Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cerita Remaja yang Hanya Bisa Makan Makanan Serba Kuning dan Kering

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 17 Mar 2026 16:20 WIB

Sakit Kaki dan Ruam Dikira Campak, Anak Ini Ternyata Didiagnosis Leukemia
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Yanukit Raiva
Daftar Isi
Jakarta -

Pernahkah Bunda mendengar cerita tentang seorang remaja yang punya gangguan makan ekstrem? Ya, ia hanya mau makan makanan serba kuning dan kering.

Dikutip dari laman Stuff, seorang remaja berusia 18 tahun bernama Jake Thompson dulu sempat mau makan apa saja sampai usianya mencapai 3 tahun.

Setelah itu, pengalaman traumatis yang berkaitan dengan alergi makanan ketika masih kecil mengubah pola makannya. Kini sebagian besar menu makanan Thompson hanya terdiri dari keripik, roti, chicken tenders, dan nugget.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Thompson yang berasal dari Greymouth, Selandia Baru ini mengeluhkan rasa jijik yang sangat kuat terhadap makanan yang lembek atau basah, ditambah alergi parah terhadap kacang tanah dan produk susu.

Oleh sebab itu, kini pola makannya hanya terdiri dari makanan kering berwarna kuning. Buah dan sayuran yang umum, justru memicu reaksi fisik atau emosional yang sangat kuat baginya.

Upaya orang tua Thompson untuk mengatasi gangguan makan ini

Orang tua Thompson tetap menyajikan makan malam sebagai upaya tambahan, tetapi penolakannya untuk makan sering kali memicu pertengkaran di meja makan.

"Jelas ada banyak rasa takut dan penolakan darinya. Saya selalu berusaha membuatnya mencoba, tapi tanpa saya sadari secara fisik dia memang tidak mampu melakukannya," kata ibu Thompson, Dearne.

Meski awalnya sempat membuat kesal, kebiasaan makan Thompson ini lama-lama menjadi sesuatu yang hal yang normal bagi keluarga mereka. 

Menginjak usia 10-11 tahun, Dearne kemudian mengajak putranya konsultasi ke dokter. Namun sebagian besar beranggapan semua akan berubah seiring bertambahnya usia Thompson.

Namun setelah itu, seorang psikolog mengatakan bahwa Thompson berada pada tingkat ekstrem dari gangguan makan langka yang baru diakui pada tahun 2013, yakni Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder atau ARFID.

Setelah diagnosis ARFID ditegakkan

Thompson mengalami banyak keluhan penyakit lain. Termasuk di antaranya penurunan penglihatan, demam kelenjar, infeksi tulang, serta Bell’s Palsy yang berulang ketika ia berusia sekitar 15 tahun.

Ia kemudian menjalani minggu penilaian dengan Blind and Low Vision Education Network NZ (BLENNZ). Seorang dokter spesialis mata memeriksa matanya dan langsung mengatakan bahwa kekurangan nutrisi menyebabkan gangguan ini.

Mendengar hal itu, Dearne menangis dan terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. 

Setelah itu, Thompson mulai menjalani terapi. Beberapa sesi bahkan bisa memakan waktu hingga 1,5 jam hanya untuk memakan satu makanan dari daftar.

Meski mengalami banyak kesulitan, kini ia telah menyelesaikan terapinya. Terapi tersebut memberi Thompson kepercayaan diri untuk memperkaya pola makannya dengan makanan seperti almond, kacang hitam, serta menoleransi brokoli dan wortel yang dimasak.

Ahli gizi sekaligus koki, Andrea Palmer, mengatakan bahwa orang tua sebaiknya mencari bantuan jika anak menunjukkan kecemasan terhadap makanan atau menolak makan bersama keluarga.

Apa itu Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)?

Dikutip dari Kids Health, ARFID adalah gangguan makan yang tergolong relatif baru. Anak-anak dengan ARFID merupakan pemilih makanan yang sangat ekstrem dan terkadang bahkan memiliki minat yang sangat rendah terhadap makanan. 

Mereka biasanya hanya mau makan beberapa jenis makanan yang disukainya saja. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan yang kurang optimal dan masalah kekurangan nutrisi.

Sampai saat ini, penyebab ARFID belum diketahui. Banyak ahli percaya bahwa gangguan ini terjadi akibat kombinasi dari temperamen anak, faktor genetik, serta pemicu seperti trauma.

Apa saja ciri-ciri ARFID?

Anak-anak dengan ARFID umumnya termasuk dalam tiga kategori utama:

1. Pemilih makanan sangat ekstrem

Sebagian anak merupakan pemilih makanan yang sangat ekstrem dan dapat memiliki reaksi negatif yang kuat terhadap bau, rasa, tekstur, atau warna makanan. Mereka juga bisa sangat takut mencoba makanan baru, yang disebut neophobia. 

2. Kurang tertarik pada makanan

Sebagian anak lain dengan ARFID memiliki ketertarikan yang sangat rendah terhadap makan. Nafsu makannya termasuk kecil, bahkan mereka juga kerap merasa makan tidak memberikan kepuasan yang berarti.

Sebagian anak juga merasa takut terhadap apa yang mungkin terjadi ketika mereka makan, misalnya mengalami rasa sakit, tersedak, atau muntah.

3. Campuran keduanya

Beberapa anak dengan ARFID hanya termasuk dalam satu kategori tersebut, sementara yang lain dapat berada dalam lebih dari satu kategori sekaligus.

Dampak ARFID bagi pertumbuhan anak

ARFID dapat menyebabkan berbagai masalah akibat kekurangan nutrisi. Anak-anak dengan gangguan ini juga rentan mengalami kondisi berikut:

  • Tidak mendapatkan cukup vitamin, mineral, dan protein
  • Memerlukan pemberian makan melalui terapi medis dan suplemen nutrisi tambahan
  • Mengalami pertumbuhan yang kurang optimal
  • Mengalami keterlambatan pubertas

Kekurangan nutrisi yang berkaitan dengan ARFID juga dapat menyebabkan keluhan medis lainnya, termasuk seperti:

  • Pusing dan pingsan akibat tekanan darah rendah
  • Denyut nadi yang lambat
  • Dehidrasi
  • Tulang yang melemah (osteoporosis)

Itulah penjelasan tentang kisah seorang anak yang hanya mau makan makanan kering dan kuning, akibat gangguan makan ARFID. Jangan ragu untuk membawa Si Kecil konsultasi ke profesional seperti dokter atau psikolog, jika memiliki keluhan berupa gangguan makan yang lama ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda