
parenting
Mengenal Tempramental pada Bayi dan Anak dari Ciri, Penyebab, Beserta Cara Mengatasinya
HaiBunda
Sabtu, 30 Aug 2025 22:30 WIB

Daftar Isi
Setiap anak terlahir dengan karakteristik unik yang mempengaruhi cara merespons dunia di sekitarnya. Sejak usia sangat dini, bayi dan anak menunjukkan perbedaan dalam perilaku, reaksi terhadap rangsangan, serta cara mereka menyesuaikan diri dengan perubahan.
Dengan perbedaan ini bukan semata hasil dari pola asuh, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat bawaan yang disebut temperamen. Hal itu mencerminkan kecenderungan alami dalam cara anak berinteraksi dengan lingkungan, dan menjadi dasar awal bagi pembentukan kepribadian di masa mendatang.
Meski tidak bisa diubah sepenuhnya, pemahaman yang tepat tentang temperamen dapat membantu orang tua dan pengasuh menyesuaikan pendekatan dalam merawat dan mendidik anak. Sering kali, anak yang dianggap sulit diatur atau berperilaku berbeda sebenarnya menunjukkan pola temperamen tertentu yang belum sepenuhnya dipahami oleh lingkungan sekitarnya.
Tanpa pemahaman yang memadai, respons terhadap perilaku anak justru bisa memperkuat dinamika yang menantang, alih-alih membantu anak beradaptasi. Dengan begitu, Bunda perlu mengenali bahwa reaksi anak bukanlah sekadar bentuk pembangkangan atau kurangnya pengendalian diri.
Psikoterapis Amy Morin, LCSW juga sempat mengatakan bahwa anak-anak dengan karakteristik temperamen sering terlihat sejak dini. Namun, harus diingat ya bahwa anak yang berkemauan keras ini tidak sama dengan 'anak nakal'.
Penyebab sifat tempramental
Pada dasarnya, sifat temperamental pada anak dapat dipengaruhi dan bahkan dipicu oleh berbagai faktor dari lingkungan sekitarnya, baik yang bersifat fisik, sosial, maupun emosional. Dalam memahami hal ini lebih lanjut, berikut penjelasan lengkapnya.
1. Genetik
Secara umum, bayi yang menunjukkan sifat temperamental sejak usia dini cenderung memiliki kecenderungan bawaan yang bersifat genetik, bahkan sebelum mereka lahir. Faktor keturunan ini sangat berperan dalam membentuk pola dasar perilaku dan reaksi mereka terhadap lingkungan.
Menurut sebuah penelitian yang dikutip dari Verywell Mind, diperkirakan antara 20-60 persen dari karakteristik temperamen seorang anak dapat ditelusuri kembali ke faktor genetik yang diwariskan dari generasi sebelumnya, termasuk dari kakek dan neneknya.Â
2. Lingkungan
Lingkungan sekitar juga berperan dalam membentuk atau memodifikasi temperamen tersebut. Pengalaman masa kecil, pola interaksi dengan orang tua, dan kondisi emosional di rumah dapat memperkuat atau mengubah kecenderungan bawaan anak.
Dengan lingkungan yang aman dan suportif dapat membantu anak menyesuaikan diri lebih baik, sementara situasi yang penuh tekanan bisa memengaruhi perkembangan pola temperamennya secara signifikan.
3. Perkembangan individu
Kepribadian seseorang cenderung lebih mudah mengalami perubahan dibandingkan dengan temperamen seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pengalaman hidup. Tak jarang seorang anak yang awalnya introvert berkembang menjadi ekstrovert saat dewasa.
Bahkan, penelitian menunjukkan adanya pola perubahan dalam sifat-sifat kepribadian sepanjang hidup seseorang, dikutip dari Verywell Mind. Hal ini juga berkaitan dengan perkembangan sikap temperamental seseorang, yang sebelumnya tidak menunjukkan indikasi tersebut, namun berkembang akibat beberapa pemicu tertentu.
Sebagai contoh, di Amerika Serikat, tingkat neurotisisme dan ekstroversi cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Sementara sifat ramah meningkat, dan kehati-hatian biasanya naik hingga usia paruh baya sebelum menurun di usia lanjut.
Sifat tempramental yang dapat dikenali pada anak
Mengutip Verywell Mind, terdapat ciri-ciri sifat tempramental pada anak-anak. Berikut di antaranya:
1. Sanguin
Seseorang yang terindikasi sanguin biasanya ekstrovert dan mudah bergaul. Dikenal juga sebagai orang-orang yang ceria serta melihat gelas setengah penuh, alih-alih setengah kosong.
Hal ini kemungkinan besar akan menemukan orang-orang sanguin di tengah keramaian. Dengan interaksi sosial yang mudah dijangkau, sehingga mereka terlihat banyak bicara dan energik.
2. Kolerik
Kolerik umumnya dipandang sebagai sosok yang dominan dan tegas. Dengan sifat temperamennya, mereka cenderung berorientasi pada tujuan serta penuh semangat. Biasanya, tipe ini mampu meraih prestasi tinggi di lingkungan kerja, sekolah, maupun dalam permainan.
Melalui karakter tersebut juga erat hubungannya dengan kemampuan menjadi pemimpin tim. Berbeda dengan sanguinis, individu kolerik dikenal tegas namun sering kali kurang sabar dan keras kepala.Â
3. Phlegmatis
Secara umum, individu dengan kepribadian phlegmatis biasanya memiliki empati yang tinggi dan bersikap tenang dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga dikenal sebagai pribadi yang dapat dipercaya dan memiliki kesabaran dalam menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan konflik, karena mereka lebih memilih mencari kenyamanan.
Selain itu, orang dengan sifat phlegmatis cenderung tidak mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Mereka lebih pasif dan tidak menunjukkan reaksi emosional yang kuat terhadap suatu peristiwa atau situasi.Â
4. Melankolis
Dengan kepribadian melankolis cenderung memiliki masa lalu yang suram atau kurang membahagiakan, namun mereka sebenarnya menyimpan banyak hal yang dapat diekspresikan. Meskipun cenderung pendiam, orang dengan temperamen ini umumnya bijak dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Mereka juga dikenal sebagai pribadi yang analitis dan teratur, terutama dalam konteks pekerjaan. Dengan begitu, tipe melankolis biasanya lebih memilih bekerja secara mandiri dan kurang cocok dalam kerja tim. Di sisi lain, mereka bisa menjadi mudah murung atau cemas ketika situasi tidak berjalan sesuai harapan mereka.Â
Bagaimana jika Bayi punya sifat tempramental?
Bayi pastinya belum menunjukkan sifat tempramental secara jelas dengan ciri-ciri atau karakteristiknya. Temperamental biasanya dapat terlihat ketika bayi mulai terlihat saat menunjukkan karakteristik secara berkelanjutan, seperti tantrum pada jam-jam tertentu.
Mengutip dari About Kids Health, jika bayi memiliki sifat tempramental, Bunda dapat membantunya untuk mengatur emosi serta menghargai sinyal komunikasinya. Selain itu, Bunda juga dapat merespon dengan menenangkan saat bayi merasa tertekan atau saat terlalu bersemangat.Â
Cara Mengatasi Sifat Tempramental saat Anak Bertambah Dewasa
Saat anak bertambah dewasa pastinya mereka akan mencoba untuk mengendalikan diri dengan strategi yang efektif dan efisien untuk mengatasi situasi. Bunda juga dapat mendukung dengan beberapa kiat yang disebutkan oleh spesialis perkembangan anak Dr. Sarah Landy dalam buku Pathways to Competence yang dikutip dari About Kids Health. Simak selengkapnya.
1. Tingkat aktivitas
- Beri anak aktif kesempatan bergerak (lari, lompat, panjat).
- Selingi dengan aktivitas tenang (menggambar, menggunting).
- Ajarkan mereka bergerak perlahan dan mengekspresikan diri dengan kata-kata.
- Tetapkan batasan dan rutinitas yang konsisten.
- Untuk anak kurang aktif, beri waktu dan dorongan untuk menyelesaikan tugas, serta latih koordinasi.
2. Ritmisitas (Keteraturan)
- Untuk anak yang teratur, jaga rutinitas harian dan beri pemberitahuan sebelum perubahan.
- Untuk anak yang tidak teratur, tetapkan aturan sosial dan jadwal harian yang konsisten.
- Bantu mereka membangun kebiasaan dan rutinitas secara bertahap.
3. Pendekatan/Penarikan terhadap Hal Baru
- Dukung anak yang sulit menerima hal baru dengan persiapan imajinatif dan penguatan positif.
- Ajari mereka cara bersosialisasi, misalnya dengan mengajak bermain teman baru.
- Awasi anak yang terlalu mudah masuk ke situasi baru agar tetap aman dan ajari batasan perilaku.
4. Kemampuan Beradaptasi
- Bantu anak yang sulit beradaptasi dengan pengenalan bertahap terhadap perubahan dan rutinitas yang bisa diprediksi.
- Hindari perubahan mendadak atau tekanan ekstrem.
- Puji anak yang mudah beradaptasi dan pastikan mereka tetap merasa aman.
5. Kepekaan
- Untuk anak sangat sensitif, hindari pemicu dan bantu mereka menenangkan diri dengan teknik seperti pernapasan dalam.
- Ajarkan mereka mengekspresikan perasaan dengan kata-kata.
- Untuk anak yang kurang sensitif, bantu mereka mengenali dan merespons situasi sosial dan sensorik secara tepat.
6. Intensitas Reaksi
- Tanggapi reaksi intens dengan tenang dan konsisten.
- Perhatikan tanda-tanda sebelum tantrum dan gunakan teknik menenangkan.
- Untuk anak yang reaksinya ringan, tetap dengarkan dan dorong mereka mengekspresikan perasaan.
7. Mudah Teralihkan
- Untuk anak yang mudah terdistraksi, sediakan lingkungan yang minim gangguan dan beri arahan jelas.
- Tetapkan waktu fokus dan waktu istirahat.
- Untuk anak yang terlalu fokus, beri peringatan saat transisi dan libatkan mereka dalam kegiatan sosial.
8. Rentang Perhatian/Kegigihan
- Bantu anak yang sulit fokus dengan pendekatan multisensori dan dukungan langsung.
- Beri tugas singkat dan konsisten dengan jeda istirahat.
- Untuk anak yang sangat gigih, beri pujian, tetapkan aturan jelas, dan ajari mereka memperkirakan waktu.
9. Kualitas Suasana Hati
- Anak dengan suasana hati negatif dibantu untuk melihat sisi positif dan mengekspresikan emosi secara sehat.
- Beri waktu untuk menenangkan diri dan dorong aktivitas yang menyenangkan.
- Anak yang ceria tetap perlu diajari kehati-hatian dan perlindungan diri.
Itulah ulasan tentang mengenal tempramen pada bayi dan anak dengan ciri, penyebab, beserta cara mengatasinya. Semoga bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT

Parenting
9 Penyebab Anak Temperamen, Jenis, Pola Asuh yang Tepat & Cara Mengatasinya

Parenting
Benarkah Unyeng-Unyeng Kepala Lebih Dari Satu Tanda Anak Keras Kepala?

Parenting
8 Keistimewaan Bayi yang Lahir di Bulan September, Berprestasi & Penyayang

Parenting
7 Karakteristik Anak Temperamen yang Bisa Dilihat Sejak Dini

Parenting
7 Cara Menangani Anak Keras Kepala dan Suka Melawan Orang Tua


5 Foto
Parenting
Bikin Gemas! Ini 5 Potret Terbaru Hamish Daud dan Sang Putri Zalina
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda