Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Masih Menikah tapi Tak Lagi Saling Peduli, Waspadai Fenomena Silent Divorce

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Minggu, 08 Nov 2026 18:20 WIB

Divorce. Asian couples are desperate and disappointed after marriage. Husband and wife are sad, upset and frustrated after quarrels. distrust, love problems, betrayals. family problem, teenage love
Ilustrasi silent divorce / Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi

Bunda merasa belakangan hubungan pernikahan terasa hambar? Waspada fenomena silent divorce.

Pernikahan tidak selalu berakhir dengan pertengkaran hebat, perselingkuhan, atau keputusan untuk berpisah secara hukum. Ada kalanya hubungan suami istri justru perlahan kehilangan kehangatan tanpa disadari.

Keduanya masih tinggal di rumah yang sama, menjalankan tanggung jawab sebagai orangtua, dan terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga maupun lingkungan sekitar. Namun di balik itu, kedekatan emosional yang dahulu menjadi pondasi pernikahan mulai memudar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kondisi tersebut dikenal dengan istilah silent divorce atau perceraian diam-diam. Fenomena ini menggambarkan pasangan yang secara hukum masih terikat pernikahan, namun sudah tidak memiliki hubungan emosional yang kuat.

Interaksi mereka lebih banyak berkisar pada urusan rumah tangga, anak, pekerjaan, dan keuangan. Tidak ada lagi keinginan untuk saling mengenal lebih dalam, berbagi cerita, atau membangun keintiman seperti sebelumnya.

Meski tidak selalu berujung pada perceraian resmi, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Hubungan yang terus berjalan tanpa keterikatan emosional dapat menimbulkan kesepian, kekecewaan, hingga persoalan kesehatan mental bagi pasangan maupun anak-anak.

Mengutip CNN International dan Psychology Today, berikut penjelasan selengkapnya mengenai fenomena silent divorce.

Apa itu silent divorce?

Silent divorce merupakan kondisi ketika pasangan belum cerai, namun sudah mengalami jarak emosional yang cukup besar. Silent divorce adalah kondisi ketika Bunda tidak berpisah secara hukum, tapi secara emosional, mental, dan sampai batas tertentu secara fisik, Bunda sudah menjauh dari pasangan.

Kondisi ini sering kali dialami oleh masing-masing pasangan tanpa benar-benar dibicarakan bersama. Pernikahan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Jika tidak dirawat, hubungan dapat mengalami keterputusan emosional hingga suami dan istri tidak lagi memiliki keselarasan.

Tanda-tanda pasangan mengalami silent divorce

Lisa Lavelle, pekerja sosial klinis berlisensi, psikoterapis, sekaligus terapis pasangan di New York, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ia sering menemui pasangan yang terlihat baik-baik saja dari luar, namun sebenarnya mengalami keterputusan emosional. Berikut beberapa tanda yang patut diperhatikan.

1. Terasa seperti teman serumah bukan pasangan

Salah satu tanda paling jelas dari silent divorce adalah perubahan hubungan suami istri menjadi seperti dua orang yang sekadar berbagi tempat tinggal. Keduanya mungkin tetap menjalankan peran sebagai Ayah dan Bunda dengan baik.

Mereka bekerja sama mengurus anak, mengatur kebutuhan rumah, hingga menghadiri acara keluarga. Namun hubungan romantis sebagai pasangan perlahan kehilangan tempat.

“Salah satu tanda awal yang biasanya saya lihat ketika pasangan berada di ambang atau sedang mengalami silent divorce ketika mereka lebih terasa seperti teman serumah daripada pasangan romantis. Fokusnya hanya menjadi Ayah dan Bunda, bukan lagi suami dan istri atau pasangan,” ujar Lavelle.

2. Waktu berdua semakin berkurang

Dalam pernikahan yang sehat, meluangkan waktu bersama menjadi salah satu cara untuk menjaga kedekatan. Pasangan biasanya masih memiliki keinginan untuk berkencan, berbincang santai, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan berdua.

Dalam silent divorce, keinginan tersebut bisa menghilang. Suami dan istri tidak lagi tertarik menyediakan waktu khusus satu sama lain. Interaksi mereka lebih banyak terjadi karena ada kewajiban yang harus diselesaikan bersama, seperti mengantar anak atau menghadiri acara keluarga.

Hal ini berbeda dengan pasangan yang sekadar sibuk karena pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari. Dalam silent divorce, persoalannya bukan hanya keterbatasan waktu, melainkan berkurangnya keinginan untuk membangun kembali kedekatan.

3. Komunikasi hanya seputar rumah tangga

Apakah percakapan dengan pasangan belakangan hanya berkisar pada siapa yang menjemput anak, tagihan yang harus dibayar, atau menu makan malam?

Komunikasi yang semakin bersifat praktis bisa menjadi tanda hubungan mulai kehilangan kedalaman emosional. Pasangan tidak lagi menunjukkan rasa ingin tahu tentang kehidupan, perasaan, maupun pengalaman satu sama lain.

Pembicaraan mengenai hal-hal pribadi juga semakin jarang dilakukan. Bahkan topik yang berpotensi memunculkan ketidaknyamanan atau perbedaan pendapat cenderung dihindari.

Pasangan dalam kondisi ini masih bisa membicarakan kebutuhan sehari-hari, tapi tidak lagi membahas hal-hal bermakna yang membutuhkan keterbukaan dan kerentanan emosional.

4. Tidak bertengkar tapi tak memperbaiki hubungan

Tidak adanya pertengkaran memang sering dianggap sebagai tanda rumah tangga yang harmonis. Namun dalam kondisi tertentu, suasana yang terlalu tenang justru bisa menunjukkan bahwa pasangan sudah tidak lagi tertarik memperjuangkan hubungan.

Konselor profesional berlisensi Justin Ho, menjelaskan bahwa pertengkaran dalam hubungan sebenarnya dapat menjadi cara pasangan menyampaikan ketidaksetujuan dan berusaha membuat satu sama lain memahami sudut pandangnya.

“Meski terlihat tidak berfungsi dengan baik, pertengkaran sering kali menunjukkan bahwa kita sedang memiliki perbedaan pendapat, tidak berada di pemahaman yang sama, dan sedang berusaha membantu pasangan mengerti sudut pandang kita,” kata Ho.

5. Menjalani kehidupan masing-masing

Pasangan yang memiliki hobi, teman, dan aktivitas berbeda sebenarnya tidak selalu bermasalah. Punya ruang pribadi justru bisa menjadi bagian dari hubungan yang sehat. Namun situasinya berbeda jika masing-masing mulai membangun kehidupan sendiri tanpa lagi melibatkan pasangan secara emosional.

Dalam kondisi ini, teman, hobi baru, bahkan perangkat elektronik bisa menjadi tempat mencari perhatian dan kenyamanan emosional yang tidak lagi diperoleh dari pasangan.

6. Tidak lagi punya tujuan bersama

Pernikahan umumnya dibangun dengan harapan untuk tumbuh dan berkembang bersama. Pasangan memiliki rencana, cita-cita, serta gambaran mengenai masa depan yang ingin diwujudkan berdua.

Ketika hubungan mulai mengalami keterpurukan emosional, tujuan bersama bisa semakin memudar. Salah satu atau kedua pasangan mungkin tidak lagi membayangkan masa depan dengan keterlibatan satu sama lain.

Ketidakmampuan melihat diri sendiri tumbuh dan berkembang bersama pasangan dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa hubungan sedang menuju silent divorce.

7. Keintiman fisik semakin memudar

Berkurangnya keintiman fisik juga dapat menjadi tanda adanya masalah dalam hubungan. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan frekuensi hubungan seksual, tetapi juga sentuhan sederhana yang sebelumnya menjadi kebiasaan.

Hilangnya keintiman fisik secara berkepanjangan sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Meski demikian, kondisi ini perlu dilihat secara menyeluruh. Pasalnya, tidak semua pasangan yang tidur di kamar terpisah atau jarang melakukan hubungan seksual sedang mengalami silent divorce.

8. Menghindari percakapan mendalam

Pasangan dalam silent divorce cenderung menghindari pembicaraan yang menyangkut perasaan, kekecewaan, maupun persoalan yang belum terselesaikan. Bukannya membicarakan masalah pengasuhan anak, keuangan, atau hubungan dengan keluarga besar, mereka memilih menyimpan semuanya sendiri.

Persoalan yang terus disembunyikan dapat memunculkan rasa kesal dan kecewa. Ketika salah satu pihak merasa tidak didengar, keinginan untuk berusaha memperbaiki hubungan pun bisa semakin berkurang.

Dampak silence divorce bagi suami, istri, dan anak

Silent divorce dalam pernikahan bisa memunculkan berbagai perasaan negatif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan. Sering kali, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi depresi atau kecemasan dan dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Dampak silent divorce juga dapat dirasakan anak-anak. Anak bisa terdampak ketika melihat kedua orang tuanya tidak lagi memiliki hubungan yang harmonis. Selain itu suasana hubungan orang tua dapat memengaruhi perasaan anak.

Bagaimana mengatasi silent divorce?

Jika mulai menyadari adanya jarak emosional dalam pernikahan, Bunda dan suami disarankan untuk membuka percakapan secara jujur. “Tanyakan kepada pasangan, 'Apakah kamu juga menyadari hal yang sama?' Kemudian, cobalah untuk benar-benar menyelaraskan kembali pemahaman kalian saat itu,” saran Ho.

Sementara itu, Lavelle mengingatkan bahwa persoalan yang terus dipendam dapat memperburuk hubungan. Rasa kesal terkait pengasuhan anak, keuangan, maupun persoalan keluarga mertua yang terus disembunyikan dan tidak dibicarakan biasanya membuat setidaknya salah satu pihak mulai menyimpan kekecewaan terhadap pasangannya. Akibatnya, mereka tidak lagi ingin berusaha lebih keras dalam hubungan.

Menurutnya, bantuan terapi pasangan juga bisa dipertimbangkan. Terapi membantu pasangan membicarakan hal-hal yang selama ini tidak terucapkan atau sulit dibicarakan sehingga mereka bisa mengambil keputusan lebih matang mengenai hubungan mereka.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda