Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Susah Diatur? Begini 6 Cara Mendisiplinkannya dengan Tenang

Annisya Asri Diarta   |   HaiBunda

Kamis, 15 Jan 2026 18:30 WIB

Anak susah diatur
Anak susah diatur/ Foto: Getty Images/travelism
Daftar Isi

Mendisiplinkan anak yang susah diatur sering menjadi tantangan besar bagi orang tua. Banyak orang tua merasa bingung ketika aturan yang dibuat tampaknya tidak diikuti atau ketika anak tampak sulit dikendalikan.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), ketika memasuki usia balita, frekuensi dan intensitas tantrum pada anak cenderung meningkat, seperti dikutip dari The Bump. Hal ini tentu sangat wajar, termasuk ketika Si Kecil melempar makanan, memukul, menggigit, dan menolak ganti popok yang sering kali dianggap sebagai perilaku menentang.

Setiap anak tidak selalu bersikap 'menyulitkan' bukan hanya karena ingin menentang, tetapi seringkali karena mereka sedang mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan pengendalian diri. Kesabaran dan pengamatan dari orang tua menjadi kunci untuk mengetahui pendekatan yang paling efektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Konsistensi dalam menetapkan aturan dan batasan juga menjadi faktor utama dalam membentuk disiplin. Tentunya anak akan lebih mudah memahami harapan orang tua jika aturan disampaikan dengan jelas dan diterapkan secara konsisten. Ketidakpastian atau perubahan aturan secara tiba-tiba justru bisa membuat anak semakin bingung dan sulit diatur.

Dengan pendekatan yang tepat, Bunda dapat menerapkan kedisiplinan sebagai upaya pendukung pertumbuhan anak. Dalam memahami proses ini bisa membantu orang tua tetap tenang dan bijak dalam menghadapi anak yang susah diatur, sambil tetap menanamkan nilai-nilai yang penting untuk perkembangan mereka.

Alasan anak sulit diatur

Mengutip laman Child Mind Institute, para ahli melalui Functional Behavior Assessment (FBA) telah mengelompokkan alasan anak berperilaku cenderung sulit diatur. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

1. Melarikan diri atau menunda

Ketika anak merasa tidak nyaman dengan suatu situasi atau enggan mengerjakan tugas sekolah, mereka sering memilih untuk menunda agar tidak perlu berhadapan dengan hal yang tidak mereka sukai.

Perilaku menghindar dan menunda merupakan pendorong yang kuat dalam tindakan anak. Dalam kesehariannya, anak-anak harus melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan, seperti makan sayur, membereskan barang, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Saat anak menolak melakukan sesuatu, mereka kerap menunjukkan perilaku negatif sebagai cara untuk menghindarinya, terutama jika cara tersebut pernah berhasil bagi mereka sebelumnya.

Psikolog klinis Stephanie Lee, PsyD, memberikan ilustrasi mengenai perilaku seorang anak yang tidak menyukai pelajaran matematika. “Ada anak laki-laki yang sengaja mencari masalah. Setiap kali pelajaran matematika dimulai, ia menendang seorang teman perempuan agar dipanggil kepala sekolah hingga pelajaran tersebut selesai,” ujarnya, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

2. Akses ke hal-hal yang nyata

Seringkali anak menginginkan benda atau aktivitas tertentu, seperti permen, mainan, atau akses ke iPad. Keinginan ini tidak selalu terlihat jelas. Misalnya, anak yang terus meminta barang di toko hingga orang tua akhirnya memberikan ponsel sebagai pengalih perhatian.

Dalam kasus lain, seperti yang diceritakan Dr. Lee, "Anak mengamuk karena es krim, tetapi orang tua justru memberi kacang agar anak tidak lapar. Hal ini menunjukkan bahwa hal yang benar-benar dibutuhkan mungkin adalah kacang, bukan es krim," tuturnya seperti dikutip dari Child Mind Institute.

3. Menginginkan perhatian

Kerap kali anak bertingkah untuk mencari perhatian dari orang tua atau guru, baik perhatian positif maupun negatif. Dr. Lee juga menuturkan, "Anak tidak terlalu memperdulikan bentuk perhatian yang diterima, selama perhatian tersebut besar, cepat, dan intens," ujarnya dalam Child Mind Institute.

Hal itu yang membuat mereka cenderung berperilaku untuk menarik respons orang dewasa, meski berujung pada masalah. Misalnya, melempar pensil di kelas atau mengganggu saudara saat orang tua sedang sibuk, karena tindakan tersebut segera memancing perhatian. 

4. Stimulasi sensorik

Ketika anak melakukan suatu perilaku karena terasa menyenangkan, menenangkan tentunya akan membantu mengatur sensasi tubuh mereka.

Dr. Lee menuturkan, "Perilaku ini sering berkaitan dengan kebutuhan stimulasi sensorik atau untuk menghindari rangsangan berlebihan, terutama pada anak dalam spektrum autisme atau dengan gangguan dalam proses sensorik," jelasnya dikutip dari Child Mind Institute.

Cara mendisiplinkan anak yang susah diatur

Dikutip dari laman The Bump, berikut cara mendisiplinkan anak yang sulit diatur. Simak selengkapnya.

1. Mengalihkan perhatian anak

Saat Si Kecil mencari perhatian dengan menendang meja atau melempar makanan, Bunda tak perlu khawatir dalam menghadapi situasi tersebut. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), Bunda disarankan untuk mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain setelah menghentikan perilaku yang tidak diinginkan.

2. Memberikan penguatan positif

Sering kali balita bertingkah untuk mendapatkan perhatian dan ingin memperoleh pujian terhadap perilaku yang baik kala Bunda melihatnya. University of Rochester Medical Center menyarankan, balita akan akan belajar bahwa mengikuti aturan dan menghormati batasan membuat mereka mendapatkan perhatian yang lebih baik.

3. Memberikan validasi perasaan anak

Terkadang, anak berteriak karena Bunda meminta untuk memulai rutinitas tidur dan waktu bermain sudah berakhir. Kondisi ini, bisa membuat Si Kecil marah untuk mengekspresikan perasaannya, Bunda. Seorang manajer senior pembelajaran dan pengembangan di Bright Horizons, Claire Goss menyarankan, "Bunda dapat mengakui perasaan anak sambil tetap dengan tenang dan tegas menetapkan batasan atau harapan," ujarnya.

Goss juga menambahkan bahwa Bunda dapat menyampaikan hal ini pada Si Kecil, "Bunda mengerti betapa menyenangkannya bermain sehingga kamu tidak ingin berhenti. Wajar kalau kamu merasa sedih, tetapi sekarang saatnya bersiap untuk tidur."

4. Memberikan konsekuensi logis

Bunda dapat menerapkan konsekuensi logis sesuai situasi secara perlahan pada Si Kecil. Hal ini dapat ditanamkan ketika Bunda menghadapi situasi saat balita bertengkar karena berebut mainan dengan temannya, mainan tersebut dapat disingkirkan sebagai akibat langsung dari perilaku tersebut.

5. Mengendalikan intonasi dan melakukan kontak mata

Bunda dapat melatih diri untuk mendengarkan Si Kecil, bahkan saat ia sulit diatur. Seorang terapis pernikahan dan keluarga di Moment of Clarity Mental Health Center di Santa Ana, California, Jeff Yo, menyarankan agar Bunda dapat menunjukkan komunikasi yang tulus dan melalui kontak mata langsung pada anak, saat ia melakukan perilaku yang menentang. Kemudian Bunda juga dapat menggunakan nada suara yang tenang sebagai contoh perilaku yang diharapkan.

6. Melakukan tindakan saat anak berperilaku menentang

Saat anak berperilaku buruk, Bunda sebaiknya segera bertindak meski waktunya tidak ideal. Pada dasarnya, menunda disiplin hingga pulang ke rumah bisa membuat anak bingung terhadap alasannya, karena momen yang terjadi sudah berlalu.

 

Itulah cara mendisiplinkan anak yang susah diatur. Semoga bermanfaat untuk tumbuh kembang Si Kecil, Bunda.

 

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda