parenting
Campak Mudah Menular pada Anak, Virus Bisa Bertahan di Udara Lebih dari 2 Jam
HaiBunda
Kamis, 12 Mar 2026 07:50 WIB
Daftar Isi
Bunda pasti sudah tak asing mendengar istilah campak, tapi banyak dari kita yang belum sepenuhnya paham penyakit ini. Campak ternyata mudah menular pada anak-anak dan bisa terjadi dalam waktu yang singkat.
Terlebih lagi, di Indonesia sudah banyak anak yang meninggal karena penyakit yang satu ini, Bunda. Bahkan, negara kita menempati posisi kedua dengan kasus campak tertinggi di dunia.
Menilik dari World Health Organization (WHO), campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya menyerang orang dewasa, campak paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan cepat.
Lantas, bagaimana virus campak bisa menyebar dan apa yang bisa orang tua lakukan untuk melindungi Si Kecil dari penyakit ini?
Bagaimana penyakit campak menyebar pada anak?
Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus campak bisa tetap bertahan di udara hingga 2 jam setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan.
Sementara itu, campak jauh lebih mudah menular dibandingkan dengan flu atau COVID-19, Bunda. Satu orang yang membawa virus ini bisa menularkannya ke 12 hingga 18 orang lainnya. Begini cara penyebarannya:
1. Kontak dengan orang yang terinfeksi
Campak adalah virus yang menular dan biasanya ada di lendir hidung dan tenggorokan orang yang terkena. Virus ini bisa menular ke orang lain melalui percikan saat batuk atau bersin.
2. Terpapar dari udara
Virus campak juga bisa menyebar lewat udara atau benda yang terkontaminasi. Jika anak menghirup udara yang sudah terkontaminasi oleh virus atau menyentuh permukaan yang terinfeksi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut, mereka bisa tertular.
Tanda penyakit campak pada anak
Dikutip dari WHO, tanda campak biasanya mulai muncul sekitar 10-14 hari setelah anak terpapar virus. Salah satu tanda yang paling terlihat adalah ruam di kulit.
Tanda awal biasanya berlangsung selama 4-7 hari. Beberapa di antaranya seperti:
- Pilek
- Batuk
- Mata merah dan berair
- Bintik-bintik putih kecil di bagian dalam pipi
Perlu diketahui bahwa selama sekitar tiga hari, ruam akan menyebar ke tangan dan kaki, dan bertahan 5 hingga 6 hari sebelum perlahan memudar.
Komplikasi penyakit campak pada anak
Sebagian besar masalah serius akibat campak muncul karena komplikasi dari penyakit itu sendiri, Bunda. Berdasarkan pemaparan dari WHO, komplikasi yang mungkin terjadi seperti:
- Kebutaan
- Ensefalitis, yaitu infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi merusak fungsi otak
- Diare parah dan dehidrasi
- Infeksi pada telinga
- Masalah pernapasan serius, termasuk pneumonia
Komplikasi paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun. Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi.
Tingkat komplikasi bisa lebih tinggi di daerah dengan pendapatan rendah dan kerap mengalami kekurangan gizi. Misalnya, kekurangan vitamin A dikaitkan dengan penyakit dan komplikasi yang lebih serius.
Siapa yang paling berisiko?
Siapa pun yang belum punya kekebalan, entah belum divaksin atau sudah divaksin tapi tubuhnya belum kebal, tentu bisa tertular campak, Bunda. Namun, anak yang belum divaksin memiliki risiko paling tinggi mengalami komplikasi dari penyakit ini.
Dikutip dari WHO, campak hingga kini masih sering terjadi di beberapa wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Hingga kini, penyakit ini menjadi masalah kesehatan di daerah-daerah tersebut.
Cara mencegah penyakit campak pada anak
Menilik dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, berdasarkan hasil studi dan uji klinis, vaksin MR terbukti ampuh untuk membantu anak membentuk kekebalan terhadap campak.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan di Kementerian Kesehatan, Rizka Andalusia, menyampaikan bahwa vaksin ini sudah melalui berbagai kajian dan dinyatakan aman untuk anak-anak.
"Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah melalui kajian oleh Kementerian Kesehatan dan Komite Imunisasi Nasional, serta mendapatkan izin edar dari Badan POM. Artinya, vaksin tersebut telah dipastikan aman dan efektif digunakan," ujarnya.
Selain itu, vaksin MR disarankan diberikan pertama kali ketika anak berusia 9-12 bulan. Anak juga dianjurkan menerima imunisasi MR booster pada usia 18 bulan dan saat duduk di kelas 1 SD (usia 5-6 tahun).
Itulah penjelasan tentang campak pada anak, termasuk cara penyebarannya yang bisa bertahan di udara lebih dari 2 jam. Semoga penjelasannya dapat membantu, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Kasus Campak di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia, Berujung Kematian akibat Tidak Vaksin
Parenting
Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Resmi Dimulai 4 Agustus, Ada Imunisasi Campak hingga Kanker Serviks
Parenting
Kenali Gejala Campak pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
Parenting
Penularan Campak Mulai dari Cara hingga Waktu Muncul Gejalanya
Parenting
Menyerang Segala Usia, Wabah Campak Capai 3.341 Kasus di 31 Provinsi
Parenting
5 Penyakit Ini Bisa Ditularkan ke Bayi Baru Lahir dari Ciuman, Hati-hati ya Bun
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kasus Campak di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia, Berujung Kematian akibat Tidak Vaksin
Pentingnya Vitamin A untuk Anak yang Terkena Campak, Catat Bun!
Cegah Penularan Campak, Kemenkes Imbau Setop Sentuh-sentuh Bayi Balita saat Lebaran