parenting
5 Etika Perlu Diajarkan ke Anak saat Silaturahmi Lebaran, Bunda Perlu Tahu
HaiBunda
Kamis, 19 Mar 2026 07:50 WIB
Daftar Isi
Lebaran tinggal menghitung hari dan suasananya pun sudah mulai terasa. Obrolan soal rencana kumpul keluarga pun semakin sering terdengar, ya, Bunda.
Momen silaturahmi memang selalu dinanti karena jadi waktu yang tepat untuk saling melepas rindu. Anak-anak biasanya ikut diajak berkunjung ke rumah saudara dan kerabat.
Sebelum Hari Idul Fitri tiba, momen ini bisa jadi kesempatan untuk membiasakan Si Kecil bersikap sopan saat bertamu. Dengan begitu, mereka bisa lebih siap membawa diri dan tahu bagaimana menghormati tuan rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belajar soal tata krama tidak harus menunggu anak besar dahulu, ya. Justru dari sekarang, Bunda bisa mulai memberi contoh lewat hal-hal sederhana di rumah.
Nah, ada beberapa hal penting yang bisa mulai dibiasakan sebelum Lebaran tiba. Yuk, simak agar momen kumpul keluarga nanti berjalan dengan lancar.
Etika yang perlu diajarkan ke anak saat silaturahmi Lebaran
Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa etika sederhana yang bisa mulai diajarkan ke anak saat silaturahmi Lebaran. Simak selengkapnya.
1. Mengucap salam saat bertamu
Salah satu etika yang perlu diajarkan kepada anak saat silaturahmi Lebaran adalah mengucapkan salam ketika bertamu. Saat sampai di rumah saudara, biasakan anak memberi salam terlebih dahulu sambil tersenyum dan menyapa dengan ramah.
Kebiasaan ini sebenarnya sudah sering kita dengar sejak lama. Di sekolah pun anak-anak diajarkan hal yang sama, tapi kita tetap perlu ingatkan supaya anak tidak asal masuk tanpa permisi.
Nah, kadang terlalu semangat ingin segera masuk dan bermain, anak bisa sampai lupa menyapa. Di sini, Bunda perlu mengajarkannya dengan lembut agar mereka paham arti menghormati tuan rumah.
Selain mengucapkan salam, ajarkan juga anak untuk menatap lawan bicara saat berbicara. Jangan lupa biasakan mereka berpamitan dengan sopan sebelum pulang, ya.
2. Salaman saat bertemu keluarga
Saat silaturahmi Lebaran, biasanya setelah mengucapkan salam, anak diajak untuk berjabat tangan sebagai tanda saling memaafkan.
Salim atau mencium tangan juga sudah jadi kebiasaan di banyak keluarga. Cara ini dilakukan sebagai bentuk hormat kepada orang yang lebih tua, guru, atau tokoh agama.
Dosen Pendidikan Agama Islam Bidang Anak, Dewasa, Dakwah, dan Sosial di UPNVJ, Ustazah Iffah Latifa, menjelaskan bahwa salim boleh dilakukan sebagai bentuk penghormatan. Namun jika anak belum mau melakukannya, sebaiknya tidak dipaksa ya, Bunda.
"Anak yang tidak mau salam jangan dipaksakan, karena bukan kewajiban agama, hanya saja dalam pergaulan, salim sebagai tanda penghormatan seseorang kepada orang lain saat pertama bertemu dalam sebuah lingkungan," jelasnya kepada HaiBunda, beberapa waktu lalu.
Meski begitu, salim tetap dikenal sebagai bagian dari adab ketika bertemu. Sikap ini juga berkaitan dengan sifat tahiyyah dan tawadhu, yaitu menghormati dan merendahkan hati di hadapan orang lain.
"Memang dalam agama tidak dianjurkan, hanya saja adab kepada orang tua untuk menyapa saat bertemu dengan mencium tangan adalah salah bentuk dari sifat tahiyyah (penghormatan) dan tawadhu (rendah hati)," katanya.
"Yang dianjurkan dalam agama adalah mengucapkan salam sebagai bentuk do'a kepada sesama Muslim bersifat sunnah dan menjawabnya adalah sebuah kewajiban," lanjut Ustazah Iffah.
3. Tidak meminta uang amplop THR
Momen Lebaran memang identik dengan pembagian THR, dan anak-anak biasanya ikut menantikannya. Amplop kecil itu kerap bikin mereka semangat saat silaturahmi.
Di Indonesia, berbagi THR untuk anak sudah jadi tradisi setiap tahunnya. Meski begitu, Bunda perlu mengajarkan anak agar tidak meminta-minta atau menagihnya saat bertemu keluarga.
Praktisi Psikologi Anak, Aninda, S.Psi., M.Psi.T, menyampaikan bahwa THR lebih ke budaya yang dibiasakan dalam keluarga. Jadi, tidak ada kaitan khusus dengan kebutuhan psikologis anak.
"Sebenarnya THR Lebaran ini sifatnya lebih ke budaya ya karena dibiasakan, sehingga tidak ada urgensi khusus terkait psikologi anak terkait THR ini," ungkapnya kepada HaiBunda, beberapa waktu lalu.
"Secara psikologis untuk anak-anak yang tidak dikenalkan THR dalam keluarganya juga tidak apa-apa sekali karena memang pembiasaan di keluarganya seperti itu," sambung Aninda.
Aninda pun menambahkan bahwa pemberian THR sebaiknya dalam jumlah yang wajar dan tidak dijadikan ajang 'meminta-minta'.
"THR dalam tahap yang wajar sebenarnya juga tidak masalah karena diibaratkan sebagai hadiah Hari Raya. Yang jadi masalah jika THR dijadikan iming-iming untuk beribadah selama bulan Ramadhan, dijadikan ajang 'meminta-minta' kepada sanak saudara, atau dijadikan perlombaan yang lebih banyak," tuturnya.
Sejalan dengan ini, seorang perencana keuangan di Jakarta, Prita Ghozie, juga pernah membahas soal etika keuangan atau money manners. Ia mengingatkan pentingnya orang tua untuk mengajarkan tata krama dalam mengelola dan menerima uang sejak kecil.
"Jangan nyuruh anak, 'Om dan Onty kerjaannya cakep tuh. Minta angpao yang banyak gih'," ujarnya, dikutip dari dikutip akun @pritaghozie.
"Kerjaan cakep, alhamdulillah. Tapi budgeting dan pengeluaran orang siapa yang tahu," tambahnya.
4. Makan tidak berlebihan
Ketika berkunjung ke rumah kerabat di Lebaran, biasanya hidangan lezat sudah menunggu. Anak-anak sering diajak untuk mencicipi semua makanan yang tersedia.
Tapi terkadang, anak belum mengerti ya, sehingga saat disuruh makan sepuasnya, mereka langsung mengambil banyak. Padahal, ajakan dari tuan rumah itu mungkin hanya basa-basi saja dan bukan berarti harus dihabiskan semuanya.
Dalam hal ini, ajari anak untuk mengambil porsi yang wajar dan sesuai kemampuan mereka. Dengan begitu, makanan cukup untuk tamu lain yang datang setelah mereka.
Jangan lupa juga ingatkan anak untuk tidak meninggalkan sisa makanan begitu saja. Selalu katakan, "Habiskan ya, supaya makanannya tidak terbuang sia-sia," supaya mereka mengerti soal sopan santun bertamu.
5. Mengucapkan terima kasih setelah bertamu
Saat berpamitan pulang dari rumah kerabat di Lebaran, mengucapkan terima kasih adalah hal sederhana tapi penting, ya. Anak-anak perlu diajarkan bahwa ini menunjukkan rasa hormat dan apresiasi kepada yang punya rumah.
Selain itu, etika ini juga berlaku ketika anak menerima THR atau angpao. Bunda perlu mengajarkan mereka untuk tidak menghitung uang tersebut di depan orang lain.
Prita Ghozie menyarankan orang tua agar mengajarkan anak menghargai pemberian orang lain dengan cara yang sopan. Dengan begitu, anak pun akan belajar tata krama sekaligus menghormati orang yang memberi.
"Pun dikasih angpao, ajari (mengucapkan) TERIMA KASIH. Jangan menghitung uang di depan warga. Tunggu sampai rumah, baru hitung," ungkapnya.
Nah, itulah lima etika penting yang bisa diajarkan kepada anak saat silaturahmi Lebaran. Semoga bisa membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Anak Tidak Mau Salim pada Orang Lain saat Lebaran, Haruskah Dipaksa?
Parenting
Tips Memilih Babysitter Infal yang Terpercaya Selama Libur Lebaran
Parenting
Makna di Balik Baju Baru Saat Lebaran yang Harus Ditanamkan ke Anak-anak
Parenting
Bacaan Takbir Idul Fitri 2022 Lengkap untuk Diajarkan ke Anak Saat Lebaran
Parenting
Seberapa Wajib Orang Tua Membelikan Baju Lebaran untuk Anak?
7 Foto
Parenting
7 Potret Keseruan Festival Pokemon Jakarta, Atraksi Seru Buat Isi Libur Sekolah
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Contoh Cerita Libur Lebaran Idul Fitri yang Berkesan dan Menarik untuk Tugas Sekolah
Anak Tidak Mau Salim pada Orang Lain saat Lebaran, Haruskah Dipaksa?
Tak Kasih Ponsel Selama Libur Lebaran, Sharena Rasakan Anak-anak Jadi Lebih Akur & Perhatian