Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

6 Kebiasaan Orang Tua yang Tak Disadari Bisa Merugikan Anak di Masa Depan Menurut Pakar

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Kamis, 15 Jan 2026 20:00 WIB

6 Kebiasaan Orang Tua yang Tak Disadari Bisa Merugikan Anak di Masa Depan
Ilustrasi Kebiasaan Orang Tua yang Tak Disadari Bisa Merugikan Anak di Masa Depan/Foto: Getty Images/Tran Van Quyet
Daftar Isi
Jakarta -

Sejak awal kehadiran Si Kecil, tentu saja ada banyak harapan yang tumbuh di dalam hati. Bunda dan Ayah ingin memberikan pengasuhan terbaik agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan percaya diri.

Berbagai rencana pun mulai disusun, mulai dari nilai hidup hingga pilihan pendidikan. Semua dilakukan demi masa depan anak yang lebih baik, bukan?

Dalam prosesnya, pola asuh sering kali terbentuk dari kebiasaan sehari-hari orang tua. Tanpa kita sadari, kebiasaan itu bisa terbawa terus dan menjadi bagian dari cara mendampingi anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tak jarang, sesuatu yang terlihat baik di awal justru akhirnya menyimpan dampak yang panjang. Di sinilah peran Bunda dan Ayah untuk lebih peka terhadap hal-hal kecil yang kerap terlewat.

Berkaitan dengan hal ini, seorang psikolog anak di Amerika Serikat, Roseann Capanna-Hodge mengungkap bahwa ada berbagai kebiasaan yang bisa merugikan anak di masa depan dan patut orang tua cermati sejak dini. Simak, yuk.

Kebiasaan orang tua yang bisa merugikan anak di masa depan menurut pakar

Menilik dari laman Upworthy, inilah beberapa kebiasaan orang tua yang berpotensi merugikan anak di masa depan.

1. Mengandalkan layar untuk menenangkan anak

Di tengah rutinitas yang padat, layar sering kali jadi solusi cepat supaya anak tetap tenang. Bunda mungkin saja merasa terbantu, terlebih lagi saat merasa lelah atau perlu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Namun, kebiasaan ini bisa membentuk pola yang kurang sehat jika dilakukan terlalu sering. Anak jadi terbiasa mencari hiburan yang 'instan' tanpa belajar mengelola rasa bosannya.

Sebuah laporan dari Common Sense Media menyebutkan bahwa anak usia 0-8 tahun kini rata-rata menghabiskan lebih dari 2,5 jam sehari di depan layar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dari sepuluh tahun yang lalu. Berbagai studi menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa berdampak pada fokus anak, kualitas tidur, kestabilan emosi, hingga kemampuan bersosialisasi.

Bicara soal ini, anak sebenarnya hanya membutuhkan berbagai aktivitas yang dapat membantu tubuh dan pikirannya untuk berkembang, Bunda.

"Anak-anak membutuhkan berbagai aktivitas berbasis permainan yang mendorong pertumbuhan di berbagai bidang seperti keterampilan visual-motorik, olahraga fisik, dan sosialisasi," jelas psikolog Capanna-Hodge.

Sebagai gantinya, Bunda bisa mencoba cara sederhana bersama anak, misalnya membuat 'ritual koneksi' selama lima menit saat makan atau menjelang tidur, seperti bercerita atau bertanya tentang hari mereka.

Lebih dari itu, Bunda dan Ayah juga bisa sediakan perlengkapan kecil yang menenangkan di dekat anak, seperti krayon atau puzzle mini.

2. Melupakan bahwa anak belajar dari apa yang dilihat

Anak menyerap lebih banyak dari apa yang Bunda dan Ayah lakukan dibandingkan dari nasihat yang diucapkan. Cara orang dewasa berbicara, bereaksi, dan memperlakukan orang lain akan terekam kuat dalam ingatan mereka.

Saat anak melihat pertengkaran kasar atau sikap yang dingin dari orang tuanya, tanpa sadar, mereka akan meniru cara tersebut saat menghadapi masalah di kemudian hari.

Sebuah studi Perkembangan Anak di tahun 2023 menunjukkan bahwa kemampuan anak mengelola emosi sangat dipengaruhi oleh contoh yang mereka lihat di rumah. Karena itu, respons Bunda saat menghadapi masalah punya peran dalam membentuk cara anak bersikap.

Lantas, sebagai orang tua, kita harus bersikap seperti apa, ya? Bunda bisa mulai dengan menyebutkan perasaan secara sederhana, misalnya, "Bunda sedang frustrasi, jadi aku perlu menarik napas terlebih dahulu, ya".

Saat situasi mulai memanas, ucapkan dengan tenang, "Mari kita berhenti sejenak dan coba lagi nanti". Hal ini dilakukan supaya anak belajar bahwa emosi itu bisa dikelola dengan cara yang sehat.

3. Membiarkan hal negatif terjadi terus-menerus

Dalam keseharian, tekanan finansial, kurang tidur, dan tuntutan untuk selalu siap bisa membuat kesabaran menipis. Di titik ini, reaksi spontan kerap muncul tanpa sempat dipikirkan terlebih dahulu.

Jika dibiarkan, kebiasaan seperti sering membentak bisa membentuk suasana rumah yang tidak nyaman, Bunda. Anak pun berisiko kehilangan rasa aman dan kepercayaan pada dirinya sendiri.

"Sering meninggikan suara menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan, kecemasan, dan manajemen stres yang buruk," kata psikolog Capanna-Hodge.

Bicara soal ini, Bunda bisa mencoba berbicara dengan suara yang lebih lembut, bahkan berbisik. Beri jeda sekitar 10 detik sebelum merespons anak, lalu imbangi dengan pujian, seperti, "Kamu sudah berusaha sangat keras dalam hal itu".

4. Menggunakan rasa bersalah untuk mengarahkan anak

Ungkapan yang memicu rasa bersalah tak jarang diwariskan dari pola pengasuhan generasi sebelumnya. Tanpa disadari, orang tua hanya mengulang kalimat yang dahulu mereka dengar.

Dikutip dari Upworthy, riset saat ini menunjukkan bahwa pola seperti ini bisa melekat lama pada diri anak. Kalimat seperti, "Bunda akan sangat marah jika kamu tidak...," mungkin terdengarnya sepele, tetapi dampaknya cukup besar.

Bunda bisa menggantinya dengan kalimat yang tegas dan tetap hangat, sambil mengakui perasaan anak. Misalnya, "Kamu lagi kesal dan kita masih perlu membersihkan ini" agar anak bisa belajar memahami emosinya sekaligus bertanggung jawab.

5. Tidak konsisten dalam aturan dan disiplin

Banyak orang tua yang merasa anaknya sulit diatur, padahal masalahnya kerap muncul karena aturan yang berubah-ubah. Anak justru belajar lebih baik saat batasannya terasa jelas, Bunda.

Ketika hari ini boleh, besok dilarang, anak akan bingung harus mengikuti aturan yang mana. Situasi ini bikin mereka merasa tidak aman dan ragu dalam bersikap.

Bunda bisa memulainya dari hal kecil, seperti menempel aturan singkat di kulkas dan membuat kegiatan harian yang mudah diingat oleh Si Kecil. Gunakan konsekuensi yang sama supaya anak merasa adil dan jelas.

6. Membandingkan anak dengan anak lain

Melihat anak seusia Si Kecil sudah bisa melakukan banyak hal, tak jarang membuat orang tua ikut membandingkan. Rasa cemas tentang perkembangan anak kerap muncul tanpa kita sadari.

Namun, kebiasaan ini justru bisa melukai rasa percaya diri anak, Bunda. Ia pun bisa merasa dirinya kurang baik dan mulai meragukan kemampuannya sendiri.

Mengenai hal ini, Bunda bisa mengubah arah dengan lebih sering melihat dan menghargai usaha anak sendiri, tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain, seperti berkata, "Kamu hebat sekali dalam melakukan tugas ini".

Itulah penjelasan tentang kebiasaan orang tua yang tanpa disadari bisa merugikan anak di masa depan menurut pakar. Semoga Bunda dan Ayah bisa semakin bijak dalam mendampingi Si Kecil, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda