parenting
5 Penyebab Anak Usia 3 Tahun ke Atas Mulai Sering Berbohong
HaiBunda
Sabtu, 03 Jan 2026 14:00 WIB
Daftar Isi
Berbohong pada anak usia dini mungkin menjadi salah satu hal yang membuat orang tua khawatir, bahkan bingung tentang cara menyikapinya. Nah, apa ya sebenarnya yang menjadi penyebab anak usia 3 tahun ke atas mulai sering berbohong?
Sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu oleh orang tua bahwa kebohongan pada anak, khususnya di usia balita dan prasekolah, sebenarnya bukanlah tanda perilaku buruk atau dilakukan secara sadar.Â
Pada tahap perkembangan ini, anak masih belajar memahami dunia di sekitarnya, termasuk membedakan antara imajinasi dan kenyataan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga sedang belajar mengenal tentang konsep 'benar' dan 'salah', sehingga masih kerap menguji kebohongan dengan bercanda.Â
Dikutip dari Baby Center, nantinya saat memasuki usia sekitar 5 hingga 6 tahun, anak-anak mulai memahami bahwa berbohong itu perbuatan yang salah.
Penyebab anak 3-4 tahun mulai suka berbohong
Kebiasaan berbohong biasanya mulai muncul sekitar usia 3 tahun. Tapi ini bisa berbeda-beda tiap anak ya, Bunda. Ada yang mulai berbohong lebih awal atau bahkan lebih lambat.
Ketika anak seusia ini berbohong, sebenarnya mereka tidak bermaksud 'menipu' Bunda dengan sengaja. Anak mungkin sedang menerka-nerka apakah Bunda benar tidak bisa membaca pikiran mereka?
Bagi anak, hal ini mungkin terasa menyenangkan karena mereka menyadari bisa mengatakan sesuatu yang tidak benar tanpa Bunda langsung menyadarinya sebagai kebohongan.
Nah, pada saat yang sama, anak usia 3 tahun juga belum memahami bahwa berbohong itu perbuatan salah. Lalu apa saja yang menjadi alasan anak usia 3-4 tahun mulai sering berbohong? Berikut ulasannya:
1. Sedang berimajinasi
Sebagai usia di mana anak sedang banyak berimajinasi, mereka mungkin mengira bahwa apa yang dibayangkan di dalam pikirannya benar-benar bisa terjadi.
Dengan kata lain, Si Kecil mungkin belum memahami konsep moral tentang kebohongan. Mereka juga belum bisa mengerti perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan.
Sebagai contoh, ketika anak mengatakan tidak memecahkan vas, mereka sebenarnya tidak sedang mencoba menghindari kesalahan. Mereka hanya berharap hal itu tidak terjadi.
Imajinasi dan harapan tentang hal tersebut sangat kuat, sehingga mereka benar-benar yakin tidak terlibat sama sekali.
2. Rasa ingin tahu
Ketika anak-anak menyadari bahwa mereka bisa berbohong, mereka mungkin sekadar penasaran ingin mengetahui apa yang akan terjadi jika mereka melakukannya.
Sebagai contoh, anak bisa saja menyembunyikan kerudung Bunda dan mengatakan tidak tahu di mana letaknya tepat saat Bunda hendak pergi. Di momen ini, anak hanya ingin melihat bagaimana reaksi Bunda.Â
Dalam situasi seperti ini, kebohongan menjadi bagian dari proses eksplorasi ide.
3. Menguji batasan
Pada usia ini, anak-anak juga mulai mengerti bahwa ada batasan antara aturan orang tua dan keinginan mereka sendiri.Â
Anak mungkin datang kepada Bunda dan dengan yakin meminta menonton televisi, sambil mengklaim bahwa mereka belum menonton hari ini. Di sisi lain, Bunda tahu mereka sudah melakukannya dan bahkan jatah screentime-nya sudah habis.Â
4. Menghindari kekecewaan
Saat anak tahu ia telah melakukan perbuatan yang salah dan akan mengecewakan Bunda, alih-alih menghadapi mungkin anak akan memilih untuk berbohong.
Secara naluri, anak Anda berharap hal itu tidak terjadi dan tidak ingin menghadapi konsekuensi dari kesalahan tersebut.
5. Ingin mendapatkan perhatian
Anak dapat mulai memahami bahwa menceritakan sesuai yang dilebih-lebihkan adalah cara yang ampuh untuk mendapatkan perhatian dari Bunda, meskipun mungkin reaksinya negatif.
Lalu bagaimana konsekuensi yang sesuai untuk usia tersebut?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Erdark |
Konsekuensi yang sesuai atas kebohongan pada usia ini perlu dipikirkan secara matang. Memberi hukuman keras mungkin tidaklah efektif, Bunda.Â
Sebaliknya, gunakan kalimat yang tepat untuk membantu anak memahami perbedaan antara benar dan salah, serta mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan komunikasi.
Tujuan Bunda adalah menetapkan batasan, mendorong komunikasi terbuka, serta menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung agar anak dapat mengekspresikan perasaan dan kebutuhannya.
Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba saat Bunda melihat anak sedang berbohong:
1. Cobalah memahami sudut pandang anakÂ
Jika anak diam-diam mengambil cokelat lalu menyangkal telah memakannya, cobalah berpikir dari sudut pandang anak.
Si Kecil mungkin sedang berusaha menyiasati kenyataan bahwa mereka tidak bisa selalu mendapatkan semua yang diinginkan.
2. Tawarkan alternatif
Berikan contoh bagaimana seharusnya anak merespons. Misalnya, jika mereka menyangkal telah menumpahkan minuman, berikan tisu dan katakan, 'Ayo kita bersihkan minumannya'.
Dengan cara ini, Bunda menghindari perdebatan tentang siapa yang menumpahkan minuman dan mengarahkan perhatian anak pada upaya membersihkan tumpahan tersebut.
3. Diskusikan mengapa berbohong itu tidak baik
Dalam waktu yang sudah tenang, cari kesempatan untuk mengobrol tentang mengapa berbohong itu salah dan bisa menyakiti orang lain.
Penting untuk membiasakan membahas hal-hal seperti ini, tetapi lakukan secara singkat agar anak tidak merasa bersalah atau malu.
4. Bersikap konsisten
Pastikan Bunda selalu mematuhi aturan yang telah ditetapkan dalam lingkup keluarga setiap saat. Bersikap konsisten sangat penting, supaya anak belajar tentang aturan itu sendiri.
5. Hindari memberi label
Jangan pernah langsung memberi label pada anak sebagai 'pembohong'. Ini hanya akan membuat mereka merasa buruk tentang diri mereka sendiri, bahkan berpotensi terus mengulangi perilaku tersebut di masa depan.
Tips menumbuhkan naluri anak untuk jujur
Menumbuhkan naluri anak untuk berkata jujur dan menciptakan lingkungan yang menghargai kejujuran juga tak kalah penting lho, Bunda. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk hal tersebut:
1. Minimalkan kesempatan untuk berbohong
Alih-alih menanyakan apakah anak lupa merapikan mainannya, nyatakan apa yang sudah Bunda ketahui sebagai kebenaran.
Misalnya, katakan 'Bunda melihat masih banyak mainan di lantai. Yuk, tolong bantu Bunda membereskan dan menyimpannya'.
2. Jadilah teladan yang baik
Tugas orang tua adalah menjadi teladan dalam berbagai hal, termasuk kejujuran dan rasa percaya. Jadikan kejujuran sebagai prinsip utama, dan cobalah menghindari mengatakan kebohongan di depan anak.
Sebagai contoh, jika anak akan menerima vaksin, jangan mengatakan bahwa suntikannya tidak akan sakit.
Selain itu, upayakan untuk selalu menepati janji. Apabila dalam momen tertentu memang tidak bisa, segera minta maaf karena telah mengingkari janji.
3. Ciptakan lingkungan yang hangat dan bangun rasa percaya
Anak-anak mungkin khawatir rasa sayang Bunda akan berkurang ketika melakukan kesalahan. Jelaskan bahwa Bunda akan selalu mencintai mereka apa pun yang terjadi, termasuk saat mereka melakukan hal yang salah.
Jadi, tak ada alasan lagi bagi anak untuk berbohong, terutama untuk menutup-nutupi kesalahannya.
Itulah ulasan tentang alasan anak usia 3 tahun ke atas mulai sering berbohong dan bagaimana cara menghadapinya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Kesalahan Parenting Tanpa Sadar Bisa Bikin Anak Jadi Pembohong
Parenting
10 Penyebab Anak Suka Berbohong dan Cara Mengatasinya
Parenting
6 Langkah Hadapi Anak Tak Jujur, Jangan Langsung Cap Pembohong
Parenting
4 Alasan Anak Kecil Suka Berbohong, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Bunda Perlu Tahu, Pentingnya Mengajarkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Erdark
7 Nilai Penting untuk Diajarkan ke Anak
7 Ciri Awal Perilaku Psikopat pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
60 Contoh Norma Agama dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Diajarkan ke Anak