moms-life
Di Balik Istri yang Sering Marah-marah pada Suami Menurut Psikologi
HaiBunda
Minggu, 25 Oct 2026 20:30 WIB
Daftar Isi
Media sosial sempat diramaikan tren para istri yang membuat konten parodi dengan mengaku tidak pernah marah kepada suami. Menariknya, kamera kemudian menyoroti ekspresi suami yang terlihat ragu, pasrah, hingga menahan tawa mendengar pengakuan tersebut.
Konten ini pun mengundang gelak tawa karena dianggap dekat dengan dinamika kehidupan rumah tangga sehari-hari. Di balik candaan tersebut, kebiasaan istri yang sering marah kepada suami bisa memiliki penjelasan psikologis.
Pertengkaran yang berawal dari persoalan kecil terkadang dipengaruhi oleh kelelahan emosional, kebutuhan tidak terpenuhi, atau perasaan tak didengarkan. Memahami penyebabnya dapat membantu pasangan memperbaiki komunikasi dan mengurangi konflik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik istri yang sering marah pada suami menurut psikologi
Mengutip India Times, mari simak alasan istri sering marah-marah kepada suami.
1. Kemarahan menutupi perasaan lain
Menurut psikolog Paul Ekman, kemarahan dapat menutupi emosi lain, seperti terluka, takut, atau kecewa. Dalam hubungan pernikahan, istri yang mudah marah mungkin sebenarnya merasa tidak didengarkan, kurang mendapat dukungan, atau kewalahan menghadapi berbagai tanggung jawab.
Dibanding mengungkapkan perasaan tersebut secara langsung, kemarahan menjadi cara untuk melampiaskan emosi. Untuk itu, penting bagi pasangan suami-istri memahami apa yang melatarbelakangi kemarahan, bukan hanya berfokus pada reaksinya.
2. Kelelahan mental
Mental load atau beban mental merupakan tanggung jawab untuk mengingat, merencanakan, dan mengatur berbagai kebutuhan sehari-hari. Dalam rumah tangga, beban ini bisa mencakup urusan anak, pekerjaan rumah, hingga kebutuhan keluarga.
Jika sebagian besar tanggung jawab tersebut ditanggung oleh istri, kelelahan dapat menumpuk dan membuatnya lebih mudah tersulut emosi. Persoalan kecil pun bisa memicu pertengkaran karena muncul ketika kondisi emosional sudah terkuras.
3. Merasa tidak didengar
Kemarahan juga dapat muncul ketika istri merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat atau memengaruhi keputusan keluarga. Dalam psikologi, kebutuhan untuk merasa dihargai dan memiliki kendali atas kehidupan merupakan bagian penting dari kesejahteraan emosional.
Kalimat seperti "Kamu enggak pernah mendengarkan aku" bisa mencerminkan kekecewaan yang sudah berlangsung lama, bukan sekadar persoalan dalam satu percakapan. Oleh sebab itu, suami perlu mencoba mendengarkan tanpa langsung membantah atau menganggap keluhan istri berlebihan.
4. Stres
Tekanan pekerjaan, kurang tidur, dan masalah keluarga dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi. Ketika kelelahan menumpuk, Bunda mungkin bereaksi lebih kuat terhadap persoalan yang biasanya bisa dihadapi dengan tenang.
Dalam teori psikodinamik, kondisi tertentu dapat memicu regression, yaitu kembalinya seseorang pada pola respon yang kurang adaptif saat mengalami tekanan. Hal ini membantu menjelaskan mengapa reaksi emosional terkadang terlihat berlebihan ketika seseorang sedang kewalahan.
5. Butuh kedekatan emosional
Menurut teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan John Bowlby, pengalaman hubungan dapat memengaruhi cara seseorang merespon kedekatan emosional.
Orang dengan kecenderungan anxious attachment dapat lebih sensitif ketika merasa diabaikan atau dijauhkan oleh pasangan. Dalam pernikahan, perasaan tersebut terkadang muncul sebagai kemarahan, meskipun kebutuhan yang mendasarinya adalah perhatian, kepastian, dan rasa aman.
Meski demikian, tidak semua istri yang sering marah memiliki pola kelekatan itu. Penyebab kemarahan perlu dipahami berdasarkan situasi dan pengalaman masing-masing.
6. Perubahan hormon dan kondisi fisik
Fluktuasi hormon pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, atau menjelang menopause dapat memengaruhi suasana hati sebagian perempuan. Namun hormon bukan satu-satunya penyebab seseorang mudah marah.
Kurang tidur, kelelahan, stres, dan persoalan hubungan juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Jika perubahan suasana hati terasa intens atau mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan dokter agar bisa membantu menemukan penyebabnya.
Cara mengatasi konflik dalam rumah tangga
Untuk mengurangi pertengkaran, pasangan perlu berusaha memahami penyebab kemarahan sekaligus memperbaiki cara berkomunikasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- Dengarkan secara aktif: Pahami keluhan pasangan sebelum memberikan tanggapan.
- Hargai perasaan: Tidak meremehkan atau menganggap emosi pasangan berlebihan.
- Berbagi tanggung jawab: Sepakati pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan secara adil.
- Berkomunikasi dengan terbuka: Bicarakan kebutuhan dan kekecewaan ketika suasana sudah tenang.
- Cari bantuan profesional: Pertimbangkan konseling pasangan jika konflik terus berulang dan sulit diselesaikan.
Kedua belah pihak perlu berperan dalam memperbaiki hubungan. Memahami alasan di balik kemarahan bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti pasangan, melainkan membantu menemukan cara penyelesaian yang lebih sehat.
Jadi, dibanding terus saling menyalahkan, Bunda dan suami dapat menjadikan kemarahan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi hubungan. Dengan mendengarkan, berbagi tanggung jawab, dan membangun komunikasi yang sehat, maka dapat mencari solusi bersama demi kehidupan pernikahan yang lebih harmonis.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
11 Cara Membuat Pasangan Nyaman dan Merasa Dihargai
Mom's Life
Ini Alasan Utama Kenapa Tidak Boleh Menyayangi Anak Lebih dari Pasangan Menurut Pakar
Mom's Life
10 Hak dan Kewajiban Suami Terhadap Istri Menurut Islam, Beritahu Ayah Bun!
Mom's Life
7 Tanda Istri Kecewa dengan Sikap Suami dan Cara Mengatasinya
Mom's Life
10 Cara Bijak Menghadapi Suami yang Selalu Menyalahkan Istri
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Mesra Melanie Putria dan Suami Dokter Ortopedi, Bikin Heboh Saat Dilamar di Helikopter
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Sikap Suami yang Bikin Istri Merasa Tidak Berharga atau Worthless
Hukum Pasangan Sudah Menikah Masih Ikut dan Tinggal dengan Orang Tua
Manfaat Suami Istri Pelukan selama 20 Detik Menurut Penelitian