengar seperti penyakit yang jarang terjadi ya, tapi faktanya kondisi ini bisa menyerang siapa saja. Tak sedikit orang tua yang baru menyadari setelah gejalanya mulai terlihat.
Dalam keseharian, beberapa tanda yang muncul kerap disamakan dengan penyakit ringan seperti flu. Padahal, ada kondisi tertentu yang butuh perhatian lebih dan tidak boleh diabaikan begitu saja, Bunda.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah meningitis B, yaitu jenis meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Dikutip dari The Independent, bakteri yang disebut meningokokus ini biasanya hidup di tenggorokan tanpa menimbulkan masalah, tapi bisa sangat berbahaya jika masuk ke darah.
Oleh karena itu, Bunda perlu menyimak tentang gejala meningitis B pada anak yang sering disangka sebagai flu biasa.
Gejala meningitis B pada anak
Mengutip dari laman Meningitis Now dan Kids Health, gejala meningitis B pada anak bisa berbeda-beda, tergantung usia serta penyebabnya. Meski begitu, sebagian besar kasus tetap menunjukkan tanda yang mirip satu sama lain.
Gejala umum meliputi:
- Demam disertai tangan dan kaki dingin
- Sakit kepala
- Leher kaku
- Sensitivitas terhadap cahaya (cahaya terang mengganggu mata)
- Mual atau muntah
- Nafsu makan buruk
- Kekurangan energi atau rasa kantuk
- Kejang
Diagnosis meningitis B pada anak
Meningitis B bisa sangat berbahaya, Bunda. Jadi, begitu melihat gejala muncul atau merasa ada yang tidak biasa pada anak, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
Kalau dokter mencurigai anak terkena meningitis, biasanya mereka akan menyarankan pungsi lumbal. Prosedur ini merupakan pengambilan sampel cairan serebrospinal untuk diperiksa lebih lanjut.
Hasil dari tes ini bisa menunjukkan adanya peradangan pada otak dan sumsum tulang belakang, serta membantu menentukan apakah infeksi disebabkan oleh bakteri atau virus.
Selain itu, dokter biasanya juga akan meminta tes darah dan pemeriksaan lain. Semua ini bertujuan untuk menemukan sumber infeksi dan menentukan langkah pengobatan yang tepat, Bunda.
Pengobatan meningitis B pada anak
Kalau anak menderita atau dicurigai menderita meningitis B, dokter biasanya langsung memberikan antibiotik lewat infus. Mereka juga bisa menambahkan steroid untuk mengurangi peradangan di otak dan cairan IV agar tubuh anak tetap terhidrasi.
Kalau meningitis disebabkan oleh virus, antibiotik sebenarnya tidak dibutuhkan. Biasanya, dokter hanya memberikan obat antivirus untuk jenis virus tertentu yang lebih serius.
Sebagian besar anak dengan meningitis virus biasanya mulai membaik dalam 7-10 hari. Jika gejalanya ringan, anak bisa dirawat di rumah dengan pengawasan orang tua.
Perawatan di rumah fokus pada meredakan gejala. Anak perlu banyak istirahat, cukup minum cairan, dan bisa diberi obat pereda nyeri yang aman. Namun, beberapa kasus tetap memerlukan rawat inap, Bunda.
Apakah meningitis pada anak bisa dicegah?
Kabar baiknya, meningitis pada anak bisa dicegah dengan beberapa langkah, Bunda. Perhatian sejak dini sangat membantu anak dari risiko infeksi serius ini.
Melansir dari Kids Health, berikut ini penjelasan selengkapnya:
1. Vaksinasi
Imunisasi rutin menjadi cara efektif untuk mencegah meningitis. Vaksin seperti Haemophilus influenzae tipe B (HiB), campak, polio, dan pneumokokus bisa melindungi anak dari meningitis yang disebabkan kuman-kuman tersebut.
Anak juga perlu vaksin untuk melawan bakteri meningokokus. Vaksin konjugat meningokokus (MenACWY) diberikan saat usia 11-12 tahun. Anak yang lebih tua dan belum divaksin juga sebaiknya mendapat imunisasi.
Selain itu, anak usia 2 bulan sampai 11 tahun yang berisiko tinggi terkena infeksi juga sangat disarankan untuk mendapat vaksin MenACWY, Bunda.
Vaksin meningokokus jenis baru yang disebut MenB melindungi terhadap jenis bakteri meningokokus yang tidak tercakup oleh vaksin lama. Anak-anak berusia 10 tahun ke atas yang memiliki risiko infeksi lebih tinggi sebaiknya mendapatkan vaksin ini.
Sementara anak lain yang tidak memiliki risiko tinggi juga dapat mendapatkannya saat berusia 16-23 tahun.
2. Menghindari kuman
Ajarkan anak untuk mencuci tangan dengan bersih dan sering, terutama sebelum makan dan setelah ke kamar mandi ya, Bunda. Hindari kontak dekat dengan orang sakit dan jangan berbagi makanan atau alat makan.
3. Antibiotik pencegahan
Dalam beberapa situasi, dokter mungkin memberikan antibiotik bagi orang yang kontak dekat dengan pasien meningitis bakteri. Hal ini bertujuan mencegah infeksi lebih lanjut, Bunda.
Demikian informasi seputar meningkatnya kasus meningitis dan cara mengenali gejala meningitis B pada anak yang sering disangka flu biasa.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Penyakit Meningitis pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Parenting
5 Cara Menghilangkan Cegukan pada Bayi, Bunda Perlu Tahu
Parenting
9 Gejala Demam Berdarah pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Anak Demam dan Mata Peka Cahaya, Apakah Gejala Meningitis?
Parenting
Penyebab dan Dampak Stunting pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Kotoran Telinga Anak Mengeras, Bagaimana Cara Membersihkannya?
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak Demam dan Mata Peka Cahaya, Apakah Gejala Meningitis?
Flu Singapura Merebak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya agar Anak Tak Tertular
Penyakit Meningitis pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya