moms-life
Ratusan Warga Berebut Lowongan Gembala Domba, Bayarannya Rp21 Juta per Bulan
HaiBunda
Selasa, 27 Oct 2026 18:45 WIB
Daftar Isi
Viral lowongan kerja yang mencuri perhatian warganet karena bergaji Rp21 juta. Lowongan kerja yang dimaksud adalah menjadi gembala domba dan ramai diperbincangkan.
Lowongan pekerjaan sebagai gembala domba di sebuah peternakan Mongolia Dalam, China, mendadak viral di media sosial. Tawaran gaji yang mencapai sekitar Rp21 juta per bulan, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan pangan, berhasil menarik perhatian ratusan pelamar dari berbagai latar belakang pekerjaan.
Pemilik peternakan bernama Zuo Xiaoyong awalnya hanya mencari dua orang untuk menggembalakan ribuan domba di padang rumput. Namun iklan sederhana yang diunggahnya justru mendapat respons luar biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya pekerja pabrik, sejumlah lulusan baru perguruan tinggi hingga pekerja kantoran yang lelah dengan tekanan dunia kerja di perkotaan ikut melamar posisi tersebut. Fenomena ini sekaligus menyoroti persaingan mendapatkan pekerjaan di China, terutama ketika tingginya tuntutan kerja dan ketidakpastian karier.
Meski menawarkan gaji yang terbilang besar, pekerjaan sebagai gembala domba ternyata memiliki tantangan tersendiri yang tidak bisa dianggap enteng. Mengutip The Guardian, mari simak cerita lowongan gembala domba yang mencuri perhatian.
Lowongan gembala domba yang viral
Zuo Xiaoyong mengunggah iklan lowongan kerja melalui media sosial China pada akhir April. Ia mencari dua orang gembala dengan preferensi pasangan suami istri atau pasangan yang bersedia bekerja bersama untuk merawat sekitar 3 ribu domba di peternakannya.
Peternakan tersebut memiliki padang rumput seluas 2 ribu hektare dan terletak sekitar 300 km dari kota Xilinhot, dekat perbatasan Mongolia. Dalam iklannya, Zuo menjelaskan bahwa pekerjaan itu mencakup menggiring domba untuk merumput selama musim panas serta memberi makan dan membersihkan kandang saat musim dingin.
Iklan dilengkapi video yang memperlihatkan domba-domba bermain di padang rumput hijau. Tayangan sederhana itu menarik perhatian luas hingga ditonton sekitar 59 juta kali di Weibo, platform media sosial China yang serupa dengan X.
"Saya tidak menyangka iklan ini akan viral. Sepertinya orang-orang biasa sedang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan," ujar Zuo dikutip dari Reuters.
Gaji fantastis dan fasilitas lengkap
Salah satu daya tarik utama lowongan ini karena gajinya. Zuo menawarkan bayaran sebesar 8 ribu yuan atau sekitar US$1.180 per bulan untuk setiap gembala.
Jika dikonversikan ke rupiah, jumlahnya setara sekitar Rp19 juta hingga Rp21 juta, bergantung pada nilai tukar yang digunakan. Selain gaji bulanan, pekerja juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan pangan yang disediakan oleh pemilik peternakan.
Besaran gaji bahkan melampaui rata-rata gaji bulanan karyawan perusahaan swasta di wilayah perkotaan China, kisaran 6 ribu yuan.
Meski demikian, Zuo mengingatkan bahwa pekerjaan ini bukan kesempatan untuk sekadar menikmati suasana pedesaan. Para pelamar harus siap menjalani pekerjaan fisik, menghadapi perubahan cuaca ekstrem, dan bertahan jauh dari kehidupan perkotaan.
"Gajinya memang tinggi, tapi yang paling penting adalah apakah kamu bisa bertahan bekerja dalam jangka panjang dan melewati musim dingin," kata Zuo.
Lebih dari 700 orang melamar
Respon terhadap lowongan tersebut terbilang mengejutkan. Menurut Zuo, lebih dari 700 orang mengajukan lamaran untuk mengisi dua posisi yang tersedia.
Sekitar 10 persen pelamar merupakan lulusan baru perguruan tinggi. Sisanya berasal dari beragam latar belakang, termasuk pekerja pabrik dan karyawan kantoran yang merasa lelah dengan dinamika pekerjaan di kota-kota besar seperti Shanghai dan Chongqing.
Pemilik peternakan merekrut 4 gembala
Setelah menerima ratusan lamaran, Zuo akhirnya memutuskan merekrut empat orang gembala yang terdiri dari dua pasangan. Keempatnya diketahui pernah bekerja di peternakan sehingga dinilai memiliki pengalaman yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan tersebut.
Zuo juga telah menyusun daftar lebih dari 40 pasangan yang berpotensi direkrut untuk kebutuhan tenaga kerja berikutnya. Meski demikian, ia tidak berencana mempertimbangkan pelamar yang melamar seorang diri ataupun anak muda dari perkotaan yang belum memiliki pengalaman serupa.
Menurut Zuo, tantangan terbesar bekerja di peternakannya bukan hanya merawat ribuan domba atau menghadapi cuaca dingin. Lokasi yang terpencil juga membuat para pekerja harus siap menjalani kehidupan dengan interaksi sosial yang sangat terbatas.
"Di tempat kami, kamu mungkin tidak bertemu orang lain selama setahun penuh. Saya tidak tahu apakah seseorang bisa bertahan menghadapi kesepian seperti itu," kata Zuo.
Pekerja pabrik: lelah bekerja lebih dari 13 jam sehari
Salah satu pelamar adalah James Guo, pekerja pabrik berusia 21 tahun yang sehari-hari membuat kontainer pengiriman. Ia mengaku ingin mencari pekerjaan baru karena tidak lagi sanggup menghadapi beban kerja di tempatnya saat ini.
Guo menggambarkan pekerjaannya sebagai aktivitas yang sangat menguras tenaga. Ia harus memasang sekrup selama berjam-jam hingga tangannya membengkak dan dipenuhi lepuhan, bahkan kesulitan meluangkan waktu untuk pergi ke toilet.
"Kamu tidak akan tahu seperti apa rasanya bekerja lebih dari 13 jam sehari, memasang sekrup sampai tangan bengkak dan dipenuhi lepuhan, bahkan tanpa sempat pergi ke kamar mandi," ujar Guo.
"Beban kerjanya terlalu berat. Saya sudah tidak sanggup lagi," tambahnya.
Budaya kerja 996 jadi sorotan di China
Salah satu persoalan yang turut melatarbelakangi fenomena ini adalah budaya kerja yang dikenal dengan istilah 996. Istilah merujuk pada pola kerja mulai pukul 09.00 hingga 21.00, selama enam hari dalam seminggu.
Pola kerja dengan jam panjang ini dikaitkan dengan tuntutan produktivitas tinggi di sejumlah perusahaan China. Tekanan tidak hanya menjadi persoalan pekerja kantoran, namun juga dirasakan oleh pekerja sektor industri yang harus memenuhi target produksi.
Keinginan untuk keluar dari rutinitas yang melelahkan akhirnya mempertemukan keresahan pekerja kerah putih atau white-collar dan pekerja kerah biru atau blue-collar. Keduanya sama-sama mencari alternatif pekerjaan yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi fisik dan kebutuhan hidup mereka.
Di sisi lain, angka pengangguran juga menjadi tantangan. Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China yang dirilis pada Maret, tingkat pengangguran nasional berada di kisaran 5,2 persen.
Sementara itu, tingkat pengangguran penduduk berusia 16 sampai 24 tahun, tidak termasuk pelajar, mencapai 16,9 persen. Kondisi ini bisa menjadi alasan mengapa lowongan yang tidak biasa seperti pekerjaan gembala domba bisa menarik perhatian begitu banyak orang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Magang Unik! Tidur 9 Jam Tiap Hari Digaji Rp19 Juta
Mom's Life
10 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Sukses agar Tetap Termotivasi
Mom's Life
12 Kalimat yang Tanpa Disadari Bikin Pekerja Hebat Terlihat Tidak Profesional
Mom's Life
15 Jenis Lowongan Kerja Ibu Rumah Tangga, Fleksibel Bisa Dilakukan dari Rumah
Mom's Life
SUN Indonesia Buka Lowongan Kerja, Gajinya Rp30 Juta Bun!
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Anak Artis Tinggal di Luar Negeri di Usia Muda, Ada yang Berkarier di AS
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Kesalahan Berpakaian ke Kantor, Salah Satunya Terlalu Sering Pakai Baju Hitam
7 Kepribadian Karyawan Berdasarkan Kondisi Meja Kerja
Beban Kerja Makin Berat, 61 persen Pekerja Harus Kerjakan Tugas di Luar Job Desc