Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Fase Kritis dalam Perkembangan Otak Si Kecil, Bunda Perlu Tahu

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Minggu, 15 Feb 2026 09:30 WIB

Fase kritis dalam perkembangan otak anak
Fase kritis dalam perkembangan otak anak/ Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi

Fase kritis dalam perkembangan otak anak merupakan salah satu bagian terpenting dalam hidup mereka. Pada fase ini otak anak menjadi sangat terbuka terhadap stimulasi lingkungan dan mengalami perkembangan yang begitu cepat.

Tak jarang perkembangan ini akan bertahan seumur hidup, yang membuat anak di masa depan menjadi generasi yang unggul. Sebab, konektivitas saraf-saraf vital dalam otak saling terkoneksi dengan baik berkat penanganan yang tepat dari pengasuhnya.

Oleh karena itu, Bunda perlu tahu dan mengerti bagaimana fase kritis dapat mengubah hidup Si Kecil di kemudian hari. Yuk simak penjelasan dan informasinya berikut ini.

Kapan mulainya fase kritis pada perkembangan otak anak?

Menurut ahli, otak mulai terbentuk dan berkembang sejak terjadi pembuahan, Bunda. Selama kehamilan, otak bayi pun sudah mulai merakit saraf-sarafnya dan bersiap menjadi wadah yang besar, sehingga ketika lahir, mereka dapat menyerap hal-hal di dunia luar.

Usia balita atau 0 hingga 5 tahun, merupakan periode emas bagi seorang anak. Otak mereka diketahui sangat mudah menyerap dan menerima informasi. Bahkan, keterampilan bahasa, motorik, hingga sosial mampu dicernanya dengan cepat.

Perkembangan otak anak yang begitu cepat menempatkan mereka pada fase kritis, yang mana, belajar apapun menjadi lebih mudah dan cepat. Karenanya, tak sedikit orang tua yang mulai mengajarkan anaknya berbagai bahasa dan keterampilan sejak periode golden age ini.

Melansir dari laman Very Well Mind, ahli menjelaskan bahwa fase kritis membuat anak-anak lebih mudah mengembangkan kemampuan visual dalam beberapa tahun pertama kehidupannya. Namun, kemampuan tersebut dapat memudar seiring berjalannya usia.

Apa yang terjadi saat perkembangan otak anak memasuki fase kritis

Selama fase kritis, otak mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Simak apa saja yang terjadi berikut ini, Bunda.

1. Saraf mulai membentuk koneksi

Pada tahap awal, sel-sel saraf (neuron) di otak mulai membentuk hubungan satu sama lain. Istilah dari koneksi yang saling terhubung ini adalah sinapsis. Selama fase kritis, otak akan membangun sinapsis dengan kecepatan yang luar biasa agar bagian-bagian otak dapat saling berkomunikasi.

2. Memperkuat koneksi otak atau plastisitas

Saat bayi berinteraksi dengan dunia luar, otak mereka akan merespon secara bergantian. Misalnya, saat anak mendengarkan lagu, bagian otak yang berkaitan dengan suara dan musik menjadi lebih kuat. Nah, penguatan koneksi tertentu ini dinamakan plastisitas otak.

3. Jalinan ikatan yang semakin kuat dengan orang tua

Ikatan yang dijalin dengan kuat selama berbulan-bulan dapat bermanfaat bagi perkembangan emosional anak. Bila orang tua memenuhi kebutuhan emosional anak dengan tepat, maka anak akan belajar untuk membentuk ikatan yang secure atau aman.

Apabila anak tidak diberikan perhatian dan perawatan yang dibutuhkan, otak mereka tidak akan berkembang secara efektif. Nantinya, sinapsis atau jembatan yang dibangun untuk saling menghubungkan bagian otak, tidak akan terbentuk dengan benar.

Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah pada anak, seperti kesulitan menjalin hubungan dan interaksi sosial, masalah emosional, hingga kesulitan belajar. Sementara, anak yang diberi perhatian, stimulasi, dan perawatan dengan tepat, otaknya akan berkembang lebih pesat.

