parenting
3 Tanda Balita Berisiko Jadi Psikopat Ketika Dewasa Menurut Pakar
HaiBunda
Selasa, 03 Feb 2026 13:00 WIB
Daftar Isi
Melihat anak yang bersikap dingin dan jarang mengekspresikan perasaannya, tak jarang bikin orang tua merasa khawatir. Apakah ada yang salah ataukah ini hal yang biasa pada balita?
Seorang profesor asal University College London, Essi Viding, mengungkap bahwa ada tanda yang bisa menunjukkan anak berisiko menjadi psikopat. Mereka bahkan bisa menunjukkan ciri ini sejak usia tiga atau empat tahun. Demikian dikutip dari The Irish Sun.
Bunda perlu tahu, bahwa tidak semua perilaku nakal alias 'bandel' itu berarti anak bermasalah, ya. Nah, yang jadi perhatian adalah perilaku mereka yang termasuk dalam kategori callous unemotional (CU) atau tidak berperasaan.
Menurut Profesor Essi Viding dan timnya, anak dengan ciri CU cenderung menunjukkan kurang empati dan kesadaran emosional dibandingkan dengan teman seusianya.
Dalam penelitiannya, para profesor di University Collage London mendapati tanda balita yang berisiko menjadi psikopat saat dewasa nanti. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Pentingnya mengenali tanda psikopat pada balita
Dikutip dari laman The Irish Sun, sejak usia tiga tahun, Bunda sudah bisa mulai memperhatikan bagaimana anak merespons kesedihannya atau emosi orang lain.
Anak yang terlihat kurang terpengaruh atau kesulitan dalam mengatur emosinya sendiri bisa menjadi perhatian khusus. Profesor Viding menjelaskan bahwa Bunda sebenarnya bisa mengamati sikap ini sejak dini.
"Tentu saja, mengidentifikasi anak-anak ini sejak dini tidak berarti orang tua dapat secara pasti memprediksi bahwa seseorang akan menjadi psikopat dewasa, tetapi anak-anak inilah yang kemungkinan besar memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebaya mereka," ungkap Viding.
Selain itu, Viding memperkirakan ada sekitar satu persen anak-anak yang mungkin menunjukkan gangguan perilaku tertentu. Anak-anak ini biasanya juga memiliki ciri kurang empati, atau yang dikenal dengan istilah karakteristik CU.
Tanda-tanda balita berisiko jadi psikopat saat dewasa
Profesor Viding menjelaskan ada tiga tanda yang bisa terlihat pada anak-anak yang berisiko menunjukkan perilaku psikopat saat dewasa nanti. Perbedaan ini tampak pada cara mereka berpikir dan bersikap:
1. Kurang merespons emosi orang lain
Si kecil mungkin terlihat kurang 'peka' terhadap perasaan orang-orang di sekitarnya. Bunda bisa memperhatikannya saat ia tidak merasa bersalah setelah membuat temannya sedih.
Misalnya, anak tetap santai dan cuek meskipun sudah mengambil mainan teman, hingga membuatnya menangis.
2. Sulit memahami konsekuensi
Selanjutnya, anak dengan tanda ini biasanya sangat sulit untuk mengerti tentang konsekuensi atau sebab-akibat. Mereka cenderung tidak 'kapok' meski sudah melakukan kesalahan.
Bukan tanpa alasan, hal ini karena secara emosional mereka tidak merasakan dampak dari teguran atau hukuman yang diberikan, Bunda.
3. Tidak senang saat membuat orang lain bahagia
Mereka cenderung tidak menemukan kebahagiaan saat berhasil melakukan hal baik untuk orang lain. Bukannya merasa bangga atau senang bisa membantu, anak justru lebih fokus pada kepentingan diri sendiri dan kurang peduli pada kesenangan orang lain.
Mengarahkan anak agar perilakunya lebih positif
Dalam pengalamannya selama 25 tahun, Profesor Viding sudah melihat berbagai macam perilaku anak dan hampir tidak ada hal yang mengejutkannya lagi. Profesor Viding pun percaya bahwa tidak ada anak yang terlahir langsung menjadi psikopat.
Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua jika anak menunjukkan tanda tersebut? Bunda bisa mulai dengan menyesuaikan cara pengasuhan, seperti mengajarkan anak mengatur emosinya, serta rutin berkonsultasi dengan profesional.
Meski begitu, Profesor Viding juga menyampaikan bahwa melakukan semua upaya ini memang tidaklah mudah. Ia menyebut bahwa mendapatkan dukungan untuk anak-anak dengan kondisi ini sering kali menjadi tantangan tersendiri, tapi tetap bisa dicoba demi kebaikan Si Kecil.
Itulah penjelasan mengenai tanda balita yang berisiko menjadi psikopat saat dewasa menurut Profesor University College London. Namun, Bunda dan Ayah hindari melakukan diagnosa mandiri. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau psikolog ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
Parenting
Balita Suka Boneka Pocong Bikin Ngeri, Ada Pengaruhnya pada Psikologis?
Parenting
10 Tanda Balita Butuh Perhatian Bunda, Si Kecil yang Mana?
Parenting
3 Dampak Buruk Tak Menjaga Kesehatan Mental Anak
Parenting
Usia Berapa Anak Sudah Mulai Paham Instruksi dari Bunda?
9 Foto
Parenting
9 Foto Balita Thailand Viral yang Mirip Boneka
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Penyebab Anak Usia 3 Tahun ke Atas Mulai Sering Berbohong
Seberapa Sering Anak Harus Mandi? Ini Panduannya Sesuai Usia dan Kondisi Kulit
Kenali Tanda Overstimulasi pada Bayi dan Cara Mengatasinya