parenting
20 Dongeng Seru Panjang dan Pendek untuk Diceritakan Anak Sebelum Tidur
HaiBunda
Rabu, 07 Jan 2026 20:30 WIB
Daftar Isi
-
20 Dongeng Seru Panjang dan Pendek untuk Diceritakan Anak Sebelum Tidur
- 1. Dongeng seru panjang: Balas Budi Si Burung Bangau
- 2. Dongeng seru pendek: Tuah, Tupai Si Pantang Menyerah
- 3. Dongeng seru panjang: Larangan Memukul Kentongan
- 4. Dongeng seru panjang: Sukresh dari India
- 5. Dongeng seru pendek: Kancil dan Buaya
- 6. Dongeng seru panjang: Si Tanduk Panjang
- 7. Dongeng seru panjang: Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning
- 8. Dongeng seru pendek: Menepati Janji
- 9. Dongeng seru panjang: Seekor Kancil yang Selalu Ingat Tuhan
- 10. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Gagak yang Memangsa Kambing
- 11. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Ciung Wanara dari Jawa Barat
- 12. Dongeng seru pendek sebelum tidur: Monty ingin cepat besar
- 13. Cerita dongeng seru pendek sebelum tidur: Buah dari Kesabaran
- 14. Cerita dongeng seru pendek sebelum tidur: Ikan Badut yang Pintar & Udang yang Bodoh
- 15. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Kebati, Kelelawar yang Baik Hati
- 16. Dongeng seru pendek: Cucing Pindah Rumah
- 17. Dongeng seru panjang: Tini dan Peri Baik
- 18. Dongeng seru pendek: Hadiah yang Cantik
- 19. Dongeng seru panjang: Cerita yang Tiada Akhirnya
- 20. Dongeng seru pendek: Putri Calestia dan Dayang Sumi
Sebelum Si Kecil terlelap, banyak orang tua yang memanfaatkan waktu ini untuk menemaninya lewat cerita yang menenangkan. Momen menjelang tidur pun jadi waktu yang tepat untuk Bunda membacakan dongeng, baik singkat maupun yang panjang.
Setiap kisah yang disampaikan sejatinya menjadi "jendela" bagi anak untuk mengenal nilai kehidupan melalui tokoh-tokoh dalam dongeng. Meski cara bercerita terus berkembang seiring waktu, makna yang terkandung di dalamnya tetap jadi hal yang selalu dinantikan.
Dilansir dari buku Terampil Mendongeng karya Kusumo Priyono, Ars, dongeng pada dasarnya ialah dunianya anak-anak, Bunda. Jika dahulu ceritanya mengalir lewat lisan, kini anak-anak bisa menikmatinya lewat buku bergambar hingga tayangan di televisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, secanggih apa pun teknologinya, dongeng yang dibacakan langsung oleh Bunda punya daya tarik tersendiri. Cerita yang disampaikan secara langsung terbukti jauh lebih berkesan dan mampu menyentuh perasaan Si Kecil.
Maka dari itu, mari kita intip deretan dongeng seru yang panjang dan pendek untuk Bunda ceritakan ke anak sebelum tidur.
20 Dongeng Seru Panjang dan Pendek untuk Diceritakan Anak Sebelum Tidur
Dikutip dari berbagai sumber, simak dongeng sebelum tidur yang seru panjang dan pendek untuk diceritakan ke anak sebelum tidur.
1. Dongeng seru panjang: Balas Budi Si Burung Bangau
Dikutip dari buku Putri Salju dan 7 Kurcaci oleh Winkanda Satria, simak dongeng seru panjang tentang Balas Budi Si Burung Bangau.
Alkisah, di suatu tempat di negeri Jepang, hiduplah seorang pemuda bernama Yosaku. Ia hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Yosaku bekerja sebagai pencari kayu bakar di hutan. Kayu bakar yang telah dikumpulkannya kemudian dijual ke pasar. Walaupun uang yang didapat dari menjual kayu bakar tidak seberapa, Yosaku selalu bersyukur kepada Tuhan.
Suatu hari, saat Yosaku pulang dari hutan, ia melihat seekor burung bangau yang meronta-ronta karena terjerat perangkap. Tanpa ragu, Yosaku segera melepaskan jerat di kaki burung bangau yang malang itu. Burung bangau tersebut tampak sangat senang, ia mengepakkan sayapnya lalu terbang ke angkasa. Tak lama kemudian, hujan salju turun dengan sangat lebat sehingga Yosaku pun segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Yosaku menyalakan perapian dan memasak makanan sederhana. Tidak berselang lama, ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Saat pintu dibuka, tampak seorang gadis yang sangat cantik berdiri di depan rumah dengan tubuh menggigil kedinginan. Yosaku pun mempersilakan gadis itu masuk dan memintanya menghangatkan diri di dekat perapian.
"Nona, hendak pergi ke mana?" tanya Yosaku.
Gadis cantik itu lalu menjawab dengan suara lemah.
"Aku hendak mengunjungi kerabat, tetapi karena badai salju ini aku tersesat. Aku mohon, izinkan aku menginap di sini semalam saja," kata gadis.
Yosaku kemudian menjelaskan kondisi dirinya yang serba kekurangan.
"Boleh saja, Nona, tetapi aku tidak memiliki kasur dan makanan yang layak. Aku hanyalah orang miskin," ucap Yosaku dengan jujur.
Mendengar itu, gadis cantik tersebut tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa. Aku sudah cukup senang diperbolehkan menginap. Jika besok badai reda, aku akan segera pergi dari sini," ungkapnya.
Keesokan harinya, gadis itu membersihkan seluruh rumah Yosaku dan memasakkan makanan untuknya. Namun, badai salju belum juga mereda. Ia pun kembali memohon agar diizinkan tinggal lebih lama hingga cuaca membaik. Seminggu kemudian, salju akhirnya reda, tetapi gadis itu belum juga pergi. Yosaku justru mulai merasa kesepian membayangkan kepergian gadis tersebut.
Suatu hari, gadis itu berkata kepada Yosaku.
"Biarkan aku tinggal di rumah ini dan jadikan aku istrimu. Mulai sekarang, panggillah aku Otsuru," tanya gadis.
Yosaku sangat bahagia mendengar permintaan itu. Tak lama kemudian, mereka menikah dan hidup bersama dengan sederhana namun penuh kebahagiaan.
Beberapa waktu kemudian, Otsuru meminta Yosaku membelikan benang dan perlengkapan menenun. Ia ingin membantu suaminya mencari nafkah dengan menjual kain hasil tenunannya ke pasar. Yosaku pun menuruti permintaan istrinya. Sebelum mulai menenun, Otsuru berpesan agar Yosaku tidak mengintip ke dalam kamar tempat ia bekerja.
Setelah tiga hari tiga malam menenun, Otsuru keluar dari kamar sambil membawa sehelai kain tenun yang sangat indah.
"Ini adalah tenunan ayanishiki. Bawalah ke pasar, pasti akan terjual dengan harga mahal," kata Otsuru.
Yosaku sangat gembira. Ia segera membawa kain itu ke pasar dan menjualnya kepada seorang saudagar dengan harga yang sangat tinggi. Dengan uang tersebut, Yosaku membeli bahan makanan dan berbagai keperluan rumah tangga.
Sesampainya di rumah, Yosaku mengucapkan rasa terima kasih kepada istrinya.
"Terima kasih, istriku. Berkat kamu, kita mendapatkan banyak uang. Setelah dibelanjakan, uang kita masih tersisa," ujar Yosaku.
Otsuru pun merasa bahagia mendengarnya. Yosaku lalu menyampaikan permintaan saudagar yang menginginkan kain tenunan tambahan.
"Istriku, saudagar di kota memesan beberapa helai kain tenunanmu lagi," katanya.
Otsuru tersenyum dan menyanggupi permintaan tersebut, dengan syarat Yosaku tetap tidak mengintip ke dalam kamar.
Setelah empat hari empat malam menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar membawa tiga helai kain ayanishiki. Tubuhnya tampak kurus dan wajahnya pucat. Ia meminta kepada Yosaku agar tidak memintanya menenun lagi karena kondisinya yang semakin lemah.
Yosaku kembali membawa kain tersebut ke pasar. Di sana, seorang Tuan Putri tertarik pada kain tenun yang dijual Yosaku dan memintanya membawa beberapa helai lagi untuk dibuat kimono. Yosaku pun kebingungan karena teringat kondisi istrinya yang sakit.
"Maafkan hamba, Tuan Putri. Hamba sudah tidak memilikinya lagi. Istri hamba yang membuat kain itu sedang sakit," kata Yosaku.
Tuan Putri menjadi marah mendengar jawaban tersebut. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Yosaku. Karena ketakutan, Yosaku pun memohon.
"Baiklah, Tuan Putri. Tiga hari lagi akan hamba bawakan kain tenun itu," jelasnya.
Sesampainya di rumah, Yosaku menceritakan semua kejadian kepada Otsuru dengan penuh kecemasan.
"Istriku, aku akan ditangkap jika tiga hari lagi aku tidak membawa kain tenun untuk Tuan Putri," ucap Yosaku dengan wajah pucat.
Otsuru tersenyum lembut.
"Baiklah, akan kubuatkan lagi, tetapi hanya sehelai saja," katanya.
Di hari kedua Otsuru menenun, Yosaku yang sangat khawatir akhirnya melanggar janjinya. Ia mengintip ke dalam kamar tempat Otsuru menenun. Betapa terkejutnya Yosaku ketika melihat seekor burung bangau yang mencabuti bulunya sendiri untuk ditenun menjadi kain. Burung bangau itu menyadari dirinya diintip, lalu berubah wujud kembali menjadi seorang wanita cantik.
"Akhirnya kau melihat wujud asliku," ujar Otsuru.
Ia kemudian menjelaskan jati dirinya.
"Sebenarnya aku adalah burung bangau yang dulu kau tolong. Untuk membalas budimu, aku berubah menjadi manusia dan melakukan semua ini. Karena kau telah melihat wujud asliku, inilah akhir perjumpaan kita," jelasnya.
Yosaku pun menyesal dan memohon dengan penuh harap.
"Maafkan aku, Otsuru. Kumohon, jangan pergi," kata Yosaku.
Namun semuanya sudah terlambat. Otsuru kembali berubah menjadi burung bangau dan terbang pergi meninggalkan Yosaku. Yosaku hanya bisa menyadari kesalahannya sambil menyelesaikan kain tenunan terakhir, dengan air mata yang terus mengalir.
2. Dongeng seru pendek: Tuah, Tupai Si Pantang Menyerah
Simak dongeng seru yang pendek tentang Tuah, Tupai Si Pantang Menyerah dikutip dari buku 5 Dongeng Anak Dunia oleh Dedik Dwi Prihatmoko.
Di daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.
Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai. Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.
"Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu," pinta Tuah. "Kamu perempuan, sudahlah tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku," jawab Eyang Tupai. "Tolonglah Eyang, aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain," ucap Tuah dengan nada memohon.
Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.
Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitupun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.
"Sudahlah Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya,".
"Tidak Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi, InsyaAllah aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya," ucap Tuah. Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.
Dalam hati Eyang Tupai berkata, "Tupai betina ini sungguh pantang menyerah,".
Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia meloncat dengan indahnya.
"MasyaAllah... Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini, maafkan Eyang ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!" ucap Eyang Tupai, si pelatih.
Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja kerasnya.
Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.
3. Dongeng seru panjang: Larangan Memukul Kentongan
Dongeng seru panjang ini dilansir dari buku Kalarahu Kumpulan Cerita Rakyat Jawa oleh Mardiyanto.
Udara sejuk daerah Tlogolele tiba-tiba berubah menjadi panas. Banyak penduduk desa yang kegerahan. Binatang-binatang pun banyak yang kepanasan. Kijang, menjangan, kera, harimau, ular, dan binatang lainnya keluar dari sarang. Mereka mencari tempat yang sejuk.
Baru saja Ki Jagabaya diberi tahu warganya yang baru pulang dari Pasar Sunggingan bahwa banyak binatang hutan yang turun dari gunung. Ki Jagabaya terkejut.
"lni pertanda Gunung Merapi akan meletus," gumamnya.
Perkiraan Ki Jagabaya tidak meleset. Tidak lama lalu terdengar suara gemuruh diikuti semburan asap tebal dari puncak Gunung Merapi. Asap itu berbentuk seperti jamur barat yang besar sekali dan menjulang ke langit.
Bersamaan dengan itu datang angin kencang menerjang desa Tlogolele. Ki Jagabaya segera memukul kentongan titir dengan maksud agar penduduk desa Tlogolele segera mengungsi.
"Tong ... tong ... tong ... tong... tong ... tong ... tong .. . tong ... tong ... ," demikian suara kentongan titir itu.
Penduduk Tlogolele mendengar suara kentongan titir itu terkejut. Mereka gugup dan berhamburan keluar rumah tak tentu arahnya. Ada yang lari ke timur, barat, utara, dan selatan. Bahkan karena bingung dan gugup banyak penduduk yang terpeleset masuk ke dalam jurang. Banyaklah korban berjatuhan.
"Tong ... tong ... tong ... tong... tong ... tong ... tong ... tong .. . tong .. .," Ki Jagabaya memukul kentongan lagi sambil berteriak-teriak, "Wedus gembel 'kabut tebal yang sangat panas bentuknya seperti bulu kambing domba' datang ...! Wedus gembe/ datang ...! Wedus gembel datang ....I"
Mendengar teriakan Ki Jagabaya itu penduduk Tlogolele semakin ketakutan. Tidak berapa lama bertiup angin sangat kencang diikuti awan wedus gembel Tlogolele. Semua kehidupan yang terkena wedus gembel hangus menjadi abu atau melepuh. Banyak orang dan binatang yang mati. Jerit dan tangis terdengar di mana-mana.
Para perangkat desa dan sesepuh desa berkumpul di balai desa.
"Ki Lurah," kata Ki Jagabaya.
"Banyak penduduk Tlogolele yang menjadi korban wedus gembel. Lima puluh orang meninggal, seratus orang luka parah, dan dua ratus luka ringan," lanjutnya.
Ki Lurah Tlogolele kelihatan sangat sedih dan terpukul karena penduduknya tertimpa bencana. Ia mengusap air matanya lalu berkata, "Marilah kita rawat korban wedus gembel. Mereka yang sakit kita rawat bersama, sedangkan yang meninggal kita kubur secara baik-baik".
Para wanita yang terhindar dari bencana secara sukarela merawat korban yang terluka, sedangkan para lelaki menggali kubur untuk korban bencana yang meninggal. Upacara pemakaman dan pembacaan doa dipimpin oleh Ki Modin.
Setelah upacara pemakaman selesai, Ki Lurah Tlogolele dan bawahannya mengantarkan pulang Bapa Sepuh 'orang tua yang menjadi panutan' penduduk Tlogolele. Ia dapat berhubungan dengan para arwah nenek moyang penduduk Tlogolele.
"Nak Mas Lurah," kata Bapa Sepuh begitu sampai di rumahnya. "Aku ingin berkomunikasi dengan arwah para leluhur kita. Mudah-mudahan mereka memberi petunjuk sehingga malapetaka ini tidak terulang lagi".
"Silakan, Bapa Sepuh," kata Ki Lurah dengan hormat. Bapa Sepuh masuk ke tempat pemujaan. Ia bersemedi hendak berkomunikasi dengan arwah leluhur penduduk Tlogolele. Tidak lama kemudian datanglah arwah cikal bakal penduduk Tlogolele.
"Cucuku, ada masalah apa?" katanya.
"Warga Tlogolele mohon petunjuk agar selamat dari bencana alam ini," pinta Bapa Sepuh.
"Cucuku, katakan kepada seluruh penduduk Tlogolele. Jika ada bahaya datang mereka tidak boleh ribut. Pikiran mereka harus tenang karena kalau ribut pasti akan banyak korban. Mulai hari ini penduduk Tlogolele tidak kuperbolehkan memukul kentongan. Bunyi kentongan titir itulah yang membuat penduduk Tlogolele gugup dan bingung," jelasnya.
"Kalau tidak boleh memukul kentongan, bagaimana cara memberi tahu penduduk jika ada bahaya? Dan, bagaimana pula cara menolak bahaya itu?" tanya Bapa Sepuh.
"Jika bahaya itu datang, penduduk harus diberi tahu secara lisan dan tunjukkanlah mereka ke tempat pengungsian. Agar bahaya itu cepat berlalu, setiap penduduk harus membakar tempe serta menyalakan obor di depan rumahnya. Selain itu, adakanlah kenduri sega gunung 'nasi tumpeng'," ucapnya.
Setelah selesai bersemedi Bapa Sepuh keluar dari tempat pemujaan. Ia melaporkan hasil semedinya kepada Ki Lurah di pendapa. Ki Lurah memberitahukan hal itu kepada penduduk Tlogolele.
Para warga kemudian membuat sega gunung lalu dibawa ke rumah Ki Modin untuk dibacakan doa-doa. Sampai sekarang penduduk Tlogolele masih mempercayai pantangan memukul kentongan. Mereka yakin jika tidak memukul kentongan wedus gembel tidak akan melanda desa Tlogolele.
4. Dongeng seru panjang: Sukresh dari India
Menilik dari buku Dongeng Anak Sedunia karya Tino Chan, simak dongeng seru yang berjudul Sukresh dari India.
Seperti biasanya, Sukresh mencari kayu bakar bersama Ayahnya. Dari pagi hingga sore, Sukresh membantu Ayahnya tanpa pernah mengeluh. Walaupun Sukresh masih kecil, hal itu tidak menghalangi niatnya untuk membantu orang tuanya.
Sudah beberapa kayu ditebang oleh Sukresh dan Ayahnya. Hari itu terasa cukup panas. Tampaknya sudah cukup siang dan saatnya makan. Sukresh kemudian membuka bekal yang dibuat Ibunya. Sukresh makan dengan lahap bersama Ayahnya.
"Ayah, hari ini kita sudah cukup banyak mendapatkan kayu bakar. Pasti hari ini kita akan memperoleh banyak uang," ucap Sukresh sambil makan.
"Iya, banyak sekali kayu bakar yang kita peroleh, tidak seperti biasanya," timpal Ayahnya dengan senyum khasnya.
"Masakan Ibu sangat enak ya. Aku tidak pernah bosan dengan masakan Ibu. Masakan Ibu memang nomor satu," Sukresh memuji masakan Ibunya.
"Jelaslah masakan Ibumu paling lezat di dunia ini dan tidak ada yang mampu menandinginya," Ayah menyahut ucapan Sukresh.
Setelah mereka selesai makan, mereka kemudian memotong-motong kayu itu seukuran kayu bakar. Dengan tekun, Sukresh ikut memotong dan mengikat kayu bakar menjadi beberapa bagian. Semua kayu sudah selesai diikat. Saatnya kayu bakar dipanggul dan dibawa pulang. Ayah memanggul gulungan kayu yang telah diikat, sedangkan Sukresh hanya membawa gulungan kayu yang kecil-kecil. Tiba-tiba, tanpa diduga, Ayah Sukresh tersandung batu lalu terperosok ke jurang bersama kayu bakar yang dipanggulnya.
Sukresh sangat kaget melihat kejadian itu. Ia memberanikan diri menuruni jurang demi menyelamatkan Ayahnya. Setelah sampai di bawah, ternyata Ayahnya hampir dipatuk oleh seekor ular kobra. Saat itu Ayah Sukresh tidak sadarkan diri karena pingsan.
"Hei, ular kobra. Janganlah kau menggigit Ayahku!" pinta Sukresh kepada ular kobra.
"Ayahmu telah mencari gara-gara. Karena kayu bakar yang dibawa oleh Ayahmu, tiga anakku mati tertimpa kayu bakar. Jadi, agar impas, Ayahmu akan kupatuk sekarang juga," kata ular kobra.
"Aku sangat mencintai Ayahku, maka janganlah kau patuk Ayahku. Apa pun permintaanmu akan kupenuhi," Sukresh mengiba.
"Baiklah kalau begitu. Aku ingin setiap hari kamu menyediakan kayu bakar sebanyak tiga gulungan. Ingat, setiap hari tiga gulungan, tidak boleh kurang. Kamu lempar saja tiga gulungan kayu bakar ke jurang ini dan aku yang menunggu di bawah," kata ular kobra sambil mengajukan syarat.
"Oke. Aku penuhi permintaanmu. Aku berjanji mulai hari ini aku akan memberimu tiga gulungan kayu bakar," ucap Sukresh dengan tenang.
"Ingat! Perjanjian ini hanya kita yang tahu. Orang lain tidak boleh tahu, termasuk kedua orang tuamu," ular kobra itu mengingatkan.
"Baiklah, aku janji. Percayalah padaku. Aku tidak akan mengingkari," ucap Sukresh kepada ular kobra.
Kemudian ular kobra itu pergi dengan sendirinya. Ayah Sukresh pun siuman dari pingsannya. Mereka berdua lalu pulang ke rumah. Kaki Ayah Sukresh mengalami cedera sehingga tidak dapat mencari kayu bakar lagi. Sejak saat itu, Ayahnya tidak mencari kayu bakar, sehingga otomatis hanya Sukresh yang mencari kayu bakar.
Setiap hari Sukresh melemparkan tiga gulungan kayu bakar ke jurang. Padahal, dalam sehari Sukresh hanya bisa membawa empat gulungan kayu bakar. Jadi, Sukresh hanya membawa pulang satu gulungan kayu bakar karena tiga gulungan lainnya telah diberikan kepada ular kobra.
Semakin lama, Sukresh semakin besar dan tumbuh menjadi pria dewasa. Walaupun begitu, Sukresh tidak pernah melupakan janjinya kepada ular kobra. Ia selalu memberikan tiga gulungan kayu bakar hasil tebangannya.
Banyak penduduk mencibir Sukresh karena sudah dewasa, tetapi hanya mampu membawa satu gulungan kayu bakar. Hal itu tidak sesuai dengan tubuh Sukresh yang tinggi besar. Mendengar cibiran tersebut, Sukresh tetap tenang dan menanggapinya dengan senyuman.
Sukresh tetap memegang janjinya kepada ular kobra untuk tidak menceritakan perjanjian itu kepada siapa pun. Setiap hari, Sukresh tetap pulang dengan membawa satu gulungan kayu bakar. Tidak heran jika keluarga Sukresh tetap hidup miskin. Namun bagi Sukresh, kemiskinan bukanlah penghalang. Ia tetap hidup jujur dan apa adanya.
Suatu hari, ada seorang lelaki yang mengaku berasal dari kerajaan dan ingin bertemu dengan Sukresh. Akhirnya, orang itu pun bertemu langsung dengan Sukresh.
"Apakah itu Tuan yang bernama Sukresh?" tanya lelaki tersebut.
"Iya benar, hamba bernama Sukresh," jawab Sukresh dengan senyum.
Lelaki itu bermaksud menyampaikan pesan dari Raja yang telah menerima kayu bakar dalam jumlah yang sangat banyak. Kayu bakar itu berasal dari Sukresh. Setelah ditelusuri, ternyata yang dimaksud Raja oleh lelaki tersebut adalah seekor ular kobra yang selama ini memerintahkan Sukresh untuk memberinya tiga gulungan kayu bakar setiap hari.
Raja adalah makhluk sakti yang dapat berubah menjadi apa saja. Pada waktu itu, Raja sedang menguji kecintaan Sukresh kepada orang tuanya, sekaligus menguji kesetiaannya pada janji.
Ternyata Sukresh berhasil melewati ujian berat tersebut. Raja benar-benar terkesima dengan semua sifat baik Sukresh. Oleh karena itu, semua kayu bakar yang telah diberikan kemudian dikembalikan. Raja juga memberikan hadiah yang sangat banyak kepada Sukresh. Sejak saat itu, Sukresh dan keluarganya menjadi kaya raya di India.
Meskipun Sukresh telah menjadi kaya raya, ia tidak pernah sombong. Sukresh tetap menjadi orang yang baik dan dermawan kepada siapa pun. Ia pun sangat disukai oleh seluruh rakyat di negeri itu.
5. Dongeng seru pendek: Kancil dan Buaya
Kancil dan buaya/Foto: Dwi Rachmi/ HaiBunda |
Dongeng seru pendek berjudul Kancil dan Buaya dikutip dari buku Kisah Petualangan Seru Kancil dan Teman-Temannya oleh Desi Nurul Anggraini.
Di suatu hutan, terdapat seekor Kancil yang tinggal di hutan tersebut. Seperti hari biasanya Kancil pergi mencari makan di dalam hutan. Dia menyeberangi sungai pada saat berangkat.
Setelah Kancil merasa kenyang, dia pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba turun hujan lebat ketika kancil sudah dekat sungai. Risaulah hati Kancil karena tidak bisa melewati sungai yang banjir dan derasnya air sungai itu. Tidak jauh dari tepi sungai ada seekor buaya. Kancil mencari ide.
"Buaya, apakah kamu bisa membantuku menyeberangi sungai ini?" kata kancil kepada buaya.
Buaya menjawab, "Jikalau nanti aku membantumu menyeberangi sungai ini maka kamu menganggap aku apa?"
"Kita akan menjadi sahabat sehati sejiwa. Aku akan membantumu kalau susah nanti di masa depan," kata Kancil.
Buaya kemudian mempertimbangkan perkataan kancil. Buaya kembali bertanya, "Jikalau nanti aku membantumu menyeberangi sungai ini maka kamu menganggap aku apa?"
"Sahabat sehati sejiwa, Buaya," Kancil memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Yakinlah Buaya dengan perkataan Kancil dan dia menyuruh Kancil untuk naik ke atas punggungnya. Buaya mulai berenang meninggalkan tepi sungai. Buaya kembali bertanya.
"Apa hubungan kita?" tanya buaya.
"Sahabat sehati sejiwa," kata Kancil.
Buaya terus berenang hingga mereka sampai di tengah-tengah sungai, Buaya bertanya lagi.
"Apa hubungan kita?" katanya.
"Sahabat sehati sejiwa," jawaban Kancil tidak berubah.
Buaya sangat senang mendengar jawaban Kancil, karena Kancil konsisten dengan jawabannya bahwa mereka tetap sahabat sehati sejiwa. Mereka sudah mau sampai tepi sungai, hanya dengan sekali loncatan lagi mereka sudah sampai di tepi sungai. Buaya kembali bertanya "Apa Hubungan kita?"
"Sahabat bohongan," kata Kancil sambil bergegas meloncat ke tepi sungai dan berlari pergi.
Buaya sangat marah karena sudah ditipu oleh Kancil dan Buaya dendam kepada Kancil, "Baiklah kancil, aku akan mengingat bahwa kamu pernah membohongiku. Namun ingat ada berbagai macam kesulitan dan kesukaran di depanmu. Jika kita berumur panjang maka kita akan berjumpa lagi,".
6. Dongeng seru panjang: Si Tanduk Panjang
Simak, yuk, dongeng seru tentang Si Tanduk Panjang seperti dirangkum dari buku Cerita Rakyat dari Sumatra karya James Danandjaja.
Suatu keluarga yang terdiri dari seorang Ayah, Ibu, dan seorang anak perempuan tinggal di sebuah desa dan hidup miskin. Baik Ayah maupun ibunya amat sayang kepada anaknya. Akan tetapi, sebenarnya mereka sangat kecewa karena menginginkan seorang anak laki-laki. Setiap hari, tak jemu-jemunya mereka berdoa, memohon kepada dewa agar dikaruniai seorang putra sebagai penyambung keturunan.
Bertahun-tahun kemudian, dewa mengabulkan permohonan mereka. Tentu saja mereka amat gembira. Namun, kegembiraan itu segera berubah menjadi kekecewaan karena pada kepala bayi laki-laki mereka terdapat sebuah tanduk. Bukan hanya kecewa, mereka juga merasa malu dan takut akan diejek oleh kerabat serta orang-orang sedesa.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuang anak laki-laki yang baru dilahirkan itu. Anak tersebut dihanyutkan di sungai. Sang bayi ditempatkan di dalam sebuah peti yang dibekali dengan sebutir telur ayam dan secangkir beras.
Ketika mengetahui keputusan kedua orang tuanya, kakak perempuan si bayi amat sedih. Diam-diam, ia meninggalkan rumah dan mengikuti adiknya yang sedang dihanyutkan dari tepi sungai. Beberapa waktu kemudian, ia mendengar tangis adiknya. Karena menduga adiknya lapar, ia menghiburnya dengan bernyanyi.
"Adikku sayang si Tanduk Panjang, janganlah kamu menangis. Jika engkau lapar, makanlah sebutir beras agar kenyang perutmu," tuturnya.
Beberapa hari kemudian, kakaknya mendengar suara anak ayam. Hal itu menandakan bahwa telur yang dibekalkan kepada adiknya telah menetas. Sejak saat itu, untuk menghibur adiknya ketika menangis, sang kakak selalu bernyanyi dengan penuh kasih sayang.
Berbulan-bulan peti itu hanyut terbawa arus sungai. Meski sang kakak tidak selalu bisa mendekatinya, ia tetap setia mengikuti peti tersebut. Atas kehendak dewa, akhirnya peti itu terdorong arus ke tepi sungai sehingga sang kakak dapat meraihnya.
Ajaib sekali. Ketika pintu peti dibuka, melompatlah seorang anak laki-laki yang gagah dan tampan tanpa tanduk di kepalanya. Di belakangnya, seekor ayam jantan yang sangat bagus ikut mengiringinya. Betapa girangnya sang kakak. Ia bersyukur kepada dewa.
Kedua kakak beradik itu segera berjalan menuju desa yang terdekat dari tepi sungai. Di depan pintu gerbang desa, mereka ditegur oleh para penghuni desa. Kepala desa memberi tahu bahwa untuk dapat masuk ke desa tersebut, mereka harus mengadu ayam dengan ayam milik penduduk desa. Jika mereka menang, mereka akan memperoleh harta kekayaan. Sebaliknya, jika mereka kalah, mereka harus menjadi budak di desa itu. Jika tidak berani, mereka dipersilakan membatalkan niat memasuki desa.
Kedua kakak beradik menyanggupi syarat tersebut. Pada hari yang telah ditentukan, ayam mereka diadu dan disaksikan oleh seluruh penduduk desa. Ternyata ayam milik kakak beradik itulah yang menang. Oleh karena itu, mereka diperkenankan memasuki desa, dijamu dengan baik, dan diberi banyak harta kekayaan. Setelah itu, mereka pamit meninggalkan desa tersebut. Si Tanduk Panjang, bayi laki-laki yang dahulu dihanyutkan oleh orang tuanya, kini kembali bersama kakak perempuannya yang setia menjaganya.
Anehnya, setiap kali memasuki desa berikutnya, mereka selalu dikenai syarat yang sama, yaitu menyabung ayam. Untungnya, ayam milik kedua kakak beradik itu selalu menang. Dari hasil kemenangan tersebut, mereka pun menjadi semakin kaya raya.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah desa yang penduduknya menanyakan asal-usul mereka. Kedua kakak beradik itu pun menceritakan kisah mereka yang sebenarnya.
Setelah mendengar cerita tersebut, orang-orang desa pun mengetahui siapa sebenarnya kedua anak itu. Kabar pun tersebar bahwa si Tanduk Panjang bersama kakak perempuannya telah kembali dengan membawa harta yang melimpah.
Kabar itu juga sampai ke telinga kedua orang tua mereka. Ayah dan ibunya segera menyongsong anak-anaknya, tetapi sang anak menolak.
"Kami tidak mempunyai orang tua lagi, karena sewaktu kami memerlukan kasih sayang serta perlindungan orang tua, justru kami dibuang!" jelasnya.
Menyadari kesalahan besar yang telah mereka lakukan, kedua orang tua itu sangat menyesal. Tak lama kemudian, mereka jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
7. Dongeng seru panjang: Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning
Dikutip dari buku Kalarahu Kumpulan Cerita Rakyat Jawa oleh Mardiyanto, berikut ini dongeng seru yang panjang tentang Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning.
Panji Asmara Bangun, putra mahkota Kerajaan Jenggala mempunyai tunangan bernama Dewi Candra Kirana, putri Raja Kediri. Tunangan Panji Asmara Bangun itu juga dicintai oleh Kelana Sewanggana, Raja Bandarangin. Kelana Sewanggana ingin melamar Dewi Candra Kirana. Jika lamarannya ditolak ia akan menyerang Kerajaan Kediri.
Raja Kediri tahu bahwa jika Kerajaan Bandarangin menyerang Kerajaan Kediri, rakyat pasti akan menjadi korban. Raja Kediri tidak menginginkan hal itu. Baginda lalu memanggil putri tunggalnya.
"Putriku, Candra Kirana, engkau telah mengetahui niat jahat Raja Kelana Sewangganan. Oleh karena itu, segeralah engkau meninggalkan istana Kediri. Menyamarlah sebagai rakyat jelata sehingga engkau tidak dikenali oleh mata-mata dari Kerajaan Bandarangin," kata Raja Kediri sedih, "Ayah akan selalu berdoa semoga engkau mendapat perlindungan dari Tuhan," ucapnya.
Permaisuri berkata sambil membelai rambut putrinya, "lbu juga akan selalu berdoa bersama Ayahmu. Semoga engkau selalu mendapat perlindungan dari Tuhan,".
"Ananda menurut perintah Ayahanda dan lbunda," jawab Candra Kirana singkat.
Beberapa saat setelah kepergian Candra Kirana datanglah Patih Tamengdita, utusan Raja Kelana Sewanggana di istana Kediri. Patih Tamengdita menyampaikan maksud kedatangannya ke Kediri, yaitu melamar Dewi Candra Kirana untuk rajanya.
Raja Kediri berkata, "Telah beberapa hari ini putriku Candra Kirana meninggalkan istana. Aku tidak tahu ke mana perginya. Jika rajamu tetap menginginkan putriku, suruhlah rajamu mencari Candra Kirana,".
Patih Tamengdita kembali ke Bandarangin menyampaikan berita itu kepada Prabu Kelana Sewanggana. Prabu Kelana Sewanggana kemudian mengajak Patih Tamengdita pergi ke Kediri menyamar sebagai tukang tambang (menyeberangkan orang) di Bengawan Silugangga. Prabu Kelana Sewanggana berganti nama Yuyu Kangkang dan Patih Tamengdita berganti nama Kodok ljo.
Panji Asmara Bangun juga telah mendengar berita bahwa Dewi Candra Kirana pergi dari istana. Ia sangat sedih karena ia tidak tahu ke mana Dewi Candra Kirana pergi. Panji Asmara Bangun kemudian mengajak kedua abdinya, Sabda Palon dan Naya Genggong mengembara hendak mencari Dewi Candra Kirana.
Dalam pengembaraan itu Panji Asmara Bangun berganti nama Ande-Ande Lumut. Sabda Palon berganti nama Bancak, dan Naya Genggong berganti nama Doyok. Mereka lalu menetap di desa Karang Kebulusan.
Dewi Candra Kirana menyamar menjadi rakyat biasa dan berganti nama Ragil Kuning. Ia tinggal di rumah Mbok Randa Dadapan. Mbok Rondo Dadapan tidak keberatan asalkan Ragil Kuning mau membantu memasak dan mencuci pakaian.
Semenjak Ragil Kuning tinggal di rumah Mbok Rondo Dadapan, rumah dan pekarangan Mbok Rondo Dadapan menjadi bersih. Mbok Rondo Dadapan sangat senang pada Ragil Kuning karena ia rajin bekerja dan tidak pernah mengeluh.
"Seandainya keempat anak perempuanku semuanya seperti Ragil Kuning betapa senangnya hidupku," kata Mbok Rondo Dadapan sambil memperhatikan Ragil Kuning yang sedang menyapu halaman rumah.
"Tingkah laku Ragil Kuning sangat sopan dan budi bahasanya sangat halus. Mungkinkah Ragil Kuning bukan dari rakyat kebanyakan?" lanjutnya.
"Ragil Kuning," teriak Mbok Rondo Dadapan.
Ragil Kuning pun segera menghampiri dan duduk di bangku panjang, di samping Mbok Rondo Dadapan.
"Ada apa, Mbok?" tanya Ragil Kuning.
"Tidak ada apa-apa Nduk," kata Mbok Rondo Dadapan.
"Aku hanya sekadar ingin bertanya. Siapakah sebenarnya engkau ini? Aku perhatikan engkau sangat lain dengan gadis-gadis di kampung ini. Siapakah engkau ini sebenarnya?" kata Mbok Rondo Dadapan mengulangi pertanyaannya.
"Baiklah aku berterus-terang, tetapi Si Mbok harus merahasiakan hal ini kepada orang lain. Termasuk kepada Kakak Kleting ljo. Kleting Abang, Kleting Ungu, dan Kleting lreng," kata Ragil Kuning.
"Ya. aku berjanji akan tetap menjaga rahasiamu," kata Mbok Rondo Dadapan. Ragil Kuning kemudian berterus-terang kepada Mbok Rondo Dadapan tentang asal usulnya. Setelah mendengar penjelasan Ragil Kuning, Mbok Rondo Dadapan menyembah kepada Ragil Kuning.
"Jangan Si Mbok menyembahku. Anggaplah aku sebagai anakmu sehingga penyamaranku tidak diketahui orang," kata Ragil Kuning. Mbok Rondo Dadapan semakin sayang kepada Ragil Kuning. Ragil Kuning pun tetap bekerja seperti biasa. Menyapu, memasak, dan mencuci.
Berita mengenai di desa Karang Kebagusan ada seorang pemuda tampan bernama Ande-Ande Lumut telah sampai ke Desa Dadapan. Keempat anak Mbok Rondo Dadapan ingin pergi ke desa itu hendak menggoda Ande-Ande Lumut.
"Adikku Kleting Abang, Kleting Ungu, dan Kleting lreng . Marilah kita pergi ke desa Karang Kebagusan," kata Kleting ljo pada suatu pagi. Keempat gadis itu sepakat hendak bertandang ke rumah Ande-Ande Lumut.
Ragil Kuning ingin ikut. Akan tetapi, Kleting ljo marah, "Kalau akan pergi ke Karang Kebagusan pergi saja sendiri. Jangan bersama kami," katanya ketus.
Keempat gadis anak Mbok Rondo Dadapan pergi ke Desa Karang Kebagusan. Untuk sampai ke Desa Karang Kebagusan mereka harus menyeberangi Bengawan Silugonggo. Mereka tidak dapat berenang sehingga mencari tukang perahu.
"Hai, gadis-gadis cantik. Kalian akan ke mana?" tanya Yuyu Kangkang.
"Ya, akan ke mana?" sambung Kodok ljo.
"Paman, kami akan ke Desa Karang Kebagusan. Tolonglah kami. Seberangkan ke sana," kata Kleting ljo genit.
"Aku mau menyeberangkan kalian asalkan kalian mau kucium," kata Kodok ljo.
Yuyu Kangkang pun mau akhirnya menyeberangkan keempat dengan upah cium. Selanjutnya, keempat gadis itu menuju ke rumah Ande-Ande Lumut dengan harapan diperistri oleh Ande-Ande Lumut. Akan tetapi, Ande-Ande Lumut tidak mau menerima keempat gadis itu karena keempat gadis itu tidak suci lagi.
Kleting Kuning tidak mau dicium oleh Yuyu Kangkang dan Kodok ljo sehingga ia tidak diseberangkan. Kleting Kuning mengeluarkan senjatanya yang berupa lidi dan memukul air Bengawan Silugangga. Seketika itu air Bengawan kering dan Kleting Kuning dapat menyeberang.
Sampai di Karang Kebagusan ia diterima oleh Ande Ande Lumut. Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning kemudian membuka jati dirinya.
"Dinda Candra Kirana," kata Panji Asmara Bangun.
"Ya, Kakanda Panji Asmara Bangun," jawab Candra Kirana singkat.
Kedua sejoli itu saling berpelukan. Tidak lama kemudian Yuyu Kangkang (Prabu Kelana Sewanggana) dan Kodok ljo (Patih Tamengdita) sampai di Desa Karang Kebagusan. Mereka hendak merebut Candra Kirana.
Akan tetapi, mereka dapat dihabisi oleh Panji Asmara Bangun. Panji Asmara Bangun dan Candra Kirana kembali ke Kediri. Mereka kemudian dinikahkan dengan pesta yang sangat meriah.
8. Dongeng seru pendek: Menepati Janji
Dongeng ini dilansir dari buku Dongeng Seru Sebelum Tidur karya Novi Anggraheni.
Ila akan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Ia akan menengok neneknya bersama orang tuanya. Sebelum pergi, Ila menemui Oci, temannya. Sembari berpamitan, ia menitipkan wortel. Ila dan Oci adalah dua kelinci yang sangat menyukai wortel.
"Oci, aku titip wortelku, ya. Tolong simpankan wortel ini untukku," pinta Ila dengan ramah.
"Iya, aku berjanji akan menjaga wortel ini dengan baik," jawab Oci meyakinkan.
Oci kemudian menyimpan wortel Ila. Ila pun dapat pergi ke luar kota dengan tenang. Ila berjanji akan mengambil wortel itu beberapa hari yang akan datang. Selama itu pula, Oci akan menjaga wortelnya dengan baik.
Berhari-hari Ila pergi. Oci pun memenuhi janjinya untuk menjaga wortel itu. Pernah ketika adiknya hampir memakan wortel tersebut, Oci memarahinya habis-habisan. Ia melarang siapa pun untuk mendekati wortel itu. Oci berusaha menjaga amanah dari temannya dengan baik.
Ila bilang hanya akan pergi beberapa hari untuk menengok neneknya. Namun, waktu sudah hampir satu minggu dan Ila tidak kunjung pulang. Padahal, wortel Ila telah layu dan hampir busuk. Oci pun khawatir jika wortel itu benar-benar akan membusuk. Meski begitu, ia juga tidak mau mengingkari janjinya kepada Ila.
Ila kembali setelah dua minggu pergi. Ila mendatangi rumah Oci sembari membawa oleh-oleh. Oci pun senang karena bisa menepati janjinya.
"Ila, aku sudah berusaha menjaga wortelmu dengan baik. Tapi maaf, karena kamu terlalu lama pergi, wortelnya jadi busuk. Sungguh, aku tidak berbohong. Wortel itu masih kusimpan meskipun telah membusuk," jelas Oci.
Ila terkejut mendengarnya. Ia kaget karena Oci masih menyimpan wortelnya. Ila pun merasa bersalah kepada Oci.
"Oci, seharusnya kamu makan saja wortel itu," katanya.
"Aku lebih memilih melihatnya membusuk daripada harus mengingkari janjiku," jelas Oci.
Ila tersenyum senang. Ia pun meminta maaf karena tidak bisa pulang tepat waktu. Ia juga berterima kasih karena Oci telah menepati janji untuk menjaga wortelnya dengan baik.
9. Dongeng seru panjang: Seekor Kancil yang Selalu Ingat Tuhan
Dongeng Si Kancil/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi |
Dongeng ini dirangkum dari buku Kalah Oleh Si Cerdik oleh Atisah.
Hutan lebat dan rumput menghijau telah berubah menjadi hutan yang gundul dan gersang. Daun jati, daun karet, dan daun pohon-pohon lain yang ada di hutan itu telah gugur.
Rumput-rumput pun telah mengering, semuanya berwarna kecoklatan. Tak ketinggalan pohon-pohon di pinggir sungai, semuanya layu. Kemarau yang panjang telah tiba. Sawah dan sungai pun kering kerontang.
Seekor kancil jantan yang tanduknya baru keluar, menandakan dia baru saja tumbuh dewasa, sangat kehausan. Bibirnya pecah-pecah. Ia telah berlari ke sana kemari mencari sumber air, tapi setetes pun tak didapatkannya.
Kancil jantan itu sangat sedih dan tubuhnya sudah lemas. Ia duduk sujud seperti manusia memuja Tuhan. Hatinya menjerit meminta pertolongan kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
"Ya Allah yang Maha Agung, hamba mohon pertolonganmu. Hamba kehausan dan kelaparan. Berilah hambamu ini sedikit air dan rumput," ucap kancil.
Setelah sujud, ia duduk lalu melihat-lihat ke kiri ke kanan, ke depan dan ke belakang. Ajaib, dari arah depan ia melihat gerombolan pepohonan yang agak kehijauan di sebuah bukit. Kancil berlari ke tempat itu.
Tempat itu ternyata cukup jauh. Ia melewati kebun ilalang yang baru saja dibakar orang sampai badan kancil itu kotor terkena debu. Namun, ia tidak mempedulikannya. Keinginannya hanya satu, yaitu ingin cepat minum.
Kancil sampai ke sebuah bukit. Pohon-pohon dan rerumputan di bukit itu ternyata masih subur. "Ohhh! Sumber airkah itu?" kata kancil bicara sendiri. Ia kemudian mencermati keadaan sekelilingnya. Ternyata ada aliran air yang bening, mengalir ke sebuah cekungan. Sementara itu, tanaman dan rumput di pinggir cekungan air itu pun warnanya hijau.
"Terima kasih Tuhan, doa hamba dikabulkan," kata kancil. Ia tidak buru-buru minum dan makan. Namun, sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, ia baru minum pelan-pelan.
Ternyata di belakang kancil ada seekor serigala yang tengah memburunya. Kancil tidak menyadari keadaan itu. Serigala sendiri ragu-ragu karena badan kancil yang belang-belang kotor itu seperti anak harimau. Sementara, kepalanya seperti kepala kancil. Jadi, serigala itu hanya mengawas-awasi saja.
Yang berbuat seperti itu ternyata tidak hanya serigala, juga seekor macan tutul tengah mengintip di atas sebuah pohon. Kancil tenang-tenang saja karena tidak mengetahui dirinya dijadikan rebutan dua binatang pemangsa.
Macan tutul dari atas dahan meloncat ke hadapan kancil. Ia takut keduluan Serigala.
"Macan tutul, jangan ganggu buruanku!" katanya.
"Enak saja. Ini jatahku, tahu?" lanjutnya.
Serigala marah kepada macan tutul. Sebaliknya, macan tutul juga marah karena merasa terganggu.
"Celaka!" kata kancil sambil mengelus dadanya. Kancil sangat kaget di hadapannya ada dua hewan pemangsa yang memperebutkan dirinya.
Ia sangat takut karena melawan seekor binatang pemangsa saja tidak berdaya. Apalagi, jika harus melawan dua binatang sekaligus. Dalam ketakutannya, Kancil sujud dan berdoa kepada penciptanya.
"Ya Allah, Yang Maha Baik. Allah Yang Maha Sempurna. Allah Yang Maha Abadi. Allah Yang Maha Asih. Allah Yang Maha Tahu. Allah Yang Ada di mana-mana. Allah Yang Maha Kuasa. Hamba tiada daya dan upaya, mohon diselamatkan oleh-Mu dari bahaya serigala dan macan tutul yang akan memangsa hamba," ucap kancil.
Setelah berdoa, ia merasa mempunyai kekuatan. Kancil membentak kedua binatang yang tengah bertengkar itu.
"Serigala dan macan tutul! Selamat datang. Kalian pasti haus dan lapar. Mari kita minum. Air ini berasal dari Allah untuk kita minum," ucapnya.
Serigala dan macan tutul berhenti bertengkar. Mereka kaget mendengar suara kancil yang kencang dan penuh keberanian.
"Benar katamu. Aku ingin minum dan ingin makan. Untuk minum ada air. Untuk makan ada kamu. Kamu juga sama untuk minum ada air untuk makan ada rumput," kata macan tutul.
"Kancil, kamu bukan jatah macan tutul, tapi untukku. Aku yang sudah mengikutimu sejak lama," jelas macan tutul.
"Heh, kalian! Kenapa ngomongnya ngawur. Apa kalian tidak tahu, siapa aku? Kepalaku memang kancil, tapi badanku macan lodaya. Jadi, kesukaanku bukan hanya rumput, juga daging serigala. Tandukku sakti. Siapa yang kutubruk, langsung mati dan dagingnya kupakai sarapan. Tidak menemukan serigala, makan rumput pun jadi. Tidak menemukan rumput, makan macan tutul pun tak apa-apa."
Macan tutul dan serigala terkejut mendengar kata-kata kancil. Malahan serigala merasa agak takut.
"Sekarang aku tak akan makan daging sebab ada rumput. Silakan serigala untuk macan tutul sebab macan tutul tak mau makan rumput atau sebaliknya, macan tutul untuk serigala. Kalau tidak habis, aku dibagi supaya kenyang. Makan daging sebagai pencuci mulut, 'kan enak'," katanya.
Kancil lalu minum sekenyangnya, kemudian makan rumput, dan pura-pura tidak punya rasa takut kepada kedua binatang pemangsa itu. Sementara itu, serigala dan macan tutul berkelahi. Mereka saling menggigit, saling mencakar, dan saling membanting. Siapa yang kalah dagingnya akan dimakan.
Sesudah kenyang kancil kabur menyelamatkan diri. Sambil tidak lupa berterima kasih kepada Allah pencipta alam.
"Ya Allah, Yang Maha Penyayang. Ya Allah, Yang Maha Bijaksana. Terima kasih atas kasih sayang-Mu. Terima kasih. Hamba telah terlepas dari marabahaya," jelas kancil.
Begitulah doa kancil sambil mencium tanah, seperti orang yang tengah bersujud. Sementara itu, serigala yang bertengkar dengan macan tutul telah berhenti. Serigala jadi pincang dan buta dianiaya macan tutul, kemudian ia melarikan diri. Macan tutul pahanya sempal digigit serigala.
10. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Gagak yang Memangsa Kambing
Dirangkum dari buku Dongeng Binatang Super Seru & Mendidik oleh Kak Thifa, simak cerita seru untuk Bunda ceritakan ke anak sebelum tidur.
Setiap kali Elang terbang kesana kemari, dari bukit ke tempat tinggalnya, Elang tidak pernah tahu, kalau ia memiliki pengagum. Di saat Elan terbang, melayang, dan menukik, ada seekor gagak hitam yang selalu mengawasinya. Gagak sangat menyukai cara Elang terbang dan menyambar mangsanya.
"Aku juga bisa seperti Elang. Suatu saat, aku akan mencoba untuk menyambar anak kambing." gumam Gagak sambil membayangkan mimpinya itu.
Gagak pun bergegas untuk menghampiri Elang. Ia ingin bertanya langsung pada si Burung itu terkait aksinya yang menyambar hewan lain untuk dimangsa.
"Hai, Elang. Perkenalkan aku Gagak, tetanggamu satu bukit," sapa Gagak ke Elang.
"Oh, halo juga Gagak. Ya, aku tahu kalau kita tinggal di bukit yang sama," jawab Elang sambil tersenyum padanya.
"Benarkah? Tahu dari mana?," tanya Gagak yang heran sekaligus bangga.
"Aku terbang setiap hari, jadi aku tahu apa yang ada di bawah." tukas Elang.
Mendengar jawaban itu, Gagak pun tersenyum malu. Di dalam hatinya, ada perasaan bangga sebab Elang memperhatikan keberadaannya.
"Hei, Elang, aku ingin bertanya. Saat menukik dan menyambar anak kambing, apakah kamu tidak merasa berat?" ungkap Gagak penuh penasaran.
"Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa melakukannya. Anak kambing yang lebih besar saja sudah pernah kusambar. Aku juga pernah menyambar dengan kecepatan tinggi, sehingga binatang buruanku tidak punya waktu untuk menghindar." Elang bercerita.
"Oh, Gagak suka berburu juga?" sahut Elang.
"Iya. Aku sangat suka berburu," jawab Gagak berbohong.
Pada suatu kesempatan, di lembah ada anak kambing sedang mencari makan. Dari kejauhan, di atas batang pohon, Gagak telah memperhatikannya dengan seksama.
Selanjutnya, Gagak pun segera terbang dengan melesat cepat. la merasa dirinya terbang layaknya elang. Cakarnya direntangkan dan menyambar anak kambing incarannya.
Namun, sayangnya ia tidak bisa mengangkat buruannya. Kambing tersebut sangat berat. Naasnya, kaki Gagak pun terlilit tali yang mengikat leher anak kambing itu. Gagak pun terjebak.
Tak lama kemudian, datanglah penggembala yang terkejut mendengar anak kambingnya mengembik. Saat dilihatnya, seekor gagak menempel di punggung anak kambing.
Menyaksikan hal tersebut, pengembala pun kesal dan menangkap si Gagak.
11. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Ciung Wanara dari Jawa Barat
Berikut cerita seru berjudul Ciung Wanara dari Jawa Barat dilansir dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler karya Lia Nuralia & Iim Imadudin.
Diceritakan ketika Prabu Adimulya Permanadikusuma memerintah Kerajaan Galuh, la berkeinginan untük menjalani hidup sebagai pertapa, sehingga Pemerintahan Galuh diserahkan kepada Prabu Bondan Sarati. Prabu Adimulya memulai kehidupan sebagai pertapa bergelar Pandita Ajar Sukaresi.
Kerajaan Galuh di bawah perintah Prabu Bondan Sarati ternyata mengalami kemunduran. Rakyat sangat menderita, karena raja memerintah dengan sewenang-wenang.
Sementara Itu, Pandita Ajar Sukaresi terkenal semakin sakti. Untuk menguji kesaktiannya, Prabu Bondan Sarati meminta Pandita Ajar Sukaresi untuk menebak isi kandungan Dewi Naganingrum, istri Prabu Bondan Sarati. Pandita Ajar Sukaresi tahu bahwa istrinya tidak mengandung, tetapi ia mengatakan bahwa Dewi Naganingrum mengandung bayi laki-laki, yang kelak akan menyaingi Prabu Bondan Sarati.
Mendengar hal itu, Prabu Bondan Sarati kemudian membuang Dewi Naganingrum ke hutan dan berpesan kepada Paman Lengser untuk membunuh bayinya, jika telah lahir nanti.
Singkat cerita, Dewi Naganingrum melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun, Paman Lengser tidak tega membunuh bayi itu. Akhirnya, la memasukkan bayi itu ke dalam peti dengan dibekali telur dan keris, kemudian dihanyutkan di Sungai Citanduy.
Alkisah, bayi yang dihanyutkan oleh Paman Lengser tersebut, ditemukan nelayan yang bernama Aki Balangantrang. Telur ayam yang menyertainya juga dirawatnya, hingga menetas menjadi ayam jantan. Aki Balangantrang, memberi nama bayi tersebut dengan nama Ciung Wanara.
Pada saat itu, Kerajaan Galuh sedang mengadakan sayembara sabung ayam yang berhadiah setengah wilayah kerajaan. Ciung Wanara sangat tertarik dengan sayembara itu. la pun mendaftarkan diri untuk mengikuti sayembara tersebut.
Selanjutnya, ayam Ciung Wanara berhasil mengalahkan ayam Prabu Bondan Sarati. Akan tetapi, Sang Prabu mengingkari janjinya. Bahkan ia memerintahkan untuk menangkap Ciung Wanara dan memasukkannya ke dalam kerangkeng.
Ketika kerangkeng sudah siap, ia memeriksanya dengan masuk ke dalamnya. Seketika itu juga Ciung Wanara beraksi dengan cepat menutup kerangkeng. Prabu Bondan Sarati terjebak di dalamnya. Melihat peristiwa ini, seluruh rakyat Kerajaan Galuh bersuka cita. Lalu, Ciung Wanara diangkat menjadi raja di Kerajaan Galuh.
12. Dongeng seru pendek sebelum tidur: Monty ingin cepat besar
Simak dongeng seru yang pendek dikutip dari buku Dongeng 365 Hari oleh Emmy Soekresno.
Monty adalah seekor biri-biri kecil yang lucu. Sehari-harinya, Monty bermain dengan binatang dewasa. Monty sangat bahagia dan merasa seolah-olah telah dewasa jika bermain dengan hewan yang sudah besar.
Monty menjadi sangat ingin segera tumbuh besar dan dewasa seperti hewan lainnya. Ia ikut merumput bersama Pak Sapi yang makan sangat banyak dan memiliki tubuh tinggi serta besar. Monty juga ikut Pak Kuda yang berlatih berlari dan melompati pagar. Ia pun tak ingin ketinggalan ikut bersama Ayah dan ibunya ke tempat pencukuran. Semua itu membuatnya berpikir bahwa menjadi dewasa itu sangat asyik.
Monty mendapatkan ide tentang bagaimana caranya agar bisa tumbuh dewasa dengan cepat. Ia memutuskan untuk meniru segala tingkah laku hewan dewasa. Apa pun yang dilakukan hewan dewasa akan diikuti oleh Monty.
Monty makan sebanyak Pak Sapi makan hingga perutnya kekenyangan dan tak bisa berjalan lagi. Ia juga ikut-ikutan berlari sekencang Pak Kuda hingga terguling-guling di rumput karena kaki depan dan kaki belakangnya saling tersangkut.
Rupanya, cara-cara itu tak kunjung membuat tubuh Monty menjadi besar. Namun, Monty tidak menyerah. Ketika melihat tanah basah, ia berlari-lari di atasnya hingga kakinya penuh lumpur dan Monty merasa dirinya tampak lebih tinggi.
Monty kembali mengikuti Ayah dan ibunya ke tempat pencukuran. Kedatangan Monty justru mengundang gelak tawa hewan-hewan yang sedang berada di sana. Penampilan Monty yang kotor dan aneh membuat semuanya tertawa. Monty hanya meringis dan menyadari bahwa penampilannya jauh berbeda dari hewan dewasa lainnya. Ia pun sadar bahwa untuk menjadi dewasa diperlukan proses dan tidak bisa terjadi dalam sekejap mata.
13. Cerita dongeng seru pendek sebelum tidur: Buah dari Kesabaran
Cerita dongeng seru ini menilik dari buku Dongeng Seru!!: Untuk Si Kecil Agar Lelap & Mimpi Indah karya Zeneqy.
Pada suatu hari seekor rusa tampak tengah berdiam di pinggir sungai. Dia sedang berpikir, bagaimana cara untuk sampai ke seberang sungai. Menurut kabar, di seberang sungai terdapat banyak sekali makanan. Sedangkan di hutan tempat Rusa tinggal, makanan telah habis.
Rusa sangat ingin menyeberang. Namun, tubuhnya kecil. Jika ia tetap menyeberang dengan berenang, bisa-bisa dirinya malah tenggelam.
Tiba-tiba dari arah belakang, muncul Kerbau yang berlari sangat kencang. Tapi, ia langsung berhenti begitu melihat Rusa yang sedang termangu.
"Hei, Rusa. Apa yang kamu tunggu? Di seberang sana ada banyak makanan. Aku sudah sangat lapar," ucap Kerbau, merasa tak sabar.
"Aku masih bingung, bagaimana cara sampai ke seberang sana," jawab Rusa.
"Hahaha. Buat apa bingung? Tinggal menyeberang saja," ucap Kerbau, menggampangkan.
Belum sempat Rusa membalas perkataan Kerbau, Kerbau sudah bergegas masuk ke dalam sungai. Rupanya Kerbau sudah sangat kelaparan. Ia pun berpikir, tubuhnya yang besar tidak akan membuatnya tenggelam. Namun, apa yang terjadi?
Hap! Tiba-tiba Buaya muncul dan langsung menerkam Kerbau. Kerbau pun tak bisa menghindar. Sebenarnya Buaya mengincar Rusa, tapi Rusa tak kunjung menyeberang. Beruntung, ada Kerbau yang tidak sabar dan terburu-buru menyeberang.
Rusa pun berlari ketakutan. Ia mencari aliran sungai yang lain. Sesampainya di pinggir sungai lain, Ia berpikir lagi. Lalu dari arah belakang, muncul Kelinci yang berlari sangat kencang.
"Hai, Rusa. Mengapa Kamu termenung?" tanya Kelinci.
"Aku masih belum menemukan bagaimana cara menyeberang sungai," jawab Rusa.
"Tinggal berenang saja ke seberang," Kelinci kemudian menceburkan dirinya ke sungai.
Apa yang terjadi? Olala, tubuh Kelinci terbawa arus sungai. Ia pun hilang hanyut tenggelam terbawa arus sungai yang deras.
Rusa terus berpikir. Tak lama kemudian, ia menemukan pohon pisang yang telah mati. Dengan sangat hati-hati, Rusa membentangkan pohon itu di atas sungai.
Aha! Jadilah jembatan pohon pisang. Rusa langsung melintasi jembatan tersebut. Akhirnya, Rusa bisa sampai di seberang sungai dengan selamat, dia bisa makan sepuasnya di sana.
Itulah hasil dari kesabaran Rusa. Jika saja ia tak sabar seperti Kerbau dan Kelinci, mungkin ia tak akan bisa sampai di seberang dengan selamat.
14. Cerita dongeng seru pendek sebelum tidur: Ikan Badut yang Pintar & Udang yang Bodoh
ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/cbpix |
Dikutip dari buku 101 Dongeng Seru Sebelum Bobok oleh Fitri Haryani Nasution, terdapat dongeng seru yang bisa dibacakan untuk Si Kecil tentang Ikan Badut yang Pintar & Udang yang Bodoh.
Di suatu lautan yang luas, para nelayan sedang memancing ikan. Mereka melempar jala dan kait ke dalam laut. Para ikan dan hewan laut berlarian. Mereka menyelamatkan diri karena tidak ingin tertangkap oleh jala para nelayan. Di tengah-tengah pelarian, Ikan Badut bertemu dengan Udang.
"Hai Udang, berlarilah menjauh dari tempat ini. Kapal nelayan sedang berada di atas kita. Mereka sedang melempar jala. Kita harus segera pergi dari sini jika tidak ingin tertangkap," kata Ikan Badut.
"Aku tidak ingin berlari. Aku bisa bersembunyi di balik batu," jawab Udang.
"Jala itu bisa menjeratmu walaupun bersembunyi di balik batu. Marilah pergi bersamaku," ucap Ikan Badut lagi.
Namun, Udang tidak mau mendengarkan perkataan Ikan Badut. Ia malah memilih untuk bersembunyi di balik batu besar.
Ikan Badut benar, ternyata jala para petani mengenai tubuh Udang. Udang pun tertangkap dan dibawa oleh para nelayan pergi.
15. Cerita seru untuk diceritakan anak sebelum tidur: Kebati, Kelelawar yang Baik Hati
Cerita seru ini melansir dari buku 5 Dongeng Anak Dunia karya Dedik Dwi Prihatmoko.
Di sebuah hutan Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar, dan beberapa jenis hewan lainnya. Mereka hidup rukun dan saling berdampingan.
Di antara penduduk hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati. Ia suka membantu penduduk hutan yang sedang mendapat kesulitan.
Suatu malam, terdengar bibi burung kakak tua meminta tolong.
"Toloooong!! Toloooooong!! Tolooooong!!" katanya.
Mendengar hal itu kelelawar segera mendatangi bibi burung kakatua. "Ada apa Bibi, malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.
"Anakku sakit dan aku tidak bisa pergi mencari obat karena cuaca di luar gelap," ungkap bibi kakatua sambil meneteskan air mata. Bibi kakatua sangat sayang pada anak-anaknya.
Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin hal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.
Sebagai orang tua tentu bibi kakatua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berdoa dan meminta bantuan kepada penduduk hutan.
Melihat hal itu Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada bibi kakatua. "Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar aku yang mengambilnya," tanya Kebati sambil menatap bibi kakatua.
"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu bernama daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap bibi kakak tua padanya.
"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya untuk anakmu, Bi." kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.
Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, ia mengandalkan kemampuan ekolokasi yang dimilikinya. Yaitu mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke benda yang ada di sekitarnya dan dipantulkan kembali ke telinga.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan kemampuan ekolokasinya. Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang untuk memberikan daun itu kepada bibi kakatua.
Betapa senang bibi kakatua melihat Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, bibi kakatua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya. Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh.
Pagi harinya, bibi kakatua berkunjung ke rumah Kebati. Bibi mengucapkan terima kasih dan memberikan bermacam-bermacam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakatua dan penduduk hutan semakin sayang pada Kebati. Buah kepribadiannya yang baik hati.
16. Dongeng seru pendek: Cucing Pindah Rumah
Dikutip dari buku Dongeng Binatang Super Seru & Mendidik karya SAUFA, simak dongeng yang berjudul Cucing Pindah Rumah.
Seekor kucing bernama Cucing menggigit tengkuk anaknya satu-satu. la pindah tempat tinggal. Beberapa hari kemudian, Cucing memindahkan lagi anak- anaknya ke lain tempat. Burung Pipit tersenyum melihat kelakuan Cucing. "Ngapain kucing kurang kerjaan itu, setiap waktu memindahkan anak-anaknya," ejeknya dalam hati.
"Selamat pagi, binatang kurang kerjaan," sapa Burung Pipit.
Cucing menjawab, "Maksudnya siapa yang kurang kerjaan?"
"Kamu," cuit burung Pipit tersenyum mengejek.
"Kurang kerjaan bagaimana?" tanya burung Pipit.
"Setiap waktu selalu memindahkan anak-anakmu. Bukankah itu kurang kerjaan?" lanjutnya.
"Kalau kamu tidak mengerti sesuatu, sebaiknya jangan bicara," jawab Cucing.
Suatu hari, Burung Pipit menangis. Anak-anaknya hilang. Sarangnya kosong. Rupanya, seekor ular yang sejak seminggu lalu mengintai Burung Pipit dan telah menemukan sarangnya.
"Hai, Pipit, kamu kenapa?" teriak Cucing yang sedang bermain dengan anak-anaknya di bawah sarang Burung Pipit.
"Anak-anakku dicuri ular," jawabnya sembari menangis. "Kamu mengerti, bukan, tujuanku memindahkan anak-anakku. Kalau tempatnya tetap, anak-anakku bisa hilang dimangsa musang. Carilah tempat tinggal yang lebih tersembunyi atau lebih tinggi," ucap Cucing.
Burung Pipit akhirnya mengerti alasan Cucing sering memindahkan anak-anaknya.
17. Dongeng seru panjang: Tini dan Peri Baik
Cerita dongeng ini dirangkum dari buku 101 Dongeng Seru Sebelum Bobok oleh Fitri Haryani Nasution.
Tini adalah seorang yatim piatu. Ia diasuh oleh ibu tirinya dan tinggal bersama kedua saudara tirinya. Mereka selalu menyuruh Tini melakukan semua pekerjaan rumah. Bahkan, mereka tidak pernah memberinya baju yang layak. Meski sering diperlakukan tidak adil, Tini tidak pernah membalas dendam. Ia tetap berbuat baik dan menyayangi mereka.
Suatu hari, kerajaan mengadakan pesta besar. Semua orang diundang untuk merayakan tahun baru sekaligus pesta panen yang melimpah. Tini sebenarnya ingin ikut, namun ibu tirinya melarang dengan alasan ia tidak memiliki baju yang bagus. Sang ibu justru menyuruh Tini untuk menjaga rumah. Tini pun merasa sedih dan menangis di kamarnya.
"Jangan menangis, Tini," Tini terkejut mendengar suara itu, padahal ia hanya seorang diri. "Siapa itu?" tanyanya sambil melihat sekeliling, namun tidak ada siapa pun.
"Aku adalah Ibu Peri. Aku datang untuk membantumu. Lihatlah, aku ada di atas mejamu," ucap suara itu lagi. Tini pun menoleh ke meja. Benar saja, ada seorang peri kecil bersayap biru yang tersenyum kepadanya.
"Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Kau ingin pergi ke pesta tahun baru, bukan?" tanya Ibu Peri. Wajah Tini tertunduk.
"Tapi ibuku tidak mengizinkan aku pergi. Aku harus menjaga rumah, dan aku juga tidak punya baju yang indah," ucap Tini.
"Jangan khawatir, aku yang akan menjaga rumahmu. Aku juga akan memberimu gaun yang cantik," ucap Ibu Peri sambil mengayunkan tongkatnya.
Seketika, baju Tini yang lusuh berubah menjadi gaun yang sangat indah. Tini tersenyum bahagia dan berterima kasih.
"Pergilah ke pesta. Ingat, kau harus berdansa dengan orang yang pertama kali mengajakmu, seburuk apa pun rupanya," pesan Ibu Peri. Tini mengangguk tanda mengerti.
Sesampainya di istana, semua orang terpukau melihat Tini. Bahkan ibu dan saudara tirinya tidak mengenalinya. Tiba-tiba, seorang lelaki buruk rupa menghampiri Tini dan mengajaknya berdansa. Lelaki itu berbulu di seluruh tubuhnya hingga terlihat menyerupai beruang.
Tanpa ragu, Tini menerima ajakannya. Mereka pun berdansa bersama, membuat semua orang terheran-heran. "Siapakah kau, putri cantik berhati baik?" tanya lelaki itu.
"Namaku Tini. Aku bukan putri, aku hanya seorang yatim piatu yang tinggal bersama ibu dan saudara tiriku di desa. Ibu Peri yang membantuku bisa datang ke sini," jawab Tini jujur.
Lelaki itu terkesima. Mereka terus berdansa hingga jam menunjukkan pukul dua belas malam. Saat itu, sebuah keajaiban terjadi. Tubuh lelaki buruk rupa itu berubah menjadi seorang pangeran tampan. Semua orang di istana terkejut, begitu pula Tini.
"Aku adalah pangeran yang menyamar menjadi sosok buruk rupa. Namaku Pangeran Steven. Aku sedang mencari seorang pendamping hidup. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang mau menerima ajakanku berdansa. Hanya engkau yang mau. Kebaikan hatimu, kerendahan hatimu, dan kejujuranmu membuatku terpesona. Maukah kau tinggal bersamaku di istana ini?" tanya Pangeran Steven.
Sejak hari itu, kehidupan Tini berubah. Ia bahagia tinggal di istana bersama Pangeran Steven. Tini pun memaafkan ibu dan kedua saudara tirinya atas perlakuan buruk mereka. Bahkan, ia mengizinkan mereka tinggal di istana bersamanya.
18. Dongeng seru pendek: Hadiah yang Cantik
Dilansir dari buku Dongeng Seru Sebelum Tidur karya Novi Anggraheni, mari kita simak dongeng seru yang berjudul Hadiah yang Cantik.
Seorang Putri tengah berulang tahun. Ia pun meminta hadiah kepada Ayahnya. Ayahnya yang seorang raja pun mengajaknya ke kebun samping Istana. Putri pun menurut dan pulang ke istana. Putri terus saja memikirkan hadiah apa yang sebenarnya tengah disiapkan Raja untuknya.
Putri sama sekali tidak mengerti kenapa Raja malah memberinya kebun yang dipenuhi ulat. Setelah beberapa hari, Raja kembali mengajak Putri ke kebun. Sesampainya, Putri berteriak kegirangan.
"Apakah ini hadiah yang Ayah siapkan untukku?" tanya Putri senang.
"Betul. Seluruh kebun bunga dan kupu-kupu lucu ini sekarang menjadi milikmu," jawab Raja sambil tersenyum ramah.
Putri senang bukan kepalang. Ia langsung berlari masuk kebun. Kebun yang dulunya dipenuhi ulat kini telah berubah menjadi kebun bunga yang dipenuhi kupu-kupu. Ulat-ulat yang dulu membuat Putri jijik dan ketakutan telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Putri amat senang dengan hadiah yang cantik di ulang tahunnya kali ini
"Putri, segala keindahan dan seluruh penghuni kebun ini Ayahanda berikan untukmu," ujar Raja.
"Terima kasih, Ayah. Aku sangat senang. Aku ingin sekali masuk dan bermain di dalamnya," ujar Putri semangat.
"Tunggu, Putri. Kamu belum boleh masuk ke kebun ini," larang Raja.
"Kenapa, Ayah? Bukankah kebun ini sudah menjadi milikku? Aku ingin sekali masuk ke dalam kebunku, Ayah," tanya Putri bingung.
"Tunggulah beberapa hari lagi dan kamu boleh bermain sepuasnya di sana," bujuk Ayah.
Tapi, Putri sama sekali tidak mendengarkan perkataan Raja.
Ia memaksa masuk ke dalam kebun. Ia berlari karena terlalu bersemangat. Tiba-tiba, ia menjerit karena seekor ulat menempel di bajunya. Dengan cepat, ia menyibak ulat itu. Tapi keterkejutan Putri masih belum berhenti, karena ulat itu memiliki teman yang sangat banyak. Ulat-ulat itu bahkan memenuhi seluruh kebun. Mereka menempel di dedaunan dan dahan-dahan pohon. Putri pun jijik dan merinding, lalu berlari keluar kebun.
"Ayah, kenapa menghadiahiku kebun yang dipenuhi ulat. Aku tidak mau menerimanya, Yah. Aku takut dan jijik pada ulat," kata Putri sambil cemberut.
"Lho, bukankah tadi Ayah sudah melarang kamu masuk ke kebun Itu? Ayah memintamu untuk masuk ke dalamnya setelah beberapa hari lagi. Jika menurut, pasti kamu akan mendapatkan hadiah yang kamu inginkan," terang Raja.
19. Dongeng seru panjang: Cerita yang Tiada Akhirnya
Menilik dari buku Kumpulan Dongeng Anak oleh Teguh Setiawan, simak dongeng panjang tentang Cerita yang Tiada Akhirnya.
Dahulu kala, ada seorang Raja yang sangat gemar mendengarkan cerita. Oleh karena itu, banyak tukang cerita dari berbagai negeri yang jauh datang kepadanya untuk membawakan sebuah cerita. Sebagai imbalannya, orang yang berhasil membawakan cerita akan diberi hadiah berupa emas, pakaian, dan uang.
Pada suatu hari, sang Raja mengumumkan sebuah sayembara. Jika ada seorang tukang cerita yang dapat membawakan sebuah cerita yang tak ada akhirnya, ia akan dinikahkan dengan putrinya. Namun sebaliknya, jika cerita yang dibawakan itu memiliki akhir, ia akan dimasukkan ke dalam penjara.
Para tukang cerita pun bertanya-tanya, apakah ada cerita yang tak memiliki akhir. Semua cerita pasti ada akhirnya. Karena itu, banyak di antara mereka yang mengundurkan diri dari sayembara tersebut.
Pada suatu hari, datanglah seorang tukang cerita ke hadapan sang Raja. Ia menyampaikan maksudnya dengan penuh keyakinan.
"Oh, Yang Mulia, bolehkah hamba menceritakan sesuatu yang tak ada akhirnya?" tanya sang tukang cerita.
"Oh, tentu saja, ceritakanlah!" perintah sang Raja.
Orang itu pun mulai bercerita. Ia bercerita sepanjang hari. Namun, karena kehabisan ide, ia berhenti di tengah jalan. Sebagai hukuman, ia pun dimasukkan ke dalam penjara.
Beberapa hari kemudian, datang lagi seorang tukang cerita. Ia mengaku memiliki cerita yang tak ada akhirnya.
"Oh, Baginda. Aku punya cerita yang tak ada akhirnya," kata tukang cerita itu dengan sombong.
Sang Raja pun mengingatkannya akan risikonya.
"Apa kau benar-benar yakin kalau ceritamu itu tidak ada akhirnya? Awas, jika tidak, aku akan memasukkanmu ke dalam penjara seperti temanmu itu."
"Oh, tentu, tentu..." jawab tukang cerita itu.
Kemudian ia duduk dan mulai bercerita. Namun, setelah satu minggu bercerita, ia pun kehabisan bahan. Oleh karena itu, ia juga dimasukkan ke dalam penjara.
Setelah beberapa hari, datang pula tukang cerita yang lain dan mengajukan permintaan kepada sang Raja.
"Izinkanlah hamba untuk menceritakan sesuatu yang tak ada pada akhirnya," jelas tukang cerita.
"Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu. Namun, jika gagal, kau akan kumasukkan ke dalam penjara seperti orang-orang yang datang sebelummu," jawab sang raja.
Tukang cerita itu pun mulai bercerita. Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu terlewati. Namun, di penghujung bulan pertama, ia berhenti bercerita tanpa alasan yang jelas. Ia pun dimasukkan ke dalam penjara.
Setelah itu, datang lagi tukang cerita yang lain. Ada yang berhasil bercerita hingga enam bulan, tetapi akhirnya berhenti. Ada pula yang mampu bercerita sampai satu tahun, namun tetap berhenti juga. Semuanya dimasukkan ke dalam penjara. Begitulah seterusnya hingga tak ada lagi tukang cerita yang datang mengikuti sayembara tersebut.
Pada suatu hari, ketika sedang duduk-duduk di istana, sang Raja mendapat kabar dari pengawal bahwa ada seorang petani yang ingin masuk ke istana. Meski telah dilarang, petani itu tetap bersikeras. Akhirnya, sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk membawa petani tersebut menghadap.
Petani itu menyampaikan maksudnya dengan tenang.
"Aku punya cerita yang Baginda inginkan," ucapnya.
Sang Raja menatapnya tajam dan memperingatkannya.
"Hai petani miskin, apakah kau siap menanggung akibatnya? Jika cerita yang kau bawakan itu ada akhirnya, akan kumasukkan kau ke dalam penjara seumur hidup," kata sang Raja.
Petani itu mengangguk sebagai tanda setuju, lalu mulai bercerita.
"Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang zalim. Ia gemar mengambil hasil penghasilan rakyatnya dan menghukum rakyat tanpa sebab yang jelas. Raja itu membangun sebuah gudang yang sangat besar dan luas, melebihi luas sebuah kota.
Gudang itu digunakan untuk menyimpan hasil tanaman yang diambil dari rakyatnya. Karena takut isinya dicuri, raja tidak membuat satu pun pintu atau jendela. Ia hanya membuat sebuah lubang kecil yang hanya bisa dilalui oleh seekor lebah.
Pada suatu hari, tanpa diduga, gudang itu diserang oleh jutaan lebah hingga seluruh permukaannya tertutup. Lebah-lebah itu keluar masuk gudang untuk mengambil hasil tanaman di dalamnya. Karena lubangnya hanya cukup untuk satu ekor lebah, maka mereka harus bergantian. Setiap lebah mengambil satu biji gandum, lalu keluar, kemudian masuk lagi yang lain. Karena jumlahnya sangat banyak, antreannya pun memakan waktu lama."
Setiap kali seekor lebah masuk, petani itu mengucapkan kalimat yang sama. "Seekor lebah masuk mengambil satu biji gandum, lalu keluar lagi, kemudian masuk lagi yang lain, lalu keluar lagi..."
Mendengar pengulangan itu, sang Raja mulai merasa bosan.
"Lalu bagaimana kelanjutan dari cerita itu?" tanya sang Raja.
Petani itu menjawab dengan tenang.
"Sabar, Baginda. Hamba belum bisa melanjutkan cerita ini sebelum hamba selesai menghitung lebah-lebah tersebut, karena jumlahnya sangat banyak."
Petani itu terus mengulang ceritanya.
"Seekor lebah masuk, membawa biji gandum, kemudian keluar lagi, lalu masuk lagi yang lain, dan keluar lagi," katanya.
Setiap kali sang Raja bertanya tentang kelanjutan cerita, petani itu selalu menjawab.
"Sabar, Baginda. Allah bersama orang-orang yang sabar," jelas petani.
Akhirnya, sang Raja merasa lelah mendengarkan cerita yang terus berulang tanpa perubahan. Ia pun menghentikan petani tersebut.
"Cukup, cukup. Jangan kau lanjutkan lagi ceritamu. Jika seperti ini, memang tak akan ada akhirnya," ungkap sang raja.
Petani itu tersenyum dan menjawab dengan tenang.
"Benar, Yang Mulia. Cerita ini memang tidak ada akhirnya," tuturnya.
Sang Raja pun mengakui kecerdikan petani itu karena berhasil membawakan sebuah cerita yang tak ada akhirnya. Ia menepati janjinya dan menikahkan petani itu dengan putrinya. Setelah menikah, semua tukang cerita yang dipenjara dibebaskan.
Ketika sang Raja wafat, petani tersebut dinobatkan menjadi Raja dan hidup bahagia bersama istrinya.
20. Dongeng seru pendek: Putri Calestia dan Dayang Sumi
Dongeng seru ini dirangkum dari buku 36 Dongeng Pengantar Tidur untuk Anak Saleh dan Salihah karya Nurrul Hidayat.
Di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tinggallah seorang putri bangsawan yang berhati mulia bernama Putri Calestia. Sejak kecil ia diasuh oleh pelayan kerajaan bernama Dayang Sumi. Semua kebutuhan Putri Calestia dipercayakan kepadanya.
Putri Calestia sangat menyayangi Dayang Sumi. Hal inilah yang membuat iri dayang-dayang kerajaan lain terutama Dayang Lili. la melakukan berbagai cara agar Dayang Sumi diusir dari kerajaan.
Pada suatu waktu, Putri Calestia akan pergi ke pesta. Biasanya ia akan memakai kalung kesayangannya. Kesempatan ini dimanfaatkan Dayang Lili untuk mencuri kalung Putri Calestia. Setelah berhasil, ia meletakkan kalung itu di bawah bantal Dayang Sumi.
Tentu saja keesokan harinya Putri Calestia menjadi kebingungan. la pun mengadu kepada Raja. Raja memerintahkan pengawal untuk memeriksa semua kamar. Kalung itu pun ditemukan di kamar Dayang Sumi. Dayang Sumi mengelak, tapi Putri Calestia tidak percaya. Dayang Sumi pun diusir dari kerajaan.
Suatu pagi Putri Calestia berjalan-jalan di tepi hutan. Tiba-tiba dari balik pohon muncul seorang perampok yang berusaha menyakitinya. Putri berteriak minta tolong. Dayang Sumi yang sedang mencari kayu mendengar teriakan itu. Dayang Sumi berlari mendekatinya. la berusaha melawan perampok dengan kayu. Perampok itu akhirnya lari, namun berhasil melukai Dayang Sumi.
"Maafkan aku sudah tidak memercayaimu," katanya . Putri Calestia menangis memeluk Dayang Sumi. Putri Calestia akhirnya tahu bahwa Dayang Sumi bukanlah pencuri kalungnya. Kesetiaan Dayang Sumi kepada Putri Calestia telah teruji. Dayang Sumi pun diajak kembali ke istana.
Itulah kumpulan dongeng seru yang panjang dan pendek yang dapat Bunda ceritakan kepada Si Kecil sebelum tidur.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
5 Cerita Kisah Anak Durhaka kepada Orang Tua Selain Dongeng Malin Kundang, Kaya Pesan Moral
Parenting
10 Dongeng Cerita untuk Bayi 0-6 Bulan, Kisah Menarik Kaya Pesan Moral
Parenting
9 Cerita Dongeng Anak untuk Pengantar Tidur Si Kecil, Banyak Pesan Moralnya Bun
Parenting
5 Jenis Dongeng Anak Indonesia Terfavorit, Yuk Kenali Apa Saja
Parenting
Bunda Ngantuk Berat tapi Anak Minta Dibacakan Dongeng, Harus Bagaimana?
7 Foto
Parenting
7 Potret Keseruan Festival Pokemon Jakarta, Atraksi Seru Buat Isi Libur Sekolah
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kancil dan buaya/Foto: Dwi Rachmi/ HaiBunda
Dongeng Si Kancil/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi
ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/cbpix
50 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
10 Cerita Dongeng Zaman Dahulu Kala, Kaya Pesan Moral untuk Diceritakan Sebelum Tidur
15 Cerita Dongeng Nusantara Penuh Makna untuk Diceritakan ke Anak