parenting
Mengenal Pola Asuh Sarang Burung untuk Membesarkan Anak usai Bercerai
HaiBunda
Kamis, 05 Feb 2026 18:30 WIB
Daftar Isi
Baru-baru ini konsultan parenting di Inggris menemukan satu pola asuh yang direkomendasikan dalam membesarkan anak usai bercerai. Pola asuh ini bernama bird nesting atau sarang burung.
Bagi anak, perceraian orang tua memberikan dampak yang begitu besar dalam hidupnya. Mereka rentan untuk merasa kehilangan, tidak stabil secara emosional, hingga sulit untuk menyesuaikan diri di lingkungan atau situasi yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Anak masih membutuhkan kehadiran orang tua, walaupun situasinya sudah berbeda. Sebagaimana seekor burung yang bergantian menjaga anaknya, peran orang tua tetap dibutuhkan demi tumbuh kembang anak di masa depan.
Mengenal pola asuh sarang burung
Melansir dari laman K J Smith, istilah pola asuh sarang burung sebenarnya terinspirasi dari bagaimana pola seekor burung di alam liar merawat anak-anaknya. Induk burung inilah yang secara bergantian datang ke sarang untuk merawat anaknya, sementara sang anak tetap berada di dalam sarang.
Berkaca dari pola perilaku tersebut, gaya parenting bird nesting lebih fokus kepada bagaimana kedua orang tua anak yang sudah bercerai, secara bergantian hadir untuk merawat, sementara sang anak tetap tinggal di rumah keluarga.
Tentunya, penerapan pola asuh ini memerlukan kesepakatan dari semua pihak, mulai dari ibu, ayah, hingga anak. Meski belum banyak diterapkan, pola asuh ini dinilai memiliki potensi tren yang positif dibandingkan pola asuh konvensional.
Mengapa pola asuh sarang burung lebih baik daripada pola asuh lain
Pada pola asuh konvensional, anak sering kali diminta memilih salah satu orang tua sebagai ‘rumah’ utama untuk ditinggali. Terkadang, anak juga harus berpindah-pindah di antara rumah ayah atau ibu, yang pada akhirnya dapat mengganggu rutinitas mereka dan memicu stres.
Sebaliknya, praktik bird nesting tidak akan merepotkan anak. Sebab pola asuh ini mengedepankan pendekatan yang stabil dan konsisten bagi anak-anak. Cukup orang tua mereka saja yang bergiliran masuk dan keluar, mereka akan tetap berada di dalam rumah.
Selain alasan di atas, terdapat beberapa alasan lain mengapa praktik gaya parenting ini menjadi rekomendasi konsultan parenting di Inggris. Simak ulasannya di bawah ini:
1. Mengutamakan kesejahteraan anak
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan solusi pasca perceraian yang ramah anak semakin mendapat perhatian di masyarakat. Pola asuh sarang burung dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut sebagai pendekatan yang cukup inovatif dan berfokus pada kesejahteraan anak.
2. Membangun rasa aman dan nyaman
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak merasa lebih aman ketika mereka tetap tinggal di rumah sendiri. Selain itu, kondisi ini juga membantu anak belajar mandiri secara perlahan. Berbeda dengan pola asuh konvensional, anak dapat mengambil segala keputusan sesuai dengan perasaannya sendiri tanpa tekanan dari luar.
Bagaimana cara kerja pola asuh sarang burung
Berikut adalah penjelasan bagaimana cara pola asuh sarang burung dilakukan, dikutip dari seorang konsultan pengelolaan pola asuh di Inggris sekaligus Direktur Pelaksana dari K J Smith Solicitors.
1. Menyediakan akomodasi
Dalam pola asuh ini, orang tua perlu menyiapkan akomodasi atau tempat tinggal alternatif untuk anak-anak mereka. Beberapa pasangan memilih untuk menyewa satu rumah yang berisi kamar dan dapat digunakan secara bergantian. Namun, ada pula yang menyiapkan tempat sementara bersama keluarga atau kerabat.
Kunci agar pola asuh berjalan lancar, kedua orang tua perlu memiliki jadwal dan aturan yang jelas. Selain itu penting untuk memastikan tempat tinggal alternatif yang digunakan nyaman, layak, dan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang tua.
2. Mengasuh anak dengan sepenuh hati
Pola pengasuhan tersebut harus memberi rasa aman, nyaman, serta memiliki ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Selain itu, pola asuh ini diharapkan akan membantu anak-anak menjaga rutinitas serta kestabilan emosi mereka.
Bagaimanapun kondisinya, komunikasi tetap menjadi kunci utama. Orang tua perlu bersikap terbuka dan jujur kepada anak sejak awal agar mereka merasa dilibatkan, dipahami, dan tidak dilupakan.
3. Membentuk kesepakatan finansial yang baik
Finansial menjadi kunci keberhasilan dari pola asuh ini. Orang tua harus memiliki kesepakatan yang jelas dan menjangkau mengenai pembagian biaya rumah, baik itu tagihan hingga kebutuhan sehari-hari anak.
Menjalani kehidupan di beberapa tempat tinggal tentu membutuhkan biaya tambahan. Sebelum menerapkan pola asuh ini, orang tua perlu menghitung seluruh pengeluaran, menyusun anggaran, dan mempertimbangkan gaya hidup agar penerapannya bisa dijalani secara berkelanjutan.
4. Komunikasi dan kerja sama
Pola asuh sarang burung sangat membutuhkan komunikasi dan kerja sama kedua orang tua demi kepentingan terbaik anak. Jika dijalani dengan baik, pola asuh ini dapat memberikan dampak yang positif bagi seluruh anggota keluarga.
Maka dari itu, orang tua perlu menyepakati berbagai hal penting, seperti aturan rumah, jadwal kunjungan, serta tanggung jawab finansial. Komunikasi dan hubungan yang baik juga sangat diperlukan agar kedua orang tua tetap hadir membersamai anak ketika mereka membutuhkannya.
Selain itu, menetapkan batasan yang jelas juga tak kalah penting. Hal ini mencakup pada peraturan untuk saling menghormati ruang dan privasi masing-masing, baik di rumah alternatif maupun dalam kehidupan terpisah.
Akan lebih aman jika seluruh peraturan, kesepakatan, dan perjanjian didiskusikan bersama pengacara keluarga, serta dituangkan secara tertulis agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
Yang terpenting, anak tetap dapat menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya. Tinggal di dua rumah berbeda dengan pola asuh bersama jauh lebih baik, dibandingkan dengan kehilangan peran salah satu orang tua akibat konflik kesalahpahaman yang tidak terselesaikan.
Manfaat dari pola asuh sarang burung
Menilik dari laman Medical Xpress, pola asuh sarang burung memiliki manfaat sebagai berikut:
- Kehidupan anak tetap berjalan normal tanpa perubahan yang begitu besar, sehingga anak akan stabil secara fisik dan emosional.
- Anak tidak merasa tertekan, sebab anak tidak harus memilih salah satu orang tua.
- Anak tetap memiliki rasa aman dan nyaman karena tinggal di satu rumah bersama saudaranya.
- Orang tua akan merasakan pembagian peran yang lebih setara sehingga stres menjadi berkurang.
- Orang tua tidak perlu sering mengatur peralatan atau logistik anak, seperti berpindah rumah atau membawa barang.
- Kebahagiaan anak dapat membantu orang tua lebih fokus menjalankan kehidupan pribadi yang baru.
- Hubungan orang tua dan anak menjadi lebih kuat karena didasari komitmen bersama.
- Saudara kandung dapat tumbuh bersama sebagai satu keluarga, meski orang tua berpisah.
- Anak belajar lebih mandiri melalui tanggung jawab sehari-hari dan mengatur waktu dan kebutuhan sendiri.
Nah, demikian penjelasan mengenai pola asuh sarang burung sebagai salah satu cara membesarkan dengan mengedepankan pendekatan yang stabil dan konsisten kepada anak usai bercerai. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Hati-hati Helicopter Parenting Bisa Bikin Anak Tertekan, Ini 5 Dampak Buruknya
Parenting
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
Parenting
7 Tipe Pola Asuh Anak, Jangan Sampai Salah Pilih dan Bikin Anak Tertekan Bun
Parenting
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
Parenting
4 Strategi Penting Mengasuh Anak Bungsu agar Tidak Manja
8 Foto
Parenting
Kocak! Ini Perbedaan antara Bunda dan Ayah Saat Mengasuh Anak
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Hal Terkait Pola Asuh Anak Setelah Orang Tua Bercerai
Eks Suami Kritik Pola Asuh Ria Ricis, Ini Cara Sepakati Aturan Parenting agar Tak Cekcok
Jawaban Sienna Usai Tahu Marshanda Tak Perjuangkan Hak Asuh saat Berpisah dengan Ben Kasyafani