Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Cara Mengenali IQ Orang yang Suka Sharing Quotes Motivasi di Medsos

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Kamis, 29 Oct 2026 06:50 WIB

Young woman is relaxing at home in her Tokyo apartment. She is reading articles on her smartphone or replying to messages and emails. Everyday lifestyle concepts in Tokyo, Japan.
Ilustrasi cara mengenali IQ orang yang suka sharing quotes motivasi di medsos / Foto: Getty Images/lechatnoir
Daftar Isi

Bunda mungkin sering melihat orang yang gemar membagikan quotes motivasi atau kata-kata bijak di media sosial. Unggahan tersebut biasanya berisi pesan tentang kehidupan, kesuksesan, hingga cara menghadapi masalah.

Namun, tahukah Bunda bahwa ketertarikan seseorang terhadap kutipan yang terdengar mendalam, tetapi sebenarnya tidak memiliki makna jelas, pernah dikaitkan dengan kemampuan kognitif dalam sebuah penelitian?

Penelitian tersebut menemukan hubungan antara kecenderungan seseorang menganggap kalimat yang terdengar bijaksana sebagai sesuatu yang mendalam dan tingkat kemampuan kognitifnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Penasaran, bagaimana cara mengenali IQ orang yang suka sharing quotes motivasi di medsos berdasarkan penelitian tersebut? Yuk, Bunda, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

Cara mengenali IQ orang yang suka sharing quotes motivasi di medsos

Mengutip laman The Telegraph dan CBS News berikut beberapa cara untuk mengenali IQ orang yang suka sharing quotes motivasi di media sosial.

1. Cenderung menganggap kalimat samar sebagai sesuatu yang mendalam

Salah satu temuan penelitian yang diterbitkan oleh Gordon Pennycook dan tim peneliti dari University of Waterloo, Kanada, adalah adanya hubungan antara kemampuan mengenali pernyataan yang terdengar mendalam dan kecenderungan seseorang mempercayainya.

Penelitian bertajuk On the Reception and Detection of Pseudo-Profound Bulls**** ini mengamati bagaimana seseorang menilai kalimat yang disusun menggunakan kata-kata rumit dan terdengar intelektual, tetapi sebenarnya tidak menyampaikan makna yang jelas.

Sebagai contoh, sebuah kalimat mungkin menggunakan istilah abstrak dan terdengar filosofis. Namun, ketika dicermati, rangkaian kata tersebut tidak menyampaikan pesan yang masuk akal atau memiliki makna yang dapat dijelaskan secara konkret.

Orang yang menganggap kalimat semacam ini sangat mendalam tanpa memeriksa maknanya cenderung lebih mudah terpengaruh oleh penggunaan bahasa yang terkesan bijaksana.

2. Memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah dalam konteks penelitian

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa peserta yang lebih mudah terkesan oleh pernyataan semu yang terdengar mendalam cenderung memiliki kemampuan refleksi kognitif yang lebih rendah.

Para peneliti melibatkan sekitar 300 peserta untuk menilai sejumlah pernyataan yang dibuat dari kata-kata populer atau istilah yang terdengar bermakna. Peserta diminta menentukan seberapa mendalam kalimat-kalimat tersebut menurut penilaian mereka.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang lebih mudah menganggap pernyataan semu tersebut bermakna cenderung memperoleh skor lebih rendah dalam sejumlah ukuran kemampuan kognitif, termasuk kecerdasan verbal dan kecerdasan cair (fluid intelligence).

Kecerdasan verbal berkaitan dengan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, sedangkan kecerdasan cair berhubungan dengan kemampuan bernalar serta memecahkan masalah baru.

Namun, hasil penelitian ini tidak berarti semua orang yang gemar mengunggah quotes motivasi memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah.

3. Lebih mudah mempercayai pernyataan tanpa memeriksa kebenarannya

Kebiasaan menerima sebuah pernyataan hanya karena terdengar meyakinkan juga menjadi aspek yang diamati dalam penelitian tersebut.

Peserta yang lebih mudah terkesan oleh kalimat-kalimat semu yang terdengar mendalam juga menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk mempercayai teori konspirasi serta sejumlah keyakinan paranormal.

Temuan ini menunjukkan pentingnya kemampuan mengevaluasi informasi sebelum menerima atau membagikannya kepada orang lain. Sebuah pernyataan yang menggunakan bahasa indah belum tentu memiliki dasar yang kuat atau menyampaikan fakta yang benar.

Karena itu, ketika menemukan quotes motivasi di media sosial, Bunda dapat mencoba memahami pesan yang disampaikan, memeriksa konteksnya, dan mempertimbangkan apakah pernyataan tersebut masuk akal. 

4. Cenderung menyamakan kata-kata rumit dengan kebijaksanaan

Kalimat yang menggunakan istilah abstrak, susunan kata yang tidak biasa, atau ungkapan filosofis terkadang dianggap lebih cerdas daripada kalimat sederhana. Padahal, kerumitan bahasa tidak selalu mencerminkan kedalaman pemikiran.

Dalam penelitian, peserta diminta membedakan pernyataan yang terdengar mendalam dari kalimat sehari-hari dan kutipan filosofis.

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa sebagian peserta menilai kalimat buatan yang tidak memiliki makna memadai sebagai sesuatu yang sama mendalamnya dengan kutipan yang benar-benar terdengar bijaksana.

Dengan kata lain, kemampuan memahami isi pesan lebih penting daripada sekadar terkesan oleh pilihan katanya. 

5. Memiliki kecenderungan terhadap keyakinan yang tidak selalu berdasarkan bukti

Penelitian yang sama juga menemukan hubungan antara penerimaan terhadap pernyataan semu yang terdengar mendalam dan kecenderungan mendukung sejumlah keyakinan agama, paranormal, serta pengobatan komplementer dan alternatif.

Jadi, Bunda tidak perlu buru-buru menilai kecerdasan seseorang dari unggahan media sosialnya. Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana seseorang memahami informasi, menyusun alasan, dan mempertimbangkan bukti sebelum mengambil kesimpulan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda