parenting
Sifat Narsis pada Anak Disebut Turun-Temurun, Ini Kata Psikolog
HaiBunda
Rabu, 18 Mar 2026 17:30 WIB
Daftar Isi
Ada banyak hal yang bisa diturunkan dalam keluarga. Selain fisik dan kebiasaan, sifat kepribadian juga bisa diturunkan, termasuk kecenderungan narsis pada anak.
Jika nama seseorang disandingkan dengan kata 'narsis', kebanyakan orang langsung merasa tidak nyaman. Apalagi, kalau membayangkan Si Kecil menunjukkan sikap yang terkesan terlalu 'percaya diri' atau ingin selalu diperhatikan.
Beragam pertanyaan pun muncul, seperti apakah sifat ini benar disebut turun-temurun dari keluarga? Lalu, benarkah semua perilaku yang terdengar 'narsis' ini selalu berarti negatif?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menjawab rasa penasaran Bunda, psikolog membagikan pandangannya agar persoalan ini bisa dipahami dengan lebih bijak. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Apa itu sifat narsis pada anak?
Dikutip dari laman Parade, psikolog klinis asal Amerika Serikat, Patty Johnson, menyebut bahwa narsisisme adalah kumpulan sifat yang membuat seseorang merasa dirinya sangat penting.
Sedangkan sifat narsis bisa muncul sebagai perilaku dalam keseharian, seperti suka dipuji atau bangga pada diri sendiri. Anak dengan kecenderungan ini bisa merasa dirinya lebih hebat dibandingkan dengan orang lain, Bunda.
"Orang dengan sifat narsis biasanya merasa dirinya sangat hebat, seberapa relevan mereka dalam suatu situasi, dan seberapa banyak perhatian yang seharusnya mereka terima," kata Johnson.
Di balik sikap percaya dirinya, sifat narsis pada anak juga bisa menjadi cara mereka menutupi rasa tidak amannya. Maka dari itu, mereka bisa lebih mudah tersinggung atau merasa sangat malu saat menerima kritik.
Benarkah sifat narsis pada anak turun-temurun dari keluarga?
Ada anggapan bahwa sifat narsis pada anak bisa muncul karena faktor genetik dan pola asuh dari orang tua. Psikolog Johnson pun menegaskan bahwa kecenderungan sifat narsis kerap terlihat karena dipengaruhi oleh dua hal tersebut.
Anak dapat meniru cara orang tua bersikap dalam keseharian atau membawa kecenderungan tertentu secara biologis sejak lahir, Bunda.
"Sifat narsis sering kali diturunkan dalam keluarga, baik karena faktor genetik maupun lingkungan keluarga," tutur Johnson.
Jika kita lihat dari sisi genetik, ada penelitian yang mengamati kaitan antara kondisi biologis tubuh seseorang dengan kecenderungan narsis. Salah satunya adalah stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan dalam tubuh yang bisa berdampak pada kondisi fisik dan emosional seseorang.
"Temuan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sifat narsis cenderung memiliki tingkat stres oksidatif yang lebih tinggi dalam aliran darah mereka, yang menunjukkan hubungan antara stres emosional dan dampaknya pada fungsi biologis," ungkapnya.
Secara sederhana, faktor genetik bisa membuat anak lebih rentan terhadap stres emosional, yang kemudian berpengaruh pada cara mereka melihat diri sendiri dan orang lain. Namun, lingkungan tetap punya peran dalam membentuk perilaku anak dalam keseharian, Bunda.
"Pengaruh lingkungan terhadap kepribadian yang diberikan bisa datang dari cara orang tua memberi contoh perilaku dan bagaimana mereka berinteraksi langsung dengan anak," ujarnya.
Selain itu, pola asuh juga sangat menentukan, Bunda. Anak bisa tumbuh dengan rasa percaya diri berlebihan jika terlalu 'dimanjakan' atau justru diabaikan.
"Baik pengabaian terhadap anak maupun sebaliknya, gaya pengasuhan yang terlalu memanjakan, dapat menyebabkan rasa percaya diri anak yang berlebihan," pungkasnya.
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Sebagai orang tua, Bunda mungkin tidak merasa punya sifat narsis, tapi ternyata kita melihat kecenderungan itu muncul pada anak. Situasi ini mungkin membuat Bunda merasa lebih lelah secara emosional.
Psikolog Johnson menyampaikan bahwa berada di dekat orang dengan sifat narsis dapat berdampak pada kondisi mental seseorang. Anak atau anggota keluarga lain bisa merasa tidak dihargai dan mulai meragukan diri sendiri.
"Orang yang menjadi sasaran sifat narsis bisa merasa tersinggung, mulai berpikir negatif tentang diri sendiri, serta merasa bersalah dan malu karena merasa tidak bisa memenuhi standar yang dituntut," kata psikolog Johnson.
Oleh karena itu, Bunda tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri, ya. Cobalah amati situasinya dengan tenang dan diskusikan dengan orang yang bisa mendukung, misalnya pasangan atau ahli psikolog.
Bunda juga bisa mengamati perilaku anak dengan lebih tenang untuk memahaminya. Perlu diingat bahwa anak dengan sifat narsis biasanya sensitif terhadap kritik, sehingga pendekatan yang lembut biasanya akan lebih efektif.
Itulah informasi seputar sifat narsis pada anak yang disebut turun-temurun menurut penjelasan psikolog. Semoga penjelasannya bisa membantu, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
6 Tipe Anak 'Spesial' Menurut Psikolog dan Cara Sukses Mengasuhnya
Parenting
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Parenting
6 Hal yang Bisa Bunda Lakukan untuk Mendorong Si Kecil Berperilaku Jujur
Parenting
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Parenting
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kenali Sifat dan Potensi Anak dari Shio Tahun Kelahirannya
Kebiasaan Anak Jadi People Pleaser Bisa Bikin Hidup Tidak Bahagia saat Dewasa
10 Rahasia Membesarkan Anak Remaja Tanpa Drama agar Tak Menjauh dari Orang Tua