parenting
10 Cerita Dongeng yang Mengajarkan Anak Berbuat Baik, Bisa Dibacakan Sebelum Tidur
HaiBunda
Jumat, 16 Jan 2026 15:40 WIB
Waktu menjelang tidur kerap menjadi momen paling syahdu antara orang tua dan Si Kecil. Di saat inilah, terdapat cerita dongeng yang bisa mengajarkan anak untuk berbuat baik.
Membacakan dongeng merupakan salah satu kegiatan positif yang bisa dilakukan bersama anak sebelum tidur. Aktivitas ini membuat mereka merasa lebih tenang dan semakin dekat dengan orang tuanya.
Maka dari itu, tak ada salahnya kalau Bunda dan Ayah meluangkan waktu sejenak setiap malam untuk membacakan satu hingga dua cerita dongeng. Kebiasaan ini nantinya akan jadi rutinitas yang selalu dinantikan oleh Si Kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menjadi bonding time, cerita dongeng juga bisa melatih imajinasi serta cara berpikir anak. Lebih dari itu, mereka pun akan mulai paham mana sikap yang baik dan mana yang sebaiknya dihindari.
Yuk, kita simak bersama tentang cerita dongeng yang mengajarkan anak berbuat baik.
Cerita dongeng yang mengajarkan anak berbuat baik
Dikutip dari berbagai sumber, mari bacakan cerita dongeng yang sarat pesan kebaikan untuk menumbuhkan sikap positif anak.
1. Biru si Peri Hutan
Dongeng ini mengisahkan petualangan Biru si Peri Hutan bersama para sahabat binatangnya, seperti dirangkum dari buku Dongeng Ajaib karya Nina Samidi.
Setiap hari, Biru Si Peri Hutan selalu bangun pagi. Hangat sinar matahari yang masuk ke kamar Biru melalui celah jendela di rumah pohonnya seolah-olah mencubit pipi Biru. Kemudian, Biru kan terbangun dengan cepat dan langsung terbang keluar jendela.
Ya, seperti semua peri hutan lainnya, Biru memiliki sayap dan bisa terbang. Biru terbang untuk membangunkan semua temannya, sesama peri hutan dan juga binatang-binatang hutan. Sembari terbang, Biru memanggil nyaring dari balik jendela kamar mereka.
"Teman-teman... ayo bangun dan bermain!" seru Biru. Teman-teman Biru pun akan langsung terbangun.
Ada peri hutan yang langsung terbang keluar jendela membawa boneka tidurnya. Ada juga yang terbang dalam posisi tidur, kepalanya masih melekat di bantal dan tubuhnya masih berselimut.
Sesaat setelah membangunkan teman-temannya, Biru selalu terbang ke puncak pohon tinggi di hutan itu dan terbang berputar-putar. Menikmati mandi cahaya matahari yang hangat. Teman-teman Biru akan menyusulnya.
Para peri hutan akan terbang ke puncak pohon. Sementara Bekantan, Tupai Putih, dan kucing merah akan memanjat dahan-dahan pohon itu dengan lincah.
Namun, tidak demikian dengan Enggang. Pada masa itu, Enggang tidak memiliki sayap. Jadi, Enggang hanya bisa melompat-lompat kecil di tanah lapang di dekat pohon tersebut.
Meskipun begitu, Enggang melakukannya dengan gembira. Bahkan, ialah yang paling ceria di antara teman-temannya. Suaranya pun sama nyaringnya dengan Biru. Begitulah asyiknya suasana di hutan setiap pagi.
Namun pada suatu hari, suasana pagi sangat berbeda. Matahari tak terlihat, tertutup awan gelap. Hujan turun, namun tidak seperti biasa, kali ini deras sekali. Biru tetap bangun paling pagi, namun kali ini hanya bisa menunggu di balik jendela di dalam rumah.
Ternyata, teman-temannya juga menunggu. Menunggu Biru, menunggu hujan reda, menunggu untuk bisa keluar dan bermain. Sebelum pagi berakhir, hujan mulai berhenti. Awan kelabu berarak pergi tertiup angin, dan matahari malu-malu mulai datang memunculkan sinarnya.
Sinar hangat yang ditunggu-tunggu. Tanpa menunda, langsung saja Biru terbang cepat keluar dari jendela dan memanggil teman temannya. Para peri hutan langsung menyambut Biru dan ikut terbang bersamanya. Para binatang hutan juga begitu. Akan tetapi, hujan lebat itu telah membuat dahan-dahan pohon menjadi sangat licin.
Akibatnya, ketika memanjat pohon, Bekantan terpeleset dan terjatuh. "Aduuh... huhuuu, huhuuu...," Bekantan menangis kesakitan.
Bekantan terjatuh di dekat Enggang yang seperti biasa, berada di bawah pohon. Dengan suaranya yang lantang, Enggang memanggil teman-temannya turun, termasuk Biru. Enggang menemani Bekantan dan memberinya semangat agar tetap kuat.
Ketika sampai di bawah pohon, semua terkejut melihat Bekantan. Bahu, kening dan hidung Bekantan terluka, membengkak dan memerah, terantuk-antuk dahan besar saat terjatuh tadi.
Biru merasa sangat sedih melihat keadaan Bekantan sahabatnya. Air matanya menetes. Perlahan Biru mendekati Bekantan. Biru memeluk Bekantan sepenuh hati. Dan ketika seorang peri hutan memeluk siapa pun dengan sepenuh hati, maka keajaiban akan terjadi.
Keajaiban yang kali ini terjadi terjadi, beberapa luka Bekantan langsung sembuh seketika. Semua teman Biru terkejut, mereka tidak menyangka Biru akan berbuat seperti itu. Karena peri hutan yang memberikan keajaiban, maka sayapnya akan hilang.
Betul saja, satu sayap Biru tiba-tiba lenyap. Tapi mengapa hanya satu ya? Ternyata Biru hanya memberi separuh keajaiban kepada Bekantan. Bagaimana dengan separuhnya lagi?
Ternyata Biru menghampiri Enggang. Sahabatnya yang satu ini tetap ceria setiap hari meski tidak bisa bermain di puncak pohon seperti teman-temannya yang lain. Dia jugalah yang tetap memberi semangat pada Bekantan saat teman-teman yang lain hanya bisa bersedih melihat Bekantan.
Maka Biru pun memeluk Enggang sambil tersenyum. Sayap terakhir Biru pun lenyap.
2. Kisah Laba-laba, Kupu-kupu, dan Kancil
Dongeng ini mengangkat cerita tentang indahnya persahabatan yang dirangkum dari buku Dongeng Si Kancil dan Hewan-hewan Belantara oleh Noktah.
Suatu hari, Kupu-kupu terbang ke sana-kemari di pinggiran hutan. Banyak bunga di sekitarnya bergoyang saat Kupu-kupu lewat. Di balik pepohonan, ia bertemu Laba-laba dan Kancil. Laba-laba sedang membuat jaring, sementara Kancil makan dedaunan.
"Selamat pagi, Kupu-kupu," sapa Laba-laba.
"Selamat pagi, Laba-laba dan Kancil," balas Kupu-kupu dengan gembira. "Sedang apa kalian?"
"Aku sedang membuat jaring, Kupu-kupu," kata Laba-laba. "Kancil sedang menikmati sarapan."
"Wah besar sekali jaringmu. Hasil tangkapanmu pasti banyak malam ini," seru Kupu-kupu, Laba-laba tersenyum.
"Tidak, Kupu-kupu," kata Laba-laba merendah. "Meskipun jaringku besar, terkadang tak satu pun nyamuk dan serangga yang hinggap di jaringku. Berbeda sekali denganmu, kamu bisa mengisap madu sebanyak-banyaknya."
"Betul kata Laba-laba," imbuh Kancil. "Terkadang aku pun jarang mendapatkan daun dan buah-buahan segar."
Kupu-kupu tersenyum malu, "Tidak juga, apabila bunga sedang gugur aku kesulitan mendapatkan makanan. Aku harus terbang cukup jauh untuk mencari bunga yang lebih segar.
Kupu-kupu ingat, sebentar lagi musim panas sehingga banyak bunga yang akan layu.
"Tidak apa-apa, Kupu-kupu. Tak perlu sedih. Setiap hari, kita bekerja agar bisa mendapatkan makanan. Meskipun susah, kita harus menjalaninya," kata Kancil.
"Betul perkataan Kancil," tambah Laba-laba.
"Baiklah, teman. Aku pergi dulu. Aku mau melanjutkan mencari bunga yang segar. Kalian selamat bekerja mencari makanan juga." Kupu-kupu berpamitan, lalu menghilang di antara pepohonan.
Mereka berpisah dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
3. Kue Ajaib Kasuari
Dongeng ini mengisahkan tentang Kasuari dengan kue ajaibnya yang dikutip dari buku Dongeng-dongeng dari Hutan Damai: Kumpulan Fabel Pembentuk Karakter Anak karya Endah Suci Astuti.
Riri Kasuari suka sekali membuat kue. Buku resepnya tebal sekali. Katanya, buku itu dia dapatkan dari ibunya. Sedangkan ibunya mendapatkannya dari neneknya. Demikian seterusnya dan seterusnya.
Setiap penerima buku harus menciptakan resep baru. Lalu resep itu ditambahkan di buku. Itulah sebabnya buku resep itu menjadi sangat tebal.
Pada suatu hari, Riri Kasuari ingin menciptakan resep baru. Dia membuat resep "Kue Tertinggi di Dunia". Dia mengumumkannya kepada warga Hutan Damai dengan spanduk besar.
Hari Minggu tiba. Riri Kasuari membuat banyak sekali kue tar. Semua kue itu ditumpuk-tumpuk. Makin ke atas, makin kecil. Semua hewan yang datang menyaksikan ingin segera mencicipi. Namun Riri Kasuari belum memperbolehkannya.
"Nanti saja, kalau sudah selesai," katanya.Â
Koki Riri Kasuari terus menumpuk kuenya. Semakin lama, kuenya semakin tinggi. Dia sampai membongkar atap balai kota, agar kue bisa melampauinya. Sekarang kue itu lebih tinggi dari atap Balai Kota.
"Ya ampun, Riri. Sudah cukup. Jangan terlalu tinggi. Kapan kami boleh memakannya?!"
"Nanti saja, kalau sudah selesai," ucapnya.
Tak lama kemudian, tinggi kue itu melebihi tinggi menara balai kota. Lalu tiba-tiba angin bertiup kencang. Wuuuzz! Kue-kue itu bertebaran. Dengan ajaib setiap kue mendarat di depan pintu setiap rumah warga Hutan Damai. Maka tak ada satupun warga yang tak kebagian.
"Hore! Ini kue paling ajaib di dunia. Ayo kita makan bersama!"
Semua hewan gembira. Riri Kasuari hanya tersenyum menggaruk-garuk kepalanya. Dia mencoret judul "Kue Tertinggi di Dunia" di buku resepnya, dan mengubahnya menjadi "Kue Paling Ajaib di Dunia".
4. Kupu-kupu Saputangan
Menilik dari buku Dongeng Ajaib karya Nina Samidi, berikut ini tersaji dongeng yang mengisahkan tentang Putri Marina dan koleksi saputangan yang ia miliki.
Namanya Putri Marina. Di sebuah kerajaan bernama Awan Biru, hidup seorang putri raja yang cantik jelita. Putri Marina mempunyai hobi atau kesukaan yang agak unik, dia sangat menyukai saputangan. Ya, Putri Marina mengumpulkan saputangan banyak sekali.
Setiap hari dia meminta penjahit istana untuk membuatkannya saputangan baru. Syaratnya, dia tidak mau saputangan yang sama. Saputangannya harus berbeda setiap hari. Karena semua orang tahu bahwa Putri Marina sangat menyukai saputangan, setiap tamu yang datang ke istana akan membawa oleh-oleh beberapa lembar saputangan cantik untuk Sang Putri. Putri Marina pasti akan kegirangan menerimanya.
Setelah memandang-mandang dan mengelus-elus saputangannya sampai puas, Sang Putri pun akan segera membawanya ke kamar dan memasukkannya ke sebuah lemari ukiran yang sangat besar, yang seluruh isinya adalah saputangan!
Bisa dibilang, Putri Marina punya saputangan beragam model, warna, dan gambar apapun di lemarinya. Mulai dari yang polos nan lembut sampai yang permukaannya penuh gambar bunga berwarna-warni.
Suatu hari, tak cukup hanya mendapat saputangan dari tukang jahit istana dan para tamu kerajaan, Putri Marina merengek meminta ayahnya, Sang Raja, untuk mengumpulkan saputangan-saputangan dari seluruh negeri.
"Ayolah, Ayah, aku ingin sekali mendapatkan saputangan yang dimiliki seluruh perempuan di kerajaan kita. Pasti banyak sekali. Coba Ayah bayangkan, aku memiliki semua saputangan itu, melengkapi koleksiku di lemari!" Begitu sayangnya Sang Raja kepada putrinya, akhirnya Raja mengikuti kemauan Putri Marina.
Dia mengumumkan ke seluruh negeri untuk mengumpulkan semua saputangan yang ada di wilayahnya untuk diberikan kepada putri raja. "Sebagai tanda cinta rakyat Awan Biru kepada Putri Marina, semua penduduk perempuan yang memiliki saputangan harus menyerahkan semua saputangannya kepada pengawal istana yang akan berkeliling ke desa-desa," begitu bunyi pengumumannya.
Meski merasa agak janggal, semua perempuan di Kerajaan Awan Biru mulai mengumpulkan saputangan-saputangan mereka. Beberapa perempuan agak sedih berpisah dengan saputangan kesayangan mereka, sebab di antaranya memiliki kenangan. Namun, mereka tetap merelakannya untuk dibawa pengawal.
Bisa kau bayangkan! banyak sekali saputangan yang terkumpul. Jumlahnya ribuan!
Begitu melihat rombongan pengawal istana membawa saputangan-saputangan itu ke halaman istana, hati Putri Marina berdebar-debar saking senangnya. Baru kali ini dia mendapatkan saputangan begitu banyaknya dalam satu waktu. Sang Putri girang bukan kepalang.
Dia langsung menyambut rombongan pengawal, membuka kereta yang membawa tumpukan ribuan saputangan, melompat ke atasnya, dan menari-nari gembira bermandikan saputangan-saputangan itu. Marina tidak Putri pun mempermasalahkan saputangan-saputangan itu cantik atau tidak, yang penting dia bisa memilikinya.
"Pengawal, minta tukang cuci istana untuk mencuci bersih semua saputangan ini dan beri pewangi! Setelah itu, lipat yang rapi dan masukkan ke lemariku," perintah Putri Marina dengan wajah yang begitu semringah.
Begitulah, saputangan-saputangan yang tadinya milik para perempuan di seluruh kerajaan itu kini masuk ke dalam lemari besar Sang Putri. Tunggu dulu, ceritanya tidak hanya sampai di sini.
Tahukah kamu, di dalam lemari yang penuh sesak dengan saputangan-saputangan cantik itu, terjadi huru-hara. Para saputangan lama milik Sang Putri marah-marah, karena lemari tersebut semakin sesak akibat masuknya saputangan-saputangan dari desa-desa.
"Aduuuh, kalian bikin tambah sesak lemari ini!" seru saputangan merah jambu bergambar bunga lili.
"Iya, nih, kenapa sih kalian mesti dimasukkan ke sini juga?" sungut saputangan bergambar kelinci.
"Maaf, ya, Teman-teman. Kami sebenarnya juga tidak mau berada di sini. Kami lebih senang bersama pemilik-pemilik kami sebelumnya," ujar saputangan bergambar laut biru sedih.
"Jadi, kalian tidak senang berada di lemari megah Putri Marina ini?" tanya saputangan bunga lili.
"Bukan begitu, kalau di sini, kami hanya berada terus di dalam lemari. Kalau dulu , kami selalu dibawa pemilik kami. Meski kami harus mengelap keringat mereka, tapi kami bisa ikut ke mana pun pemilik kami berjalan," jelas saputangan bergambar pohon rambutan.
"Memang apa enaknya panas-panasan atau kehujanan di kantong tuan kalian yang bau?" tanya saputangan bergambar kucing setengah mengejek.
"Kami bisa ikut merasakan percikan air segar di sungai atau mencium wangi roti bakar di ujung jalan saat tuan kami membawa kami berjalan-jalan," ujar saputangan bergambar jerapah, matanya terpejam seakan membayangkan kata-katanya.
"Iya, aku juga kangen dengan pemilikku dahulu. Dia adalah nenek tua yang selalu membelai lembut punggungku setiap kali dia rindu suaminya yang telah meninggal. Aku ini saputangan pemberian suaminya itu. Sang nenek sayang sekali kepadaku," timpal saputangan berukir bunga mawar sambil menitikkan air mata .
Satu per satu, saputangan-saputangan dari berbagai desa menceritakan pengalaman mereka. Ada yang dulu pemiliknya adalah bocah lima tahun yang sering menangis dan mengusapkannya ke pipi si bocah, ada yang dulu pemiliknya adalah tukang bunga yang sering menggunakannya sebagai penutup senyumnya karena dia begitu pemalu, ada yang dulu pemiliknya adalah seorang ibu yang begitu sayang kepada anak-anaknya dan memasukkan si saputangan ke tas-tas sekolah mereka.
Begitu banyak cerita yang mereka ungkapkan, beraneka ragam dan semakin menarik. Lama-lama, para saputangan yang sejak awal dimiliki Sang Putri menjadi iri. Mereka memang bangga menjadi saputangan yang dimiliki Putri Marina, tapi selama ini mereka hanya berada di dalam lemari.
Sesekali Putri Marina menengok mereka, membuka lemari lebar-lebar, memandangi mereka helai per helai, tapi setelah itu pintu lemari ditutup kembali. Tak pernah mereka merasakan percik air sungai, mencium wangi roti bakar, atau sekadar menjadi penutup senyum yang malu-malu.
Ssst... diam-diam, saputangan-saputangan kerajaan itu juga ingin merasakan apa yang dialami teman-teman mereka dari desa.
"Ah, sepertinya menarik sekali kehidupan kalian dulu, ya. Aku jadi iri," ucap saputangan bergambar kelinci.
"Iya, aku sebenarnya juga bosan tinggal di dalam lemari terus. Apa gunanya kita diciptakan jika hanya untuk disimpan?" ujar saputangan bergambar anak gajah.
"Kalau begitu, kita keluar saja dari sini!" seru saputangan bercorak bunga sepatu.
"Sungguh? Apakah tidak apa-apa?" tanya saputangan berenda ragu-ragu.
"Iya , kalau bersama-sama , kita bisa kok membuka pintu lemari besar ini!" seru saputangan bunga sepatu bersemangat.
"Iya, ayo kita terbang keluar bersama-sama!" sahut saputangan bunga mawar tak kalah semangat.
"Ayo-ayo!" banyak saputangan bersahutan mendengar ide ini. Lalu, keajaiban pun terjadi. Saputangan-saputangan itu mulai bergerak dan mengepakkan diri. Mereka bergerak bersama-sama dan mulai mengepakkan dengan keras.
Tiba-tiba, "Braaak!" Pintu lemari terbuka dan terbanglah mereka keluar lemari. Ribuan saputangan terbang keluar dari lemari megah Sang Putri menuju jendela yang terbuka lalu keluar dari istana. mereka terus mengepakkan seperti seekor kupu-kupu yang begitu mahir terbang.
Ajaib sekali, saputangan-saputangan itu membuat orang-orang ternganga melihatnya. Putri Marina yang akhirnya melihat kejadian itu menjerit-jerit kebingungan. "Tidak!!! Saputangan-saputanganku!!!" jeritnya berulang-ulang sambil berlarian mengejar.
Para pengawal ikut mengejar, tapi tak ada yang berhasil menangkap satu pun karena saputangan-saputangan itu terbang terlalu tinggi. Putri Marina menangis sejadi-jadinya menyaksikan saputangan-saputangan koleksinya terbang.
Bayangkan, ribuan saputangan cantik itu terbang memenuhi langit, menyebar ke segala arah mencari tempat asal mereka. Saputangan-saputangan kerajaan yang tadinya bingung hendak ke mana, memutuskan untuk terbang begitu saja mencari pemilik baru yang akan membawa mereka berjalan-jalan setiap hari. Mereka membayangkan, meski lelah dan berkeringat di dalam kantong para pemilik baru, mereka akan mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik selain hanya disimpan di dalam lemari.
Maka, terbanglah mereka bersama-sama menuju ke segala arah. Ada yang sengaja menjatuhkan dirinya di pangkuan seorang wanita yang sedang memangku bayinya, ada yang masuk begitu saja ke kantong baju seorang wanita yang sedang memetik sayuran di kebunnya. ada yang menyisip ke bawah bantal di kamar seorang penari sirkus.
Para pemilik saputangan lama yang beberapa di antaranya masih sedih kehilangan saputangan yang menyimpan kenangan dalam hidup mereka, berseru senang ketika saputangan saputangan mereka kembali.
Begitu juga si nenek yang sangat merindukan saputangan pemberian almarhum suaminya. Suasana hiruk-pikuk terjadi di berbagai desa saat saputangan-saputangan itu kembali kepada pemiliknya.
Sementara itu, Sang Putri sendiri begitu sedih saat melihat hanya beberapa helai saputangan yang tertinggal di lemarinya. Saputangan-saputangan itu adalah saputangan yang masih ingin menemani Sang Putri meski hanya disimpan di dalam lemari.
Sang Raja pun menghampirinya dan berkata, "Mungkin mereka bosan selama ini terus berada di dalam lemari. Mungkinkah kau menyimpan yang tersisa saja dan sesekali mengajak mereka berjalan-jalan bergantian supaya mereka tidak bosan dan lari seperti yang lain?"
Sambil terisak, Putri Marina menjawab, "Iya mungkin Ayah benar. Aku sedih sekali saputangan-saputanganku pergi. Tapi mungkin mereka lebih sedih karena selama ini aku hanya menyimpan mereka."
Sejak itu, Putri Marina tidak lagi memiliki banyak barang. Dia hanya memiliki beberapa, tapi dia selalu menggunakannya. Sang Raja senang melihat anak putrinya tidak lagi tergila-gila mengumpulkan saputangan atau barang apapun sampai lupa diri.
5. Kisah Kakaktua dan Nuri
Cerita tentang persahabatan Kakaktua dan Nuri ini dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur karya Redy Kuswanto.
Dahulu kala, di Manikan, Burung Burung Nuri berteman baik. Suatu hari mereka bercengkerama di atas dahan.
"Apa yang akan kita makan, kawanku?" tanya si Burung Nuri.
"Bagaimana kalau kita menebang sagu?" tanya Burung Kakaktua, "Lihatlah, begitu banyak pohon sagu berjejer di Dusun Sagu. Kita bisa ke sana, bukan?"
