parenting
10 Ciri Seseorang Haus Validasi, Pengalaman Masa Kecil Anak Jadi Kuncinya
HaiBunda
Selasa, 24 Feb 2026 18:50 WIB
Daftar Isi
Tanpa disadari, riwayat masa lalu dan masalah emosional bisa memicu karakter yang selalu mencari perhatian secara berlebihan. Lalu seperti apa ciri seseorang haus validasi?
Sebagai contoh, Bunda mungkin mengenal teman yang selalu menghabiskan banyak waktu di media sosial. Mereka juga terus-menerus membanggakan diri seakan meminta pengakuan dari orang lain.
Pada anak-anak, perilaku ini mungkin ditunjukkan dengan sikap yang sering mengamuk, menjatuhkan diri ke lantai dan menendang-nendangkan kakinya.
Lama-kelamaan perilaku yang demikian apabila terjadi terus-menerus dan berlebihan cenderung bisa membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman.
Apa itu perilaku 'haus validasi'?
Dikutip dari Very Well Mind, haus validasi atau perilaku mencari perhatian (attention-seeking behavior) merupakan keinginan untuk diperhatikan terus-menerus yang didorong oleh perasaan harga diri yang rendah, kecemburuan, kesepian, atau karena kondisi kejiwaan tertentu.
Dalam situasi seperti ini, perilaku ingin diperhatikan yang muncul dapat terlihat ekstrem atau berlebihan. Selain itu, perilaku mencari perhatian yang terjadi secara terus-menerus dapat bersifat manipulatif atau pasif-agresif, sehingga membuat orang lain menjauh karena tidak nyaman.
Pada beberapa kasus, haus validasi yang parah (terutama jika disebabkan oleh masalah kesehatan mental atau gangguan kepribadian) dapat mengganggu interaksi sosial juga.
Ciri-ciri seseorang haus validasi
Perilaku haus validasi atau mencari perhatian dapat muncul dalam berbagai bentuk. Terkadang perilakunya terlihat jelas, misalnya dengan membuat komentar yang bersifat konfrontatif.
Sebaliknya, karakter ini juga bisa muncul secara tersirat. Misalnya ketika seseorang terus-menerus ingin dipuji.Â
Berikut contoh ciri seseorang yang haus validasi:
- Bersikap terlalu dramatis dan emosional tanpa alasan yang jelas
- Membuat pernyataan kontroversial atau menyinggung untuk memancing konflik.
- Sering merendahkan diri sendiri dengan tujuan mendapatkan validasi dari orang lain
- Sering membuat unggahan samar yang memancing pujian atau justru memicu perdebatan di media sosial.
- Terus-menerus membanggakan diri sendiri, harta benda, atau pencapaian pribadi.
- Berpakaian atau bersikap provokatif di situasi yang tidak pantas.
- Berbohong atau melebih-lebihkan cerita agar terdengar lebih menarik.
- Merasa kesal atau cemburu ketika tidak menjadi pusat perhatian dalam percakapan.
- Mengabaikan batasan orang lain untuk sekadar memancing reaksi.
- Berteriak, merusak barang, bahkan melakukan tindakan kekerasan untuk menarik perhatian orang lain.
Penyebab perilaku selalu mencari perhatian
Ada beberapa alasan mengapa seseorang menjadi haus validasi dan selalu mencari perhatian dari orang lain. Berikut ulasannya:
1. Tidak percaya diri
Beberapa orang mungkin terus-menerus ingin mendapatkan validasi karena punya masalah dengan kepercayaan dirinya.Â
"Sebagian orang mungkin merasa bahwa validasi dari orang lain dapat meningkatkan nilai dirinya. Ketika harga diri internal terlihat gagal, saat itulah orang mungkin akan beralih mencari validasi," ungkap psikiater di Amerika Serikat Timothy Jeider, dikutip dari Psych Central.Â
2. Trauma masa kecil
Trauma masa kecil termasuk seperti penelantaran atau kekerasan, dapat berkaitan dengan perilaku mencari perhatian saat dewasa.
Tumbuh dengan perasaan tidak aman, tidak dicintai, dan ketidakpastian dapat menyebabkan perasaan rendah diri yang kronis, depresi, dan kemarahan, serta dapat berkontribusi pada perilaku agresif.
Menurut Jeider, masa kanak-kanak memainkan peran besar dalam menentukan apakah seseorang akan mencari perhatian lebih saat dewasa.
"Berhasil melalui proses perkembangan masa kanak-kanak biasanya memberikan rasa harga diri dan nilai diri yang kuat di masa depan," ungkap Jeider.Â
Ketika seorang anak memiliki rasa aman, mereka membangun rasa berharga dalam dirinya. Pada akhirnya, mereka menjadi percaya diri terhadap validasi internalnya sendiri dan tidak membutuhkan validasi dari luar karena mampu menghargai dan menerima diri sendiri.
Sebagian anak mungkin menghadapi pengalaman sulit yang dapat menyebabkan harga diri rendah atau rasa tidak aman. Nantinya saat dewasa, mereka mungkin jadi kesulitan memvalidasi diri sendiri.Â
Anak yang demikian berpotensi terus-menerus mencari persetujuan dan menunjukkan perilaku selalu ingin menyenangkan orang lain (people-pleasing).
3. Kesepian
Kondisi lain yang dapat memicu perilaku mencari perhatian termasuk kesepian atau kecemburuan. Misalnya, orang yang mengalami kesepian yang semakin meningkat atau kecemasan sosial mungkin mencari validasi melalui media sosial.
4. Gangguan emosional kompleks
Dikutip dari Cleveland Clinic, gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan stres pascatrauma kompleks (CPTSD) dapat menyebabkan berbagai gejala yang menimbulkan tekanan.
Termasuk seperti perubahan suasana hati yang tiba-tiba, pikiran yang mengganggu, kewaspadaan berlebihan, dan agresivitas. Kondisi inilah yang kerap dianggap sebagai perilaku mencari perhatian.
5. Stres
Saat berada dalam situasi yang penuh kekerasan atau keputusasaan, seseorang mungkin melakukan apa pun yang diperlukan untuk bertahan.
Termasuk di antaranya dengan mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitar, agar dirinya merasa aman dan tenang.
Kapan perlu mencari bantuan profesional?Â
Jika seseorang menunjukkan perilaku mencari perhatian yang terus-menerus, apalagi sampai mengganggu hubungan sosial dengan orang lain, sebaiknya segera lakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater.Â
Dari hasil pemeriksaan, akan diketahui tanda-tanda perilaku tersebut, mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, serta menemukan penanganan yang tepat.
Jika Bunda khawatir anak memiliki perilaku yang dianggap sebagai perilaku mencari perhatian, sebaiknya bisa juga menghubungi dokter anak.
Cara mengatasi perilaku haus validasi
Penanganan perilaku mencari perhatian dapat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Misalnya, jika gangguan kepribadian menjadi penyebabnya, psikoterapi dapat menjadi pilihan cara mengatasi yang efektif.
Psikoterapi dapat membantu seseorang memahami kondisi dan gejalanya dengan lebih baik, memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain, serta mempelajari strategi coping atau cara menghadapi masalah secara sehat.
Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children di Inggris, anak-anak yang menunjukkan perilaku mencari perhatian perlu dikaji lebih lanjut. Mereka mungkin sebenarnya sedang kesulitan untuk mengomunikasikan kebutuhan yang sebenarnya.
Itulah penjelasan tentang ciri-ciri seseorang haus validasi. Pastikan untuk tidak menunda konsultasi ke profesional jika memang diperlukan ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Ucapan Orang Tua yang Dapat Mengganggu Psikologis Anak
Parenting
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
Parenting
Buang Jauh Gengsi Bun, Ini Pentingnya Orang Tua Minta Maaf pada Anak
Parenting
3 Dampak Buruk Tak Menjaga Kesehatan Mental Anak
Parenting
Bunda Perlu Tahu, Pentingnya Mengajarkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini
7 Foto
Parenting
7 Potret Mima Shafa, Anak Mona Ratuliu yang Jadi Penggiat Isu Kesehatan Mental
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Ciri Kepribadian yang Muncul karena Si Kecil Bukan Anak Favorit
Ciri Kepribadian Anak yang Suka Merapikan Tempat Tidur
Ciri Kepribadian Anak yang Dijuluki 'Badut Kelas' Menurut Studi