Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Bahaya Wabah Campak untuk Anak-anak, Ketahui Penyebab hingga Cara Cegah Penularannya

dr. Ari Prayoga, Sp.A   |   HaiBunda

Selasa, 17 Mar 2026 14:35 WIB

Dokter Sisipan
dr. Ari Prayoga, Sp.A
Melayani konsultasi, pemeriksaan, imunisasi, evaluasi tumbuh kembang anak, infeksi, gangguan pencernaan, alergi, dan asma. Praktik di Brawijaya Hospital Duren Tiga Senin–Minggu.
Kerumut atau campak
Bahaya campak pada anak dan pencegahannya/ Foto: Getty Images/parinyabinsuk
Daftar Isi
Jakarta -

Kasus campak di Indonesia belakangan kembali meningkat dan mulai menjadi perhatian serius. Sejumlah daerah melaporkan lonjakan kasus yang memicu kekhawatiran akan penyebaran yang lebih luas.

Apalagi, momen Lebaran identik dengan tradisi mudik dan berkumpul bersama keluarga. Lalu, langkah pencegahan apa saja yang perlu dilakukan, agar penularan campak tidak semakin meluas saat perayaan Hari Raya Idul Fitri?

Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Virusnya bahkan dapat menyebar melalui udara dan menular kepada 9 dari 10 orang yang belum memiliki kekebalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, dibutuhkan kekebalan komunitas (herd immunity) dengan cakupan imunisasi minimal sekitar 95 persen. Karena itu, pemerintah memberikan vaksin MR secara bertahap kepada anak-anak, yakni saat usia 9 bulan, 18 bulan, serta saat mereka duduk di kelas 1 SD atau sekitar usia 5-7 tahun.

Lalu, mengapa kasus campak kembali meningkat belakangan ini? Hal tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua, terutama menjelang momen Lebaran. Untuk mengetahuinya, simak penjelasannya berikut ini.

Apa yang membuat kasus penyakit campak kembali meningkat di Indonesia?

Meskipun vaksin campak sudah tersedia cukup lama, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kasus campak kembali meningkat di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah faktor yang mendukung terhadap penurunan kekebalan kelompok (herd immunity), sebagai berikut:

  • Cakupan imunisasi yang belum optimal: Vaksin campak MR sebenarnya telah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan. Namun, sebagian anak masih ada yang belum mendapatkan imunisasi sehingga berisiko lebih tinggi tertular campak.
  • Dampak pandemi COVID-19: Pada masa pandemi, tak sedikit anak yang terlewat imunisasi (immunization gap) karena layanan kesehatan yang sempat terganggu sehingga perlindungan imunisasi pada sebagian anak menjadi tidak optimal.
  • Keraguan orang tua terhadap vaksin: Dalam bermedia sosial, tentunya banyak informasi yang beredar. Tak sedikit informasi mengenai vaksin campak yang disalahartikan sehingga membuat orang tua menjadi ragu untuk memberikan vaksin kepada anak.

Selain itu, sebagian anak juga dapat kembali terkena campak karena beberapa faktor, seperti baru menerima satu dosis vaksin (imunisasi tidak lengkap), respons imun tubuh yang tidak optimal, hingga adanya paparan virus yang sangat tinggi di lingkungan sekitar.

Bagaimana risiko penularan penyakit campak saat momen Lebaran?

Penting untuk diperhatikan bagi orang tua bahwa penularan campak saat momen lebaran sangat mungkin terjadi. Virus campak (measles) dapat bertahan di udara selama dua jam dalam ruangan tertutup, dan mampu menular lewat percikan batuk dan bersin.

Saat kumpul keluarga, tentunya risiko penularan dapat meningkat, sebab banyak sekali orang berkumpul, terjadinya kontak fisik yang erat, bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah dengan status kesehatan dan imunisasi yang beragam.

Hal ini tentu lebih berisiko bagi anak yang belum mendapatkan vaksin campak secara lengkap atau belum menerima vaksin sama sekali. Kondisi ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi berat, komplikasi, dan penularan yang semakin meluas.