Tak berapa lama, mereka pun sampai di Dusun Sagu. "Lalu, bagaimanakah cara menebang sagu ini?" tanya Burung Nuri.
"Mudah saja," jawab Burung Kakaktua. "Kita lubangi pangkal pohon ini. Kita lepas kulitnya dan kita pukul pukul dengan kayu untuk mengambil isinya," katanya.
"Ah, aku tidak setuju cara itu," kata Burung Nuri.
"Begini saja, kita lubangi ujung dan pangkal pohon itu. Kita korek dengan sebatang kayu untuk mengeluarkan isinya," ucapnya.
Burung Kakatua pun tidak peduli dengan usul Burung Nuri.
Ia melakukan sesuai apa yang dikatakannya sendiri. Melihat Burung Kakaktua tidak peduli, Burung Nuri terpaksa mengikuti. Mereka mulai melubangi pangkal pohon sagu.
Burung Nuri melubangi sisi batang sagu yang menghadap ke timur. Burung Kakaktua melubangi sisi batang sisi yang menghadap ke barat. Akhirnya pohon tersebut tumbang. Mereka melepas kulit batang sagu itu. Setelah kulit sagu itu terlepas, mereka mulai memukul batang sagu. Cara ini sangat melelahkan bagi Burung Nuri.
Ia terus mengomel, tetapi Burung Kakaktua tidak peduli. Akhirnya, Burung Nuri marah. Ia memukulkan kayu ke kepala Burung Kakaktua. Sahabatnya berteriak kesakitan.
Burung Nuri terkejut melihat luka di kepala Burung Kakaktua. Ia segera membawa sahabatnya pulang dan merawatnya. Ia sangat menyesal memperlakukan sahabatnya dengan kasar. Luka di kepala itu sembuh, tetapi meninggalkan bekas di kepalanya.
Itulah sebabnya di kepala Burung Kakaktua, tepatnya di bawah jambulnya, tidak ada kulit yang tidak ditumbuhi bulu.
6. Balas Budi Si Burung Bangau
Dilansir dari buku Putri Salju dan 7 Kurcaci oleh Winkanda Satria, simak dongeng seru tentang Balas Budi Si Burung Bangau.
Alkisah, di suatu tempat di negeri Jepang, hiduplah seorang pemuda bernama Yosaku. Ia hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Yosaku bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan. Kayu bakar yang telah dikumpulkannya kemudian dijual ke pasar. Walaupun uang yang didapat dari menjual kayu bakar tidak seberapa, Yosaku selalu bersyukur kepada Tuhan.
Suatu hari, saat Yosaku pulang dari hutan, ia melihat seekor burung bangau yang meronta-ronta karena terjerat perangkap. Tanpa ragu, Yosaku segera melepaskan jerat di kaki burung bangau yang malang itu. Burung bangau tersebut tampak sangat senang, ia mengepakkan sayapnya lalu terbang ke angkasa. Tak lama kemudian, hujan salju turun dengan sangat lebat sehingga Yosaku pun segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Yosaku menyalakan perapian dan memasak makanan sederhana. Tidak berselang lama, ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Saat pintu dibuka, tampak seorang gadis yang sangat cantik berdiri di depan rumah dengan tubuh menggigil kedinginan. Yosaku pun mempersilakan gadis itu masuk dan memintanya menghangatkan diri di dekat perapian.
"Nona, hendak pergi ke mana?" tanya Yosaku.
Gadis cantik itu lalu menjawab dengan suara lemah.
"Aku hendak mengunjungi kerabat, tetapi karena badai salju ini aku tersesat. Aku mohon, izinkan aku menginap di sini semalam saja," kata gadis.
Yosaku kemudian menjelaskan kondisi dirinya yang serba kekurangan.
"Boleh saja, Nona, tetapi aku tidak memiliki kasur dan makanan yang layak. Aku hanyalah orang miskin," ucap Yosaku dengan jujur.
Mendengar itu, gadis cantik tersebut tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa. Aku sudah cukup senang diperbolehkan menginap. Jika besok badai reda, aku akan segera pergi dari sini," ungkapnya.
Keesokan harinya, gadis itu membersihkan seluruh rumah Yosaku dan memasakkan makanan untuknya. Namun, badai salju belum juga mereda. Ia pun kembali memohon agar diizinkan tinggal lebih lama hingga cuaca membaik. Seminggu kemudian, salju akhirnya reda, tetapi gadis itu belum juga pergi. Yosaku justru mulai merasa kesepian membayangkan kepergian gadis tersebut.
Suatu hari, gadis itu berkata kepada Yosaku.
"Biarkan aku tinggal di rumah ini dan jadikan aku istrimu. Mulai sekarang, panggillah aku Otsuru," tanya gadis.
Yosaku sangat bahagia mendengar permintaan itu. Tak lama kemudian, mereka menikah dan hidup bersama dengan sederhana namun penuh kebahagiaan.
Beberapa waktu kemudian, Otsuru meminta Yosaku membelikan benang dan perlengkapan menenun. Ia ingin membantu suaminya mencari nafkah dengan menjual kain hasil tenunannya ke pasar. Yosaku pun menuruti permintaan istrinya. Sebelum mulai menenun, Otsuru berpesan agar Yosaku tidak mengintip ke dalam kamar tempat ia bekerja.
Setelah tiga hari tiga malam menenun, Otsuru keluar dari kamar sambil membawa sehelai kain tenun yang sangat indah.
"Ini adalah tenunan ayanishiki. Bawalah ke pasar, pasti akan terjual dengan harga mahal," kata Otsuru.
Yosaku sangat gembira. Ia segera membawa kain itu ke pasar dan menjualnya kepada seorang saudagar dengan harga yang sangat tinggi. Dengan uang tersebut, Yosaku membeli bahan makanan dan berbagai keperluan rumah tangga.
Sesampainya di rumah, Yosaku mengucapkan rasa terima kasih kepada istrinya.
"Terima kasih, istriku. Berkat kamu, kita mendapatkan banyak uang. Setelah dibelanjakan, uang kita masih tersisa," ujar Yosaku.
Otsuru pun merasa bahagia mendengarnya. Yosaku lalu menyampaikan permintaan saudagar yang menginginkan kain tenunan tambahan.
"Istriku, saudagar di kota memesan beberapa helai kain tenunanmu lagi," katanya.
Otsuru tersenyum dan menyanggupi permintaan tersebut, dengan syarat Yosaku tetap tidak mengintip ke dalam kamar.
Setelah empat hari empat malam menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar membawa tiga helai kain ayanishiki. Tubuhnya tampak kurus dan wajahnya pucat. Ia meminta kepada Yosaku agar tidak memintanya menenun lagi karena kondisinya yang semakin lemah.
Yosaku kembali membawa kain tersebut ke pasar. Di sana, seorang Tuan Putri tertarik pada kain tenun yang dijual Yosaku dan memintanya membawa beberapa helai lagi untuk dibuat kimono. Yosaku pun kebingungan karena teringat kondisi istrinya yang sakit.
"Maafkan hamba, Tuan Putri. Hamba sudah tidak memilikinya lagi. Istri hamba yang membuat kain itu sedang sakit," kata Yosaku.
Tuan Putri menjadi marah mendengar jawaban tersebut. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Yosaku. Karena ketakutan, Yosaku pun memohon.
"Baiklah, Tuan Putri. Tiga hari lagi akan hamba bawakan kain tenun itu," jelasnya.
Sesampainya di rumah, Yosaku menceritakan semua kejadian kepada Otsuru dengan penuh kecemasan.
"Istriku, aku akan ditangkap jika tiga hari lagi aku tidak membawa kain tenun untuk Tuan Putri," ucap Yosaku dengan wajah pucat.
Otsuru tersenyum lembut.
"Baiklah, akan kubuatkan lagi, tetapi hanya sehelai saja," katanya.
Di hari kedua Otsuru menenun, Yosaku yang sangat khawatir akhirnya melanggar janjinya. Ia mengintip ke dalam kamar tempat Otsuru menenun. Betapa terkejutnya Yosaku ketika melihat seekor burung bangau yang mencabuti bulunya sendiri untuk ditenun menjadi kain. Burung bangau itu menyadari dirinya diintip, lalu berubah wujud kembali menjadi seorang wanita cantik.
"Akhirnya kau melihat wujud asliku," ujar Otsuru.
Ia kemudian menjelaskan jati dirinya.
"Sebenarnya aku adalah burung bangau yang dulu kau tolong. Untuk membalas budimu, aku berubah menjadi manusia dan melakukan semua ini. Karena kau telah melihat wujud asliku, inilah akhir perjumpaan kita," jelasnya.
Yosaku pun menyesal dan memohon dengan penuh harap.
"Maafkan aku, Otsuru. Kumohon, jangan pergi," kata Yosaku.
Namun semuanya sudah terlambat. Otsuru kembali berubah menjadi burung bangau dan terbang pergi meninggalkan Yosaku. Yosaku hanya bisa menyadari kesalahannya sambil menyelesaikan kain tenunan terakhir, dengan air mata yang terus mengalir.
7. Kancil dan Buaya
Ilustrasi/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi |
Dongeng berjudul Kancil dan Buaya dirangkum dari buku Kisah Petualangan Seru Kancil dan Teman-Temannya oleh Desi Nurul Anggraini.
Di suatu hutan, terdapat seekor Kancil yang tinggal di hutan tersebut. Seperti hari biasanya Kancil pergi mencari makan di dalam hutan. Dia menyeberangi sungai pada saat berangkat.
Setelah Kancil merasa kenyang, dia pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba turun hujan lebat ketika kancil sudah dekat sungai. Risaulah hati Kancil karena tidak bisa melewati sungai yang banjir dan derasnya air sungai itu. Tidak jauh dari tepi sungai ada seekor buaya. Kancil mencari ide.
"Buaya, apakah kamu bisa membantuku menyeberangi sungai ini?" kata kancil kepada buaya.
Buaya menjawab, "Jikalau nanti aku membantumu menyeberangi sungai ini maka kamu menganggap aku apa?"
"Kita akan menjadi sahabat sehati sejiwa. Aku akan membantumu kalau susah nanti di masa depan," kata Kancil.
Buaya kemudian mempertimbangkan perkataan kancil. Buaya kembali bertanya, "Jikalau nanti aku membantumu menyeberangi sungai ini maka kamu menganggap aku apa?"
"Sahabat sehati sejiwa, Buaya," Kancil memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Yakinlah Buaya dengan perkataan Kancil dan dia menyuruh Kancil untuk naik ke atas punggungnya. Buaya mulai berenang meninggalkan tepi sungai. Buaya kembali bertanya.
"Apa hubungan kita?" tanya buaya.
"Sahabat sehati sejiwa," kata Kancil.
Buaya terus berenang hingga mereka sampai di tengah-tengah sungai, Buaya bertanya lagi.
"Apa hubungan kita?" katanya.
"Sahabat sehati sejiwa," jawaban Kancil tidak berubah.
Buaya sangat senang mendengar jawaban Kancil, karena Kancil konsisten dengan jawabannya bahwa mereka tetap sahabat sehati sejiwa. Mereka sudah mau sampai tepi sungai, hanya dengan sekali loncatan lagi mereka sudah sampai di tepi sungai. Buaya kembali bertanya "Apa Hubungan kita?"
"Sahabat bohongan," kata Kancil sambil bergegas meloncat ke tepi sungai dan berlari pergi.
Buaya sangat marah karena sudah ditipu oleh Kancil dan Buaya dendam kepada Kancil, "Baiklah kancil, aku akan mengingat bahwa kamu pernah membohongiku. Namun ingat ada berbagai macam kesulitan dan kesukaran di depanmu. Jika kita berumur panjang maka kita akan berjumpa lagi,".
8. Putri Buruk Rupa dan Pangeran Tampan
Cerita ini dilansir dari buku 101 Dongeng Seru Sebelum Bobok karya Fitri Haryani Nasution.
Di suatu gubuk kecil di tengah hutan, hiduplah seorang putri yang Wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah besar dan hidungnya lebar. Matanya besar dan rambutnya gimbal.
Ia tinggal seorang diri karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Untuk menghabiskan waktu, ia sering bermain dengan para tikus, kelinci, rubah, dan hewan kecil lainnya.
Sang Putri sebenarnya ingin pergi ke desa. Namun, saat warga desa melihatnya, mereka selalu mengusirnya. Mereka bilang ia adalah putri yang terkena kutukan dan harus menjauh dari desa. Jika tidak, penduduk desa akan terkena kutukan juga.
Suatu hari, seorang pangeran berburu ke hutan. la mendapat perintah dari ayahnya untuk berburu seekor rusa karena akan ada pesta kerajaan. Pangeran pun masuk ke hutan bersama dua pengawalnya.
Sebentar saja, mereka mendapatkan rusa yang mereka inginkan. Seekor rusa bertubuh gemuk dibidik oleh panah sang Pangeran. Panah itu melesat dan mengenai kaki rusa. Rusa itu kesakitan dan segera berlari jauh ke dalam hutan. Pangeran dan dua pengawalnya mengejar.
Rusa itu lari ke tempat si Putri. la langsung mengadu kepada si Putri perihal yang terjadi. Si Putri segera mengobati lukanya. Setelahnya rusa itu berlindung di balik tubuh sang Putri. Tak lama, rombongan sang Pangeran sampai. Mereka sangat terkejut ketika melihat wajah sang Putri.
Kedua pengawal sang Pangeran langsung mengeluarkan pedangnya. Namun, si Pangeran malah menatap sang Putri. Sang Pangeran menemukan sebuah hati yang penuh kasih sayang dan kelembutan pada diri sang Putri. "Siapakah kau? Kenapa tinggal di sini?".
"Orang-orang memanggilku Putri Buruk Rupa. Aku tinggal di sini karena tidak ada yang menerima kehadiranku di desa. Rusa yang kalian lukai ini adalah temanku.
Aku mohon kepada kalian agar melepaskannya," pinta sang Putri.
"Baiklah. Aku akan melepaskannya. Namun, aku punya permintaan sebagai gantinya. Kau harus ikut bersama kami ke istana," ucap sang Pangeran. Sang Putri terkejut dengan permintaan tersebut.
"Tapi ...."
"Jika tidak mau, rusa ini yang akan kami bawa".
Sang Putri pun mau tidak mau setuju. Pangeran segera membawa sang Putri ke istana serta memperkenalkannya kepada ibu dan ayahnya. Raja dan Ratu sangat terkejut melihat penampilan sang Putri.
Namun, mereka adalah raja dan ratu yang sangat rendah hati. Karena dibawa oleh sang Pangeran, mereka mau menerima kehadiran si Putri.
"Kenapa kau tidak merasa jijik padaku?" tanya sang Putri.
"Aku tidak melihat rupamu. Aku melihat kebaikan hatimu," jawab sang Pangeran.
"Terima kasih, Pangeran."
Tanpa sang Putri sadari, wajahnya tiba-tiba berubah. Bintik-bintik merah di wajahnya hilang. la berubah menjadi seorang putri yang sangat cantik. Lalu, seorang peri datang di tengah mereka.
"Kau sudah menjalani cobaan dan berhasil kau lalui dengan baik. Kini, kau akan berubah selamanya menjadi putri yang cantik seperti ini". Setelahnya, peri itu menghilang.
9. Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Cerita Dongeng berjudul Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat ini diambil dari buku 101 Cerita Nusantara terbitan Transmedia Pustaka.
Pada suatu masa, hiduplah dua pendekar yang sama-sama gagah dan sakti, bernama Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Keduanya dikenal kuat, namun selalu bersaing dan merasa dirinya masing-masing paling hebat. Hingga suatu hari, mereka sepakat mengadu kesaktian untuk menentukan siapa yang terbaik.
Pertarungan berlangsung sengit dan seimbang. Tak satu pun mampu mengalahkan lawannya, sehingga mereka menyusun sebuah kesepakatan. Salah satu harus bertelungkup di bawah pohon aren, sementara lawannya memanjat dan menjatuhkan tandan bunga aren. Siapa yang terkena tandan tersebut dinyatakan kalah.
Giliran pertama jatuh kepada Si Mata Empat. Ia bertelungkup di bawah pohon aren, sementara Si Pahit Lidah memanjat dengan gesit dan memotong tandan bunga aren. Namun, berkat empat mata yang dimilikinya, dua di depan dan dua di belakang kepala, Si Mata Empat berhasil menghindar dan selamat.
Selanjutnya, giliran Si Mata Empat yang memanjat pohon aren. Sementara itu, Si Pahit Lidah bertelungkup di bawah pohon. Dengan cepat, Si Mata Empat memotong tandan bunga aren dan menjatuhkannya tepat ke arah lawannya. Tandan bunga aren yang tajam mengenai tubuh Si Pahit Lidah hingga ia tewas seketika.
Si Mata Empat pun menjadi pendekar paling sakti pada masa itu. Namun, rasa penasaran membuatnya ingin membuktikan apakah lidah Si Pahit Lidah benar-benar pahit seperti namanya. Ia membuka mulut lawannya, menyentuhkan jari ke lidahnya, lalu menjilat jari tersebut.
Seketika, racun mematikan dari lidah Si Pahit Lidah merenggut nyawa Si Mata Empat. Akhirnya, tidak ada lagi pendekar yang tersisa, karena keduanya tewas sia-sia akibat kesombongan mereka sendiri.
Pesan moral: Kisah ini mengajarkan bahwa kesombongan dan keinginan untuk merasa paling hebat dapat membawa petaka. Sikap rendah hati dan bijaksana jauh lebih penting daripada mengandalkan kekuatan semata.
10. Putri Anjani
Dongeng berjudul Putri Anjani dirangkum dari buku 33 Cerita Rakyat Menakjubkan karya S. Tary dan Retno W.
Ada seorang putri raja yang cantik bernama Anjani. Tidak seperti putri raja pada umumnya, ia sangat senang pergi ke hutan untuk berburu binatang atau sekadar berjalan-jalan.
Anjani pandai memanah dan tidak pernah memedulikan perintah permaisuri untuk memanjakan tubuhnya, seperti menggunakan lulur, masker, dan sejenisnya. Ia memang tidak menyukai hal-hal semacam itu.
Suatu hari, Putri Anjani menolak seorang pangeran dari negeri seberang yang dijodohkan dengannya.
"Saya tidak menyukai pangeran itu, Ayah. Saya ingin mencari sendiri calon suami saya," ujarnya.
Raja tidak berkutik mendengar penolakan putrinya.
"Baiklah! Ayah mengizinkanmu pergi mencari calon suamimu," katanya.
Berangkatlah Putri Anjani. Ia berkuda melewati gunung, bukit, dan berbagai desa. Namun, belum juga ia menemukan seorang lelaki yang membuatnya jatuh cinta.
Hingga suatu hari, tibalah ia di sebuah hutan. Timbul keinginan Putri Anjani untuk berburu binatang dan berjalan-jalan di dalam hutan. Ia memacu kudanya ke dalam hutan dan melupakan tujuan semula.
Di atas bukit, terbentang padang rumput yang luas. Putri Anjani menambatkan kudanya di sebuah pohon dan mempersiapkan panahnya. Dengan gesit, ia membidik seekor kijang yang sedang makan rumput. Namun tiba-tiba, seseorang menampar tangannya dari samping.
"Hentikan perbuatan jahatmu itu!" seru seorang pemuda.
Putri Anjani terkejut dan menoleh. Seorang pemuda desa menatapnya dengan marah. Putri Anjani pun membalas dengan nada tinggi.
"Hei, pemuda desa! Apa hakmu melarangku? Apa kamu tidak tahu siapa aku?" katanya sombong.
"Aku mengenalmu sebagai orang yang sombong!" jawab pemuda itu. "Engkau tidak kasihan membunuh binatang-binatang tak berdosa hanya demi kesenanganmu?".
"Lihatlah aku, pemuda desa! Aku Putri Anjani dari kerajaan!" sahutnya.
Pemuda desa itu tertawa, "Siapa yang peduli?".
Kemarahan Putri Anjani meledak. Mereka pun bertengkar hingga berkelahi. Pertarungan berlangsung seimbang karena mereka sama-sama kuat. Namun saat senja berganti malam, tiba-tiba tubuh Putri Anjani terangkat oleh awan hitam dan menghilang. Tinggallah suara ringkik kudanya yang masih tertambat di pohon.
Pemuda desa segera tahu bahwa itu perbuatan seorang nenek sihir yang tinggal di hutan. Ia pun mengejarnya ke dalam gua. Di sana, Putri Anjani sudah diikat dan siap dimasukkan ke dalam kuali. Melihat pemuda itu, Putri Anjani memberi isyarat minta tolong.
"Aku akan menolongmu, asal kamu berjanji tidak akan membunuh binatang untuk bersenang-senang dan tidak bersikap sombong lagi," kata pemuda desa.
Putri Anjani menyetujui syarat itu. Setelah mengelabui nenek sihir di pintu gua, pemuda desa berhasil membebaskannya dan mereka segera lari. Dari kejauhan terdengar teriakan nenek sihir:
"Hihihi... awas kalian! Akan kukejar!"
Mereka terus berlari, tetapi perjalanan menuju kota kerajaan masih sangat jauh. "Bawalah aku ke rumahmu," pinta Putri Anjani.
Pemuda desa pun mengiyakan. Minggu demi minggu, Putri Anjani tinggal di rumah pemuda desa bersama ibu sang pemuda. Hingga pada bulan berikutnya, Putri Anjani mengajak pemuda desa ke kerajaan.
Ia ingin memperkenalkannya kepada sang raja sebagai kekasih hati yang telah dipilihnya sendiri. Seorang pemuda desa sederhana yang membuat Putri Anjani belajar banyak tentang arti kehidupan.
Itulah beragam cerita dongeng yang mengajarkan anak berbuat baik dan bisa dibacakan sebagai pengantar tidur Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
5 Cerita Kisah Anak Durhaka kepada Orang Tua Selain Dongeng Malin Kundang, Kaya Pesan Moral
Parenting
10 Dongeng Cerita untuk Bayi 0-6 Bulan, Kisah Menarik Kaya Pesan Moral
Parenting
6 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Mendidik
Parenting
5 Jenis Dongeng Anak Indonesia Terfavorit, Yuk Kenali Apa Saja
Parenting
Bunda Ngantuk Berat tapi Anak Minta Dibacakan Dongeng, Harus Bagaimana?
7 Foto
Parenting
7 Potret Keseruan Festival Pokemon Jakarta, Atraksi Seru Buat Isi Libur Sekolah
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ilustrasi/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi
50 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
20 Dongeng Seru Panjang dan Pendek untuk Diceritakan Anak Sebelum Tidur
7 Dongeng untuk Mengajarkan Anak Cinta dan Kasih Sayang