Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Bayi Jarang Menangis Hanya Merengek, Normalkah? Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 23 Mar 2026 15:00 WIB

Bayi Jarang Menangis Hanya Merengek, Normalkah? Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya
Ilustrasi Bayi Jarang Menangis Hanya Merengek, Normalkah? Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya/Foto: Getty Images/whitebalance.space
Daftar Isi
Jakarta -

Ketika bayi lebih sering merengek daripada menangis, sering kali hal ini juga membuat orang tua panik. Sebenarnya normalkah jika bayi jarang menangis dan hanya merengek?

Sebenarnya penting untuk disadari bahwa rengekan ini juga sebenarnya memiliki tujuan sebagai salah satu bentuk komunikasi lho, Bunda.

Oleh sebab itu, mengenali penyebab rengekan pun dipercaya dapat membantu mengurangi kekhawatiran orang tua. Dari situ nantinya bisa diketahui cara tepat mengatasi rengekan bayi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Penyebab bayi merengek

Merengek atau whining dapat dianggap sebagai tahap peralihan antara menangis dan mengeluh secara verbal. Perubahan ini sering terjadi ketika bayi beralih dari masa bayi awal menuju masa balita.

Seperti disebutkan sebelumnya, merengek merupakan cara bayi berkomunikasi. Hal ini juga menjadi cara mereka mengekspresikan rasa kesal terhadap situasi yang membuat mereka tidak nyaman.

Merengek juga merupakan tahap penting ketika anak belajar mengungkapkan kebutuhan secara lebih spesifik. Berikut beberapa alasan paling umum yang menjadi penyebab bayi merengek:

1. Lapar

Sebagian besar bayi usia 4 bulan membutuhkan ASI atau susu formula setiap 3 hingga 5 jam. Namun selama masa percepatan pertumbuhan (growth spurt), mereka mungkin jadi ingin menyusu lebih sering atau lebih banyak. 

Dalam kondisi demikian, bayi mungkin akan merengek dan menunjukkan tanda lapar. Begitu juga ketika bayi yang sudah mulai makan makanan padat, saat ingin tambahan porsi atau masih lapar ia juga mungkin akan merengek. 

2. Kelelahan

Bayi sebenarnya lebih berpotensi mencapai tumbuh kembang optimal melalui rutinitas tidur yang teratur. Ketika hal ini terganggu, bayi pun jadi mudah rewel.

Jika jadwal aktivitas harian berubah atau Si Kecil tidak mendapatkan tidur yang cukup di malam hari, cobalah beri waktu istirahat yang lebih banyak. 

3. Tidak nyaman karena popok kotor

Jangan lupa bahwa popok bayi perlu diganti secara rutin. Jika popoknya kotor dan mereka merasa basah atau tidak nyaman, bayi bisa menjadi kesal dan berujung pada merengek.

4. Bosan

Tak hanya orang dewasa, bayi juga bisa bosan dengan lingkungan yang itu-itu saja. Perubahan suasana pun dapat memberikan dampak positif bagi bayi yang rewel. 

Begitu pula, jika bayi tampak bosan dengan mainan yang biasa dimainkan. Bunda dapat mencoba mengganti atau merotasi mainan setiap beberapa minggu untuk membuatnya tetap semangat bermain. 

5. Gangguan pencernaan

Sistem pencernaan bayi masih berkembang, sehingga gas berlebih dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan perut kembung. Jika rengekan bayi sering muncul setelah menyusu, cobalah bantu bayi untuk bersendawa agar ia merasa lebih nyaman, Bunda. 

Bunda juga bisa memberi waktu Si Kecil untuk tummy time karena tekanan lembut pada perut dapat membantu meredakan nyeri akibat gas berlebih.

6. Sedang sakit

Bayi mungkin belum bisa mengatakan secara verbal jika ada bagian tubuhnya yang sakit. Oleh sebab itu, rasa sakit yang dirasakan pun besar kemungkinan akan membuat mereka merengek. 

Coba lakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk ukur suhu tubuhnya, periksa kulit apakah ada kemerahan atau ruam, serta lihat bagian dalam mulutnya untuk mengetahui apakah gigi yang sedang tumbuh. 

7. Overstimulasi

Banyaknya rangsangan termasuk suara dan sentuhan, misalnya saat sedang berada di tempat ramai, bisa membuat bayi kewalahan. Dikutip dari Healthline, karena bayi masih sangat sensitif, sehingga mudah merasa terganggu oleh suara keras dan aktivitas yang berlebihan.

Jika Si Kecil tampak tidak nyaman, cobalah berikan suasana kamar yang tenang. Redupkan lampu, kurangi kebisingan, dan buat lingkungan sekitarnya senyaman mungkin.

8. Ingin diperhatikan

Ketika bayi mendekati usia 12 bulan, kesadaran diri dan sosial mereka meningkat. Bayi pun jadi sering lebih ingin diperhatikan dan diberi respons cepat oleh orang di sekitarnya. 

Dalam beberapa kasus, anak mungkin sering merengek karena memiliki kondisi gangguan perkembangan bahasa. Untuk mengetahui tentang ini lebih pasti, diperlukan pemeriksaan lebih detail oleh tenaga profesional seperti psikolog atau dokter tumbuh kembang. 

Cara mengatasi bayi yang sering merengek

Asian baby newborn crying from diarrhea colic symptomsIlustrasi bayi merengek/Foto: Getty Images/iStockphoto/comzeal

Ingatlah bahwa rengekan bisa menjadi sinyal bahwa bayi membutuhkan bantuan Bunda untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan ketika bayi rewel dan merengek:

1. Tetap tenang

Wajar jika Bunda jadi panik dan bahkan merasa stres saat bayi terus-menerus merengek, tetapi ingatlah bahwa Si Kecil juga sedang berupaya menyampaikan ketidaknyamanan yang dirasakan. 

Oleh karena itu, penting untuk tidak terpancing emosi sebagai langkah awal mengatasi rengekan bayi. 

2. Menyusui

Pada usia dini, bayi lebih sering merengek karena lapar atau haus, Bunda. Meski mungkin bisa juga ini bukan penyebab utama rengekan, Bunda tetap bisa mencoba menyusui untuk menenangkannya.

Saat bayi dekat dengan tubuh dan merasakan detak jantung Bunda, mereka akan merasa lebih aman dan cepat tenang.

3. Ajarkan komunikasi

Dikutip dari Parenting First Cry, Bunda mungkin perlu mencoba membantu bayi menyampaikan apa yang diinginkan, tanpa harus langsung berbicara. 

Misalnya, tunjukkan bantal saat bayi rewel. Mungkin ia akan meraihnya, sehingga Bunda memahami bahwa Si Kecil merasa lelah atau mengantuk. Secara perlahan, bayi akan mulai menunjuk bantal setiap kali ingin tidur.

4. Mengayun-ayun

Metode ini sebenarnya sudah lama, tetapi juga terbukti cukup efektif dapat menenangkan bayi. Saat diayun, bayi biasanya akan merasa nyaman karena ada gerakan sederhana yang berulang.

Gendong bayi dekat bahu Bunda dan ayun perlahan hingga ia tertidur untuk menghentikan rengekan. Pastikan mengayunnya dengan lembut, karena gerakan terlalu cepat justru dapat membuatnya tidak nyaman.

5. Perdengarkan musik

Ketika bayi mulai menangis, Bunda dapat mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memutar musik yang ceria sambil mencari tahu penyebab ketidaknyamanannya.

6. Dipakaikan bedong (swaddling)

Jika bayi merengek saat tidur karena perubahan suhu, membedongnya dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan. Dengan suhu yang lebih stabil dan rasa aman, bayi dapat tidur dengan nyaman dalam kehangatan.

7. Ajak ke luar rumah

Dalam beberapa kasus, Si Kecil mungkin merengek karena bosan. Setelah terlalu lama berada di dalam rumah, mereka membutuhkan perubahan suasana.

Saat cuaca mendukung, Bunda bisa coba menenangkannya dengan mengajak berjalan-jalan dan menunjukkan hal-hal menarik di sekitar rumah. Pastikan pakaian bayi sesuai dan memiliki lapisan yang cukup agar ia tetap nyaman.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter anak?

Terkadang, alasan bayi merengek bisa menjadi salah satu tanda masalah yang lebih serius.

Jika bayi tidak berhenti merengek atau menangis meskipun Bunda sudah mencoba berbagai cara, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat menilai kondisi bayi secara menyeluruh dan membantu menemukan penyebab sebenarnya.

Itulah penjelasan tentang normal atau tidaknya bayi sering merengek. Bayi biasanya mulai merengek sekitar usia 6 bulan dan dapat terus melakukannya sampai mereka mempelajari cara komunikasi yang lebih efektif, yang waktunya dapat berbeda pada setiap anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda