moms-life
Studi Ungkap Perempuan Cerdas Lebih Sering Dinilai Negatif di Tempat Kerja
HaiBunda
Selasa, 03 Nov 2026 18:30 WIB
Daftar Isi
Kenapa ya perempuan cerdas justru lebih sering dinilai negatif di tempat kerja? Mari simak kata studi soal hal ini.
Punya kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis menjadi modal penting untuk membangun karier. Perempuan yang mampu menganalisis persoalan dengan cepat, memberikan ide cemerlang, hingga menemukan solusi atas masalah pekerjaan umumnya diharapkan mendapat apresiasi dari rekan kerja.
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kemampuan intelektual tinggi ternyata tidak selalu mendatangkan respon positif, terutama bagi perempuan di lingkungan profesional. Studi mengungkap adanya perbedaan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki dengan tingkat kecerdasan yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang memiliki kemampuan kognitif tinggi justru lebih berisiko dipandang negatif, mendapatkan dukungan lebih sedikit, hingga mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari rekan kerja. Sebaliknya, pria dengan kemampuan serupa cenderung tidak menghadapi konsekuensi sosial yang sama.
"Selama ini, kita cenderung menganggap kecerdasan sebagai kualitas yang selalu membawa dampak positif di lingkungan kerja. Namun penelitian kami menunjukkan bahwa kecerdasan dapat menimbulkan konsekuensi interpersonal yang sangat berbeda bagi perempuan dan laki-laki," ujar penulis utama penelitian, Dr. Nitya Chawla dilansir dari Daily Mail.
Temuan ini kembali menyoroti bagaimana stereotip gender masih dapat memengaruhi hubungan antarpegawai di dunia kerja. Mari bahas mengenai stigma perempuan cerdas di lingkungan kerja menurut pakar.
Perempuan cerdas lebih rentan dengan penilaian negatif
Penelitian berjudul Understanding the Intersection of Gender and Cognitive Ability on Interpersonal Outcomes: A Multistudy Investigation yang diterbitkan pada 18 Mei 2026 dalam Journal of Applied Psychology ini melibatkan 826 orang dari 140 kelompok kerja.
Para peneliti meminta peserta menjalani tes kemampuan kognitif. Mereka juga mengumpulkan penilaian mengenai hubungan antarpegawai, termasuk persepsi terhadap sikap rekan kerja, dukungan yang diterima, serta pengalaman perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan profesional.
Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan dengan kemampuan intelektual tinggi lebih sering dianggap memiliki sikap bermusuhan atau kurang ramah. Mereka juga cenderung mendapatkan bantuan lebih sedikit dari rekan satu tim dan melaporkan pengalaman buruk yang lebih banyak di tempat kerja.
Sementara itu, laki-laki dengan kemampuan kognitif setara tidak menunjukkan pola serupa. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka justru memperoleh dukungan lebih besar dari rekan-rekannya.
Dr. Nitya Chawla menjelaskan bahwa kecerdasan selama ini sering dipandang sebagai kualitas positif dalam dunia profesional. Namun hasil penelitian mereka memperlihatkan bahwa kemampuan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi sosial yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki.
Stereotip gender masih mempengaruhinya
Salah satu penjelasan yang diajukan peneliti berkaitan dengan ekspektasi sosial terhadap perempuan. Dalam lingkungan kerja, perempuan sering kali diharapkan memiliki karakter hangat, kooperatif, mudah diajak bekerja sama, dan memperhatikan kebutuhan orang lain.
Ketika seorang perempuan memperlihatkan kemampuan analisis yang kuat, berani menyampaikan pendapat, atau menonjol karena kompetensinya, orang lain bisa saja menilainya sebagai pribadi yang kurang ramah atau sulit didekati. Padahal kemampuan berpikir kritis dan ketegasan dalam mengambil keputusan tidak menunjukkan bahwa seseorang memiliki sikap buruk.
"Temuan kami menunjukkan bahwa stereotip gender berperan dalam membentuk cara orang memaknai kecerdasan. Ketika perempuan memiliki kecerdasan tinggi, mereka secara otomatis juga dipersepsikan kurang hangat dan lebih bermusuhan. Sementara itu, laki-laki tidak menghadapi beban persepsi yang sama," ucap Dr. Chawla.
Dengan kata lain, kualitas sama bisa menghasilkan kesan berbeda bergantung pada siapa yang memilikinya. Laki-laki yang kompeten lebih mudah mendapatkan pengakuan atas kemampuannya, sedangkan perempuan terkadang merasa harus membuktikan bahwa dirinya tidak hanya pintar, tapi juga menyenangkan dan mudah diajak bekerja sama.
Perlakuan tidak adil bisa terjadi pada perempuan di tempat kerja
Diskriminasi terhadap perempuan cerdas di tempat kerja tidak selalu ditunjukkan melalui komentar kasar atau kritik terbuka terhadap kemampuan mereka. Bentuknya justru bisa muncul dalam interaksi sehari-hari yang terlihat sepele, seperti tidak dilibatkan dalam obrolan informal, jarang dimintai pendapat, tak mendapatkan bantuan ketika menghadapi kesulitan, atau kurang memperoleh dukungan dari rekan satu tim.
Jika terus berulang, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kenyamanan seseorang dalam bekerja sekaligus menghambat perkembangan kariernya. Seseorang yang tidak memperoleh informasi, bantuan, dan kerja sama secara memadai tentu akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menyelesaikan tugas.
"Pengalaman interpersonal ini sering kali tidak hanya terjadi dalam satu interaksi. Sebaliknya, perlakuan tersebut cenderung berulang sehingga memengaruhi rasa memiliki perempuan di lingkungan kerja, akses mereka terhadap sumber daya, serta kemampuan untuk berkembang secara profesional," tambah Dr. Chawla.
Penelitian sebelumnya temukan fenomena serupa
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian lain yang diterbitkan pada 2024. Studi itu meneliti hubungan antara persepsi kecerdasan luar biasa atau brilliance dengan ekspektasi tradisional terhadap karakter feminin.
Penelitian tersebut melibatkan 920 peserta dalam empat eksperimen yang telah dirancang sebelumnya. Hasilnya memberikan bukti bahwa perempuan yang dianggap sangat cerdas berpotensi menghadapi konsekuensi sosial, termasuk penilaian negatif dalam evaluasi yang berkaitan dengan pekerjaan.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan berkemampuan tinggi bukan semata-mata berkaitan dengan interaksi di satu kantor atau kelompok kerja tertentu. Stereotip mengenai bagaimana perempuan seharusnya bersikap juga dapat memengaruhi cara lingkungan menilai kecerdasan dan kompetensi mereka.
Meski demikian, temuan dari kedua penelitian tidak berarti semua perempuan cerdas pasti mengalami perlakuan buruk atau semua laki-laki selalu mendapatkan keuntungan di tempat kerja.
Perusahaan perlu menerapkan penilaian yang lebih adil
Peneliti menilai perusahaan perlu mengevaluasi kembali cara mereka mengukur kualitas karyawan, terutama ketika menyangkut kemampuan bekerja sama, keramahan, dan kompetensi profesional. Jika perempuan harus membuktikan kecerdasan sekaligus keramahan, sementara laki-laki cukup dinilai berdasarkan kemampuan kerjanya, proses evaluasi karyawan berisiko menerapkan standar yang berbeda berdasarkan gender.
Hasil penelitian ini juga bukan berarti perempuan harus menyembunyikan kecerdasan, mengurangi ketegasan, atau mengubah cara menyampaikan pendapat agar diterima rekan kerja. Sebaliknya, perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap karyawan mendapatkan apresiasi berdasarkan kemampuan dan kontribusinya.
Penilaian terhadap kompetensi seharusnya tidak dipengaruhi ekspektasi gender mengenai bagaimana seorang perempuan atau laki-laki semestinya bersikap. Penelitian yang melibatkan 826 orang dari 140 kelompok kerja ini memang belum bisa menggambarkan kondisi seluruh perusahaan dan industri. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana pola tersebut terjadi di berbagai bidang pekerjaan dan budaya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Cerita Paula Verhoeven Bangun Karier Modeling, Berawal dari Minder karena Tinggi Badan
Mom's Life
5 Keahlian yang Banyak Dibutuhkan di Dunia Kerja, Bergaji Tinggi & Anti Nganggur
Mom's Life
Apa itu Quiet Cutting Modus Baru PHK Karyawan & Tips Menghadapinya
Mom's Life
5 Tanda Bunda Tak Disukai Atasan dan Cara Menghadapinya, Jangan Langsung Resign!
Mom's Life
10 Tips Bekerja Sambil Urus Anak yang Minim Stres, Dicoba ya Bun
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Anak Artis Tinggal di Luar Negeri di Usia Muda, Ada yang Berkarier di AS
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Kepribadian Karyawan Berdasarkan Kondisi Meja Kerja
Beban Kerja Makin Berat, 61% Pekerja Harus Kerjakan Tugas di Luar Job Desc
Ratusan Warga Berebut Lowongan Gembala Domba, Bayarannya Rp21 Juta per Bulan