Apa yang harus diperhatikan saat mudik Lebaran di tengah meningkatnya kasus campak?

Beberapa kondisi dan upaya pencegahan pada anak yang mesti diperhatikan, terutama bagi bayi dan balita, adalah sebagai berikut:

Periksa kondisi anak

Sebelum berangkat mudik, orang tua perlu memastikan kondisi anak dalam keadaan sehat. Jika anak mengalami gejala demam, batuk, mata merah, serta muncul ruam pada kulit, sebaiknya tunda perjalanan dan segera periksakan kondisi anak ke dokter.

Pastikan imunisasi anak lengkap

Pastikan anak telah mendapatkan imunisasi campak secara lengkap. Jika anak belum menerima vaksin campak sesuai jadwal, maka orang tua sebaiknya segera lengkapi imunisasinya agar anak terlindungi dari risiko penularan campak.

Hindari membawa bayi ke kerumunan

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kerumunan menjadi tempat yang rawan penularan penyakit karena tingginya kontak fisik. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya hindari membawa bayi ke kerumunan, terutama jika kondisi bayi sedang kurang sehat.

Terapkan etika batuk dan mencuci tangan

Orang tua perlu memperhatikan etika batuk dan menjaga kebersihan tangan. Biasakan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku saat bersin dan batuk. Bersihkan tangan dengan mencuci tangan dengan sabun secara rutin.

Hindari paparan dari orang sakit

Bagi bayi yang berusia di bawah 9 bulan, salah satu perlindungan yang terbaik adalah dengan menghindari paparan orang yang sedang sakit. Pada usia tersebut, bayi belum mendapatkan vaksin campak sehingga sistem kekebalan tubuhnya masih sangat rentan.

Tidak melakukan kontak fisik berlebihan

Saat berkumpul dengan keluarga, sebaiknya hindari kontak fisik yang berlebihan dengan bayi keluarga lain, seperti mencium, memeluk, atau menggendong tanpa izin orang tuanya. Ini penting untuk membantu mengurangi risiko penularan penyakit.

Apa yang dapat dilakukan bila anak terkena campak?

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua ketika anak mengalami campak, meliputi:

  • Isolasi: Lakukan isolasi di rumah dengan menghindari kontak dengan kelompok rentan, hindari sekolah, tempat umum, atau playground. Menurut IDAI, isolasi dilakukan minimal hingga 5 hari setelah ruam muncul
  • Cukupi cairan tubuhnya: Pada bayi, ibu dapat memberikan ASI. Sementara untuk anak yang lebih besar, berikan air putih, sup hangat, atau makanan berkuah lainnya.
  • Makanan bergizi: Pastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang, seperti protein, karbohidrat, vitamin dan mineral. Berikan pula makanan yang mudah dicerna agar kebutuhan energinya tetap terpenuhi.
  • Vitamin A: Dokter biasanya akan memberikan vitamin A dosis tinggi sesuai dengan usia anak. Pemberian vitamin A ini terbukti membantu mengurangi risiko komplikasi karena campak.
  • Berikan istirahat yang cukup: Membiarkan anak beristirahat dapat membantu proses pemulihan semakin cepat.

Dengan begitu, pemberian vaksin campak sebaiknya tidak lagi ditunda oleh orang tua. Jika terus ragu dan menunda imunisasi, virus campak akan mudah menyebar, kemungkinan terjadinya wabah meningkat, bahkan kelompok rentan seperti bayi dan balita ikut terancam.

Jika anak belum mendapatkan vaksin campak atau belum menyelesaikan seluruh dosisnya, imunisasi masih dapat diberikan melalui imunisasi kejar (catch-up vaccination). Bahkan, pemberian vaksin tersebut sudah dapat dilakukan setelah anak sembuh total dari campak.

Semakin cepat pencegahan dilakukan, semakin kecil pula risiko anak tertular campak dan mengalami komplikasi. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan imunisasi anak lengkap, terlebih menjelang Lebaran, yang mana mobilitas masyarakat meningkat. Semoga bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(Indah Ramadhani/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda