parenting
10 Rahasia Membesarkan Anak Remaja Tanpa Drama agar Tak Menjauh dari Orang Tua
HaiBunda
Selasa, 17 Feb 2026 16:40 WIB
Daftar Isi
- Tantangan mendidik anak remaja
- Kesalahan dalam mendidik anak remaja
-
10 cara mendidik anak remaja tanpa drama
- 1. Biarkan mereka mandiri dan mengekspresikan diri
- 2. Luangkan waktu khusus bersama anak-anak
- 3. Menjadi pendengar yang baik
- 4. Jangan terlalu menghakimi
- 5. Menonton tayangan yang sama dengan anak
- 6. Bicarakan soal seks dan narkoba lebih terbuka
- 7. Jangan bereaksi berlebihan
- 8. Jadilah orang tua yang kritis
- 9. Dukung remaja perempuan berolahraga
- 10. Asuh kecerdasan emosional pada anak laki-laki
Mendidik anak remaja merupakan salah satu tantangan yang dihadapi para orang tua. Perubahan yang terjadi, masa transisi, hingga gejolak emosi tak jarang membuat Bunda merasa frustrasi dalam menentukan pola asuh yang tepat.
Sejatinya, anak remaja tetaplah masih memiliki sisi kanak-kanak. Mereka masih membutuhkan bimbingan dan dukungan dari para orang tuanya. Meski terkadang perilaku mereka membuat perasaan Bunda campur aduk, hal tersebut merupakan fase yang wajar.
Oleh karena itu, terdapat beberapa cara mendidik anak remaja tanpa drama yang direkomendasikan sejumlah ahli. Yuk, simak penjelasan selengkapnya agar anak yang beranjak dewasa tak menjauh dari orang tua.
Tantangan mendidik anak remaja
Setiap anak tentunya akan tumbuh menjadi remaja. Proses peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja tak jarang membuat lebih emosional. Pasalnya, mereka tampak seperti orang yang berbeda, tidak lagi menempel, jarang berbicara, atau sedikit menjauh dari Bundanya.
Tanpa sadar, mereka juga telah berubah secara fisik, kognitif, emosional, bahkan sosial. Mereka mulai masuk ke dalam fase kemandirian dengan melakukan banyak hal seorang diri. Tak sedikit dari anak remaja yang juga ingin melihat seberapa jauh mereka bisa menguji batasan yang ditetapkan oleh orang tua.
Inilah yang menjadi salah satu alasan anak cenderung lebih defensif dan egois saat orang tua mengomel atau menyuruh-nyuruh. Selain itu, mungkin mereka akan lebih keras kepala, acuh tak acuh, dan ingin menguasai hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.
Beberapa psikolog mengatakan hal tersebut sangat wajar terjadi. Masa pra-remaja dan remaja dipenuhi dengan perasaan yang meluap-luap dan penuh ambisi. Perubahan prioritas serta kemandirian yang tumbuh bisa membuat pola asuh terasa lebih menantang.
Nah, berikut ini beberapa hal yang harus diketahui para orang tua dalam mendidik anak remaja. Mulai dari pola asuh yang harus dihindari hingga cara mendidik anak remaja yang baik dan bebas drama.
Kesalahan dalam mendidik anak remaja
Respons anak dalam menyikapi orang tua mungkin saja berakar dari bagaimana cara Bunda menerapkan pola asuh kepadanya. Berikut beberapa kesalahan dalam mendidik anak yang telah dirangkum para ahli melansir dari laman Positive Parenting Solutions.
1. Orang tua terlalu banyak mengontrol
Ambisi yang menggebu serta keinginan untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri membuat orang tua cenderung lebih mengetatkan aturan. Dalam beberapa situasi, hal tersebut dianggap normal. Namun, bila Bunda terlalu mengontrol maka akan berdampak buruk pada perkembangan mereka.
Perasaan khawatir yang dirasakan orang tua tentunya sangat valid. Alih-alih terlalu mengontrol, Bunda bisa memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan apa yang ingin dilakukan. Dari sana, setidaknya Bunda akan tahu apa yang terbaik untuknya dan mulai berani melepaskan diri secara perlahan.
Hormati pilihan dan kebutuhan mereka serta carilah kesempatan untuk memberinya tanggung jawab yang lebih. Dengan begitu, Bunda akan melatih mereka dalam mengambil keputusan dan meningkatkan rasa percaya diri yang kuat.
2. Terlalu memberi banyak omelan
Tak sedikit orang tua yang memberikan omelan ketika sedang menasihati anak-anak. Menurut mereka, jika tidak disertai omelan, maka apa yang diperintahkan tidak akan didengar atau dijalankan. Padahal, kenyataannya cara tersebut merupakan hal yang salah, Bunda.
Alih-alih mendengarkan, anak justru cenderung merasa jengkel, malas, dan berujung pada sikap merajuk. Hal itu terjadi karena orang tua gagal memahami prioritas antara anak pra-remaja, remaja, dan orang dewasa itu sendiri.
Pastikan perintah atau permintaan masuk akal dan diucapkan dengan suara tenang. Hindari menggunakan nada yang membentak dan pilihan kata yang begitu kasar. Apabila anak belum memiliki rencana untuk melakukan sesuatu, Bunda bisa bantu mereka memikirkan rencana ataupun tindakan yang harus dilakukan.
3. Kehilangan bimbingan di masa remaja
Meskipun anak-anak remaja terlihat ingin melakukan segalanya sendiri, peran Bunda tetaplah harus selalu menyertainya. Biarkan mereka lakukan sendiri terlebih dahulu, ketika terdapat sesuatu yang keliru, maka Bunda bisa mengarahkannya ke arah yang benar.
Petunjuk yang diberikan tentu sangat berguna bagi mereka. Cara mereka berperilaku dan bertindak perlahan akan semakin lebih baik. Meskipun dalam praktiknya tak jarang anak sedikit membangkang, tapi sebaiknya Bunda harus mempertahankan cara tersebut agar tidak kehilangan koneksi dengan mereka.
4. Terlalu membiarkan anak selalu di zona nyaman
Berbagai aktivitas yang dilakukan anak terkadang membuat mereka lelah, terlebih saat di sekolah. Misalnya, ekstrakurikuler, ujian, tes beasiswa, hingga aktivitas lainnya yang memberikan tekanan kepada mereka.
Hal inilah yang terkadang membuat Bunda merasa harus selalu membantunya agar mereka sukses. Tak sedikit orang tua yang menganggap kesuksesan menjadi tolak ukur value anak-anak. Padahal, membiarkan mereka sesekali gagal juga merupakan suatu hal yang berharga.
Terlalu ikut campur dengan memberikan ekspektasi yang tidak masuk akal akan membuat anak semakin tertekan dan merasa kegagalan adalah hal yang buruk. Maka dari itu, membiarkan mereka merasakan kegagalan akan menambah keterampilan untuk mengatasi kesulitan atau problem solving.
5. Menganggap perilaku remaja merupakan hal yang aneh
Perubahan perilaku pada anak seperti lebih menjaga privasi kamarnya atau sudah tidak ingin terlalu ditanya-tanya, merupakan proses mereka beranjak dewasa. Mungkin terdapat hal yang membuatnya merasa kesulitan dan stres, sehingga mereka cenderung menutup diri.
Sebagai orang tua, lebih baik menunggu waktu mereka siap untuk bercerita dibandingkan mengkonfrontasi mereka dan menganggap tingkahnya begitu aneh. Perlahan, anak mulai berani memberitahu apa yang dirasakan pada kehidupan remajanya yang penuh warna.
10 cara mendidik anak remaja tanpa drama
Menerapkan pola asuh yang sesuai dapat membantu orang tua dalam menghadapi perubahan yang terjadi saat anak memasuki fase remaja. Pola asuh diketahui menjadi landasan bagaimana anak bertumbuh dan berkembang, Bunda. Maka dari itu, sejumlah ahli memberikan tips parenting agar masa remaja anak-anak menjadi lebih tenang.
Berikut cara mendidik anak remaja tanpa drama mengutip dari laman Child Mind Institute.
1. Biarkan mereka mandiri dan mengekspresikan diri
Bunda harus menerima bahwa di masa peralihan ini anak-anak akan lebih nyaman berkomunikasi dengan teman-temannya. Apabila anak mulai merasa menjauh, ingatlah bahwa itu bukan suatu bentuk penolakan atau upaya anak untuk menjaga jarak dengan orang tua.
Bunda bisa mempercayakan mereka kepada teman-temannya, dengan begitu anak akan lebih lepas dan tumbuh mandiri. Saat mereka butuh waktu untuk menyendiri atau mengekspresikan diri, terimalah jeda tersebut dan hindari memaksa anak untuk membuka suara.
“Inilah saat di mana anak-anak benar-benar mulai memiliki rahasia dari kita dan orang tua yang tidak toleran terhadap transisi tersebut, atau yang ingin tahu segalanya, justru bisa menjauhkan anak-anak mereka karena merasa orang tua mereka terlalu ingin tahu,” jelas psikolog dari Harvard, Dr. Catherine Steiner-Adair.
2. Luangkan waktu khusus bersama anak-anak
Seorang psikolog klinis bernama Laura Kirmayer menyarankan agar orang tua menetapkan waktu khusus atau quality time dengan anak-anak. Setidaknya, dua kali seminggu orang tua dapat meluangkan waktu untuk memberikan perhatian penuh, tidak sambil bekerja atau membalas pesan.
3. Menjadi pendengar yang baik
Alih-alih menanyakan anak dengan segudang pertanyaan agar terlihat perhatian, Bunda bisa menjadi pendengar yang baik dalam mendengar segala keluh kesahnya. Dengan begitu, anak akan menjadi lebih nyaman dan leluasa berbagi cerita tentang kehidupan remajanya.
4. Jangan terlalu menghakimi
Dalam menjadi pendengar, Bunda tidak harus selalu langsung mengomentari. Biarkan anak menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkannya. Sesekali Bunda bisa menanggapinya dengan respons yang antusias dan seolah masuk ke dalam cerita yang mereka sampaikan.
5. Menonton tayangan yang sama dengan anak
Menonton merupakan aktivitas yang akan membuka ruang komunikasi antara orang tua dan anak. Selama menonton, Bunda bisa berdiskusi terkait karakter, alur, ataupun bagian yang menarik dari tayangan tersebut dengan anak. Cara ini juga akan melatih mereka berpikir lebih kritis dan membantu menanamkan pesan-pesan secara tersirat.
6. Bicarakan soal seks dan narkoba lebih terbuka
Salah satu hal yang harus diwaspadai semua orang tua adalah narkoba. Peneliti mengungkapkan, pada usia 9 hingga 10 tahun merupakan masa yang paling membuat anak penasaran terhadap banyak hal, termasuk narkoba. Bunda bisa berikan edukasi terkait narkoba sesuai dengan perkembangannya.
Selain itu, pengetahuan tentang seks sudah bukanlah hal yang tabu. Penting untuk berkomunikasi secara terbuka agar meningkatkan awareness terkait hal tersebut pada anak. Sama seperti edukasi tentang narkoba, sampaikan edukasi mengenai seks ini sesuai dengan perkembangannya.
7. Jangan bereaksi berlebihan
Sebisa mungkin orang tua hindari menunjukkan reaksi yang berlebihan. Pastinya selain anak merasa dipermalukan, kondisi mental mereka juga akan terguncang, seperti perasaan bersalah, menyesal, hingga menganggap apa yang dikerjakannya sama sekali tidak benar. Khawatirnya, anak akan menjadi tidak percaya diri dan selalu merasa tidak puas.
8. Jadilah orang tua yang kritis
Ketika Bunda melihat atau mengetahui anak terlibat dalam sebuah tindakan yang kurang baik, tidak ada salahnya untuk Bunda memberikan peringatan. Bunda tidak perlu merasa khawatir anak jengkel bila ditegur, selama hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak benar, Bunda berhak untuk memperingatinya.
9. Dukung remaja perempuan berolahraga
Rasa percaya diri anak remaja perempuan seringkali naik turun saat beranjak dewasa. Namun, sebagian ahli percaya bahwa anak perempuan yang memiliki circle, tim, atau perkumpulan memiliki tingkat percaya diri yang lebih tinggi. Bahkan, secara akademis mereka cenderung lebih unggul, salah satunya, mereka yang bergabung dalam tim olahraga.
10. Asuh kecerdasan emosional pada anak laki-laki
Salah satu yang terpenting dalam mendidik anak remaja tanpa drama adalah dengan membentuk kecerdasan emosional pada dirinya, terutama pada laki-laki. Melalui kecerdasan emosional, anak akan menyikapi lebih baik hubungan keluarga, pertemanan, percintaan, hingga yang berbahaya bagi mereka.
Demikian informasi mengenai cara mendidik anak saat memasuki fase remaja. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Begini Caranya Agar Anak Mau Bergaul Saat Kumpul Keluarga
Parenting
Batasan Orang Tua Perlu Bantu Tugas Anak Sekolah & Dampaknya Jika Terus Dibantu
Parenting
Tips Parenting Andre Taulany saat Anak Melakukan Kesalahan, Bermakna & Bisa Ditiru Bun
Parenting
Gaya Parenting Aishwarya Rai Dihujani Kritik Brutal, Dihujat Perlakukan Putrinya Bak Boneka
Parenting
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
7 Foto
Parenting
7 Potret Natarina Anak Taufik Hidayat yang Kini Beranjak Dewasa
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
16 Jenis Pola Asuh Anak dan Dampaknya pada Karakter, Orang Tua Perlu Tahu
5 Tanda Anak Laki-laki Kurang Kasih Sayang Ayah Menurut Psikolog
Psikolog Rekomendasikan Pola Asuh Ini untuk Membesarkan Gen Alpha yang Serba Kritis