Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Kisah Inspiratif Sahabat Nabi di Bulan Ramadhan, Ceritakan ke Anak Yuk

Kinan   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Feb 2026 08:20 WIB

Ilustrasi kisah Nabi
Ilustrasi kisah sahabat nabi/Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Daftar Isi
Jakarta -

Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa sahabat yang kisah hidupnya tak kalah menginspirasi umat Islam. Seperti apa saja kisah inspiratif sahabat nabi di bulan Ramadhan ini?

Di masa kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat-sahabat ini sudah menunjukkan keteladanan luar biasa. Terutama dalam hal keimanan, kesabaran, bahkan pengorbanan.

Berbagai peristiwa yang terjadi pada sahabat nabi di bulan Ramadhan ini pun bisa memberikan hikmah bagi kehidupan para umat Muslim.

Deretan Kisah Inspiratif Sahabat Nabi di Bulan Ramadhan 

Lalu seperti apa saja kisah-kisah inspiratif sahabat nabi di bulan Ramadhan ini? Berikut ulasan kisah pilihannya untuk dipelajari bersama Si Kecil, Bunda:

Kisah Qais bin Shirmah Al-Anshari, Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa

Salah satu kisah sahabat nabi yang terjadi di bulan Ramadhan adalah tentang Qais bin Shirmah Al-Anshari. Ia merupakan sosok sahabat nabi yang berasal dari golongan kaum Anshar.

Dikutip dari buku Keistimewaan Puasa Menurut Syariat dan Kedokteran oleh Syeikh Mutawalli Sya'rawi, Qais puasa dan setelah tiba waktu berbuka ia pergi pada istrinya dan bertanya, "Apakah kamu memiliki makanan?"

Istrinya yang tidak berpuasa karena tengah haid, menjawab Qais dengan perasaan sedih, "Tidak, tapi aku akan mencarikan untukmu."

Hari itu Qais bekerja seharian hingga badannya lelah dan matanya mengantuk, lalu dia tertidur. Ketika istrinya datang dan dilihat suaminya tidur, ia tidak tega membangunkan.

Qais pun tidak jadi makan dan meneruskan puasanya. Besok harinya, ia pingsan saat berpuasa karena belum makan dan minum sejak kemarin.

Cerita tentang pingsannya Qais kemudian terdengar sampai ke Rasulullah SAW. Lalu setelah itu, turunlah surat Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, 'alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba 'alaikum wa 'afā 'angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum 'ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la'allahum yattaqụn

Artinya:

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."

Pada ayat tersebut dijelaskan terkait benang putih dan benang hitam. Maksud dari kata benang ialah gelapnya malam dan terangnya siang atau fajar.

Kisah Wafatnya Ali bin Abi Thalib di Bulan Ramadhan

Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu sahabat nabi yang kisahnya sangat menginspirasi, termasuk tentang wafatnya di bulan Ramadhan.

Dikutip dari buku 10 Sahabat Rasul Penghuni Surga oleh Ariany Syurfah, Ali merupakan putra dari Abu Thalib bin Abdul Mutalib dan Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf Al-Quraisyiah Al-Hasyimiah. 

Ali bin Abi Thalib lahir pada hari Jumat, 13 Rajab tahun 599 Masehi dan memiliki nama Haydar. Ali juga merupakan sepupu dari Rasulullah SAW, yang memiliki garis keturunan sama berasal dari kakek mereka, yaitu Abdul Muthalib.

Alih-alih menyebut sepupunya itu sebagai Haydar, Rasulullah SAW memberikan nama panggilan sebagai Ali yang berarti tinggi. 

Salah satu rintangan terberat yang harus dilalui pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib adalah tersebarnya fitnah yang ditujukan bagi dirinya.

Dalam buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga: Membangun Karakter Anak dengan Meneladani Kisah Sahabat Rasulullah Pilihan oleh Luthfi Yansyah, saat terjadinya Perang Jamal di tahun 36 Hijriah, sekelompok orang mulai menyebarkan fitnah. 

Perang tersebut dimenangkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib. Namun setelah itu, terjadilah Perang Shiffin yang melibatkan pasukan Mu'awiyah bin Abi Sufyan. 

Selama perang berlangsung, pasukan Ali hampir mengalahkan pihak musuh. Namun, pasukan Mu'awiyah justru meminta damai. Inilah yang membuat perundingan ditetapkan.

Melalui perundingan tersebut, diputuskan bahwa baik Ali bin Abi Thalib maupun Mu'awiyah harus turun dari jabatannya masing-masing. Nantinya urusan kekhalifahan akan diserahkan berdasarkan musyawarah di kalangan kaum muslimin.

Namun sayangnya, kaum muslimin justru terpecah menjadi kelompok yang berbeda. Ada salah satu kelompok yang ingin membelot dari Ali bin Abi Thalib karena menyetujui perdamaian dengan pihak musuh. Kelompok tersebut dijuluki sebagai kaum Khawarij.

Upaya pembelotan dilakukan dengan melakukan berbagai perusakan. Adanya upaya ini kemudian membuat Ali bin Abi Thalib mau tak mau harus turun tangan. 

Pihak kaum Khawarij mengirimkan tiga orang untuk menghadapi Ali bin Abi Thalib. Salah satu di antara mereka yang bernama Ibnu Muljam mendapatkan tugas untuk mengambil nyawa Ali dan yang lainnya harus menghilangkan nyawa Mu'awiyah dan Amru bin al-Ash.

Ibnu Muljam berangkat ke Kufah untuk menemui targetnya. Saat itu, Ali bin Abi Thalib tengah keluar untuk membangunkan orang-orang agar menunaikan sholat. 

Menggunakan pedang yang ada di tangannya, Ibnu Muljam berhasil menyerang Ali bin Abi Thalib. Meskipun sempat bertahan selama beberapa saat, Ali bin Abi Thalib dinyatakan wafat di tanggal 19 Ramadhan 40 Hijriah.

Kisah Abu Hurairah dan Setan Pencuri Zakat Bulan Ramadhan

Abu Hurairah merupakan sosok ulama yang paling utama dari kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW. Ini karena Abu Hurairah selalu mengikuti kemanapun Rasulullah pergi, sehingga diyakini ilmunya pun sangat banyak.

Dikutip dari buku Resep Hidup Bahagia Menurut Al-Quran, Abu Hurairah mengisahkan sebagaimana dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari bahwa Rasulullah menugaskan kepadanya untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan.

Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu Abu Hurairah menangkapnya. Ia lalu berkata kepadanya, "Sungguh, aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah SAW."

Tapi orang yang mengambil makanan tersebut menjawab, "Sungguh, aku orang yang membutuhkan. Aku memiliki keluarga dan kebutuhan yang mendesak."

Mendengar hal itu, Abu Hurairah pun melepaskannya. Pagi harinya, Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?"

Abu Hurairah menjawab, "Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan dan keluarganya, maka aku kasihan kepadanya dan melepaskannya."

Rasulullah SAW kembali bersabda, "Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi." Abu Hurairah pun yakin bahwa orang itu akan kembali lagi, maka ia mengintainya.

Ternyata perkataan Rasulullah SAW itu benar adanya, orang itu itu kembali lagi. Ia lalu mengambil makanan seperti malam kemarinnya.

Abu Hurairah berhasil menangkapnya kembali. Tetapi lagi-lagi orang tersebut memberi alasan yang sama dan membuat Abu iba, sehingga ia kembali melepaskannya.

Pada pagi harinya, kejadian itu dilaporkan lagi kepada Rasulullah SAW. Sekali lagi, Rasulullah SAW menegaskan, "Pencuri itu sesungguhnya berbohong! Nanti malam, dia pasti akan kembali lagi."

Malamnya, Abu Hurairah kembali berjaga. Beberapa saat kemudian, muncul sesosok bayangan yang datang mendekati gudang zakat. Tidak lama, anak itu ditangkap oleh Abu Hurairah.

"Kali ini, engkau pasti kuadukan kepada Rasulullah SAW. Sudah dua kali engkau berjanji tidak akan datang lagi. Tetapi, ternyata engkau mengingkari perkataanmu dengan kembali lagi untuk mencuri makanan ini."

"Lepaskan aku!" teriak anak itu. Tetapi, Abu Hurairah berniat sedikitpun untuk melepaskannya.

Pencuri itu kemudian lekas merengek, "Lepaskan aku. Kalau Tuan bersedia melepaskanku, aku akan mengajari Tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."

"Kalimat-kalimat apakah itu?" tanya Abu Hurairah dengan rasa penasaran.

"Jika Tuan hendak tidur, bacalah Ayat Kursi. Maka, Tuan akan selalu dipelihara oleh Allah dan tidak akan ada setan yang berani mendekati Tuan sampai pagi." Pada akhirnya, pencuri itu dilepaskan lagi oleh Abu Hurairah.

Keesokan paginya, Abu Hurairah kembali menghadap Rasulullah untuk melaporkan pengalamannya tadi malam. Menanggapi cerita Abu Hurairah tersebut, Rasulullah SAW berkata,"Pencuri itu telah berkata benar sekalipun dia tetap pembohong."

Rasulullah SAW bertanya, "Tahukah engkau, siapa sebenarnya pencuri kecil yang bertemu denganmu setiap malam?".

"Tidak," jawab Abu Hurairah.

Beliau bersabda, "Dia adalah setan."

Kisah Kesederhanaan Ali bin Abi Thalib saat Lebaran

Semasa hidupnya, Ali bin Abi Thalib dikenal hidup dengan sangat sederhana. Bahkan dalam beragam riwayat, dijelaskan bahwa beliau cukup makan dengan lauk cuka, minyak, dan roti kering yang dipatahkan dengan lututnya.

Dikutip dari buku Rezeki Level 9 The Ultimate Fortune karya Andre Raditya, dijelaskan tentang kisah kesederhanaan Ali bin Abi Thalib saat Lebaran. 

Dalam sebuah waktu Idul Fitri, seseorang berkunjung. Didapatinya Ali bin Abi Thalib sedang memakan roti yang keras. 

Lalu sang tamu ini berkata, "Di hari raya kenapa engkau memakan roti yang keras ini?"

Maka Ali menjawab, "Sesungguhnya hari ini adalah lebarannya orang yang diterima puasanya, yang bersyukur atas usahanya dan diampuni dosa-dosanya. Hari ini adalah Id bagi kami, demikian juga esok, dan bahkan setiap hari pun engkau juga bisa lebaran (Id) seperti ini."

Merasa ingin tahu lagi, orang itu kembali bertanya, "Bagaimana bisa aku berlebaran setiap hari?".

Ali bin Abi Thalib pun memberikan jawabannya, "Jika seorang hamba tidak bermaksiat sedikit pun kepada Allah SWT di hari itu, maka sesungguhnya ia sedang berlebaran (Id)." 

Kisah kesederhanaan Ali bin Abi Thalib RA yang makan roti kasar saat Lebaran turut diceritakan dalam Kitab Ahlur-rahmah fil Qur'an was-Sunnah karya Syekh Thaha Abdullah al-Afifi.

Kisah Tsa'labah bin Hathib, Sahabat Nabi yang Zakatnya Ditolak Allah SWT

Di antara sahabat-sahabat nabi, ada seseorang yang justru zakatnya ditolak oleh Allah SWT. Ia adalah Tsa'labah bin Hathib.

Sosok Tsa'labah bin Hathib adalah orang yang taat beribadah. Ia selalu tekun dalam mendirikan sholat dan menghadiri majelis Rasulullah SAW.

Dikutip dari buku Lembaran Kisah Mutiara Hikmah oleh Dian Erwanto, disebutkan bahwa Tsa'labah memiliki kehidupan yang sulit. 

Ia dikenal sebagai orang yang miskin dengan harta yang sangat terbatas, bahkan terkadang pakaiannya pun harus dikenakan bergantian dengan sang istri.

Setiap kali Tsa'labah bertemu Rasulullah SAW, ia selalu meminta untuk didoakan agar menjadi orang yang kaya.

Suatu saat Tsa'labah datang lagi menghadap Rasulullah SAW untuk kedua kalinya dan berkata, "Ya Rasulullah, doakanlah kami agar Allah melimpahkan harta kepadaku."

Rasulullah menjawab "Tidakah engkau mempunyai teladan baik pada diri Rasulullah? Demi Allah seandainya saya ingin mengubah gunung itu menjadi emas dan perak, niscaya itu akan terjadi."

Rasulullah SAW menolak mendoakan Tsa'labah agar ia bisa mensyukuri atas rezeki yang dimilikinya.

Hari berganti, Tsa'labah kembali menemui Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, doakanlah kami agar dikaruniai harta melimpah, demi Dzat yang telah mengutus engkau sebagai seorang Nabi, maka karuniakanlah harta kepadaku pasti aku akan memberikan hak-hak kepada yang berhak."

Kemudian Rasulullah mendoakan Tsa'labah agar diberi harta yang melimpah, lalu beliau memberikan sepasang kambing yang pada akhirnya berkembang sangat pesat. Kambing ini diberkahi Allah SWT sehingga berbeda dengan kambing-kambing lainnya.

Semakin hari semakin banyak kambing milik Tsa'labah. Ia pun mulai sibuk dengan aktivitas barunya sehingga sering melewatkan majelis dan juga melewatkan sholat berjamaah. 

Tsa'labah menjadi hanya datang ke masjid ketika sholat Jumat. Hingga pada akhirnya ia benar-benar tidak datang ke masjid lagi untuk sholat.

Kemudian Allah memerintahkan zakat, maka Rasulullah SAW mengutus dua orang untuk memungut harta zakat. Ketika mereka sampai kepada Tsa'labah untuk meminta zakatnya, ia tidak bersedia memberikan zakat dan malah menghina.

Kemudian Allah menurunkan wahyu yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 75-76:

وَمِنْهُم مَّنْ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ

Artinya: 

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Mendengar itu Tsa'labah segera pergi untuk menghadap Rasulullah SAW dengan membawakan zakatnya, akan tetapi Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah melarangku untuk menerima zakatmu."

Seketika itu Tsa'labah menaburkan tanah ke atas kepalanya sebagai penyesalannya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: "Itu karena perbuatanmu sendiri, sebab aku telah memerintahkanmu akan tetapi engkau tidak bersedia mematuhiku."

Itulah penjelasan tentang berbagai kisah inspiratif sahabat nabi di Bulan Ramadhan. Setiap kisah mengajarkan bahwa keimanan tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kesabaran menghadapi ujian.

Semoga berbagai kisah inspiratif ini dapat menjadi motivasi umat Islam untuk menjalani Ramadhan dengan lebih bermakna.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda