parenting
Mengenal Gangguan Bicara Apraxia pada Anak Seperti Dialami Putra Oki Setiana Dewi
HaiBunda
Minggu, 08 Mar 2026 17:55 WIB
Daftar Isi
Memiliki anak yang sehat dan ceria tentu menjadi harapan bagi setiap orang tua. Namun, ada kalanya Bunda menghadapi tantangan saat Si Kecil mengalami kesulitan bicara sejak dini.
Pasangan artis Oki Setiana Dewi dan Ory Vitrio Abdullah merasakan hal ini saat putra bungsu mereka, Sulaiman Ali Abdullah, mengalami kondisi genetik yang membuatnya sulit berbicara di usianya yang kini menginjak lima tahun.
Kondisi ini muncul karena Prader Willi Syndrome (PWS) yang diidapnya dan membawa beberapa tantangan lain. Salah satu gejala dari sindrom ini adalah apraxia yang berarti gangguan bicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oki diketahui kini menetap di Mesir dan memboyong anak-anaknya, termasuk Sulaiman. Belum lama ini, kakak Youtuber Ria Ricis ini mendaftarkan Sulaiman ke sekolah di Mesir.
"Hari ini Umma memberanikan diri untuk mendaftarkan Sulaiman ke sekolah Mesir yang menggunakan bahasa Inggris dan Arab," ungkap Oki, dikutip dari akun Instagram @okisetianadewi.
"Untuk sindromnya Sulaiman yang salah satu gejalanya adalah apraxia (Kesulitan bicara), tentu Sulaiman punya perjuangannya sendiri dalam memahami bahasa lainnya," jelasnya.
Lantas, sebenarnya apa itu gangguan bicara apraxia pada anak, Bunda? Mari kita simak selengkapnya berikut ini.
Mengenal gangguan bicara apraxia pada anak
Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, apraxia atau gangguan bicara termasuk masalah kesehatan yang jarang terjadi. Kondisi ini muncul ketika anak kesulitan menggerakkan mulutnya dengan tepat saat mencoba berbicara.
Apraxia pada anak merupakan gangguan saraf di otak yang membuat koordinasi otot-otot bicara menjadi sulit. Kondisi ini berpengaruh pada gerakan rahang, lidah, dan bibir saat anak ingin mengucapkan kata.
Anak yang mengalami apraxia sebenarnya tahu apa yang ingin diungkapkan, Bunda. Namun, mereka kesulitan dalam mengatur gerakan mulut sehingga kata-kata yang diucapkan tidak terdengar jelas.
Biasanya pada usia sekitar 2 tahun, anak sudah bisa menyusun kata-kata, misalnya 'mau makan' atau 'minum susu'. Jika Bunda melihat anak kesulitan mengucapkan kata-kata ini, ada kemungkinan ia mengalami gangguan bicara apraxia.
Gejala apraxia pada anak
Perlu diketahui bahwa apraxia biasanya mulai terlihat saat anak masih batita, yakni di bawah usia 3 tahun. Bunda juga bisa memperhatikan beberapa tanda yang mungkin muncul pada Si Kecil seperti dikutip dari Kemenkes RI:
- Bayi tampak jarang mengoceh atau bersuara.
- Anak kesulitan menggerakkan mulut untuk kegiatan seperti mengunyah, mengisap, atau meniup.
- Sulit mengucapkan huruf konsonan di awal atau akhir kata, contohnya saat mengatakan 'makan', 'minum', atau 'tidur'.
- Kesulitan mengucapkan kata-kata yang terdengar mirip, misalnya 'buku', 'kuku', atau 'susu'.
- Lebih sering memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, misalnya mengulurkan tangan atau menangis saat ingin makan atau minum.
- Anak kesulitan mengulang kata yang sama untuk kedua kalinya.
Penyebab apraxia pada anak
Apraxia pada anak biasanya muncul karena gangguan genetik atau masalah metabolisme. Bunda perlu tahu bahwa kelahiran prematur dan penggunaan obat-obatan tertentu oleh Bunda saat hamil turut memicu kondisi ini.
Gangguan ini bisa terjadi pada anak di usia berapapun, tidak selalu terlihat sejak lahir. Beberapa anak memang sudah mengalaminya sejak lahir, sementara yang lain baru menunjukkan gejala kemudian.
Selain faktor bawaan, apraxia juga bisa dipicu oleh cedera pada kepala atau stroke. Hal ini yang membuat koordinasi otot bicara anak menjadi terganggu meskipun sebelumnya normal.
Komplikasi apraxia pada anak
Dikutip dari laman Mayo Clinic, banyak anak yang mengalami apraxia bicara pada masa kanak-kanak atau dikenal juga sebagai Childhood Apraxia of Speech (CAS). Anak ini biasanya memiliki kondisi lain yang memengaruhi kemampuan mereka saat berkomunikasi.
Kondisi tambahan ini tidak disebabkan oleh CAS secara langsung. Namun, gejala CAS bisa muncul bersamaan dengan masalah lain seperti:
- Perkembangan bahasa yang terlambat, misalnya anak kesulitan memahami kata-kata, memiliki kosakata terbatas, atau belum bisa menyusun kata dan kalimat dengan benar.
- Perkembangan kemampuan motorik yang lambat, termasuk kesulitan dalam membaca, mengeja, dan menulis.
- Tantangan dalam mengendalikan gerakan motorik atau koordinasi tubuh.
- Kesulitan menggunakan bahasa atau komunikasi saat berinteraksi dengan orang lain.
Cara mengatasi apraxia pada anak
Jika Si Kecil menunjukkan gejala yang sudah disebutkan sebelumnya, ada kemungkinan ia mengalami apraxia. Namun untuk memastikan hal ini, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, ya.
Biasanya dokter akan menilai kemampuan anak dalam mengucapkan kata yang sama secara berulang. Menilik dari Kemenkes RI, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak yang mengalami apraxia.
1. Terapi wicara
Terapi wicara menjadi cara paling efektif untuk membantu anak dengan apraxia. Biasanya terapi ini dilakukan rutin, yakni sekitar dua kali seminggu sampai terlihat perkembangan kemampuan bicara anak.
Jika Bunda melihat tanda-tanda keterlambatan atau masalah bicara pada Si Kecil yang sesuai dengan gejala apraxia, terapi wicara bisa segera dimulai. Terapi ini biasanya difokuskan pada empat kategori, yaitu:
- Kelainan bicara
- Kelainan bahasa
- Kelainan suara
- Kelainan irama atau kelancaran bicara
Terapi wicara berfokus pada latihan suku kata, kata, dan frasa. Untuk kasus apraxia yang cukup berat, anak mungkin memerlukan terapi yang lebih intensif.
Selain itu, terapi wicara biasanya lebih efektif bila dilakukan langsung dengan terapis. Anak jadi punya lebih banyak kesempatan untuk berlatih bicara, Bunda.
Selama sesi terapi, anak biasanya dilatih untuk mengucapkan suku kata, kata, atau frasa. Terapis bisa menggunakan berbagai isyarat saat melakukan terapi wicara.
Misalnya, anak diminta melihat dan mendengar saat terapis mengajarkan kata atau frasa. Terapis juga biasanya menyentuh wajah anak untuk membantu mengucapkan huruf tertentu, seperti huruf 'o'.
2. Terapi musik
Beberapa studi menunjukkan bahwa terapi musik bisa membantu anak mengucapkan lebih banyak suku kata dan variasi bunyi. Cara ini sekaligus juga membantu anak lebih lancar berkomunikasi dalam kegiatan sehari-hari.
Oleh karena itu, Bunda dan Ayah boleh mengajak Si Kecil mendengarkan atau menonton video musik di gadget. Namun, waktunya perlu dibatasi supaya anak tidak terlalu sering menatap layar dan terhindar dari kecanduan.
3. Bermain mengucapkan kata
Selanjutnya, Bunda bisa mengajak Si Kecil bermain dengan mengucapkan satu kata yang sederhana secara berulang, misalnya 'makan', 'malam', 'minum', atau 'mandi'.
Cobalah lakukan permainan ini di depan cermin, supaya Si Kecil bisa melihat bagian mulut mana yang harus digerakkan saat mengucapkan kata.
4. Bahasa isyarat
Terakhir, menggunakan bahasa isyarat juga bisa menjadi salah satu cara membantu anak dengan gangguan bicara apraxia. Dengan cara ini, Si Kecil tetap bisa berlatih menggerakkan mulutnya saat ingin mengucapkan kata.
Itulah informasi seputar gangguan bicara apraxia pada anak seperti yang dialami putra Oki Setiana Dewi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Cerita Oki Setiana Dewi Besarkan Anak yang Alami Sindrom Langka Prader Willi
Parenting
Alami Penyakit Langka Seperti Anak Oki Setiana Dewi, Bocah Ini Tak Pernah Kenyang
Parenting
Mengenal Prader Willi Syndrome
Parenting
9 Gejala Demam Berdarah pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Penyebab dan Dampak Stunting pada Anak, Bunda Perlu Tahu
7 Foto
Parenting
7 Potret Sulaiman Anak Oki Setiana Dewi yang Alami Sindrom Langka, Kini Sudah Sekolah
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Oki Setiana Dewi Terharu Kala Sang Putra Sulaiman yang Idap Kondisi Langka Mampu Ucapkan Sebuah Kalimat
Perhatikan Tanda-Tanda Anak Alami Speech Delay, Jarang Disadari Orang Tua
Global Developmental Delay: Gejala, Penyebab & Cara Mengobati Perkembangan Terlambat Anak