Bagaimana mengoptimalkan fase kritis dalam perkembangan otak anak 

Memberikan pengalaman terbaik kepada anak diketahui mampu membentuk perkembangan otaknya semakin lebih baik, Bunda. Berikut beberapa pengalaman yang dapat diberikan untuk mengoptimalkan fase kritisnya, menilik dari laman HeadStart.gov.

1. Mulai bangun koneksi dengan anak di rumah

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menciptakan keseharian yang mendukung perkembangan otak anak dari rumah, seperti membangun hubungan yang baik dengan saudara, melakukan komunikasi yang hangat dan terbuka, serta memberikan contoh mengelola emosi yang sehat.

2. Jalin interaksi sosial yang positif

Membangun interaksi atau komunikasi dua arah dengan balita di dalam keluarga sangat efektif meningkatkan perkembangan otaknya. Lakukan sesering mungkin, sepanjang hari, atau saat keluarga serta pengasuh sedang bersantai.

3. Mengikuti keinginan anak

Biasanya anak-anak sangat mudah menunjukkan ketertarikan pada sesuatu. Cobalah untuk membiarkan mereka memilih apa yang diinginkan. Dengan begitu, rasa ingin tahu, pemikiran kritis, serta minat dan bakat mereka akan terasah dengan baik.

4. Buat rutinitas yang positif

Rutinitas akan membantu anak-anak merasa nyaman dan aman, Bunda. Saat mereka tahu apa yang akan terjadi, anak akan lebih percaya diri untuk bereksplorasi, bermain, dan belajar hal baru. Jangan lupa, lakukan hal ini secara konsisten ya, Bunda.

5. Dampingi anak dalam mengelola emosi

Seperti yang kita tahu bahwa anak-anak memiliki emosi yang mudah meluap. Sebagai orang yang lebih dewasa, penting untuk memberikan pemahaman kepada mereka tentang bagaimana mengelola dan menghadapi emosi dengan benar, baik itu sedih, senang, ataupun marah.

Peran orang tua saat perkembangan otak anak memasuki fase kritis

Tentunya setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang tua. Maka dari itu, ahli merekomendasikan beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua dalam mendukung perkembangan otak anak sebagai berikut.

1. Melatih anak belajar membuat keputusan sederhana

Selain mengikuti keinginan anak, sebagai orang tua, Bunda juga bisa melatih mereka membuat keputusan sederhana, seperti memilih warna baju atau sepatu yang akan dipakai. Biarkan anak menentukan pilihannya, karena hal ini dapat membantu mengeksplorasi minat dan melatih kemandirian mereka.

2. Menciptakan ruangan yang nyaman untuk anak eksplorasi

Terkadang, ruangan yang terbatas menjadi penghambat saat anak ingin bereksplorasi. Oleh karena itu, orang tua dapat menciptakan fasilitas sederhana di rumah sebagai penunjang agar anak tetap bisa bereksplorasi secara optimal.

3. Bangun interaksi sosial dengan anak

Luangkan waktu untuk melakukan interaksi dan biarkan anak merespons dan mengembangkan interaksi tersebut, baik melalui bahasa maupun tindakan. Orang tua dapat melatihnya dengan melibatkan anak-anak dalam tugas yang biasa dilakukan secara rutin.

4. Membangun kebiasaan atau rutinitas yang mudah dilakukan

Anak-anak sangat senang dengan kegiatan yang dilakukan berulang kali. Misalnya, orang tua, menemaninya saat tidur siang,membacakan dongeng sebelum tidur, atau mengajak mereka belajar mengenal ilmu pengetahuan.

5. Membangun pola asuh yang responsif

Ahli menyarankan agar orang memberikan kenyamanan saat anak sedang bersedih, seperti memeluk mereka saat menangis dan menenangkannya. Pasalnya, balita belum memiliki jaringan saraf yang matang untuk mengatur emosi mereka sepenuhnya, Bunda.

Dengan membantu anak mengendalikan emosi, mereka pun akan belajar bagaimana menenangkan diri sendiri di kemudian hari. Selain itu, anak juga akan mengerti bahwa ada orang tua yang bisa diandalkan ketika mereka merasa kewalahan, frustrasi, dan sedih.

Demikian informasi mengenai fase kritis dalam perkembangan otak anak yang harus Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda