Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Praktik Pola Asuh Jadul yang Menakutkan & Kini Tak Lagi Digunakan

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Sabtu, 17 Jan 2026 14:20 WIB

Pola asuh masa lalu yang sudah ditinggalkan
Pola asuh masa lalu yang sudah ditinggalkan/ Foto: Getty Images/SimonSkafar
Daftar Isi

Beragam kisah tentang pola asuh orang tua di masa lalu kerap terdengar menakutkan ya, Bunda. Tak sedikit yang menceritakan pengalaman mendapaytkan didikan dengan cara yang keras, penuh tekanan, bahkan menimbulkan rasa takut.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dalam catatan sejarah, memang pernah ada masa ketika anak-anak diperlakukan secara kurang manusiawi, mulai dari kekerasan fisik hingga penelantaran. Kondisi tersebut banyak terjadi pada era Victoria sekitar tahun 1950-an, saat pemahaman tentang tumbuh kembang anak dan kesehatan mental masih sangat terbatas.

Berdasarkan sejarah, masyarakat era Victoria memperlakukan anak dengan tidak layak dan selalu menggunakan kekerasan. Mereka menganggap dengan cara seperti itu, anak dapat tumbuh menjadi disiplin, keras, dan tangguh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Padahal, kenyataannya jauh dari apa yang mereka katakan. Alih-alih anak menjadi tumbuh kuat, justru kebanyakan dari mereka mengalami berbagai masalah kesehatan mental, fisik, dan bahkan menyebabkan kematian.

Kabar baiknya, pola asuh tersebut sudah ditinggalkan karena memberikan banyak dampak negatif daripada positifnya. Berikut bagaimana gambaran pola asuh di era tersebut yang begitu kejam, dilansir dari laman AOL.

Pola asuh dianggap menyiksa anak-anak

Di zaman itu, perlengkapan medis masih sangat tradisional dan konvensional. Namun, tak hanya sekadar itu, pemilihan bahan-bahan yang digunakan sebagai obat juga sangat tidak masuk akal.

Orang tua mereka diketahui rutin memberi bayi laudanum dan opium cordials untuk meredakan tangisannya. Keduanya merupakan narkotika yang dijual bebas saat itu. Efeknya dapat menekan nafsu makan, kekurangan gizi, dan kerusakan otak yang parah.

Anak-anak bayi pun dipaksa untuk memakai korset ketat sejak mereka lahir. Pakaian ini akan membuat pergerakan bayi terbatas hingga membuat pernapasan dan oksigen tidak dapat berjalan dengan baik, bahkan membuat tulang rusuk bayi patah dan menusuk paru-paru.

Selain itu, orang tua  mereka juga akan mengirimkan anak-anak berusia empat tahun untuk bekerja di pabrik dan tambang batu bara selama 12-18 jam. Anak-anak akan berada dalam ruangan berdebu dan beracun yang akan menyebabkan stres kronis, kelelahan, hingga cedera traumatis.

Bahkan anak laki-laki mereka dipaksa untuk bekerja membersihkan cerobong asap yang penuh dengan debu beracun. Tak sedikit mereka yang keracunan, terbakar, dan meninggal karena kerusakan paru-paru.

Tak hanya anak laki-laki, para anak perempuan juga dijadikan budak untuk bekerja dalam pabrik korek api dengan asap fosfor. Banyak dari mereka yang mengalami pembusukan rahang hingga kerusakan otak yang fatal.

Tak ada yang selamat, bahkan anak yatim pun juga menerima kekejaman tersebut. Mereka meminta anak yatim menjadi budak dan pelayan tanpa upah di sebuah pabrik. Mereka tidak menerima pendidikan, kasih sayang, dan pengasuhan.

Semua yang dialami oleh anak-anak membuat mereka mengalami stres kronis, kekurangan gizi, dan menghancurkan struktur otak permanen yang mungkin menyebabkan kecacatan. Bahkan kemungkinan terburuknya mereka tidak mampu bertahan dan meninggal dunia.

Memaksa perempuan hamil menggunakan korset ketat

Perempuan yang hamil di zaman itu akan dipaksa menggunakan korset ketat sepanjang kehamilan. Tak sedikit dari mereka yang diminta untuk menyembunyikan kehamilannya dengan cara seperti ini.

Selain itu, dampak negatif yang dirasakannya juga berupa terhambatnya aliran darah, otak, nutrisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak, dan kelahiran prematur. Tak jarang, penggunaan korset tersebut membuat para perempuan hamil kehilangan bayi mereka.

Anak-anak sering tidak diasuh secara langsung oleh orang tua mereka

Banyak dari keluarga di era Victoria menggunakan pengasuh pengganti untuk mengurus seluruh kebutuhan anak. Tetapi, sebagian besar dari mereka bukanlah pengasuh pengganti yang kompeten dan memiliki reputasi dalam mengurus anak.

Anak dibatasi berkomunikasi dengan orang tua

Orang tua yang kaya sering kali berkomunikasi sekali dalam sehari dengan anak-anak mereka. Tak terbayang bagaimana bila sang anak punya seribu pertanyaan, tetapi anak tidak diizinkan berbicara lebih dari sekali.

Mereka tidak pernah mencium, memeluk, dan memberikan afirmasi positif kepada anak-anak mereka. Bahkan dalam sehari hingga berminggu-minggu para orang tua tidak memperdulikan akan kehadiran sang anak.

Mereka lebih sering memukul anak bila terjadi kesalahan

Didikan ini paling sering dilakukan bila anak melakukan kesalahan yang terlihat oleh mereka. Bahkan, kesalahan sekecil apapun akan menjadi besar dan anak mendapatkan hukuman pukulan yang bertubi-tubi. 

Pada dasarnya pola asuh zaman Victoria ini sangat tidak berperikemanusiaan. Banyak masyarakat yang kemudian menentang seiring perkembangan zaman, hingga saat ini hampir tidak ada lagi yang menerapkan pola asuh seperti ini.

Demikian informasi mengenai pola asuh menakutkan di era Victoria yang sudah ditinggalkan di era modern ini. Semoga bisa menambah wawasan bagi para orang tua dalam memilih pola asuh yang lebih baik untuk membersamai anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda