Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Bolehkah Anak Dijanjikan Hadiah saat Berhasil Puasa Penuh?

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Selasa, 10 Mar 2026 07:50 WIB

Bolehkah Anak Dijanjikan Hadiah saat Berhasil Puasa Penuh?
Ilustrasi Anak Diberi Hadiah/Foto: Getty Images/Duangjai Manoonthamporn
Daftar Isi
Jakarta -

Bulan Ramadhan menjadi momen bagi anak untuk mulai belajar berpuasa. Namun dalam prosesnya, tidak jarang mereka merasa kesulitan menahan lapar dan haus hingga waktu berbuka tiba.

Di tengah perjalanan puasa, anak biasanya mulai mengeluh lapar atau ingin berbuka lebih awal. Dalam situasi seperti ini, sebagian orang tua mencoba menyemangati anak dengan berbagai cara.

Salah satu cara yang cukup sering dilakukan adalah memberikan motivasi berupa hadiah. Cara ini biasanya dipakai supaya anak lebih bersemangat menjalani puasa sampai Maghrib.

Namun, langkah ini membuat banyak orang tua ingin tahu, apakah menjanjikan hadiah pada anak yang berhasil puasa penuh merupakan cara yang tepat?

Nah, Bunda mungkin juga pernah memikirkan hal yang sama ketika mendampingi anak belajar puasa. Lalu bagaimana pandangan dari sisi psikologi dan Islam tentang hal ini?

Bolehkah anak dijanjikan hadiah saat berhasil puasa penuh?

Ustazah sekaligus Psikolog Klinis, Ustazah Tika Faiza, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa cara ini sebenarnya boleh saja dicoba. Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

"Kalau dalam hal ini misalkan biar puasa penuh tujuan bagaimana reward atau hadiah itu diberikan ya, biar anak sesuai dengan targetnya. Apakah ini boleh? Secara umum, kalau mau dicoba boleh-boleh aja," kata Faiza saat diwawancarai oleh HaiBunda, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, Bunda tetap perlu memahami bahwa pemberian hadiah juga bisa menimbulkan dampak tertentu pada perkembangan anak.

"Tapi orang tua perlu menyadari potensi negatif dari pemberian hadiah. Apa itu munculnya motivasi yang sifatnya ekstrinsik," ujarnya.

Jika anak terlalu sering diberikan hadiah, mereka bisa terbiasa melakukan sesuatu karena ada imbalan. Hal ini dikhawatirkan membuat mereka kurang memiliki inisiatif dari dalam dirinya sendiri.

"Kalau anak dibesarkan dengan selalu diberikan hadiah, termasuk saat puasa, anak akan terbiasa membangun motivasinya dari luar. Jadi kalau enggak ada motivasi dari luar, semacam hadiah, disemangati orang lain, dia enggak punya nih inisiatif untuk bergerak sendiri," tuturnya.

Maka itu, Bunda dan Ayah tetap perlu bijak saat memberikan hadiah pada anak. Hadiah boleh saja diberikan, tetapi tetap perlu disertai pemahaman agar anak belajar membangun motivasi dari dalam dirinya.

"Ini yang namanya potensi negatif dari pemberian reward yang kurang bijak. Tapi, kalau mau dicoba boleh, yang penting orang tua itu tetap memitigasi dampak negatif seperti ini," ungkapnya.

Tips memberikan hadiah pada anak agar tetap bijak

Pada kesempatan yang sama, Ustazah Faiza juga menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk meminimalkan dampak negatif dari pemberian hadiah pada anak. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda lakukan:

1. Tetapkan batasan saat memberikan hadiah

Salah satu tips yang bisa dilakukan adalah memberikan batasan yang jelas. Menurut Ustazah Faiza, orang tua bisa menjelaskan pada anak bahwa hadiah tidak diberikan terus-menerus.

"Hal pertama yang bisa dilakukan Bunda dan Ayah adalah dengan memberikan batasan. Misalnya, dengan mengatakan bahwa hadiah ini hanya diberikan satu kali karena hadiah yang lebih besar nantinya akan diberikan oleh Allah SWT," ujarnya.

Bunda juga bisa menjelaskan bahwa hadiah kali ini diberikan karena anak masih dalam tahap belajar. Seiring bertambahnya usia, anak diharapkan bisa berpuasa tanpa harus selalu dijanjikan hadiah.

"Misalnya, 'Kali ini aja ya nak, Bunda sama Ayah memberikan hadiahnya, karena ini kan masih latihan nih, usianya juga masih kecil, besok kita latihan puasa tanpa diberi hadiah pun, tetap bisa puasa,'" katanya.

Selain itu, Bunda dan Ayah juga perlu mengingatkan anak bahwa puasa bukan tentang mendapatkan hadiah. Mereka perlu memahami bahwa ibadah dilakukan karena kecintaan kita kepada Allah.

"Kenapa begitu? Karena puasa itu bukan tentang hadiah dari Bunda dan Ayah. Tapi, puasa itu tentang bagaimana kita mencintai Allah, bagaimana kita dapat hadiah yang lebih besar dari Allah," tutur Ustazah Faiza.

"Karena Allah suka sama anak yang memiliki kebiasaan baik, termasuk berpuasa. Hal ini agar anak-anak kemudian tidak berpikir bahwa orang tua adalah sumber kesenangan mereka dalam beribadah," sambungnya.

2. Kenalkan anak tentang kehidupan setelah dunia

Selain memberi batasan pada hadiah, orang tua juga bisa mulai mengenalkan nilai-nilai tentang kehidupan setelah dunia. Penjelasan ini bisa mulai disampaikan saat anak sudah cukup paham, misalnya ketika mereka duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

"Misalnya mulai usia SD, kita kenalkan tentang kehidupan setelah dunia, seperti tentang akhirat. Kita kenalkan orang yang puasa di akhirat kelak seperti apa keadaannya, sehingga anak ini mampu menahan sesuatu yang kemudian sifatnya hadiah-hadiah yang diberikan oleh 'supporting system' yang ada di dunianya," kata Ustazah Faiza.

Lewat cara ini, anak perlahan mulai mengerti bahwa ada balasan yang jauh lebih besar dari Allah atas setiap ibadah dan kebaikan yang mereka lakukan, Bunda.

"Maka, hal itu akan membuat wawasan anak terbuka dan membuat mereka mampu untuk menahan kesenangannya untuk sementara waktu. Bahkan, anak juga bisa menahan diri untuk tidak mengharapkan motivasi ekstrinsik dari orang lain," pungkasnya.

Itulah penjelasan tentang bolehkah anak dijanjikan hadiah saat berhasil puasa penuh.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis! 

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda