parenting
11 Tanda Anak Tumbuh Egois saat Dewasa Menurut Studi Psikologi
HaiBunda
Kamis, 05 Feb 2026 16:50 WIB
Daftar Isi
-
Tanda-tanda anak tumbuh egois saat dewasa menurut studi psikologi
- 1. Anak tidak pernah mengucapkan 'terima kasih'
- 2. Anak hanya menghubungi orang tua ketika membutuhkan sesuatu
- 3. Membuat orang lain merasa bersalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan
- 4. Anak melampaui batas
- 5. Anak menggunakan trauma masa kecil sebagai senjata
- 6. Suka menyalahkan orang tua atas segala hal
- 7. Anak enggan untuk memberi kabar
- 8. Anak bersaing dengan saudara kandung mereka
- 9. Anak jarang menawarkan bantuan
- 10. Anak merasa merawat orang tua itu beban
- 11. Anak suka mengaku sebagai korban
Sebagai orang tua, kita suka merasa heran melihat anak-anak yang tampak terlalu fokus pada dirinya sendiri. Mereka bisa saja mengabaikan orang tuanya saat menghadapi berbagai hal baru dalam hidupnya.
Menurut seorang psikolog di Amerika Serikat, Jeffrey Bernstein, sifat egois anak dewasa biasanya bukan untuk menyakiti orang tua. Hal ini lebih sering muncul karena mereka sedang menghadapi stres dan tekanan dalam kesehariannya, Bunda.
Perlu diketahui bahwa kita hanya tetap perlu membuat batasan yang jelas dan tetap menjaga komunikasi dengan anak. Dengan begitu, hubungan antara orang tua dan anak pun bisa saling mengerti.
Dikutip dari laman Your Tango, para ahli psikologi menyarankan Bunda untuk mengenali tanda anak yang tumbuh egois saat dewasa nanti. Mulailah dari hal-hal kecil, misalnya melihat apa yang membuat Bunda kesal atau merasa jauh dari anak.
Dari situ, komunikasi bisa dibangun lebih baik dan hubungan pun jadi lebih harmonis.
Tanda-tanda anak tumbuh egois saat dewasa menurut studi psikologi
Berikut beberapa tanda anak tumbuh egois saat dewasa, seperti dilansir dari laman Your Tango:
1. Anak tidak pernah mengucapkan 'terima kasih'
Ternyata kebiasaan anak yang jarang mengucap terima kasih bisa menjadi 'bibit' sifat egois saat ia dewasa nanti. Sebagai orang tua, kita perlu mengajarkan rasa syukur ini agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang selalu merasa kurang dan tidak menghargai orang lain.
Menurut sebuah studi dari jurnal Einstein, anak yang terbiasa mengakui dan menunjukkan rasa syukurnya cenderung lebih merasa puas dan bahagia dalam kehidupannya.
2. Anak hanya menghubungi orang tua ketika membutuhkan sesuatu
Tanda lain kalau anak tumbuh menjadi pribadi yang egois adalah ketika ia hanya datang mencari Bunda saat sedang butuh bantuan saja. Kebiasaan ini biasanya muncul karena adanya rasa canggung yang terjadi saat peran Bunda dan Ayah sebagai 'pelindung pertama' mulai berubah.
3. Membuat orang lain merasa bersalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan
Anak yang tumbuh egois terkadang menggunakan rasa bersalah orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Hal ini bisa berdampak buruk karena hubungan pun menjadi manipulatif secara emosional.
Menurut studi dari jurnal The Guilt and Children, anak kerap mengatakan hal seperti, "Kamu berhutang budi padaku" atau mengungkit masa lalu untuk membuat orang tuanya merasa bersalah.
4. Anak melampaui batas
Sebagai orang tua, menetapkan batasan itu penting ya supaya hubungan dengan anak tetap sehat. Namun ketika anak bersikap egois, mereka kerap melampaui batas dan sulit untuk diajak komunikasi.
