moms-life
Sejarah Pembalut dari Masa ke Masa, dari Kain hingga Produk Menstruasi Modern
HaiBunda
Kamis, 29 Oct 2026 22:00 WIB
Daftar Isi
Pembalut merupakan produk kebersihan yang digunakan untuk menyerap darah menstruasi atau cairan tubuh lain yang keluar dari organ intim perempuan. Baru-baru ini, produk pembalut tengah ramai dibahas di media sosial Tanah Air lantaran dikenakan pajak, Bunda
Banyak netizen mempertanyakan alasan kebijakan tersebut. Pasalnya, produk ini merupakan kebutuhan dasar perempuan yang sangat diperlukan untuk menghadapi masa menstruasi.
Menurut Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Inge Diana Rismawanti, selama ini pembalut yang diperdagangkan di Indonesia memang merupakan barang kena pajak (BKP). Pembeliannya dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sepanjang memenuhi ketentuan perpajakan yang berlaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada prinsipnya, pembalut yang diperdagangkan di Indonesia merupakan Barang Kena Pajak (BKP) yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sepanjang penyerahannya memenuhi ketentuan perpajakan yang berlaku," kata Inge kepada detikcom, Kamis (29/10/26).
Nah, untuk barang non-mewah, tarif PPN-nya adalah 12 persen dengan dasar pengenaan pajak berupa nilai lain sebesar 11/12 dari harga jual. Dengan demikian, beban PPN efektifnya tetap setara dengan 11 persen. Inge mengatakan bahwa secara ketentuan, fasilitas pembebasan PPN diberikan untuk jenis barang tertentu yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
"Pembalut belum termasuk dalam kelompok barang yang memperoleh fasilitas pembebasan tersebut," ungkap Inge, dilansir detikcom.
"Perlu kami tegaskan bahwa pengenaan PPN atas pembalut bukan merupakan pajak yang secara khusus dikenakan kepada perempuan atau atas menstruasi, melainkan bagian dari sistem PPN yang berlaku atas konsumsi barang sesuai dengan ketentuan perpajakan," sambungnya.
Penggunaan pembalut menjadi penting bagi perempuan karena dapat membantu menjaga kebersihan area kewanitaan. Tak hanya itu, pembalut juga bisa mengurangi risiko darah menstruasi merembes ke pakaian, serta memberikan rasa aman dan nyaman selama melakukan aktivitas.
Pembalut sendiri telah mengalami perkembangan panjang seiring dengan perubahan kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi, Bunda. Pada masa lalu, perempuan menggunakan bahan-bahan sederhana dari lingkungan sekitar untuk dipakai sebagai pembalut 'alami'. Seiring perkembangan zaman, pembalut mengalami inovasi yang memudahkan perempuan memakainya dengan nyaman.
Lantas, seperti apa sejarah pembalut dari masa ke masa? Simak penjelasan dari Bubun berikut ini ya!
Sejarah pembalut dari masa ke masa
Tahukah Bunda, sebelum produk menstruasi diproduksi massal pada awal tahun 1900-an, sebagian besar perempuan mencuci dan menggunakan kembali pembalut kain buatan sendiri, atau dikenal sebagai pembalut sanitasi. Perempuan menggunakan peniti untuk menempelkan pembalut ini ke pakaian dalam atau sabuk menstruasi, yang membantu menahan pembalut agar tetap di tempatnya.
Melansir dari laman Victoria and Albert Museum London, penggunaan produk perawatan menstruasi sebenarnya telah ada sejak berabad-abad. Di Yunani kuno, serat yang dililitkan pada kayu digunakan sebagai tampon dan lumut serta kulit kerbau digunakan sebagai pembalut oleh penduduk asli Amerika.
Pada abad ke-18 dan ke-19, perempuan di Eropa menggunakan kain tenun atau flanel untuk membuat pembalut kain buatan sendiri. Pembalut ini dapat dicuci dan digunakan kembali. Meski ekonomis, penggunaan kain ini masih dari kata 'higienis'.
Produk perawatan menstruasi sempat dipandang negatif
Penggunaan produk perawatan menstruasi sempat dianggap negatif, Bunda. Dahulu, muncul stigma yang menganggap tabu menstruasi.
Teks medis Mesir kuno menyatakan bahwa darah menstruasi dapat digunakan sebagai salep untuk pengobatan kesehatan. Di sisi lain, ensiklopedia Latin pertama dari tahun 73 Masehi menyatakan bahwa 'mencicipinya membuat binatang peliharaan menjadi gila, dapat menginfeksi, dan tidak dapat disembuhkan'.
Pada abad ke-19, asosiasi negatif terkait menstruasi disebarluaskan, bahkan oleh para profesional medis. Sebuah publikasi tahun 1811 berjudul The Principles of Midwifery, yang ditulis oleh Dr. John Burns, menyatakan bahwa menstruasi 'harus dianggap sebagai penyakit'.
Stigma tersebut lantas berdampak negatif pada kehidupan perempuan, sehingga produk menstruasi pun tidak mudah diiklankan. Perempuan dahulu bahkan enggan terlihat membeli produk ini, Bunda.
Pembalut pertama yang dijual secara komersial
Pada tahun 1896, Johnson & Johnson merilis Lister's Towels, yang juga dikenal sebagai 'pembalut perempuan'. Produk yang terbuat dari katun dan kain kasa ini kemungkinan besar merupakan pembalut sekali pakai pertama yang dijual secara komersial.
Pembalut tersebut juga diikatkan pada sabuk sanitasi, yang terbuat dari anyaman elastis dengan dua klip atau tempat pembalut yang dapat dicuci dan diikatkan.
Pada tahun 1894, produsen pembalut di Inggris, Southalls, memasang iklan di The Antiquary, sebuah majalah untuk mempelajari masa lalu, yang ditujukan kepada para perempuan yang suka traveling jalur darat dan laut. Di tahun yang sama, Southalls juga merilis iklan yang menyatakan pembalut perempuan buatan mereka sebagai 'penemuan terbesar abad ini untuk kenyamanan perempuan'.
Sementara menurut ulasan di laman National Museum of American History, munculnya produk menstruasi sekali pakai yang dipasarkan secara massal di Amerika Serikat (AS) terjadi setelah Perang Dunia I. Perusahaan Kimberly-Clark memproduksi perban bedah menggunakan Cellucotton yang baru dikembangkan, yaitu pengganti kapas murah yang terbuat dari bubur kayu.
Perawat di medan perang mulai menggunakan perban baru ini sebagai pembalut karena daya serapnya yang luar biasa. Setelah perang berakhir, Kimberly-Clark memperkenalkan pembalut wanita merek Kotex, yang dibuat dari persediaan Cellucotton yang berlebih.
Iklan pembalut selama tahun 1920-an dan 1930-an menekankan perlunya mengelola menstruasi secara higienis dan penggunaan produk sekali pakai yang diproduksi pabrik. Iklan juga menggambarkan pembalut dapat membantu mengubah persepsi perempuan mengenai nilai produk sekali pakai.
Pada pertengahan abad, sebagian besar perempuan telah menganggap pembalut sekali pakai sebagai suatu kebutuhan, meskipun beberapa perempuan terus menggunakan pembalut yang dapat dicuci karena kebiasaan, preferensi pribadi, atau untuk menghemat uang.
Selama paruh pertama tahun 1900-an, pembalut dijual di toko obat, toko serba ada, mesin penjual otomatis, dan pesanan melalui pos. Kemasan produk-produk ini sengaja dibuat sederhana dan menghindari teks atau gambar yang mungkin membuat pembeli malu.
Awal pembalut perekat pertama diproduksi
Hingga tahun 1970-an, pembalut masih tetap dibuat dengan menggunakan model sabuk sanitasi. Namun, pada tahun 1969, pembalut perekat pertama diperkenalkan oleh Stayfree. Hal iu membuat produk dengan sabuk sanitasi cepat kehilangan popularitasnya.
Pembalut perekat ini dapat dikenakan dengan celana dalam yang jauh lebih nyaman. Tak hanya itu, pembalut ini juga memiliki bagian tahan air dan memberikan perlindungan tambahan terhadap kebocoran saat dikenakan dengan pembalut sekali pakai.
Pada tahun 1980-an dan 1990-an, pembalut tersedia dalam berbagai ukuran, bentuk, dan daya serap, seperti pembalut maxi, pembalut mini, panty liner, pembalut ekstra panjang, pembalut untuk malam hari, dan bahkan liner untuk celana dalam thong. Tak hanya itu, banyak produsen mulai menjual pembalut ekstra tipis menggunakan bahan super penyerap atau pembalut dengan 'sayap' yang menjanjikan lebih sedikit kebocoran.
Perubahan dalam desain dan teknologi pembalut ini terjadi seiring semakin banyak perempuan mengenakan celana panjang, celana pendek, dan pakaian ketat. Para pengiklan mengklaim bahwa fitur baru pembalut 'modern' ini akan membebaskan perempuan untuk menikmati semua aktivitas.
Pembalut kain kembali populer karena isu lingkungan
Pembalut sekali pakai dengan fitur 'canggih' memang sempat mencuri perhatian. Tetapi, pembalut kain yang telah hilang tampaknya kembali meraih popularitas di tengah munculnya isu lingkungan, Bunda.
Selama tahun 1990-an, meningkatnya kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan kesehatan dari produk sekali pakai menyebabkan kebangkitan pembalut kain yang dapat digunakan kembali. Para aktivis membuat materi untuk menginstruksikan orang-orang tentang cara membuat pembalut kain mereka sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen menengah telah memperluas ketersediaan dan keragaman pembalut kain yang dapat digunakan kembali. Di berbagai e-commerce, pembalut kain ini banyak sudah banyak dijual.
Munculnya menstrual cup pernah jadi alternatif 'pembalut'
Selain pembalut kain, alternatif 'pembalut' yang dianggap ramah lingkungan adalah menstrual cup. Menstrual cup merupakan alat kecil dan fleksibel yang terbuat dari silikon atau karet kelas medis, yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menampung darah haid.
Menstrual cup ternyata sudah lama ditemukan, Bunda. Pada tahun 1937, seorang aktris, pengusaha, dan penulis Amerika bernama Leona Chalmers, mengajukan paten untuk menstrual cup pertama yang terbuat dari karet lateks. Sayangnya, tak lama setelah diluncurkan, produk ini terpaksa dihentikan karena kekurangan karet akibat perang, meski produksi dilanjutkan setelah perang berakhir.
Menstrual cup merek Mooncup lalu diciptakan pada tahun 2002 di Inggris oleh Su Hardy. Produk ini terbuat dari silikon kelas medis pertama di dunia, yang menawarkan alternatif hipoalergenik untuk produk perawatan menstruasi yang dapat digunakan kembali. Mentsrual cup ini diklaim bebas lateks, hipoalergenik, dan tidak mengandung pewarna, parfum, BPA, ftalat, plastik, pemutih, atau racun.
Demikian sejarah dari pembalut dari masa ke masa. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Aturan Waktu Ganti Pembalut Saat Haid agar Miss V Tetap Sehat
Mom's Life
Pembalut Dicuci vs Langsung Dibuang, Mana yang Lebih Baik dari Segi Kesehatan?
Mom's Life
Ramai Dijual Pembalut Reject, Amankah untuk Kesehatan Miss V? Ini Kata Dokter
Mom's Life
Pembalut Herbal Vs Pembalut Biasa, Mana yang Lebih Baik?
Mom's Life
Nggak Perlu Takut Iritasi, Kini Ada Pembalut Organik dari Yoona, Bun!
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Tips Memakai Menstrual Cup untuk Pemula
Benarkah Menggunakan Pembalut Kain Saat Haid Lebih Sehat? Ini Kata Pakar
Pembalut Dicuci vs Langsung Dibuang, Mana yang Lebih Baik dari Segi Kesehatan?