Anak seperti ini sering bikin orang tuanya merasa bersalah agar keinginannya bisa terpenuhi. Akibatnya, menegakkan batasan pun jadi lebih sulit dan hubungan terasa kurang seimbang.
5. Anak menggunakan trauma masa kecil sebagai senjata
Anak yang egois tak jarang masih memakai kesalahan orang tuanya di masa lalu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Meski masalah sudah selesai dan permintaan maaf sudah diucapkan, anak tetap bisa memanfaatkan trauma masa kecil sebagai senjata.
Sikap seperti ini biasanya terjadi karena mereka kesulitan melihat orang tuanya sebagai manusia biasa, bukan sosok yang selalu sempurna. Akibatnya, permintaan atau tuntutan dari mereka pun bisa terasa berat bagi orang tua.
6. Suka menyalahkan orang tua atas segala hal
Mereka yang tumbuh dengan sikap egois sering kali cenderung menyalahkan orang tuanya untuk segala hal, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Mereka kadang lupa bahwa komunikasi dan kasih sayang adalah 'kunci' untuk menjaga hubungan tetap sehat.
7. Anak enggan untuk memberi kabar
Anak yang punya sikap egois tak jarang enggan memberikan kabar kepada orang tua mereka. Mereka cenderung lebih fokus pada kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain.
8. Anak bersaing dengan saudara kandung mereka
Anak yang egois sering terlihat dari cara ia bersaing dengan saudara kandungnya. Kondisi ini membuat Bunda merasa tertekan karena seolah dipaksa memihak, yang akhirnya memicu rasa pilih kasih di mata anak-anak.
Dampak dari rasa pilih kasih ini ternyata tidak main-main karena bisa mengganggu kesehatan mental anak. Sejalan dengan ini, penelitian dari Journal of Marriage and Family menyebut bahwa persaingan seperti ini sangat membebani perasaan orang tua dan anak.
9. Anak jarang menawarkan bantuan
Sifat egois lainnya juga bisa Bunda lihat ketika anak sangat senang menerima bantuan, tetapi enggan meluangkan waktunya untuk membalas kebaikan tersebut.
Mereka cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya sendiri dan baru mau membantu jika merasa hal itu memberikan keuntungan bagi mereka. Anak biasanya menganggap hubungannya dengan orang tua seperti urusan 'dagang' yang selalu harus ada timbal baliknya.
10. Anak merasa merawat orang tua itu beban
Sikap anak yang menganggap mengurus orang tua sebagai 'beban' adalah ciri kuat dari anak yang tumbuh dengan sifat egois. Kondisi tersebut sering kali memicu perilaku yang hitung-hitungan, sehingga Bunda mungkin merasa kurang dihargai dalam keluarga.
11. Anak suka mengaku sebagai korban
Sifat egois tak jarang terlihat saat anak selalu merasa dirinya benar dan memposisikan Bunda sebagai pihak yang bersalah. Mereka sengaja melakukan cara ini supaya Bunda memendam perasaan sendiri hanya demi menjaga suasana tetap tenang di rumah.
Itulah penjelasan terkait berbagai tanda anak tumbuh egois saat dewasa menurut studi psikologi. Semoga informasi ini bisa membantu Bunda, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Parenting
Saat Si Kecil Memukul Dirinya Sendiri, Apa yang Harus Diwaspadai?
Parenting
6 Hal yang Bisa Bunda Lakukan untuk Mendorong Si Kecil Berperilaku Jujur
Parenting
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Parenting
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
19 Tanda Gerd pada Anak yang Tidak Boleh Dianggap Sepele
7 Kalimat Sering Diucapkan Anak yang Dapat Pengaruhi Harga Dirinya, Perbaiki Segera!
7 Tanda Rasa Malu Anak yang Perlu Jadi Perhatian Orang Tua, Waspadai Kecemasan